Sabtu, 21 Oktober 2017

BANYAK MAU


Malam ini aku nggak sengaja liat status WhatsApp Mba-ku. Dia dan keluarganya baru saja nonton sebuah konser di salah satu mall di Bekasi. Dari secuil foto itu, kulihat penontonnya cukup ramai. Tapi, kok, anak-anak kecil semua ya?

Ternyata bintang tamu konsernya adalah dik Naura. Entah dia ini siapa. Tapi saking keponya kucari dia di google, di youtube, dan ternyata, bius lagunya yang ngena dan suaranya yang manis membuatku nggak bosen dengerin salah satu lagu berjudul Untuk Tuhan. Sampai tulisan ini diterbitkan, lagunya masih kuputer ulang terus di youtube. Ini linknya, biar kalian bisa dengerin, like and subscribe sekalian yaa Naura - Untuk Tuhan

Dalam setiap bait lagu itu, Naura bercerita kepada Tuhan perihal permintaannya yang tiada pernah habis. Persis dengan aku, kamu, dia. Kita semua pandai meminta kepada Tuhan. Kadang kala kita lupa bagaimana caranya bersyukur. Yang ada Cuma minta, minta, dan minta.

“Oh Tuhan, ini aku lagi, mencurahkan isi hati. Jangan bosan mendengarku lagi, aku yang banyak meminta,”

begitu kata Naura.


Tapi, nampaknya Tuhan takkan pernah bosan mendengarkan doa-doa umatNya. Nampaknya Ia tidak sok sibuk seperti kita-kita ini. Aku tahu Dia pasti bisa mendengar semuanya. Dan jikalau Dia juga bisa membaca tulisan-tulisanku dalam halaman lini masa ini, aku ingin menulis beberapa hal yang belakangan ini menghantuiku:




Apakah senyum tulus itu tidak begitu pantas kudapatkan?  
Mengapa Kamu menciptakan manusia yang banyak menuntut orang lain, tanpa pernah sesekali mengoreksi pribadinya? Bolehkah sekali saja aku memutarbalikkan keadaan ini menjadi lebih bahagia, lebih santai, lebih penuh canda tawa sepanjang waktu? Maaf jika aku terlalu banyak bertanya. Sepertinya memang Kamu yang paling tahu ujian apa yang pantas kudapatkan di masa-masa seperti ini. Terimakasih yaa, semoga Kamu berhasil membuatku makin dewasa.


Membuat pilihan dalam hidup itu sulit, tapi aku percaya Kamu sudah menuliskan hal-hal baik untuk sebuah hidup. Termasuk jika nantinya harus aku yang berjalan menaiki tangga tinggi itu. Kamu benar ada diatas kan? Kamu juga ada disampingku, bukan? Kamu juga bisa ada dibawah, menangkapku saat aku jatuh? Aku takut. Aku tidak mampu. Aku tahu bukan aku yang pantas. Aku tahu. Bukan aku. Aku sungguh tidak ada apa-apanya dibanding anak-anakMu yang lain. Aku sungguh tak punya berani yang luar biasa seperti yang lainnya. Aku sungguh tak punya suara lantang untuk pembangunan. Aku sungguh hanya punya kata-kata puitis ini. Aku hanya punya kelemahan ini. Tapi, aku tahu aku masih punya Kamu. Yaa, apapun yang akan terjadi, aku percaya ini bagian dari misi rahasiaMu.

Terimakasih sudah menciptakan satuan jarak dan waktu. 
Mereka sungguh sangat mengajariku tentang kehidupan yang Kamu berikan padaku. Mereka juga mengenalkan aku pada sahabatku yang bernama rindu. Jarak, waktu, dan rindu ini melebur menjadi sebuah kesatuan puisi berjudul, “aku rindu pulang kerumah”. Jika Kamu benar-benar bisa mengakses blog ku ini, baca baik-baik ya. Mungkin setelahnya Kamu bisa mempertimbangkan waktu yang kupunya agar aku lebih leluasa kembali kerumah. Atau mungkin Kamu hendak mendekatkan Jogja dan Bekasi dalam sepuluh kilometer saja? Terserahlah, hanya saja, sampaikan rinduku pada mereka ya. Sampaikan sayangku pada mereka. Sampaikan peluk ciumku. Aku sungguh amat rindu melihat tawa mereka secara langsung. Buatlah mereka selalu bahagia, jangan seperti aku yang kerap gelisah ingin pulang ke rumah.
 



