Ada sepuluh macam digit angka yang entah mengapa sejak dulu sudah tercipta begitu saja di dunia ini. Dari kesepuluh itu, tercipta lagi sebegitu banyaknya angka yang ada. Dan dari sekian banyak itu, aku cuma suka satu macam angka. Angka yang cukup sederhana tapi punya banyak makna.
Namanya dua belas.
Kenapa harus dua belas sih?
Sesederhana karena aku terlahir di tanggal dua belas. Dua
belas kerap jadi angka keramat. Katanya sih karena angka yang ada di jam cuma
sampai 12, katanya sih karena bulan di kalender cuma ada 12. Istimewanya sih
karena Yesus punya 12 murid di cerita Injil kristiani. Entah apa lagi yang berbeda
dari angka 12 itu. Tetapi, setidaknya setiap tanggal 12, aku selalu merasa
beruntung bisa merasakan kehidupan yang amat luar biasa di dunia ini.
Dua belas yang kali ini adalah bulan Desember; ia merupakan
salah satu masa luar biasa yang pernah ada. Desember selalu jadi bulan yang
ditunggu-tunggu banyak orang. Mulai dari alasan libur akhir tahun yang lumayan
panjang, bisa dari bonus sisa akhir tahun yang menggiurkan, diskon dan promo
akhir tahun yang ada dimana-mana, sampai moment akhir tahun yang tidak pernah
mengecewakan penantianku selama setahun.
Moment itu bernama natalan. Nah, natal entah kenapa
selalu berhasil jadi agenda tahunan paling keren setelah ulang tahunku. Memang
natal bukan pas tanggal 12, tapi natal selalu tepat waktu datang di bulan dua
belas. Iya, Desember selalu punya natal yang indah setiap tahunnya.
Tapi, tahun ini, nggak cuma natal yang kutunggu-tunggu.
Nggak cuma natal yang bikin hatiku jadi dag dig dug tak karuan. Nggak cuma
natal yang bikin semuanya jadi terasa lebih indah.
Tiba-tiba saja ada dua moment lain yang memaksaku menanti
dan menghitung mundur kehadirannya. Tapi sialnya, kedua moment ini sangat
membuat hatiku bergejolak. Kedua moment ini yang berkaitan satu sama lain, dan
malah membuatku harus sedikit berkorban, atau bahkan banyak berkorban untuk
satu moment lainnya.
Moment itu bernama pulang kampung. Tahun ini mama bapak
dan mas mbak tidak ada yang berencana main ke Jogja seperti semester satu dulu.
Tahun ini mau tidak mau aku harus sekali kembali kerumah. Tahun ini rindunya
semakin menusuk relung jiwa dan menarikku kembali kesana. Tahun ini semangatku
untuk pulang lebih drastis dari liburan yang lalu. Saking semangatnya, aku
sudah beli tiket dari lamaaaa sekali.
Tapi, tahun ini pula ada satu moment paling keren dan
paling besar di rumah. Iya, di rumah, rumah baruku. Ada SIKLUS yang Desember
ini menyambut maba-maba katolik kesayanganku di kampus. Ada SIKLUS yang dengan
sangat menyedihkan sekali harus membuatku benar-benar terpaksa mengundurkan
kepulanganku ke Bekasi.
Loh, kok kamu mundur pulangnya?
Hampir semua keluargaku marah waktu itu. Udah kuliah lama
banget, sibuk rapat, libur cuma bentar tapi masih kepotong acara ini itu. Aku
memang mau banget pulang, Ma, Pak... tapi, sayangnya, aku juga nggak bisa
meninggalkan rumah yang satu itu. Sayangnya hatiku sudah tertinggal di rumah
itu, jadi apapun itu, kalau aku masih bisa, pasti kulakukan. Oke, anggap saja ini
pencitraan hahaha...
Tidak apa lah menunda sebentar untuk pulang ke Bekasi.
Tidak apa lah kena potongan biaya pembatalan tiket. Tidak apa lah harus ke
stasiun ngurus ini itu dan bayar parkir dua ribu. Toh, SIKLUS nya cuma setahun
sekali, tahun depan mungkin nggak ada SIKLUS yang kayak tahun ini lagi. Toh,
ada banyak cerita berharga yang harganya lebih mahal dari refund tiket
keretaku.
SIKLUS itu apa sih? Kok kamu rela mundur pulangnya demi SIKLUS?
