Selasa, 20 Desember 2016

DUA BELAS TERSAYANG





Ada sepuluh macam digit angka yang entah mengapa sejak dulu sudah tercipta begitu saja di dunia ini. Dari kesepuluh itu, tercipta lagi sebegitu banyaknya angka yang ada. Dan dari sekian banyak itu, aku cuma suka satu macam angka. Angka yang cukup sederhana tapi punya banyak makna.


Namanya dua belas.





Kenapa harus dua belas sih?


Sesederhana karena aku terlahir di tanggal dua belas. Dua belas kerap jadi angka keramat. Katanya sih karena angka yang ada di jam cuma sampai 12, katanya sih karena bulan di kalender cuma ada 12. Istimewanya sih karena Yesus punya 12 murid di cerita Injil kristiani. Entah apa lagi yang berbeda dari angka 12 itu. Tetapi, setidaknya setiap tanggal 12, aku selalu merasa beruntung bisa merasakan kehidupan yang amat luar biasa di dunia ini.

Dua belas yang kali ini adalah bulan Desember; ia merupakan salah satu masa luar biasa yang pernah ada. Desember selalu jadi bulan yang ditunggu-tunggu banyak orang. Mulai dari alasan libur akhir tahun yang lumayan panjang, bisa dari bonus sisa akhir tahun yang menggiurkan, diskon dan promo akhir tahun yang ada dimana-mana, sampai moment akhir tahun yang tidak pernah mengecewakan penantianku selama setahun.

Moment itu bernama natalan. Nah, natal entah kenapa selalu berhasil jadi agenda tahunan paling keren setelah ulang tahunku. Memang natal bukan pas tanggal 12, tapi natal selalu tepat waktu datang di bulan dua belas. Iya, Desember selalu punya natal yang indah setiap tahunnya.

Tapi, tahun ini, nggak cuma natal yang kutunggu-tunggu. Nggak cuma natal yang bikin hatiku jadi dag dig dug tak karuan. Nggak cuma natal yang bikin semuanya jadi terasa lebih indah.

Tiba-tiba saja ada dua moment lain yang memaksaku menanti dan menghitung mundur kehadirannya. Tapi sialnya, kedua moment ini sangat membuat hatiku bergejolak. Kedua moment ini yang berkaitan satu sama lain, dan malah membuatku harus sedikit berkorban, atau bahkan banyak berkorban untuk satu moment lainnya.

Moment itu bernama pulang kampung. Tahun ini mama bapak dan mas mbak tidak ada yang berencana main ke Jogja seperti semester satu dulu. Tahun ini mau tidak mau aku harus sekali kembali kerumah. Tahun ini rindunya semakin menusuk relung jiwa dan menarikku kembali kesana. Tahun ini semangatku untuk pulang lebih drastis dari liburan yang lalu. Saking semangatnya, aku sudah beli tiket dari lamaaaa sekali.
Tapi, tahun ini pula ada satu moment paling keren dan paling besar di rumah. Iya, di rumah, rumah baruku. Ada SIKLUS yang Desember ini menyambut maba-maba katolik kesayanganku di kampus. Ada SIKLUS yang dengan sangat menyedihkan sekali harus membuatku benar-benar terpaksa mengundurkan kepulanganku ke Bekasi.



Loh, kok kamu mundur pulangnya?

  
Hampir semua keluargaku marah waktu itu. Udah kuliah lama banget, sibuk rapat, libur cuma bentar tapi masih kepotong acara ini itu. Aku memang mau banget pulang, Ma, Pak... tapi, sayangnya, aku juga nggak bisa meninggalkan rumah yang satu itu. Sayangnya hatiku sudah tertinggal di rumah itu, jadi apapun itu, kalau aku masih bisa, pasti kulakukan. Oke, anggap saja ini pencitraan hahaha...
Tidak apa lah menunda sebentar untuk pulang ke Bekasi. Tidak apa lah kena potongan biaya pembatalan tiket. Tidak apa lah harus ke stasiun ngurus ini itu dan bayar parkir dua ribu. Toh, SIKLUS nya cuma setahun sekali, tahun depan mungkin nggak ada SIKLUS yang kayak tahun ini lagi. Toh, ada banyak cerita berharga yang harganya lebih mahal dari refund tiket keretaku.



