Semesta, bolehkah kutuliskan satu surat
untukmu di penghujung Juli yang manis ini?
Semesta, Juli ku begitu manis bersama
sosok-sosok romantis yang tiba-tiba menjadi sebaris inspirasiku sehingga makin
puitis. Apakah mereka kau kirimkan untuk melebur lara dalam hidupku?
Pagi hariku penuh dengan muka kusut mereka.
Biasanya ada satu dua yang mulai berteriak membangunkan. Lalu tiga empat yang
lain berlari merebut tempat di kamar mandi. Serangan fajar, katanya.
Pagiku sibuk untuk memasak air, membuat
segelas teh manis hangat, yang manisnya semanis kisah kami, dan sehangat peluk
mesra mereka. Pagiku sibuk untuk menanti nasi matang. Sering kali pun dihiasi
kegiatan menyapu dan mengganti plastik di tempat sampah. Biarkan sampahnya saja
yang dibuang, jangan kenangannya.
Selanjutnya aku pergi ke pasar, membeli
sayuran untuk dimasak seharian. Lalu sibuk membagi piring isi nasi dan lauk
panganan.
“Ambilin aku nasiiii....,” kata-katanya sangat menggemaskan.
"Aku sedikit aja," kata manusia lainnya yang masih mengumpulkan
nyawa.
Semesta, adakah satu dua masa yang kau
perpanjang lagi demi segala moment berharga itu?
Semesta, kini sudah tiba waktunya.
Tibalah waktu dimana yang dulunya diam
menjadi benar-benar diam dan mulai menikmati matahari tenggelam. Aku akan rindu
saat mereka mulai diam. Lalu tersenyum dalam diam.
Aku akan rindu dia yang kerap meledek aku
dengan tatapan sok galaknya, lalu tertawa tiba-tiba. Dia kerap seperti itu. Tiba-tiba
menendang kaki ku, pura-pura tak sengaja menyenggol tanganku.
"Apaan sihhh," katanya sambil
tersenyum lalu memukul perlahan.
Aku akan rindu dia yang berkata-kata dalam
manja, menatap matahari dengan sepasang kacamatanya. Aku akan rindu setiap
ajakannya untuk bernyanyi ditengah siang. Memutar lagu dansa milih Michael
Buble yang membuat kita ingin menari bersama. Aku akan rindu setiap kali ia
salah memanggil namaku, untuk akhirnya kuhitung sampai kelipatan sepuluh, agar
dia membelikanku es krim coklat. Aku rindu rebutan Nextar dengannya. Aku akan
rindu suaranya. Aku rindu binar matanya yang mulai menyala tatkala Si Ayu
datang menyapa.
Aku akan rindu caranya menasehatiku tentang
cinta.
Dia pernah berkata, "Laki-laki itu
punya caranya masing-masing dalam mencintai."
Entah dia mencintai dengan cara yang
seperti apa, namun yang aku tau, dia tulus adanya. Aku tau. Aku melihatnya
dalam sempurna yang ada.
Ada begitu banyak hal yang kutemukan setiap
pagi, tatkala siang menari-nari diatas pikiran. Seperti sesosok manusia yang
kerap menari mengikuti Ari Lesmana. Dia selalu berusaha membuat kami tertawa,
meski kerap segaring krupuk dari nasi goreng semalam, tapi aku suka. Aku suka
caranya berkata dalam terbata-bata. Aku suka ketika dia mulai bersenandung, menyambungkan
segala sesuatu agar bisa menjadi lagu berdua.
Aku akan rindu ketika kita mencuci piring
bersama. Aku rindu melihatnya memainkan beras dalam wadah lada. Aku akan rindu
dengan tatapan matanya yang mulai bingung ketika terlepas dari kacamata bulatnya.
"Aku gabisa liat apa-apa,"
katanya sebangun tidur siang lalu.
Namun aku tau, dia bisa melihat begitu
banyak hal disekitarnya dengan sederhana. Dia mewarnainya dengan begitu banyak
keindahan.
Semesta, taukah kau bila aku menemukan sosok-sosok
yang mendewasakanku sepanjang hari-hariku?
Aku menemukan dia yang menawan apa adanya.