Naura juga sempat berkata bahwa,
“Oh Tuhan, ini aku lagi. Terdengarkah semuanya? Tak akan bosan aku mengulang permintaanku sekali lagi.”
 
Nampaknya lagu ini memang sangat pas buat kalian yang banyak maunya.
Pas banget buat kalian yang tidak bisa berkata-kata, tapi hanya bisa mengirim doa.



Tenang saja,
Dia pasti mendengarnya.


Tenang saja.
Dia pasti menjawab doamu.


Pasti.


Dia tak pernah ingkar janji.

Sabtu, 14 Oktober 2017

F A F I F U

Tulisanku kali ini kupersembahkan untuk jiwa-jiwa yang selama ini ada disekitarku. Entah siapa, entah bagaimana, namun jiwa-jiwa itu selalu menghantuiku sepanjang waktu....


Duhai jiwa yang menggemaskan, mengapa setiap hari kamu selalu mengusik hidupku dengan celoteh lucumu. Kerap kali aku tertawa dibuatmu, namun mengapa makin kesini kamu malah semakin nakal dan selalu mengacak-acak suatu hal yang sudah kutata dengan cantik pada tempatnya? Duhai jiwa yang menggemaskan, akankah suatu saat kamu tahu betapa menyeballkannya menata segala sesuatu itu dari nol, dan ketika sudah mencapai angka 99 malah kamu tarik mundur lagi ke posisi minus 3. Wah, kamu ini memang sangat menggemaskan. Walaupun begitu, kamu pasti tahu betapa aku sangat menyayangimu. Jiwa yang menggemaskan, semoga setelah hari ini kamu bisa tumbuh dan belajar menjadi jiwa yang lebih dewasa, menjadi jiwa yang lebih bertanggung jawab pada hidupnya masing-masing.


Duhai jiwa yang menyebalkan, apakah kamu tahu rasanya gundah hatiku saat ini? Semenjak kamu dan aku bertemu dalam satuan bernama waktu, hari demi hariku selalu dipenuhi dengan goresan kisah denganmu. Hai kamu, jiwa yang menyebalkan, namun selalu kurindukan, tahukah kamu betapa aku sangat mengagumimu? Kamu itu memang menyebalkan. Entah kamu yang terlalu bodoh, atau aku yang terlalu bodoh. Entahlah, nampaknya kita sedang hidup dalam sebuah skenario pembodohan bernama jatuh cinta. Hai jiwa yang menyebalkan, tahukah kamu mengapa aku bisa begitu mudahnya jatuh cinta? Tahukah kamu bila tingkah lakumu sangat mengusik jiwaku? Tahukah kamu bila aku terlalu membawa perasaanku lebih jauh kearahmu? Aku rasa kini yang kamu tahu hanyalah bagaimana caranya kamu bisa mencintai dia sepenuh hati. Aku tahu kini kamu punya satu dua manusia lain yang membuatmu lebih nyaman dan bahagia. Yaaa, semoga saja dengannya kamu bisa bahagia ya. Jangan jadi makhluk yang menyebalkan lagi, nanti kamu malah makin disayang sama yang lain.

Duhai jiwa yang banyak gengsinya, pergi kemana kamu malam ini? Aku tak pernah memintamu mengajak aku pergi mengelilingi dunia. Toh menyendiri bersama musik, baterai hp yang penuh, dan koneksi internet bagiku cukup. Aku juga tak pernah memintamu memerhatikan bagaimana pekerjaan yang kulakukan sepanjang waktu. Hanya saja, kerap kamu begitu gengsi dan hanya melihat kekurangan serta kelemahanku. Tahukah kamu berapa harga sebuah waktu yang kupertaruhkan disini, hanya untuk bersamamu? Mungkin kamu tak pernah menyadari betapa aku juga menahan rindu yang begitu besar pada sebuah rumah. Mungkin kamu terlalu gengsi hingga belum mampu menyadari keberadaanku. Tapi, semoga setelah hari ini gengsimu sedikit berkurang yaa... Minimal tidak membuatku semakin pusing dengan hidupku bersama jiwa-jiwa lainnya itu.