SIKLUS itu apa sih? Kok kamu rela mundur pulangnya demi SIKLUS?


SIKLUS itu rekoleksi keluarga kristus. Tahun ini panitianya angkatanku a.k.a. pengurus baru. Tahun ini semuanya jadi seribu kali lebih keren dari tahun lalu. Tahun ini tingkat kebaperannya meningkat 47% lebih tinggi dibanding SIKLUS 2015. Tahun ini pula, aku dan semua panitia merasa lebih spaneng dibanding sebelumnya hehehe...

Semua tentang SIKLUS menjadi deretan kisah paling favorit di bulan terakhir 2016 ini. Semua tentang SIKLUS jadi kenangan paling mahal tahun ini. Mulai dari rapat-rapat maha padat, data mahasiswa paling susah dihubungi, vila paling susah didapet karena akhir tahun, anggaran paling bengkak, sampai petugas ini itu yang banyak ngaretnya.

 But, overall, it’s okay. I just fall in love with SIKLUS dan tidak akan pernah menyesal untuk refund tiket pulang :)

Dari SIKLUS, aku belajar kalau komitmen dan keseriusan seseorang level nya berbeda. Dari SIKLUS, aku paham betul bagaimana sulitnya menyatukan beragam pikiran, jiwa, bahkan raga manusia. 
Dari SIKLUS, aku kenal banyak adik-adik seru yang bisa digodain tiap ketemu. 
Dari SIKLUS, aku tau mana anak yang serius dan rela libur-libur tetep mau kumpul bareng kelompoknya buat bahas pentas seni. 
Dari SIKLUS, aku bisa sok-sok-an membagi takdir mereka dalam sebuah gugusan kelompok dengan kakak pembimbing yang ada. 

Dari SIKLUS, mungkin saja takdir itu berubah jadi kisah istimewa nantinya. 
Dari SIKLUS, aku sadar kalau kelompok tiga nggak cuma tahun lalu terlantarnya, tahun ini juga sering ditinggal sama kambingnya, maafin ya dik adik.... Tapi meskipun dari latihan yang minim, aku bangga sama pensinya kelompok tiga. Kalian keren gengsss :)
 

Dari SIKLUS juga, aku terharu karena ternyata maba antusias banget sama UKMK. Dari SIKLUS, aku bisa ngerasain menggigil jam 3 pagi, tapi lumayan hangat di api unggun malam harinya. 
Dari SIKLUS, aku tahu bagaimana paniknya nunggu kabar dari orang penting yang datang terlambat. 
Dari SIKLUS, aku jadi berani sok kenal sok deket sama alumni yang baru ketemu sekali. 
Dari SIKLUS, aku paham betul rasa kelegaan dan arti sebuah harga rupiah. 


Dari SIKLUS, aku bangga karena semua kerja keras satu bulanan lebih yang penuh spaneng terbayar manis dengan jutaan tawa yang ada. 

Dan, walaupun dari SIKLUS aku sering dimarahin karena pulang malam, tapi aku punya banyak sekali pengalaman dari pulang malamku itu. :D



 Terlalu banyak cerita tentang SIKLUS yang terjadi kemarin itu. Terlalu banyak frame favorit yang nggak bisa hilang dari ingatan. Sumpah deh, kalian nyesel nggak ikut SIKLUS! Kalian nyesel nggak jadi bagian dari panitia SIKLUS! Kalian nyesel nggak dateng ke SIKLUS! Kalian kalian harus nyesel nggak bisa liat betapa Tuhan maha baik mempertemukan anak-anakNya dalam satu dimensi yang sama, dan melebur satu dalam cinta yang sama.