Tanpa sapuan kuas warna di kelopak matanya, ia mampu memandang segala sesuatu
dengan jujur. Dia mengajariku bahwa tak semua hal perlu dipikirkan dengan
serius, namun kita tetap tak boleh larut dalam cinta yang datang begitu
tiba-tiba.
Aku akan merindukan dia yang selalu
terlelap disampingku. Yang katanya tiap malam memarahiku dalam mimpi, meminta
aku sedikit bergeser supaya ia tak jatuh ke lantai.
Aku akan merindukan caranya memarahiku,
memarahi kita semua. Menegur setiap tisu atau kapas sisa make up yang
tersisa dikamar. Aku akan merindukan caranya memarahi siapa saja yang berusaha
memeluk boneka monyetnya.
Aku mengenalnya jauh lebih lama dari yang
lainnya, namun aku baru tersadar, bahwa ia begitu berarti dalam setiap hela
nafasku. Aku tak ada apa-apanya dibanding dia. Memang hanya dialah saja yang
bisa mandi paling pagi lalu mencuci baju. Memang hanya dialah saja yang paling
bisa menasehati, dan pandai memata-matai temannya sendiri supaya aku tidak mati
penasaran.
Aku juga menemukan sosok penyabar yang
kerap kuperhatikan sekali dua kali. Aku kagum melihat rambutnya terurai
panjang. Aku suka. Aku selalu suka setiap senyum dan sapanya. Namun aku tak
pernah suka melihat dia terdiam, membisu, terbenam dalam kesendirian dan
powerbank merahnya.
Tanpa benda merah itu, hidupnya seakan tak
bernyawa. Padahal, kehadirannya adalah nyawa yang menguatkan hari-hari sepiku. Canda
dan tawanya yang sederhana sungguh berhasil mewarnai dunia.
Aku belajar untuk mempedulikan hal-hal
disekitarku. Ada begitu banyak yang bisa dimanfaatkan, bisa dipercantik, bisa
dibuat lebih nyaman dari sebelumnya. Aku suka setiap kali ia membuat rambut
panjangnya menjadi keriting, aku suka setiap ia membunyikan jemarinya, katanya
itu disebut mengklik-kan jari. Termasuk dalam setiap langkah pastinya,
dalam setiap lagu yang ia dendangkan. Dalam sebaris lirik lagu indie berbunyi, kita
teralih.
Iya, kita telah teralih.
Teralih dalam satuan waktu maha menyebalkan.
Ia selalu saja seperti ini.
Berjalan begitu cepatnya, menghantam aku
keras ke bebatuan tajam.
Iya, aku tau.
Aku tau tak pernah ada yang abadi.
Tak ada yang bisa selamanya.
Tak ada, selain cinta.
Lalu, apakah cinta yang kutemukan disini
akan selamanya?
Bagaimana kabarnya dengan begitu banyak
cinta diluar sana yang kerap melupakanku ketika mereka bahagia sendiri?
Semesta, bolehkah satu kali saja aku tidak
jatuh dalam sebuah cinta?
Karna untuk kesekian kalinya, kurasa,
cinta ini juga salah....
Semesta, salahkah jika aku jatuh dalam
sebuah kenyamanan dibalik setiap canda yang kita buat bersama?
Apakah ini bagian dari sandiwaramu, wahai
semesta?
Lantas mengapa aku benar-benar jatuh cinta?
Aku lelah, Semesta.
Aku lelah untuk selalu berharap pada sosok
yang bahkan hanya melewatkanku sepanjang pagi. Aku lelah menantinya kembali
setiap dia pergi. Aku lelah melihat dia kau sibukkan sendiri dengan begitu
banyak pesan di genggamannya
Siapa gerangan yang ia tunggu kabarnya?
Tidakkah mentarimu yang tiap sore terbenam jauh lebih indah untuk dipandang
bersama, daripada menanti tanda notifikasi berkumandang?
Semesta, aku benci.
Aku benci setiap kali aku teringat akan
tatapannya.
Aku takut.
Aku takut tak bisa lupa bagaimana caranya
menyapaku di pagi hari.
