Jumat, 20 November 2015

Keputusan - Kembali ke Gereja

Bagiku kepercayaan merupakan suatu hal yang penting. Tentu begitu juga bagimu. Tapi percayalah, aku bahagia dengan kepercayaanku ini.

Hari itu adalah kelas mata kuliah agama katolik untuk pertama kalinya. Dan kami sudah membawa oleh-oleh tugas dari sang dosen. Mungkin bagi kebanyakan orang, tugas akan menjadi sebuah beban. Namun tidak bagiku. Tidak untuk tugas agama.

Jujur, dari semua mata kuliah di tahun pertamaku masuk universitas, mata kuliah agama-lah yang paling membuatku tertarik. Mengapa tidak? Menurutku, agama tidak membutuhkan teori yang rumit untuk dimengerti. Karena agama hanya perlu diimani dan dipercayai. Begitu pula pada sore yang cukup berkesan itu. Aku bangga mendapati kesempatan untuk "akhirnya" belajar agamaku sendiri dalam sekolahku, karena selama 12 tahun kebelakang, aku tidak pernah menemui satu kelas dengan satu iman yang sama seperti kali ini.

Hal ini juga membuatku bersukacita, karena dalam kelas regulerku, aku memiliki 5 teman yang juga beragama katolik. Ah, terimakasih Tuhan, aku senang sekali bisa "setidaknya" punya teman yang bisa kuajak pergi kegereja bersama.

Kembali ke kelas agama, tugas pertama kami sangatlah mudah dan sederhana, namun bagiku sulit untuk diungkapkan. Pertanyaannya, "mengapa kamu menjadi seorang katolik?"
Teman-temanku hanya sekedar menjawab, 'karena mengikuti orang tua', atau 'karena sejak kecil dibaptis secara katolik". Bagiku, tidak semudah itu menggambarkan alasan mengapa kita menjadi seorang katolik.

Meneladani ajaran seorang Yesus, sang juruselamat umat manusia memanglah sulit. Tidak sesederhana pergi ke gereja setiap minggu, tidak semudah berdoa bapa kami, tidak se-sepele membuat tanda salib.

Menjadi seorang katolik membuatku tersadar, bahwa begitu besar kasih Allah akan umatnya, sehingga Ia mengutus putraNya yang tunggal untuk hadir dan menebus dosa dunia. Dosa yang tak terkira, hingga sang Anak domba Allah harus mati di kayu salib.

Untukku, meneladaniNya tidak perlu memakai kalung salib, atau bahkan memikul salib. Meneladaninya adalah merasakan kehadirannya dalam hatimu. Dia hadir bahkan selalu berada lebih dekat dari urat nadimu sendiri.

Kini aku berada di tempat yang sangat sepi, aku sendiri, aku sungguh tidak tau apa yang aku lakukan disini. Tapi aku merasa nyaman, hatiku tenang, damai karena aku merasakan kehadiranNya, meski tak dapat kulihat rupaNya.

Ya Tuhan, apakah Kau melihat air mataku?
Aku tidak mau menangis dihadapanMu. Aku malu. Malu untuk berkata kalau aku lelah dengan segalanya. Aku malu untuk berkata bahwa aku takut. Aku takut kehilanganMu.

Tuhan, taukah Engkau, kalau hatiku merasa tenteram berada disini, didekatMu. Peluklah aku, aku membutuhkanMu. Pegang tanganku, supaya aku tidak terjatuh. Terimalah aku selalu untuk singgah di rumahMu. Rumah maha indah yang selalu menjadi tempat berteduh paling nyaman disini.

Karena pergi ke gereja lebih menyenangkan dari pada menghamburkan uang di pusat pertokoan.

Karena pergi ke gereja lebih bermanfaat, dari pada tidur dan berdiam diri dirumah.

Jadi, sudahkah kamu pergi ke gereja?

Masihkah kamu ingat jalan ke gereja?

Atau mau pergi ke gereja bersamaku?

Aku mau kok.
Bahkan aku rindu untuk pergi kesini sama kamu, lalu berdoa disana bersamamu.

Kapan-kapan ya, aku dan gereja menunggumu.

Ps: Salam rindu, dariku di gereja yang jauh dari rumah...

Kamis, 12 November 2015

Blackforest and Choco Melted

Bukan.