 
Satu moment paling ditunggu baru saja berlalu, tinggal pulang kampung yang ku tunggu. Ya, meskipun cuma seminggu disana, cuma numpang bobo, maem, dan numpang natalan doang, tapi tetap jadi suatu hal yang kutunggu-tunggu. Sabar ya, besok aku pulang. Tunggu saja didepan rumah :)




Pada akhirnya, Desember yang sebentar lagi mau habis ini punya banyak cerita yang nggak pernah habis. Terlalu manis untuk dilupakan, karena terlalu indah untuk ditinggalkan. See you next year, dua belas tersayangku. Semoga tahun depan kita bisa punya cerita yang bisa kuceritakan lagi disini. Semoga kisah kita nggak cuma angan belaka, karena aku percaya, Tuhan punya jalan untuk ketulusan cinta di bulan dua belas.


Terlalu banyak orang-orang kesayangan yang entah mengapa makin kusayangi karena cerita di dua belas kali ini. Dari kamu, dia, mereka, sampai kamu kamu yang lainnya. Walaupun masih ada satu dua kekurangan, tapi sejauh ini Desemberku cukup sempurna :)

And i’ll go back to december all the time....




Jumat, 02 Desember 2016

Diambil Orang


 
“Eh, ada yang liat dompetku gak?”
“Enggak tuh, kenapa?”
“Dompetku...... gatau ada dimanaa....”


NAH!

ITU!

Aku mau cerita nih. Sedih banget sih. Asli. Malesin banget. Sumpah. Keseeeelll banget!
Jadi, seminggu yang lalu, tertiba-tiba sekali ada kejadian ‘nggak sengaja’ yang terjadi. Nggak tau kenapa kok bisa kejadian, yang jelas, i couldn't find my wallet.

Selasa yang lalu, tanggal 22 November yang cukup mendung karena hujan terus.... Aku menyempatkan diri ke tukang fotokopian buat ngeprint berkas-berkas kesayangan. Dari situ aku terburu-buru sekali mau rapat sama kesayangan. Nah, tapi aku mampir dulu ke mas-mas tukang vermak jeans... Karena buru-buru dan gerimis manis sepanjang sore itu, aku tancap gas kenceng. Terakhir kali banget menyentuh dompet itu di fotokopian. Yaaa, hipotesis terkuat sih jatuh pas mau naik motor. Entahlah. Oke, skip.



“Apa sih yang paling berharga di hidup kamu?”

“Aaaa, apa yaa?”
“Apa? Just the one and only. . .”
“Emmm, k a m u u u . . . .”


Halah, gombal. Hobimu tuh bikin orang terbang melayang ke langit angkasaa.... But, buat aku, berharga itu belum tentu berharga. Loh, kenapa? Karena buat aku, nggak semua hal bisa dibayar pake uang, jadi nggak semua itu berharga. Berharga-nya orang pasti beda-beda. Tapi, aku percaya kalian nggak mau kehilangan sesuatu yang berharga itu. Iya kaaann??



Balik lagi ke cerita dompet malangku tadi, jadi sebelumnya aku jabarkan dulu apa yang hilang dari dompet itu.
  • STNK, Sim, KTP, KTM, ATM
Nah ini nih, for your information, mendapatkan kartu-kartu diatas tidaklah mudah gengs. Buat dapet STNK kamu harus beli motor dulu, mahal lah, berapa belas juta ituuu? Buat punya KTP, aku harus menanti 17 tahun lamanya... buat SIM itu mahal banget sumpah! Aku harus ribet-ribet nembak oknum di suatu tempat hanya untuk ala-ala test drive terus foto doang. ATM, ya percuma kalau nggak ada isinya sih. Tapi, aku sangat merasa bangga punya ATM, it’s mean aku bisa paling tidak menabung, dan paling tidak bisa sedikit menghemat. But, it’s absolutely gone now.

