Senin, 25 Desember 2017

I TRUST YOU

 
Trust atau percaya merupakan sebuah hal yang kerap menjadi bumerang bagi manusia. Menaruh rasa percaya pada orang lain atau pada suatu hal disekitar kita kerap kali malah menjatuhkan kita pada lembah kekelaman. Semisal saja, kamu percaya bahwa dia jatuh cinta padamu dalam sekedip tatapan mata, lalu kamu pun turut serta terjatuh dalam cinta butanya. Padahal, kamu tidak tahu bahwa dirimu bukanlah satu-satunya orang yang Ia cintai. Masih banyak manusia diluar sana yang juga terlanjur percaya pada bualan cintanya.

Percaya tidak hanya melulu seputar hati dan cinta. Percaya pada Tuhan sang penguasa alam semesta pun menjadi acuan terbaik dalam hidup. Apa agamamu? Bagaimana caramu beribadah? Siapa Tuhan yang kamu sembah? Kerap berbagai pertanyaan itu muncul dalam sekejap. Toh, siapa peduli apa agamaku, siapa Tuhanku, yang penting aku percaya bahwa Dia lah yang memberi kehidupan dan segala sesuatu keajaiban di dalamnya.

Kepercayaan kerap menyusahkan dirimu. Ketika kamu sedang sibuk-sibuknya dengan ini itu yang menyebalkan, lalu semua orang menaruh kepercayaan yang tinggi kepadamu. Mereka berkata, “Kamu bisa kok. Aku yakin kamu pasti bisa.”

Halah, percuma saja kamu bilang aku bisa kalau kamu hanya menatapku dari kejauhan dan bahkan tidak mengerti seberat apa rasa percaya ini ada dipundakku.

Tapi, dibalik itu semua, aku percaya bahwa cinta, harta, bahagia, bahkan tahta itu akan datang kepadamu pada saat yang tepat. Tuhanmu itu mahatau. Tuhanmu itu punya telinga dimana-mana, tidak tahu ya? Setiap saat Dia bisa mendengar keluh kesah sambatanmu tentang dunia dan kesibukan yang tiada hentinya ini. Selalu saja Dia bisa mendengar air matamu yang menetes, isak tangismu dalam diam. Dia dengar. Dia mendengar semuanya, bahkan segala hal yang tidak mampu kamu ucapkan.

Dia bahkan tahu semuanya.
Dia juga tahu betapa dalamnya rasa yang kamu punya untuk orang itu, bahkan kamu tidak menyadari seberapa besar rasa itu, hingga tak pernah mampu kamu ungkapkan kepadanya.

Berbeda dengan manusia yang hanya bisa percaya padamu sebatas “wah ternyata kamu hebat ya, salut punya teman sepertimu,” atau sebatas sinyal GPS yang bahkan tidak kamu percayai ketika malam-malam berkendara mencari jalan tikus supaya tak terjebak kemacetan kota.

Ada begitu banyak hal yang perlu kamu percayai.
Yang paling sederhana bisa dimulai dari......
”Percayalah kalau kamu itu berarti!”

Hidupmu itu tercipta untuk memberi arti pada dunia ini.
Tidak hanya bagi satu dua orang.
Tapi bagi bangsa dan negaramu sendiri.


Hal lainnya yang juga sederhana adalah,
“Percayalah bahwa akan selalu ada pelangi dibalik hujanmu.”
Kita tidak pernah tau dimana adanya pelangi itu. Terkadang kita tidak menyadari bahwa ketika hujan deras datang, Pelangi itu siap sedia memberi payung untuk kita supaya kita tidak basah. Namun, kamu terlalu bahagia menemui hujan itu. Padahal kamu tahu kalau nantinya akan basah, bahkan flu karna kedinginan. Sesakit apapun itu tetap kamu nikmati dengan bahagia. Padahal, jika ada pelangi lebih membuatmu bahagia, iya kan?