Aku takut tak bisa lupa dengan lagu yang
kerap ia putar di ponsel.
Aku takut terngiang suaranya kala
berdendang sambil memetik gitar.
Aku takut untuk selalu teringat akan dia
setiap aku membeli galon aqua.
Aku takut selalu ada dia di setiap jalan
yang pernah kita lewati bersama
Semesta, aku benci.
Mengapa kau selalu menjatuhkan aku pada
cinta yang bukan semestinya.
Semesta, apakah ini juga kau beri nama
jatuh cinta?
Jika kelak aku akan merindukan dia, apakah
ini juga kau beri nama jatuh cinta?
Semesta, adakah lain waktu aku bisa
menemuinya lagi meski hanya sebatas tidak sengaja?
Apakah jika kelak kita berpapasan di
koridor belakang rektorat, aku takkan lagi merasa rindu yang bertubi?
Atau malah aku merasa iri hati bilakah dia
berjalan sambil menggandeng mesra sosok pujaan yang kerap ia hubungi tiap malam?
Semesta, bagaimana jika nanti aku
benar-benar merindukannya?
Akankah rindu ini mampu membunuh waktu yang
berlalu?
Kurasa begitu banyak tanda tanya yang
kuhaturkan padamu sepanjang waktu.
Semesta, meski kecewa selalu jadi bagian
terakhir setelah bahagia yang sementara, nampaknya aku tetap bersyukur pernah
menyapanya di setiap pagi, merayu nya di sepanjang siang, membuatnya malu
disetiap saat, menatap matahari tenggelammu diwaktu senja, dan merasakah
kehangatannya dikala nonton film bersama.
Semesta, aku pasti akan rindu...
Aku pun akan merindukan cara adikku
merajuk, merasa malu dengan kelakuanku sendiri sepanjang saat.
Dia selalu berkata,
"Terserah kamuu," ketika kita mulai beradu pendapat, lalu
dia cenderung pergi, katanya sih mau mandi, tapi malah asik membalas pesan dari
kesayangannya yang rindu dan pengen dipeyuk.
Semesta, bahagia juga ya rasanya punya
adik. Impian dan cita-citaku sedikit terwujud beberapa waktu belakangan ini.
Sepanjang waktu aku merasa sedikit lebih dewasa, meski umurnya jauh lebih tua.
Semesta, aku bangga memilikinya.
Aku bangga.
Aku tidak menyangka dia bisa seperti kini.
Dialah yang sangat amat berhasil
mengorganisir kami dalam setiap pekerjaan.
Dia ternyata bisa.
Hebat.
Aku bangga.
Termasuk ketika dia tau aku sedang berada
dalam ketidak nyamanan.
"Tenang, jangan panik lho, ada
adikmu."
Aku sungguh tidak akan melupakan kalimat itu.
Begitu pula setiap kali kita berebut kamar mandi, dan akhirnya dia berbisik
lirih,
"Yaudah kamu duluan, akumah ngalah
sama kakaknya,"
Sungguh aku selalu ingin tertawa dalam
setiap sandiwara ini.
Meski kerap aku begitu kesal karna dia
sangat menyebalkan,
Namun aku tetap sayang.
Dia selalu mengingatkanku, bahwa dalam hal
cinta, kita tidak boleh terburu-buru. Sebab dia pun tahu kalau aku begitu mudah
jatuh hati. Jatuh pada temannya sendiri.
Semesta, salahkah jika aku bahagia memiliki mereka?
Semesta, aku sangat senang menggoda
seseorang setiap kali pujaannya datang bersambang. Terus saja kulantunkan
kata-kata menggemaskan agar si pujaan tertawa manis setiap saat. Aku senang
menggodanya. Apalagi ketika aku dan pujaannya saling bertegur sapa dan
menyatukan jemari kami demi membentuk sebuah hati.
Tapi, Semesta, aku tidak pernah suka
melihatnya begitu memperhatikan pujaan hatinya itu. Aku tidak ingin dia
terjatuh lagi didalam cinta yang terlampau dalam. Aku tak mampu mendengar
dongeng cintanya yang penuh lara, cerita panjangnya berbumbu kecewa, jerit
kesalnya yang penuh luka. Aku tak ingin lagi dia menderita hanya karna jatuh
hati semata. Biarkan yang lalu saja yang mengecewakannya. Jangan lagi dengan
yang ini.
Semesta, adakah satu manusia yang pantas ku
abaikan hanya karna menyebalkan?
Rasanya ia tak sebegitunya untuk harus
kutinggalkan sepanjang waktu. Semesta, dia seharusnya tahu bahwa tanpanya, kami
tak mampu menyatu dan bersama.
Semesta, bolehkah aku titipkan sedikit rasa
terimakasihku untuknya?
Untuk dia yang kerap mengingatkan aku agar
tidak terlalu kencang menutup pintu. Dia yang kerap menghentikan lamunanku hanya
karena cinta cintaan yang terlalu kubual sepanjang waktu. Aku akan merindukan
senandungnya yang sering membangunkanku untuk sahur. Kata-katanya setiap saat
aku mulai berpuisi. Aku akan rindu duduk dibelakangnya, erat diatas motor
paling berat dengan suara berisik yang kukenal dari radius 2 kilometer jauhnya.
Semesta, akankah perjalanan jauh kita bisa
terulang lagi?
Aku akan rindu caranya meminta aku turun
dari motor karna bosan mendengar dongeng cintaku
Semesta, jangan biarkan dia bosan menjadi
lelaki yang murah hati.
Aku tahu, ia punya ketulusan yang murni dan
nyata dari hati.
Oiya Semesta, aku menemukan satu lagi
keajaiban dalam sebulan ini.
Aku menemukan sosok yang kerap menggoda
aku, membangunkanku, mengulang kata-kata yang sama tatkala aku mulai berusaha
menangisi cinta dari manusia-manusia disekitar kita.
Semesta, taukah kamu aku teramat
menyayanginya?
Dia pernah berkata padaku, "Aku
nggak mau liat kamu sedih,"
Dialah yang tak pernah tega meninggalkan
rumah selain karna harus mengambil uang lagi dari Papa Mama. Dialah alarm yang
selalu beribadah tepat waktu. Dialah yang ingin kupeluk paling erat jika nanti
kita tak mampu bersama lagi. Dialah sumber penyimpanan cinta paling muat
banyak, seperti Unta yang bisa menyimpan banyak air di punuknya. Aku akan rindu
memanggilnya seperti itu, memintanya untuk tetap terjaga dan tidak pergi tidur
duluan. “Iya, aku denger. Kalo aku udah gak jawab,
berarti aku udah tidur.”
Semesta, adakah benarnya bila satuan
waktumu kini sudah berakhir pada cerita panjang kita?
Secepat itukah, Semesta?
Siapa lagi yang akan menggodaku sepanjang
waktu?
Siapa yang akan kuajak bercerita tentang
kisah Burung Dara?
Siapa yang akan memanggil aku adik lagi?
Siapa lagi yang memarahiku jika aku
berkendara terlalu kencang?
Siapa yang akan kuajak makan bubur kacang
ijo dan jajan kesana kemari?
Siapa yang akan kuajak berbincang kala
menanti malam didepan kamar mandi?
Siapa yang bisa kuajak menggombal dan
berpuisi?
Siapa yang akan membuatku tersipu setiap
waktu?
Siapa lagi yang akan menemaniku melepas
setiap sisa Senja di muara sungai penuh cerita?
Semesta, adakah setelah hari ini kita masih
bisa berjumpa?
Semesta, jika tiada waktu bagiku untuk
mengatakan banyak hal pada satu dua diantara mereka, biarlah kutitip rindu dan
sayang yang tanpa sengaja kuciptakan dalam sebulan ini pada mereka.
Semesta, aku sayang,
dan entah mengapa tak
ingin kehilangan.
Dari sebuah kejauhan yang semoga selalu
bisa kudekatkan, kutitipkan muara sungai sukacita tempat kita pernah bersama,
padamu, wahai Senja dalam Semesta.
Kurelakan Senja pergi begitu saja,
tapi
jangan pernah hilangkan cinta yang ada.
Karena Hari dan Senja bisa hilang berganti,
namun tempat ini tak pernah hilang dari lubuk hati.