  • Uang sih pastinya, uang pulsa, uang bensin, uang paketan, uang receh.
Aku sering bilang nggak punya uang padahal dompet tebel. Nah, itu bukan duitku sumpaaahhh... Hanya saja memang belakangan ini aku terlalu malas mampir ATM, jadi sering pake uang yang ada dulu, as know as, terlalu lupa menghitung berapa banyak yang kupinjam, sampai akhirnya mereka benar-benar hilang entah dimakan siapa :(

  • Kartu servis motor, kartu ASKES, slip, nota, struk, tiket.....
-      Kartu servis motor yang baru juga sekali gue pake, baru mau dipake lagi, eh udah lenyap. Padahal pertama kali servis di tempat itu udah seneng banget karena ada promo servis 5x gratis 1x. Apalagi free cuci motor geretong, ah, Revo, i’m sorry :(
-      Kartu ASKES, yaaa walaupun gue cuma pake asuransi itu, tapi saya pernah merasakan nyerinya meja operasi yang free karena kartu itu, so, kalo ilang, besok kalo kita mau operasi plastik mancungin idung, mesti gimana?
-      Nota-nota yang bahkan belum kuhitung, struk transfer ATM yang belum direkap, tiket-tiket nonton bioskop dari jaman SMP, tiket God’s Not Dead waktu paskahan UKMK, ah, terlalu banyak kenangan sama semua ituuuu..

  • Fotoku, stikerku, kartu perdana

Sumpah padahal itu dompet ada foto gue pas bayi, masih lucu imut-imut gitu. Lah kalo ilang, gaada buktinya lagi kalo gue pernah imut :(
Stiker monyet, yah, baru juga mau ditempel di motor... Kartu perdana bekas paketan yang masih ada bonus pulsa 10k nya, lumayan bisa buat telpon ke sesama tri, mungkin mas mba yang nemu bisa dipake :’)

  •   Koleksi KTM
Oiyaaa, udah semester 3, udah punya 3 macem Kartu Tanda Mahasiswa. UPN kadang kebanyakan duit sih, tiap semester ganti kartu, tiap semester kudu banget ke TU kampus pusat, kudu banget laporan sama ibu-ibu disana yang (katanya sih galak). Dan, plis jangan mempermasalahkan hilangnya kartu gue ini, gue nggak mau urusan sama birokrasi yang astaga Tuhan, duh, skip.

  • Rosariokuuuuuuu........
Nah iniiiii, ini yang entah kenapa malah bikin gue tenang-tenang aja, nggak panik, nggak ini, nggak itu. Entah kenapa sih gue ngerasa itu dompet ada, tapi, entah dimana (ya iyalah bodoohhh). Tapi, rosario itu pasti menjaga dengan baik kok :)

So, dimanapun kamu, kalau jodoh, balik lagi ya. Kalau engga, yaa, balikin ke jodohku aja biar nanti jadi jodoh *eh.....



Udah sih, itu aja, nggak penting-penting banget sih isinya. Uang bisa dicari, kartu dan surat masih bisa diurus selama negara ini masih berdiri dengan damai. Sejarah nonton film masih bisa terbentuk setelah hari ini. Rosario, yang jual banyak sih, tapi yang special itu nggak dijual. Dompet yang mahal banyak, tapi yang punya kenangan justru harganya lebih mahal loh....



Bagiku, ini memang sebuah pelajaran paling berharga di tiga semester pertamaku. Sekaligus sebuah peringatan paling mengancam, lantaran saya sudah terlalu boros beli a b c d dan lain-lain.


Tapi ya, kayaknya nggak papa deh kalo kehilangan dompet.


Nggak masalah juga kalo kehilangan teman deket yang dari dulu bareng sama kita, terus pergi main sama yang baru.


Asalkan, jangan sampe aku kehilangan momen-momen kebersamaan bareng kamu. Karena waktu bersama kamu sangat berharga, jadi, daripada waktu berharga itu diambil orang, mending kita kuy aja yuk.......



KUY!



Selasa, 22 November 2016

Nice to Meet You




Pertemuan denganmu mungkin akan menjadi satu kisah paling indah di hidupku. Kisah yang tanpa sengaja mampu menyadarkanku betapa aku masih memiliki orang lain dalam dunia ini. Ketika aku hilang arah, tanpa tujuan pun aku masih bisa meraba bayanganmu di sudut kota Jogja ini. Kehilangan senyuman dari Ibu yang sedang marah padaku mungkin lebih sakit dari kehilangan kamu.