Kembali lagi ke sebuah kata bernama percaya.
Malam ini aku mendengar sebuah lagu berbunyi seperti ini,
“Aku percaya kamu, melebihi apa yang orang katakan kepadaku. Aku percaya kamu, tak peduli apa yang orang lain katakan tentang kamu.”

Begitu banyak orang yang berkata buruk tentang satu dua hal, tapi hatimu harus tetap percaya pada satu hal penting. Percayalah apa yang hatimu katakan. Percayalah, sesulit apapun untuk percaya, kamu harus tetap mempercayainya.

Intinya, aku percaya Kamu ada, entah dimana.
Tapi aku tau, Kamu ada.
Dan aku tau, Kamu punya sesuatu yang indah untukku.
Entah itu berwujud apa, entah kapan akan kamu berikan untukku,
Tapi aku percaya, suatu saat ketika aku menyadarinya, aku akan bahagia.


Oiya, terimakasih ya sudah selalu datang dan lahir kembali setiap tahunnya.
Aku rindu akan kehadiranMu, termasuk rindu bertemu denganMu (bersama dia).
Yah, salah deh. Dia lagi dia lagi.

Satu hal penting tentang lagi,
Aku percaya, Kamu punya misi rahasia yang lucu.
Terimakasih ya. Aku banyak belajar menjadi lebih dewasa karna ini.

Minggu, 17 Desember 2017

Kata Orang


Ada yang pernah bilang kalau "jauh di mata pasti dekat di hati".


Apa iya?



Aku masih bisa tuh melihatmu, meskipun dari jauh.
Aku masih bisa memperhatikanmu, meski hanya sembunyi-sembunyi.
Aku masih bisa mendengar suaramu, menghirup aroma parfum itu, merasakan keberadaanmu, padahal kamu jauh disana.


Apa benar itu yang kata orang bernama rindu?

Kok aku rindu ya sama kamu?
Kok aku tiba-tiba saja ingat manisnya senyumanmu.
Tiba-tiba aku merasakan hangatnya sentuhanmu.
Tiba-tiba kamu seperti ada disini, disampingku, meskipun tak nyata.



Itu rindu, atau hanya suatu hal semu?

Mengapa kamu seperti berlari-lari dipikiranku. Meresahkan setiap tarikan nafasku, menghantui relung jiwaku.



Itu rindu atau hanya halusinasiku?

Tidak cuma hari ini, bahkan setiap detik kamu ada disini. Hanya sekelebat melintas, namun melekat dalam ingatanku.



Kamu itu nyata atau tidak sih?



Lama-lama aku mulai merenung dalam gelap, mengenang segala yang pernah ada. Semua rangkaian hari demi hari yang pernah kulewati bersamamu dulu.

Jikalau jarak ini memang sengaja memisahkan kita, ataukah jarak memang senantiasa merubah haluan kita satu persatu supaya tak kunjung bertemu?


Jarak lagi.

Dia lagi.


Lelah aku dengan semua ini.
Tak ada habis-habisnya waktu kubuang percuma hanya untuk membicarakan ini.





Jarak,






Kamu,





Rindu,


Semuanya melebur jadi satu.


Semuanya menjadi semakin serba salah.






Tau gak sih?

Aku tuh rindu kamu.


Tapi jarak ini begitu jauh.


Jarak ini yang memisahkan kita.


Jarak ini yang tak pernah bisa kukejar, tak pernah bisa kulewati begitu saja. Tak bisa kulaju meski dengan jet tempur sekalipun. Jarak ini selalu berteriak padaku, bahwa aku tak boleh melangkah lagi.

"Kamu tidak boleh terlalu jauh. Cukup disini saja."

Dia selalu seperti itu padaku. Selalu saja itu yang diucapkannya tiap aku mengenang kamu.



Tapi setelah kupikir-pikir, dia baik juga sih.
Dia selalu menyadarkanku, bahwa kamu memang bukan untuk aku.