Duhai jiwa-jiwa yang kurindukan, senang sekali ya bisa kumpul bareng dan berbagi cerita di jarak yang amat jauh itu. Senang sekali membayangkan jika aku berada ditengah-tengah kalian. Senang sekali menghabiskan malam minggu panjang ini dengan kalian. Ah, tapi nampaknya kesibukanku ini sungguh kurang ajar hingga memisahkan waktu yang kita miliki. Semoga aku bisa menemukan hari-hari baik untuk segera pulang bertemu kalian. Tak sabar rasanya tidur di kasur kamarku sendiri, menghirup udara rumah, meneguk air putih dari gelas gambar pesawatku. Tak sabar rasanya menemukan momentum itu kembali.


Duhai jiwa-jiwa yang sibuk terus, bagaimana kuliah-tugas-praktikum-dan kerja kelompok kalian? Apakah semuanya masih baik-baik saja seperti terakhir kali kita tertawa bersama di kampus? Rindu sekali rasanya bertemu kalian kalian ini. Setiap ada kesempatan bertemu, pasti ada saja yang punya urusan lain. Aku tau sih hidup ini tak hanya untuk satu tujuan. Tapi, jiwa-jiwa yang kusayangi, apakah kalian tahu bila ketika satu dua orang berkumpul, disanalah Tuhan berada. Ingin sekali rasanya melepas semua beban yang kupunya dan menggantinya dengan tawa canda dari kalian. Aku teramat merindukan masa-masa kebersamaan itu. Kapan kita bisa kumpul bareng lagi? Ayo kita piknik, jangan kuliah terus dong....


Duhai jiwa-jiwa yang belum lama kukenal, aku bingung mau ngomong apa. Maaf ya kalau aku terkadang jadi manusia yang egois dan tidak mau membantu kalian kalau lagi kesusahan. Maafin aku yang egois ini. Aku hanya tidak mau menjadikan hal ini sebagai sebuah prioritas utamaku. Aku juga punya kesibukan lainnya, seperti kalian. Aku juga ingin hidupku tenang, sama seperti kalian juga. Mungkin sekarang kita sedang berada dalam masa-masa pencobaan untuk menjadi jiwa yang lebih dewasa. Dengan membagi waktu dan mengatur emosi yang ada, kita harus belajar menjadi aset berharga yang bisa menjual kecerdasan dan keramahan kita. Teruntuk jiwa-jiwa yang belum lama kukenal, sesungguhnya aku menyayangi kalian, walaupun tidak sesayang aku dengan mereka yang lain. Tapi, kebersamaan kita semenjak awal mula bertemu rasanya cukup berharga untuk sekedar menyebut kalian keluarga baruku. Maaf ya kalau aku tidak pernah kumpul secara intensif dan terkesan tidak peduli dengan keluargaku sendiri. Sungguh, aku sedang sangat bimbang menentukan arah langkahku kedepannya. Semoga rasa sayangku makin besar pada kalian yaaa.... Semoga kita bisa semakin kompak, makin keren, makin terbaiiikkkk....


Duhai jiwa yang entah ada dimana, kamu dimana sih? Kapan kita akan dipertemukan? Atau jangan-jangan selama ini kita sudah sering bertemu? Ah, kenapa belum ada tanda-tanda kehadiranmu. Ataukah hanya aku yang begitu bodoh sampai tak bisa merasakannya. Ataukah hanya aku yang terlalu munafik dan selalu mengharapkan manusia lainnya, tanpa pernah menyadari kehadiranmu? Hai jiwa yang entah ada dimana, jika kamu membaca tulisan ini, kamu boleh loh membalasnya lewat sebuah tindakan sederhana, lewat kode rahasia, atau cukup lewat like and share aja. Jika nanti saatnya kita akan dipertemukan, kamu jangan kaget ya kalau mendapati aku yang begitu gila ini. Habisnya mencari keberadaanmu membuat aku makin nggak waras. Jika nanti kita dipertemukan, boleh ya kalau kita pergi bersama-sama ke gereja, habisnya aku nggak punya temen ke gereja. Kalau nggak ngejar-ngejar temen-temen buat kegereja, yaudah aku berangkat sendiri. Makanya, ayok kita ketemuuuuu....


