Malam ini aku nggak sengaja liat status WhatsApp Mba-ku. Dia dan
keluarganya baru saja nonton sebuah konser di salah satu mall di Bekasi. Dari
secuil foto itu, kulihat penontonnya cukup ramai. Tapi, kok, anak-anak kecil
semua ya?
Ternyata bintang tamu konsernya adalah dik Naura. Entah dia ini
siapa. Tapi saking keponya kucari dia di google, di youtube, dan ternyata, bius
lagunya yang ngena dan suaranya yang manis membuatku nggak bosen dengerin salah
satu lagu berjudul Untuk Tuhan. Sampai tulisan ini diterbitkan, lagunya masih
kuputer ulang terus di youtube. Ini linknya, biar kalian bisa dengerin, like
and subscribe sekalian yaa Naura - Untuk Tuhan
Dalam setiap bait lagu itu, Naura bercerita kepada Tuhan perihal permintaannya
yang tiada pernah habis. Persis dengan aku, kamu, dia. Kita semua pandai
meminta kepada Tuhan. Kadang kala kita lupa bagaimana caranya bersyukur. Yang
ada Cuma minta, minta, dan minta.
“Oh Tuhan, ini aku lagi, mencurahkan isi hati. Jangan bosan mendengarku lagi, aku yang banyak meminta,”
begitu kata Naura.
Tapi, nampaknya Tuhan takkan pernah bosan mendengarkan doa-doa
umatNya. Nampaknya Ia tidak sok sibuk seperti kita-kita ini. Aku tahu Dia pasti
bisa mendengar semuanya. Dan jikalau Dia juga bisa membaca tulisan-tulisanku
dalam halaman lini masa ini, aku ingin menulis beberapa hal yang belakangan ini
menghantuiku:
Apakah senyum tulus itu tidak begitu pantas
kudapatkan?
Mengapa Kamu menciptakan manusia yang
banyak menuntut orang lain, tanpa pernah sesekali mengoreksi pribadinya? Bolehkah
sekali saja aku memutarbalikkan keadaan ini menjadi lebih bahagia, lebih
santai, lebih penuh canda tawa sepanjang waktu? Maaf jika aku terlalu banyak
bertanya. Sepertinya memang Kamu yang paling tahu ujian apa yang pantas
kudapatkan di masa-masa seperti ini. Terimakasih yaa, semoga Kamu berhasil
membuatku makin dewasa.
Membuat pilihan dalam hidup itu sulit, tapi aku percaya Kamu sudah menuliskan
hal-hal baik untuk sebuah hidup. Termasuk jika nantinya harus aku yang berjalan
menaiki tangga tinggi itu. Kamu benar ada diatas kan? Kamu juga ada disampingku,
bukan? Kamu juga bisa ada dibawah, menangkapku saat aku jatuh? Aku takut. Aku tidak
mampu. Aku tahu bukan aku yang pantas. Aku tahu. Bukan aku. Aku sungguh tidak
ada apa-apanya dibanding anak-anakMu yang lain. Aku sungguh tak punya berani
yang luar biasa seperti yang lainnya. Aku sungguh tak punya suara lantang untuk
pembangunan. Aku sungguh hanya punya kata-kata puitis ini. Aku hanya punya
kelemahan ini. Tapi, aku tahu aku masih punya Kamu. Yaa, apapun yang akan terjadi,
aku percaya ini bagian dari misi rahasiaMu.
Terimakasih sudah menciptakan satuan jarak dan
waktu.
Mereka sungguh
sangat mengajariku tentang kehidupan yang Kamu berikan padaku. Mereka juga
mengenalkan aku pada sahabatku yang bernama rindu. Jarak, waktu, dan rindu ini
melebur menjadi sebuah kesatuan puisi berjudul, “aku rindu pulang kerumah”.
Jika Kamu benar-benar bisa mengakses blog ku ini, baca baik-baik ya. Mungkin
setelahnya Kamu bisa mempertimbangkan waktu yang kupunya agar aku lebih leluasa
kembali kerumah. Atau mungkin Kamu hendak mendekatkan Jogja dan Bekasi dalam
sepuluh kilometer saja? Terserahlah, hanya saja, sampaikan rinduku pada mereka
ya. Sampaikan sayangku pada mereka. Sampaikan peluk ciumku. Aku sungguh amat
rindu melihat tawa mereka secara langsung. Buatlah mereka selalu bahagia,
jangan seperti aku yang kerap gelisah ingin pulang ke rumah.
Naura juga sempat berkata bahwa,
“Oh Tuhan, ini aku lagi. Terdengarkah semuanya? Tak akan bosan aku mengulang permintaanku sekali lagi.”
Nampaknya lagu ini memang sangat pas buat kalian yang banyak maunya.Pas banget buat kalian yang tidak bisa berkata-kata, tapi hanya bisa mengirim doa.
Tenang saja,
Dia pasti mendengarnya.
Tenang saja.
Dia pasti menjawab doamu.
Pasti.
Dia tak pernah ingkar janji.