Eh, iya kah?

Tapi jika takdir nya kamu untuk aku, bagaimana?

Apa aku harus mengingkari itu?

Jika takdirnya kamu memang harus bertemu dengan orang lain sebelum denganku, jika takdirnya aku harus jatuh cinta lebih dulu, jika takdirnya aku harus merindukan milik orang lain, apa salah?





Ah, sudahlah.

Salah atau tidak, toh cuma Si Dewa Cinta yang punya mandat untuk ini semua.

Aku toh hanya bisa jatuh cinta pada tatapanmu.

Aku entah bagaimana bisa jatuh cinta.






Karena, nyatanya sedari awal, kamu memang pemenang, dan aku hanya juara kedua.

Itu saja.

Tidak lebih.






Jumat, 01 Desember 2017

Singkat, Padat, Melekat

Belakangan ini aku sering bergunjing perihal waktu, waktu, dan waktu.

Dia memang amat kurangajar.

Di post sebelumnya aku bilang dia bisa berjalan lambat, namun berlari secepat kilat pun bisa banget.
Teruntuk waktu, aku punya satu lagi tulisan panjang untukmu....


Singkat.

Iya, waktu memang sangat singkat. 4 bulan yang rasanya lama, ternyata singkat.
4 bulan kebelakang ini aku disibukkan dengan kegiatan maha menyebalkan. Kegiatan yang amat menyita waktuku. Namun tidak disangka, lama-lama dari sebal berubah jadi sayang. 4 bulan ini aku mengenal puluhan manusia-manusia baru. Kami berjuang bersama membagi waktu, membelah diri, menahan emosi satu sama lain. Mulai dari si A yang kerap datang mepet, si B yang kalau makan lama sekali, si C yang bikin baper, si D yang galak, si E yang sering menggila. Banyak sifat-sifat baru yang kutemui disana. Perbandingan umur tidak lagi menjadi tatanan baku diantara kami. Dulunya kami berlagak sok prosedural. Ini itu harus sesuai, apa-apa harus nurut. Sekarang?

Rasanya suasana dapat dengan mudah mencair. Tatapan tajam berisyarat singa pun berubah jadi mata berbinar penuh bahagia. Ekspresimu yang dulu kerap datar kinipun nampak semakin manis seperti arum manis yang kubeli di sekaten minggu lalu.


Padat.

4 bulan ini terasa padat seperti kue donat buatan mama. Penuh sesak dengan kunjungan bis-bis yang ramai dan tiba-tiba. Penuh dengan mereka yang kerap tour de gerai saja, tanpa membeli sepotong cenderamata. Padat, namun banyak yang bermanfaat.

4 bulan ini aku belajar banyak hal. Dari cara reload kemasan, alur bersih-bersih gerai, melipat dengan cepat, sampai menempelkan isolasi di kemasan supaya terlihat cantik. Aku juga belajar untuk saling memahami satu sama lain. Saling peka terhadap kondisi di sekitarku. Saling paham, apa yang konsumen mau dan butuhkan. Saling menghibur, tatkala kamu banyak melamun dan memikirkan skripsi yang tak kunjung ada progressnya.


Melekat.
4 bulan ini layaknya permen karet. Awalnya hanya membeku. Kaku dibungkus plastik kecil, sempit, tidak nyaman sekali rasanya. Tapi lama kelamaan, semakin kamu mengunyahnya, semakin kamu menikmati manisnya, semakin kamu merasakan lenturnya, merasakan betapa melekatnya segala sesuatu ini.

Tadinya aku memang amat bodoh. Mencari stok di lemari saja lama sekali. Tadinya aku begitu sulit mengecek stok yang harus di tambah, tapi kamu mengajari aku cara mudahnya. Kamu mengajari aku cara nyaman berada disini. Kamu mengajari aku bagaimana menjadi seorang yang mampu menjual senyum, sapa, kecerdasan, dan keramahannya. Kamu mengajari aku begitu banyak hal.

