Jumat, 31 Oktober 2014

Kerajaan

Suatu hari, saat mentari pagi bersinar cerah, aku bangun dan berusaha tak lupa untuk berdoa. Tentu bukan matahari itu yang membangunkanku,  --tapi mama, pastinya.

Hari ini baru senin.
Baru saja memasuki minggu yang baru. Area pembelajaran baru, bab demi bab baru, karna seminggu yang lalu kami sama-sama berjuang dengan kompaknya mengerjakan UTS.

Hari itu bagai hari penuh kejutan.
Tak biasanya tidak upacara, tak biasanya tidak bertebaran, namun seperti biasa kalau selalu menjadi sumber suara dimana-mana.

Kali ini aku sedikit merasa canggung. Dengan begitu besarnya nikmat maha dahsyat ini, dengan sesempurna perkenalan ini, terkadang aku merasa bagaikan manusia paling tak tahu apa-apa dalam lembah pengetahuan.

Terkadang dalam keadaan seperti saat ini, hanya sebuah kepribadian yang mencerminkan sikap.

Kadang aku senang saat melihatnya tertawa atau bahkan menertawakan suatu hal yang tidak lucu.

Kadang aku tersenyum geli mendengar yang lain bernyanyi atau teriak tak pantas.

Kadang aku terpingkal-pingkal merasakan kebodohan sesama.

Namun kadang aku gerah berada pada lembah empuk yang tak jarang hanya berujung pada kegaringan.

Terkadang aku cemburu melihat ada satu sama lain yang sebegitu bahagianya.

Terkadang aku pening mendengar yang lain berteriak, memberontak, tertawa kencang.

Terkadang aku menginginkan kebahagiaan lainnya, Terkadang aku merasa tak puas memiliki keajaiban yang pernah ada.

Sama halnya seperti saat aku tersadar..., Sesungguhnya mana yang disebut sejati? Sebenarnya mana hati yang selalu tulus, ikhlas, menerima apa adanya tanpa mengharap yang tidak ada...?

Sama halnya ketika aku tau..., terkadang kala berbagi bersama seseorang akan membuat orang lain merasa kecewa karna tak-terperhatikan. Terkadang aku merasa tak nyaman berada dalam suatu diskusi yang ada dalam suatu diskusi lainnya.

Yang mana yang sebenarnya sejati?
Yang setiap hari selalu bersama?
Yang setiap hari selalu tertawa?
Yang setiap hari kuajak memperhatikan sosoknya?
Yang setiap hari selalu kupandangi?
Yang setiap hari kuceritakan tentang pandangannya?

Atau mungkin,
Yang tidak selalu setiap hari ada, namun membuat bahagia sekali-duakali waktu?
Yang tidak selalu setiap hari berbicara, tapi memberi kelegaan dijiwa?
Atau malah yang tidak pernah punya hari-hari khusus tetapi nyata adanya?

Entahlah, kerajaan ini terlalu besar untuk mendefinisikan segalanya.

Hanya saja, sebuah kesetiaan dan utamanya kesejatian akan mulai tercipta saat adanya kebersamaan. Dalam bentuk apapun itu, sekedar hanya bisa memandangi dari jauh, mendengar ocehan dan gelak tawanya..., setidaknya bahagia tidak perlu dengan membuatnya bahagia, tapi melihatnya bahagia dan tertawa...---bersama orang lainnya.

Karna pada akhirnya, benar kata seseorang disana,
"Kita tidak harus selalu bersama orang-orang yang sama. Karna suatu saat kita pasti akan berpisah dengan orang yang selama ini bersama kita, lalu mencari orang-orang baru untuk mempelajari bagaimana hidup sesungguhnya.........Terbuka, tanpa berbeda."

Jumat, 24 Oktober 2014

Amnesia

Pernah nggak ngerasa bingung setengah mati nyariin kunci motor, padahal kuncinya ada di saku celana?

Pasti pernah.
Rasanya bingung banget.
Sama kayak sekarang ini.
Nggak ngerti kenapa semenjak denger kabar-kabar sliweran yang bikin kepikiran, sekarang memang bener-bener jadi kepikiran.

Nggak ngerti kenapa setiap kali melihat dia atau mereka membuat obrolan didalam suatu perbincangan, obrolan personal yang sesungguhnya membuat orang lain benar-benar penasaran, obrolan 'rahasia' yang pada akhirnya membuat jengkel.

Ayolah, manusia peka kan nggak sepolos itu. I can feel the difference of you!