SIKLUS itu rekoleksi keluarga kristus. Tahun ini
panitianya angkatanku a.k.a. pengurus baru. Tahun ini semuanya jadi seribu kali
lebih keren dari tahun lalu. Tahun ini tingkat kebaperannya meningkat 47% lebih
tinggi dibanding SIKLUS 2015. Tahun ini pula, aku dan semua panitia merasa
lebih spaneng dibanding sebelumnya hehehe...
Semua tentang SIKLUS menjadi deretan kisah paling favorit
di bulan terakhir 2016 ini. Semua tentang SIKLUS jadi kenangan paling mahal
tahun ini. Mulai dari rapat-rapat maha padat, data mahasiswa paling susah
dihubungi, vila paling susah didapet karena akhir tahun, anggaran paling
bengkak, sampai petugas ini itu yang banyak ngaretnya.
But, overall, it’s okay. I just fall in love with SIKLUS dan tidak akan pernah menyesal untuk refund tiket pulang :)
Dari SIKLUS, aku belajar kalau komitmen dan keseriusan
seseorang level nya berbeda. Dari SIKLUS, aku paham betul bagaimana sulitnya
menyatukan beragam pikiran, jiwa, bahkan raga manusia.
Dari SIKLUS, aku kenal
banyak adik-adik seru yang bisa digodain tiap ketemu.
Dari SIKLUS, aku tau mana
anak yang serius dan rela libur-libur tetep mau kumpul bareng kelompoknya buat
bahas pentas seni.
Dari SIKLUS, aku bisa sok-sok-an membagi takdir mereka dalam
sebuah gugusan kelompok dengan kakak pembimbing yang ada.
Dari SIKLUS, aku sadar
kalau kelompok tiga nggak cuma tahun lalu terlantarnya, tahun ini juga sering
ditinggal sama kambingnya, maafin ya dik adik.... Tapi meskipun dari latihan
yang minim, aku bangga sama pensinya kelompok tiga. Kalian keren gengsss :)
Dari SIKLUS juga, aku terharu karena ternyata maba
antusias banget sama UKMK. Dari SIKLUS, aku bisa ngerasain menggigil jam 3
pagi, tapi lumayan hangat di api unggun malam harinya.
Dari SIKLUS, aku tahu
bagaimana paniknya nunggu kabar dari orang penting yang datang terlambat.
Dari
SIKLUS, aku jadi berani sok kenal sok deket sama alumni yang baru ketemu
sekali.
Dari SIKLUS, aku paham betul rasa kelegaan dan arti sebuah harga
rupiah.
Dari SIKLUS, aku bangga karena semua kerja keras satu bulanan lebih yang penuh
spaneng terbayar manis dengan jutaan tawa yang ada.
Dan, walaupun dari SIKLUS aku sering dimarahin karena pulang malam,
tapi aku punya banyak sekali pengalaman dari pulang malamku itu. :D
Terlalu banyak cerita tentang SIKLUS yang terjadi kemarin
itu. Terlalu banyak frame favorit yang nggak bisa hilang dari ingatan. Sumpah
deh, kalian nyesel nggak ikut SIKLUS! Kalian nyesel nggak jadi bagian dari
panitia SIKLUS! Kalian nyesel nggak dateng ke SIKLUS! Kalian kalian harus
nyesel nggak bisa liat betapa Tuhan maha baik mempertemukan anak-anakNya dalam
satu dimensi yang sama, dan melebur satu dalam cinta yang sama.
Satu moment paling ditunggu baru saja berlalu, tinggal
pulang kampung yang ku tunggu. Ya, meskipun cuma seminggu disana, cuma numpang
bobo, maem, dan numpang natalan doang, tapi tetap jadi suatu hal yang
kutunggu-tunggu. Sabar ya, besok aku pulang. Tunggu saja didepan rumah :)
Pada akhirnya, Desember yang sebentar lagi mau habis ini
punya banyak cerita yang nggak pernah habis. Terlalu manis untuk dilupakan, karena
terlalu indah untuk ditinggalkan. See you next year, dua belas
tersayangku. Semoga tahun depan kita bisa punya cerita yang bisa
kuceritakan lagi disini. Semoga kisah kita nggak cuma angan belaka, karena aku
percaya, Tuhan punya jalan untuk ketulusan cinta di bulan dua belas.
Terlalu banyak orang-orang kesayangan yang entah mengapa
makin kusayangi karena cerita di dua belas kali ini. Dari kamu, dia, mereka,
sampai kamu kamu yang lainnya. Walaupun masih ada satu dua kekurangan, tapi
sejauh ini Desemberku cukup sempurna :)
And i’ll go back to december all the time....