Kamu juga mengajari aku bagaimana caranya jatuh cinta. Kamu mengajari aku langkah-langkah menyayangi pekerjaanku sendiri, rela mengorbankan hal lain demi sebuah dedikasi yang tinggi. Kamu memberikanku contoh dan bukti nyata, bahwa disinilah rasa kekeluargaan itu ada. Kamu mengajak aku untuk lebih peduli, lebih mampu membaca keadaan kawan sendiri.

Kamu mengajari aku beragam ilmu seputar tempat ini. Tempat yang tadinya asing bagiku, namun kini kerap kurindu dalam mimpiku. Kamu mengajari aku menahan emosiku sendiri, mengontrol rasa jengkelku karena mereka banyak mau.

Kamu pernah berkata, "Sabar yaa, turutin aja..."

Kamu mengajari aku untuk selalu tersenyum, selalu ceria, selalu tertawa meski aku dirundung duka. Kamu membuat aku tertawa lebih lega dari sebelumnya. Kamu membuat aku lebih jatuh cinta pada tempat ini. Kamu membuatku menjadi lebih sayang dan sulit melepaskan. Kamu jugalah yang membuat rasa lelahku lenyap seketika, diganti tawa dan canda yang tak bisa dirupiahkan. Kamu mengajariku, bahwa dua puluh dua ribu tidak sebanding dengan kerja keras ini, namun nilai-nilai yang kita dapat bahkan lebih berharga dari itu.


Kembali lagi pada satuan waktu yang kini mulai menipis.

Nampaknya waktu kali ini memang sungguh kurang ajar. Dia benar-benar tidak tahu diri. Dia selalu saja merusak sebuah kenyamanan yang baru ku anyam bersama kalian.

4 bulan ini memang terasa lama, namun sangat cepat berlalu. Pada akhirnya, di hari ke-122 ini, hari yang seharusnya menjadi perpisahan kita, hari yang seharusnya dapat kumanfaatkan untuk merangkul kamu kamu sekalian, namun menjadi hari yang kutangisi sendiri karena aku berada jauh di belahan bumi lainnya.

Pada akhirnya, terimakasih untuk 4 bulan yang luar biasa ini. Kalian benar-benar mampu membangunkan aku dari tidur panjang menuju sebuah perjuangan.



Terimakasih untuk segala ilmunya.
Terimakasih untuk segala koreksinya.
Terimakasih untuk segala hal baik-buruknya.
Terimakasih untuk backup-backup nya.
Terimakasih untuk makan bersama di setiap shiftnya.
Terimakasih untuk todays nya yang enaaakkk.
Terimakasih untuk moment cupir culas barengnya.
Terimakasih untuk greeting nya yang selalu tulus dan ikhlas.
Terimakasih untuk selalu mengingatkan sekarang hari apa.
Terimakasih buat kemasannya, buat askas, asaskasnya.
Terimakasih sudah membuatku tenang setiap aku merasa panik.
Terimakasih untuk kecerdasan, senyum, dan keramahannya.
Terimakasih untuk segala sesuatunya.


Terimakasih untuk 4 bulan ini, mas, mba....
Tidak pernah menyesal rasanya jatuh kedalam zona tidak nyaman. Tidak hanya menemukan teman-teman baru, namun aku juga menemukan banyak sekali mas-mba baru. Terimakasih untuk keluarga baru yang sangat indah ini. Bangga rasanya pernah mengenal manusia-manusia seperti kalian ini.

Terimakasih untuk pertemuan yang singkat, namun padat akan kenangan yang selalu melekat di ingatan.

Suatu kehormatan pernah menjadi garda depan bersama kalian. Aku akan selalu merindukan suasana tempat ini bersama kalian.



Sampai jumpa di ketidaksengajaan lainnya. 



Dengan penuh cinta, dari kejauhan yang entah dimana.

Tertanda,
Luna 60.