Bukan soal bagaimana aku membuatnya, tapi bagaimana ketulusannya.


Sore ini aku kembali teringat akan gambaran kue coklat manis yang waktu itu kuhias dengan coklat warna-warni, seperti perasaanku yang sedang bahagia karna bisa berkumpul bersamanya.


Bersama siapa?


Bersama dia.

Iya,

Dia.


Dia yang sangat kusayangi.

Tidak pernah kurasa bahwa beberapa bulan ini aku melewati hidupku tanpanya. Tanpa canda dan suara serak tapi hangat darinya. Tanpa kata-kata, "Nak, kok nggak bisa loading yaa?" -ketika ia menyalakan komputer karena ada yang membayar listrik atau sekedar bermain game bola favoritnya-


Tadinya aku kira aku akan rindu rumah. Tapi nyatanya biasa saja. Bersyukur sekali aku merasa betah tinggal di sini, di kampung halamannya.
Tapi, sayangnya, ada suatu ketika, dimana aku rindu untuk bertanya, "Mau kemana pak?"
Lalu cenderung dijawab, "Ke pasar, mau ikut?"
Dan hampir selalu aku iyakan karna aku senang berjalan-jalan sekedar dibonceng naik motor dengannya.

Namun kini rasanya tak bisa kuwujudkan dalam jarak ratusan kilometer yang memisahkan kedua kota penuh kenangan ini. Entah bagaimana, sekeping hatiku telah jatuh pada kota budaya ini. Pada segelintir keindahan yang tidak pernah kujumpai di dekat rumah.
Dulu aku tidak pernah bermimpi untuk berada disini. Yaa, pernah sih, tapi hanya untuk berkunjung, bukan untuk menetap atau bahkan berguru. Tapi dialah yang berkata padaku, "Sejauh-jauhnya di Jogja, nggak akan sejauh Jakarta."


Tadinya aku ragu.
Tapi saat mengetahui bahwa aku harus benar-benar berjuang untuk mendapatkan kesempatan terakhirku, diapun yang mati-matian mengajakku berdoa, bahkan sebelum dia mengantarku ke tempat ujian.
Aku terharu. 
Tak pernah kusangka segala doa ini akan terkabul. Aku tak menyangka bahwa jalan yang diberikan Tuhan kepadaku adalah jalan untuk jauh darinya, tapi pasti lebih dekat dengan-Nya.

Iya, aku tau pasti akan itu.


Rasa syukurku yang tak kalah luar biasa adalah ketika aku masih bisa mendengar suara dan tawanya meski hanya sekedar lewat udara.

Jangan heran bila melihatku betah berlama-lama teleponan dengannya. Nyatanya aku memang tak pernah bosan atau kehabisan cerita bila berbincang dengannya.


Tapi sekarang dia tak lagi muda. 
Tak segagah dulu waktu masih bekerja. 
Tak sekuat dulu saat setiap kali kukagetkan bila masuk pintu rumah. 
Tak setampan dulu saat membuat mama jatuh cinta.

Meskipun demikian, 
bagiku, 
dia tetap muda dengan gaya bercandanya. 
Dia tetap gagah saat bermain bersama cucu-cucunya. 
Dia tetap kuat saat harus memperbaiki rumah. 
Dia tetap tampan dan rupawan karna kasih dan cintanya tak pernah membuatnya menjadi menua.


Karena dia selalu menjadi bapak yang paling baik untukku. 
Saking baiknya sampai aku rela melakukan segalanya hingga bisa memberikan sedikit kado sederhana saat bapak berulang tahun yang ke-65 bulan Mei lalu.

Bapaklah yang selalu memuji karyaku, meski seburuk apapun itu. Iapun yang selalu memberi apresiasi paling istimewa untukku.


Sungguh tak bisa kutuliskan ribuan cerita yang pernah kulewati dengannya, tapi teruntuk 17 tahun dan 8 bulan yang sangat berharga ini, terimakasih untuk cinta yang tak pernah ada habisnya, pak. Terimakasih sudah mau menjadi bapak buatku. Sampai bertemu natal nanti.



Beruntungnya diriku memilikimu, berikan cahaya terangi langkahku. Tak ku rasa sebelumnya, sejuta cinta yang terindah.....
(Yovie and Nuno - Sejuta Cinta)