Rabu, 09 Maret 2016

Eclipse


Ketika Ia menutup diri,
saat itulah aku mulai merasa sepi.


Kamu pernah berkata jika sejarah merupakan hal paling indah untuk dipelajari, mungkin itulah alasanmu untuk selalu tertarik pada abad-abad kejayaan masa lampau.


Tapi, mengapa aku justru tertarik padamu?
Pada segumpalan artefak paling unik yang pernah kujumpai beberapa tahun lalu.
Apa mungkin karena kamu membuatku tertarik pada lubang masa lalu?


Dulu aku tak pernah mau menoleh ke belakang, mengenang kisah-kisah tak wajar dalam peredaran bumi yang lalu. Tapi, kini, haruskah aku melukis bayangan unikmu dalam dimensi waktuku?


Kamu yang terakhir kali kulihat sebelum ini, sangatlah dingin dengan rambut yang mulai panjang menjuntai menutup keningmu. Iya, gaya itu yang selalu kamu suguhkan sejak pertama kali kita bertemu. Sejak pertama kali aku tahu siapa namamu, sejak pertama kali kita berpapasan sepulang sekolah, sejak beberapa kali kita dipertemukan oleh waktu.

 

Apa itu kebetulan?
Kebetulan ketika mata kita saling pandang di sisi kereta api yang berjalan menjauh dari kota itu?

Apa itu kenyataan?
Kenyataan ketika orang-orang disekeliling kita juga bersinggungan?




Apa itu hanya sekelebat bayangan?
Ketika aku melihatmu dari kejauhan, dalam mimpi-mimpi yang pernah ada waktu itu?



Kini aku sungguh tak pernah tahu dimana keberadaanmu.
Tapi satu yang aku tahu, kita tidak berada jauh dalam jarak ratusan kilo yang memisahkan Bumi dari Matahari.





Dimanakah sesungguhnya kamu ada untuk mengitari Bumi?
Dimana sesungguhnya kita bisa bersinggungan kembali?




Padahal aku hanya sekedar ingin menyapa, dengan kalimat bodoh, "Loh, kamu disini?"


Kalimat yang ingin selalu ku ulang setiap aku melihatmu, "Apa kabar?"


Kalimat yang ingin ku ucapkan sejak aku mulai merasa menjadi manusia yang begitu bodoh,
"Kamu dimana?"


Dan kalimat, yang mungkin bisa mendekatkan kita kembali, dalam suatu peredaran waktu yang sama,
"Kapan bisa ketemu lagi?"



Hari ini, Bumi, Bulan dan Matahari berada dalam satu garis waktu yang sama. Dalam sebuah takdir yang bersinggungan. Dalam sebuah kesempatan yang membahagiakan.



Aku bahagia, ketika aku masih diperbolehkan melihat betapa indahnya keajaiban Tuhan yang diberikan pada dunia ini. Aku bahagia, ketika aku masih bisa menyadari, bahwa setidaknya kita berada dalam kota dan lingkungan yang sama.




Gerhana ini hanya ada beberapa kali, dalam waktu yang begitu lama memisahkannya.




Lalu,






apa mungkin pertemuan kita juga hanya beberapa kali?


Gerhana ini hanya terjadi sekian tahun sekali, tak pernah ada yang begitu sering terjadi, selain takdir yang mungkin menjadikannya ada. Sama seperti kita, yang mungkin belum dipertemukanoleh takdir itu. Tetapi, aku tak akan mencarimu lagi, sampai suatu saat nanti, takdir yang akan mempertemukan kita.








Seperti gerhana pagi ini, jarang terjadi,
meski hanya sesaat, tapi selalu dinanti.
Bila tak bisa kutatap sinar matamu hari ini,
mungkin bisa esok hari, meski sekelebat,
tapi selalu kunanti.






Minggu, 06 Maret 2016

HARD TO SAY I’M SORRY




Pagi ini gue sengaja bangun pagi, walaupun ini hari minggu. Tumben sih bisa ‘bangun pagi’ di hari minggu. Sebenernya belum ada rencana mau pergi, tapi kenapa pergi harus butuh suatu rencana?


Oke, pagi ini gue ke gereja. Kenapa? Karena memang harus begitu hahaha.... Bukan bukan, maksudnya, gue ke gereja pagi karna nanti sore mau pergi. Buat gue ke gereja itu bukan sekedar rutinitas pas weekend, tapi sebuah ke-harus-an. Kenapa? Yaa karena memang ke gereja itu bukan suatu keterpaksaan, tetapi suatu kebutuhan –butuh ketemu sama orang-orang beriman lainnya, butuh ketemu sama Tuhan­–


Tema di gereja pagi ini cukup menarik dan mengusik hati kecil gue. Yap, temanya adalah: 


 Tema ini tentunya senada dengan masa pra-paskah yang sekarang sedang berlangsung. Di gereja katolik, masa pra-paskah itu diisi dengan berpantang, puasa, dan tentunya pertobatan. Tobat disini maksudnya kita mengakui dosa-dosa kita, dan mengenang sengsara Tuhan yang dulu rela wafat di kayu salib demi menebus dosa umatNya. Tuhan aja mati-matian buat kita, masa kita males-malesan ke gereja sih?