Waktu itu masih fajar.

Mata ini masih tertutup rapat.
Angan ini masih kelabu, masih nggak jelas ngebayangin apa.
Sepersekian detik kemudian mata ini tersadar.
Perlahan membuka selaputnya. Perlahan mencoba memandang kearah jam yang menggantung 'nggak tinggi-tinggi amat' di tembok kuning itu.

Ah, pagi.

Sudah pagi.

Lalu cenderung membenarkan posisi tubuh, terpaksa melepaskan rasa rindu pada bantal yang seharusnya masih bisa dipeluk lebih lama.

Lebih selalu ingat untuk berdoa walau selalu terlambat. Tak apa, Tuhan tetap selalu ada seterlambat apapun umatnya menyadari Ia ada.

Pagi menjelang siang ini membuat semakin kepikiran. Kepikiran suatu hal yang nggak sepenting itu untuk dipikirkan. Toh manusia yang seharusnya lebih memikirkan itu memang tidak pernah terpikir untuk berbagi pikirannya.

Jadi buat apa dipikirkan?

Tapi entah mengapa selalu terpikir hal itu. Bodoh memang.
Memang mungkin bodoh kalau sampai terpikir seperti itu.
Ya memang begitu.
Entahlah.

Tapi pada akhir dari semua pikiran itu, gue selalu berpikir ulang, bahwa memang pada akhirnya,

"nggak semua hal nggak penting harus lo jadikan penting".

Untuk masalah ini, gue rasa cukup penting bagi dia atau mereka. Cukup penting juga karna,

mengapa bukan gue yang dianggap penting untuk memikirkan hal sepenting ini?

Alah, sudahlah.

Nggak penting.

Mungkin pada akhirnya nanti ada hal yang lebih penting yang bisa gue pikirkan.

Tapi untuk masalah lainnya, sesungguhnya benar-benar membuat gue berpikir keras. Karna hal ini cukup penting, sampai bisa dengan mudahnya membuat jalan dan arah gue entah nyasar kemana.

Semua ini karna gue terlalu mikir.

Entah mikirin dia,

saudaranya,

atau temannya.


Kadang rasanya ingin amnesia.
Hilang ingatan.

Kadang rasanya ingin pura-pura, atau bahkan benar-benar tidak tahu.
Toh yang seharusnya mudah untuk diketahui malah terasa sukar ditebak.....
atau pura-pura tidak tertebak?

Kadang rasanya ingin menutup mata.
Menghayal.
Membayangkan semua ini hanya bagian dari sandiwara yang memang benar-benar pura-pura, hanya untuk sekedar kejutan ulang tahunan.

Kadang,
Semua yang dibayangkan itu,
Pada akhirnya memang hanya bisa terbayang.

Seperti hari ini.

Rasanya aku sudah lelah melemparkan berbagai macam hal agar sosok apapun itu menyadari sesuatu apapun yang pernah ada.
Namun tiada sosok, bahkan wujud nyata yang diharapkan pun tidak mengerti, dan menyadari.


Atau sebenarnya ia tau?

Apa sesungguhnya dia sadar?

Mungkinkah selama ini kamu mengerti?


Terkadang boleh saja melepaskan apa yang kumiliki agar tidak bersinggungan dengan yang kamu punya.
Tapi, cobalah untuk tidak acuh saat kita bertemu dipersimpangan jalan yang sudah jelas benar-benar jalan yang kubuat khusus berkarpet merah untuk dilangkahi, bukan sekedar diinjak.

Dan,
Terkadang,
Semua usaha yang sudah cukup melelahkan ini kembali mengingatkan pada banyak hal.

Salah satunya,

adalah,

Mengapa harus terus dipercaya bila dia sendiri tidak tahu apa yang harus dipercayai?

Karna, aku percaya bahwa ada yang beda.
Tapi, aku belum sepenuhnya percaya kalau kamu mempercayai hal itu.

Jadi,
Percayakah kamu,
Bahwa ada aku disini?
Bahwa aku yang kusebut, sering kurasa sebagai sebuah makna yang terasa?

Iya,
Mungkin kamu tau,
Tapi pura-pura tidak tau.
Atau tau, tapi mencoba untuk tidak tau.
Atau tau, tapi tidak mau tau?
Oh iya, atau mungkin kamu tau, tapi tidak mau pengetahuan ini merusak sejarah yang pernah ada?

Dan atau mungkin ternyata bisa jadi kamu malah benar-benar tidak sadar???





just,
-Heaven Knows-