Suatu hari, saat mentari pagi bersinar cerah, aku bangun dan berusaha tak lupa untuk berdoa. Tentu bukan matahari itu yang membangunkanku, --tapi mama, pastinya.
Hari ini baru senin.
Baru saja memasuki minggu yang baru. Area pembelajaran baru, bab demi bab baru, karna seminggu yang lalu kami sama-sama berjuang dengan kompaknya mengerjakan UTS.
Hari itu bagai hari penuh kejutan.
Tak biasanya tidak upacara, tak biasanya tidak bertebaran, namun seperti biasa kalau selalu menjadi sumber suara dimana-mana.
Kali ini aku sedikit merasa canggung. Dengan begitu besarnya nikmat maha dahsyat ini, dengan sesempurna perkenalan ini, terkadang aku merasa bagaikan manusia paling tak tahu apa-apa dalam lembah pengetahuan.
Terkadang dalam keadaan seperti saat ini, hanya sebuah kepribadian yang mencerminkan sikap.
Kadang aku senang saat melihatnya tertawa atau bahkan menertawakan suatu hal yang tidak lucu.
Kadang aku tersenyum geli mendengar yang lain bernyanyi atau teriak tak pantas.
Kadang aku terpingkal-pingkal merasakan kebodohan sesama.
Namun kadang aku gerah berada pada lembah empuk yang tak jarang hanya berujung pada kegaringan.
Terkadang aku cemburu melihat ada satu sama lain yang sebegitu bahagianya.
Terkadang aku pening mendengar yang lain berteriak, memberontak, tertawa kencang.
Terkadang aku menginginkan kebahagiaan lainnya, Terkadang aku merasa tak puas memiliki keajaiban yang pernah ada.
Sama halnya seperti saat aku tersadar..., Sesungguhnya mana yang disebut sejati? Sebenarnya mana hati yang selalu tulus, ikhlas, menerima apa adanya tanpa mengharap yang tidak ada...?
Sama halnya ketika aku tau..., terkadang kala berbagi bersama seseorang akan membuat orang lain merasa kecewa karna tak-terperhatikan. Terkadang aku merasa tak nyaman berada dalam suatu diskusi yang ada dalam suatu diskusi lainnya.
Yang mana yang sebenarnya sejati?
Yang setiap hari selalu bersama?
Yang setiap hari selalu tertawa?
Yang setiap hari kuajak memperhatikan sosoknya?
Yang setiap hari selalu kupandangi?
Yang setiap hari kuceritakan tentang pandangannya?
Atau mungkin,
Yang tidak selalu setiap hari ada, namun membuat bahagia sekali-duakali waktu?
Yang tidak selalu setiap hari berbicara, tapi memberi kelegaan dijiwa?
Atau malah yang tidak pernah punya hari-hari khusus tetapi nyata adanya?
Entahlah, kerajaan ini terlalu besar untuk mendefinisikan segalanya.
Hanya saja, sebuah kesetiaan dan utamanya kesejatian akan mulai tercipta saat adanya kebersamaan. Dalam bentuk apapun itu, sekedar hanya bisa memandangi dari jauh, mendengar ocehan dan gelak tawanya..., setidaknya bahagia tidak perlu dengan membuatnya bahagia, tapi melihatnya bahagia dan tertawa...---bersama orang lainnya.
Karna pada akhirnya, benar kata seseorang disana,
"Kita tidak harus selalu bersama orang-orang yang sama. Karna suatu saat kita pasti akan berpisah dengan orang yang selama ini bersama kita, lalu mencari orang-orang baru untuk mempelajari bagaimana hidup sesungguhnya.........Terbuka, tanpa berbeda."