Duhai jiwa yang banyak samanya denganku, tidak maukah kita menyamakan pikiran kita? Nampaknya perlahan-lahan kamu mulai mengerti arti dari gerak-gerik misteriusku selama ini. Aku tak tahu harus memulai segalanya dari mana, tapi yang jelas, dunia sempat beberapa kali hendak mempertemukan kita di persimpangan. Hanya saja aku sudah terlanjur belok ke arah lainnya. Apa mungkin ini waktu yang tepat untuk berpapasan denganmu? Apakah segala hayal dan kenyataan yang sama diantara kita bisa jadi pedoman untuk menyamakan hati kita juga? Ups, nanti dulu. Hati? Ah, rasanya sulit yaa. Tak apalah, punya banyak kesamaan denganmu rasanya sudah cukup lucu. Jadi, kapan kita sama-samaan lagi biar makin lucu? Kita jadi kan memperjuangkan hal itu bersama-sama? Ayolah kita bertemu, aku rindu dengan dawai-dawai melodimu itu.

Untuk jiwa-jiwa lainnya, teramat banyak rasanya yang harus kusampaikan. Mungkin akan kutuliskan di lain waktu. Semoga masih ada waktu yang mempertemukan kita. Amin.

Senin, 09 Oktober 2017

Yang Belum Sempat Terucap


Percakapan kita sore itu mungkin merupakan satu dari sekian banyak kata-kata berharga yang pernah kau utarakan padaku. 
Waktu mulai menunjukkan pukul 4 sore. 
Anggap saja pukul 4 lebih sedikit. 
Lebih yang masih kurang untuk sekedar menikmati kepulanganmu dari pergi jauh ke pulau yang berbeda.

Tak terasa, namun akhirnya aku tetap membiarkanmu untuk pamit pulang. 
Katamu lelah sepekan di hutan orang bercampur udara pesawat terbang menjenuhkan sabtu sore yang penuh cerita itu. 
Namun, sebelum pulang, kamu sempat berkata bahwa kamu hendak membantuku menemukan sosok idaman dalam dunia baru kita ini.

“Kamu mau yang seperti apa?” 
katamu menghapuskan raguku.

Aku terdiam. 

Aku berpikir keras, 
terlalu lamanya hingga kamu tak tahan untuk angkat kaki.


Akupun menghentikan lamunanku. 
Nampaknya aku belum menemukan jawaban dari pertanyaanmu, 
namun aku tetap buka suara.
“Adanya yang seperti apa?”



Kamu lantas merubah wajahmu menjadi penuh heran. 
Pasti kamu bingung kenapa aku malah balik bertanya.
“Kalau kamu serius, pasti ketemu sama yang tulus...,” 
katamu sembari memberi kedipan mata mautmu padaku, lalu pergi.



Semenjak sore itu, aku perlahan mulai merasa menyesal.
Mengapa aku terlalu lama berpikir?
Mengapa kemarin tak kujawab saja pertanyaanmu?


Kini nampaknya semua sudah terlambat. 
Akan tetapi, jika waktu masih bisa ditarik mundur, 
aku akan menjawab seperti ini padamu;
“Aku mau yang seperti kamu.”


Aku mau yang tak perlu setampan romeo, 
tapi murah hati bagai malaikat dari surga.
 Aku mau yang seperti kamu, 
yang meskipun kerap menyebalkan, 
namun selalu berhasil mengusir gundah gulanaku. 
Merubahnya menjadi tawa, 
sipu, 
malu. 


Aku mau yang sepertimu, 
yang cerdas, 
mampu mengatasi masalah kelas dewa, 
mampu mengutarakan gagasan indah yang penuh kreativitas. 
Yang tak hanya pandai bicara,
 tapi juga gesit bertindak.
 Aku mau yang sepertimu.



Aku mau satu yang seperti kamu.
 Tak apa jika itu bukan kamu. 
Tak apa jika tak serupawan kamu. 
Yang penting satu saja sepertimu, 
yang mampu menuntunku menjadi lebih baik dan lebih istimewa dari sebelumnya. 


Satu saja. 
Walaupun bukan kamu, 
bagiku tak apa.