Tapi, ada yang lebih sakit dan menyedihkan dari hal itu; adalah ketika aku berusaha pergi dari kamu yang terlebih dahulu melipir jauh, lalu, perlahan, waktu mempertemukan kita, lagi.




Bukan waktu yang kusalahkan.

Bukan keadaan yang kupermasalahkan.

Tapi, aku.

Iya, aku kok yang salah.

Aku mungkin salah sudah pernah jatuh cinta padamu.

Aku mungkin salah sudah salah tingkah setahun lalu.


 
Dulu bahkan aku merasa beruntung bisa melihatmu di fotokopian belakang kampus kita. Sekedar menyegarkan ingatanku, bahwa dia itu kamu, kamu yang baru seminggu lalu kukenal, sesederhana karena namamu mirip Ayahku.
Lalu apa lagi?
Aku harus merasa amat beruntung ketika satu dua acara mempertemukan kita dalam kelompok-kelompok kecil?
Aku harus merasa sangat bersukacita saat bisa merasakan empuknya tempat dudukmu itu?
Aku harus apa ketika segala ingatan itu melekat erat di otakku?
Aku harus apa?

 
 

Perlahan, tapi pasti....
Putaran waktu dan urusan ini-itu menarikmu keluar dari jalur yang kini setiap hari membuatku pusing memikirkannya. Kamu mulai pergi dari peredaran zaman ini. Kamu mulai melangkah jauh, jauh sekali, bahkan sampai aku tidak bisa melihat tubuh jenjangmu lagi.

Perlu kamu tahu, kamulah yang sesungguhnya kujadikan alasan keberadaanku. Berkat kenal dan jatuh cinta sama kamu, aku jadi sok aktif dan selalu ada untuk siapa saja. Kamu kira itu untuk apa? Untuk sekedar bisa bertemu kamu yang ‘sumpah demi Tuhan’ susah sekali kutemui. Tapi, perlu kamu tahu, perlahan-lahan, hatiku mulai mengikis. Rasa buat kamu, walaupun sudah kuteriakkan sekeras apapun itu, tetap saja tidak bisa membuatmu tersadar. Iya kan?
 
Maka dari itu, kamu juga perlu tahu, tanpamu juga aku bisa bahagia.
Tanpa kehadiranmu disana, aku mulai bisa mandiri datang sendiri, nggak perlu berharap ada atau tidaknya kamu. Aku cuma mau datang karena aku mau, bukan karena kamu.

Perlahan-lahan waktu memang menjauhkan kita, menarik intensitas pertemuan kita karena semester-semester maha sibuk belakangan ini. Perlahan pula semua ingatan dari A sampai Z diatas mulai pudar, seiring ada manusia-manusia baru yang mengisi hidupku. Dan sekali lagi, perlahan-lahan, aku mulai lupa tentang ‘jatuh cinta padamu’.

Bukan semester yang kusalahkan.

Bukan hal baru yang kugembirakan.

Tapi, suatu penyesalan terdalam.

“Mengapa dulu tidak kukatakan saja bila aku jatuh cinta?”




Tapi, semua sudah berlalu.
Namun, semua belum tentu terlambat.

Ah, biarkan saja dia berlalu.

Biarkan saja dia mengejar waktu.
Aku tidak peduli akan keterlambatan itu.


Sudahlah, masih terlalu banyak hal yang harus kubuat menjadi indah. Dan tidak perlu keberadaanmu pun aku bisa melakukannya. Memangnya kamu siapa bisa begitu saja mencuri perhatianku lagi?

Oh, tapi, mungkin saat ini kamu perlu tahu satu hal paling penting yang menyadarkanku Jumat lalu. Kamu tahu apa hal paling menyebalkan di hidupku?


Ketika aku sudah berusaha dengan seribu kekuatan hatiku untuk melupakan dan menghapus kamu dari ingatanku, tapi, hari itu kita bertemu, dan, semuanya tampak sia-sia. Semuanya membuatku jungkir-balik.

Lalu, aku harus apa bila kinipun aku masih rindu kamu?