Kini aku sedang duduk disini, sendiri, merasa kebersamaan ini mulai luntur seraya waktu bumi berputar semakin mendesak keperpisahan yang nantinya akan terucap.
Waktu adalah waktu.
Waktu dimana kamu bisa merasakan sesuatu.
Rasa dimana rasa yang bergerak mengikuti waktu.
Siang terik itu aku mulai kembali pulang. Berharap menanti sang jawaban datang, namun nyatanya aku malah bertemu sosok lain dipintu gerbang. Aku berusaha beralih. Berjalan pada jalan yang lebih kekanan. Ah, semoga saja dia tidak melihatku. Malah mereka yang meledek aku hangat, berkata apakah aku akan bersamanya kembali.
Tapi aku mulai bercanda,
Memang kalau saja bisa aku lebih baik bersamanya daripada merepotkan orang lain. Toh kami pernah bersama sebelumnya. Tapi yasudahlah, sudah terlanjur.
Sama halnya dengan malam ini, waktu tak memungkinkanku bersimpangan dengannya. Padahal aku sudah berkali-kali melewati jalanan itu pada jam dan detik yang sama.
Sama halnya seperti pagi itu, kebetulan maha indah yang kutemui di tangga sekolah saat tak sengaja bersimpangan dengan kehidupan lain itu. Melewati tahun baru tanpa pernah melihatnya, rasanya sudah cukup bila berjalan dibelakangnya saja.
Tapi sore ini, persimpangan itu kembali terjadi. Hanya berkisar dengan sepersekian detik waktu kami, lalu aku sengaja berlari, mengejar yang sudah pasti ada disamping kami. Sekelebat namun terasa, tak sanggup rasanya menahan tawa saat menyadari bahwa hal ini memalukan kami. Terserah, setidaknya menghibur kami.
Hingga saat aku kembali menuruni tangga itu, lalu akhirnya menangkap sorot binar matanya yang tertutup lapisan bening penuh rasa. Rasa yang kupikir masih bimbang, "Siapa aku sebenarnya?"
Bahkan aku sendiri juga bimbang, "Seperti apa kamu sesungguhnya?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar