Selasa, 01 September 2020

T E D U H



Masih ingat bagaimana pertama kali 

Semesta sengaja membuat mata kita saling bertemu siang itu?



Aku masih.


Dulu dan kini jauh berbeda ya.

Sungguh tak pernah terbayang bahwa aku akan mampu berjalan hingga bulan ke sembilan di tahun penuh kejutan ini. Entah apa yang telah dirancang oleh semesta, sehingga setiap perjalanan ini tercipta dengan penuh pelajaran di dalamnya. Setidaknya hingga kini aku masih sangat amat bersyukur bahwa dari banyak pelajaran yang ada, aku menemukan satu jawaban dari doa-doaku belasan tahun ini.




Kamu.


Tatapan mata yang selalu kuhindari sejak dulu.

Aku takut terjatuh semakin dalam pada kenyamanan yang kamu ciptakan.

Setakut itu aku pada kehilanganmu yang kesekian kalinya.

Aku pernah merasakan itu, dan tidak ingin lagi.

Sungguh tidak ingin.


Aku yang kalau dengar lagu Fiersa Besari jadi selalu ingat

kalau gundah itu cuma racun yang membuat kita makin pelik dengan keadaan.

Namun tatapmu senantiasa meneduhkan,

dan pelukmu tak pernah gagal meringankan setiap beban yang ada.



Ajaib ya, semesta memang luar biasa.

Aku takjub dibuatnya.

Semudah itu segala sesuatu bisa diputar balik dan dirancang seturut takdir.

Mungkin memang ini jalannya. Aku dan kamu yang kembali bertemu.

Aku yang jatuh dalam kenyamanan, kamu yang takut menjadi nyaman,

kita yang akhirnya saling menyamankan satu sama lain.

Beragam cara semesta membuat kita jatuh,

namun selalu ada alasan untuk bangkit dan kembali melangkah.


Hari ini, pembuka yang baik untuk bulan yang penuh ceria.

Betapa indah setiap pagiku masih bisa mendengar suaramu meski dari kejauhan.

Mendekapmu dalam setiap perjalanan kita membelah jalanan kota.

Langkah kaki kita masih teramat jauh dari bahagia,

namun aku percaya kelak akan tiba kembali masanya kita menemukan bahagia yang kita harap.



Semoga saja setiap harap ini lekas terjawab.



Tetaplah membuatku selalu belajar menjadi yang lebih baik

dan lebih berani bermain rasa dalam setiap masak-masak

atau percobaan membuat sesuatu setiap akhir pekan.


Tetaplah menjadi alasanku mendengar lagu-lagu cinta Glenn Fredly,

Reza Artamevia, Ed Sheeran dan Lionel Richie.

Pamungkas juga. Lagunya romantis, beda sama kamu.


Tapi sayangnya mereka hanya bisa membuatku suka dengan lagunya,

bukan jatuh cinta seperti aku padamu.





Tetaplah disini, tetaplah meneduhkan.

Tetaplah ada dalam setiap perjalanan dan kesempatan.




Entah baik, buruk, maupun menegangkan.

Kelak akan kita temukan jawaban atas harap-harap cemas yang meragukan.



Amin.





Selasa, 28 April 2020

DAN TERJADI LAGI





Untuk kesekian kalinya,
apakah pertahananku selama beberapa waktu ini harus hancur begitu saja?

Hanya karena kamu yang begitu manisnya mewarnai gelap malamku,
mengalahkan cahaya gemintang dibalik atap rumahku.
Sehari, dua hari, sepanjang hari, bahkan merasuk ke dalam mimpi.

Haruskah ini terjadi lagi?



Dulu kamu pernah bilang,
“Apapun yang terjadi, kita jalani saja setiap prosesnya…”

Untaian kalimat rayu itu seolah makin meyakinkan aku bahwa
‘oke, tak apa jika kita melangkah saja kedepan, 
toh berjalan ke belakang hanya akan membuatmu tersandung.’


Katamu semuanya oke,
asalkan tidak putar balik.

Lantas, pabila didepan ada jurang,
kamu juga akan menjeratku ke dalamnya?



Aku dengan banyak usahaku 
mencoba sesulit mungkin untuk menjadi biasa saja.
Tak mau menjadikanmu yang teristimewa,
karena kau juga tak menempatkanku pada letak yang sama.


Aku tahu.
Iya, kamu mungkin tidak sadar
bahwa aku sudah sepandai ini sekarang.


Aku dengan banyak tipu dayaku sendiri 
mencoba menjadi pembohong, 
bahkan hingga muslihatku lelah 
untuk bekerjasama memudarkan segalanya.


Bagaimana bisa aku menjadi biasa-biasa saja?
coba jelaskan dengan seksama!


Bahkan jika nantinya harus terulang kembali,
toh kamu juga yang akan menyalahkanku.


Aku.
Pasti aku yang kamu bodoh-bodohi
karena tak mampu bertahan menjadi sedikit lebih egois.


Mungkin nanti aku tak bisa menyalahkanmu.
Sungguh, tidak juga menyalahkan diriku sendiri.
Apalagi menyalahkan waktu.


Mungkin setiap kebohongan ini paling pantas disalahkan.
Setiap kesengajaan yang kita buat untuk terjadi,
Setiap jalan yang aku kira punya rahasianya tersendiri,
namun makin kesini makin membuat bimbang nurani.


Aku dengan benteng pertahanku yang mulai retak ini,
yang mulai semakin membutuhkanmu.



Sehebat itu ya...


Aku takjub.



Sepertinya skenario ini belum selesai.



Ini bukan hanya tentang rasaku yang dengan egois kuhapus untukmu,
tapi tetap tersisa barang satu atau dua kata.

Ini tentang setiap waktu yang sekarang semakin memburu,
menusuk bak pemburu binatang di luasan hutan.

Apakah bidikannya nanti akan tepat sasaran,
atau malah melukai pepohonan yang tak tahu menau tentang cemburu?



Entahlah, hanya saja,
pukul sepuluh pagi ini, aku mulai resah.



Dan apabila ini menjadi pertanda dari sebuah pergi,
aku harap kamu baik-baik saja,
dimanapun dan dengan siapapun yang membuatmu begitu bahagianya.


Begitupula aku,
semoga baik-baik saja
dengan banyak usaha saling membahagiakan ini.




“Tenang saja, nggak akan ada apa-apa,”


Iya. Semoga tidak akan ada apa-apa.

Cukup seperti ini saja.


Semoga saja.

Semoga tidak terulang kembali.








Senin, 06 April 2020

Untuk Aprilku Sayang




Hai, April!

Lamaaa sekali kita tidak saling bercerita.
Banyak yang ingin kusampaikan padamu...


Sesungguhnya, aku terlampau bosan membahas banyak dongeng 
yang Januari, Februari dan Maret sempat sampaikan padaku. 


Bercerita kembali tak ubahnya membuka sebuah kotak manis penuh misteri yang kusimpan. Rasanya ingin sekali membukanya berulang, sekadar menertawakan kelucuan atau mengobati kerinduan. Namun aku ingat bahwa membukanya hanya menimbulkan penasaran, kekecewaan, dan penyesalan atas apa yang pernah ada.


Oh, tapi tidak juga sih. 
Aku dan banyak penasaranku sudah sepakat untuk merelakan segalanya. 
Apa yang seharusnya menjadi kecewa, 
apa yang mungkin sudah selayaknya terjadi namun tak direstui oleh semesta. 


Kukira semesta masih mau bercanda, 
namun sepertinya dia juga lelah mempermainkan perasaan kami, 
para tokoh-tokoh yang ada didalam dongengnya. 


Ah, yasudahlah. 
Hanya ‘yasudahlah’ yang hingga kini bisa kusampaikan 
sembari tersenyum getir 
(namun kucoba agar terlihat sedikit lebih manis, 
atau paling tidak sama manisnya seperti Sang Pelipur Lara).



April, terimakasih untuk banyak ujian menuju kehebatan ini.
 Aku bersyukur masih bisa menyambutmu dalam segala aspek kekurangan yang ada. 

Bersyukur karena ditengah wabah, ditengah kejauhan, 
dan ditengah kelelahan yang menyelimuti tubuh penuh beban ini, 
kamu masih mengirimkan beberapa bahagia yang tak terduga. 

Terimakasih karena entah bagaimana 
selalu ada saja yang membuatku tersenyum setiap harinya.
Selalu ada satu dua cerita yang terulang dan pantas untuk ditertawakan. 

Terimakasih untuk banyak kekuatan itu. 
Sejauh ini sangat amat berharga untuk aku jadikan alasan bertahan.



Sore ini, 
dikala hujan yang cukup deras, 
terimakasih juga 
karena kamu masih memperbolehkan aku mengucapkan berbagai rasa syukurku. 


Terimakasih karena hujan ini membuat aku semakin merindu. 
Sampaikan rindu ini pada yang tepat saja ya, 
jangan pada yang merapat hanya untuk beradu rasa dalam debat.



Semoga setiap rintik hujan ini mampu menghapus setiap luka 
agar lekas kau balut dengan bahagia. 
Semoga deras airnya mampu meredupkan banyak jahat 
dan sakit yang tersebar dimana-mana. 
Semoga setelahnya kamu juga mengirimkan pelangi yang manis, 
sebagai penanda bahwa semesta sudah mengakhiri banyak bercanda. 




Ayolah, April!

Aku rindu sekali dengan segala sesuatu yang seperti biasanya. 
Aku rindu berjumpa dengan banyak manusia, 
meski kadang bukan aku yang mereka harapkan ada.



Aprilku sayang, 
jadilah membaik diantara segala yang pernah memperbaiki 
namun belum cukup sempurna. 



Semoga masih dan selalu ada indah 
dalam bahagia kita yang akan datang. 
Terimakasih sekali lagi.


Semangat terus ya, 
aku tunggu kabar baiknya :)