Bacaan kitab suci hari ini panjang banget, tapi untung aja romonya friendly, asik sih dengerin dia khotbah, at least gak masuk kuping kanan–keluar kuping kiri laahhh.... Bacaan hari ini menceritakan tentang seorang anak Bungsu yang meminta harta bagian dari Ayahnya. Emang rada kurang ajar sih anak ini, bapaknya masih sehat bugar, eh dia udah ngotot minta warisan. Jangan di tiru ya teman-teman!



Tapi poin pentingnya bukan disitu. Melainkan, ada beberapa yang tiba-tiba menampar gue tepat di hati yang paling dalam (cieeee....). Hal pertama adalah, cerita ini mengingatkan gue akan pentas drama OMK 2 tahun lalu. Mengingatkan gue akan sebuah keluarga baru yang alhamdullilah gue temukan di saat yang sangat tepat waktu itu. Bahagia dan bangga sekali bisa kenal mereka, teman-teman seiman yang kalo diajak main sampe jam 11 malem hahaha, but i really miss you guys!!! Gue rindu banget tugas di gereja bareng kalian, foto-foto nggak penting, ngetawain yang  nggak lucu, nyemil kripik singkong yang beli di jembatan 2 Narogong, banyaakdehhh...... 



Dan cerita ini pula menyadarkan gue akan sebuah hal penting. Menurut gue, karakter anak Bungsu ini selalu ada dalam siklus hidup manapun di dunia. Yang mana si anak pasti suka membantah lah, ndablek, keras kepala, dan egois. Terkadang seburuk apapun dan senakal apapun anak, orang tua pasti selalu nge-cover anak itu dan selalu memberikan yang terbaik. Iya nggak?



Ayah nya begitu baik sampai-sampai mau ngasih apapun yang diminta anaknya. Tapi anaknya nggak sadar sama apa yang dia punya selama ini. Padahal selama ini, kita pasti lebih beruntung dari orang lain. Tapi masiiiihhhh aja minta yang lebih, masih aja nggak bersyukur sama keadaan. Tapi untungnya di cerita ini, si Bungsu dapet musibah dan dia jadi ‘nggak punya apa-apa’, sampai akhirnya dia nyadar dan balik kerumah Ayahnya. Ada sebuah kalimat penyesalan disana, yaitu, “Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa...”


Bungsu kembali, dan Ayahnya dengan senang hati menerima anaknya yang rada kampr*t itu. Malahan ayahnya nyiapin pesta khusus buat menyambut anaknya yang pulang itu. Dari cerita ini gue belajar banyak hal, seperti yang dosen hukum gue bilang kemarin Jumat, “Sepandai apapun seorang anak menyembunyikan masalah, Orangtua punya ikatan batin yang bikin mereka tau apa masalah si anak itu.” How cool it is.... Gue juga pernah baca suatu quotes, bunyinya: “Jangan takut! Keluargamu selalu ada ketika kamu memiliki masalah.”



Keluarga itu segalanya, loh. Mikir nggak sih kalo kalian hidup seorang diri, nggak tau siapa keluarga kalian? Luntang-lantung nggak jelas di jalanan? Yaa, meskipun kadang Ayah kita sibuk bekerja, Ibu kita cerewet marah-marah mulu, Kakak kita iseng, Adik kita bandel, tapi tanpa mereka, mau jadi apa kita?  Seperti yang dituliskan di injil tadi pagi, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

Seburuk apapun keluarga kita, rumah adalah tempat terindah untuk kembali. Trust me, rumahmu nggak akan pernah tertutup untuk menerima kamu kembali!

Sama juga seperti Tuhan kita yang begitu murah hati, Dia selalu menerima kita kembali, meski ‘sekotor’ apapun itu. Tuhan selalu mengampuni kita –kalau kita memohon pengampunan kepadaNya– dan kita juga harus belajar mengampuni orang lain, seperti yang ada di petikan doa Bapa Kami.



Mungkin mengampuni orang lain itu sulit. Jangankan mengampuni, cuma bilang ‘maaf’ aja pake gengsi hahaha.. Padahal selama ini kita begitu mudah nge-judge orang, liat dia lewat aja pasti di komentarin. “Ih, bajunya nggak matching..” Padahal selama ini kita sering nyindir-nyindir orang lewat status kita di media sosial. Tapi, kenapa susah banget mengakui kesalahan kita?


Kalo saran gue sih, walaupun kita nggak berani atau mungkin gengsi bilang ‘maaf’ duluan, mendingan kita minta maaf lewat Tuhan wkwkwk.... Yaaa, yang penting niatnya sih, dan yang penting kita jangan mengulangnya lagi. So, boleh sih nggak berani minta maaf ke orang lain.

Tapi, berani nggak minta maaf ke Tuhan?


 






Tenang aja, pasti dimaafin kok.

Ayo yuk, kita ngaku dosa dulu, sebelum terlambat atau tidak sama sekali!

Ayo yuk, aku tunggu yaa di gereja. Siapa tau nanti kita jodoh hmmmm....... :)











Salam kangen, dari gereja yang begitu lama kamu tinggalin...
Just remember this quotes,






Jumat, 04 Maret 2016

Membacamu




Aku pernah melihat sebingkai foto yang tak begitu penting bagiku, tetapi malah menarik perhatianku.
Iya, ada kamu disitu.
Bukan kamu, tapi bagian dari dirimu.
Bagian yang tak begitu penting, tapi aku tau, ada sesuatu yang penting tergambar disana.

Kemarin aku kembali melihatmu.
Akhirnya....

Kamu yang makin hari makin bertumbuh dewasa bagai pohon yang semakin hari semakin merimbunkan dedaunan. Tapi satu yang aku tau, ketika aku melihatmu beradu pandang dalam besi berjalan bersamanya,
aku sadar, 
ada sesuatu yang penting berada disana.

Entah seberapa pentingnya, tapi bagiku bukan suatu masalah. Hanya saja, aku merasa kehilangan sosok yang beberapa bulan lalu membuatku tersipu bodoh karnanya.

Hanya saja, kini kamu bukanlah kamu.



Dalam suatu perkembangan waktu yang selalu mengitari hari, aku percaya bila sesuatu atau bahkan seseorang bisa berubah seiring adanya peradaban. Tidak ada sesuatu yang abadi, tidak ada sesuatu yang selalu tetap berada disitu. Tidak ada kesempatan yang datang sepanjang waktu.

Hanya saja, kini kamu bukanlah kamu.



Membacamu tak butuh waktu berlarut-larut untuk sekedar tahu bagaimana barisan kata ini terbentuk.

Membacamu butuh rasa tulus, membacamu butuh suatu keteduhan.

Membacamu membuatku semakin mudah mencari arti dari setiap kalimat pembuka dalam paragraf yang ada.

Tapi, membacamu terlalu sulit untuk menjadikanku paham benar maksud puisimu.

Karena, membacamu butuh kiasan tepat untuk menjadikanmu metamorfosa terbaik dalam karyaku.



Membacamu semakin membawa waktuku pergi berlayar ke tepi pantai.
Meski telah sekian lama kita tak saling sapa, apakah cukup bagi waktu untuk mengubur detik demi detik yang ada?

Waktuku tak pernah kuhabiskan percuma hanya untukmu.
Memangnya siapa kamu?
Sampai sebegitu bodohnya aku merasa ragu, apakah benar itu kamu?


Pada akhirnya, membacamu memang harus menguras tenaga dan rasaku.
Tapi sungguh indah bagiku bersinggungan dengan diksi warna warni yang dulu kau lukis bagai pelangi.

Kini jemariku kembali menari membuka lembar demi lembar kehidupan yang dini. Karena, di setiap lembar itu, pernah kutulis namamu, yang kini telah berganti menjadi nama yang lain.


Dan bila kamu punya sedetik saja waktu yang tak begitu berarti,
bolehkah kamu kembali berlari mengejar waktu supaya tak begitu lama menanti?

Jangan sepertiku yang sudah salah langkah pada awalnya.


Sehingga waktumu tak akan terbuang percuma hanya untuk menangisi kepergian seseorang menuju lembaran buku lainnya.

Sebab sesuatu yang telah pergi untuk merubah arah mata angin, bagiku akan sulit kembali menuju dermaga lagi.


Karena satu yang perlu kamu tahu,
 
membacamu pernah sesekali membuat senyumanku terukir kembali.




Walaupun kini kamu memang bukanlah kamu, tapi aku beruntung pernah kau beri rasa yang begitu mulia.
 
Biar surga yang membalas upahmu nanti.







Sampai jumpa di lembaran buku lainnya.
Senang bisa mengenalmu.







Salam rindu tertawa bersama, dari status-status jejaring sosial.