Senin, 23 Februari 2015

Rindu (part 1)

Sore ini hujan, hujan terus sedari pagi. Tapi sudah jam setengah lima sore. Diluar masih gerimis, tapi aku bergegas, bersiap diri. Aku ingin pergi. Aku rindu, akan kedamaian disuatu tempat.

"Bunda, adik pergi dulu yaa," Aku pamit ke Bunda yang sedang menonton berita sore di TV.
"Adik pergi sendirian?" Bunda terlihat agak khawatir.
"Iya, kakak lama. Aku duluan aja, Bun."
Bunda menarik tanganku, "Gak mau tunggu kakak pulang aja? Mendung loh."
"Gak usah, Bun. Kalau harus tunggu kakak, aku tidak akan jadi pergi. Sudah ya, Bun, takut hujan." Lalu aku pergi, menapaki jalan berjarak sekitar 3 kilo dari rumah kami. Cukup jauh memang, tapi akan terasa dekat bila aku melewatkannya bersama Kakak, dan sepeda motor keluaran terbarunya.

Sekitar 20 menit, akhirnya aku sampai disana. Ditempat maha tentram. Entah mengapa, meski sesibuk apapun aku selalu merindukan tempat ini. Bahkan aku pernah memasuki alam bawah sadarku, dan aku berada di tempat ini, tempat yang sama seperti yang dulu selalu kujadikan tempat terindah bersama Kakak.

Aku duduk di bangku panjang urutan ke 5 dari depan. Tepat dibelakangku ada tembok pembatas, yang diatasnya terdapat kipas angin. Dingin juga rasanya duduk disini, mana diluar masih hujan, dan bajuku sedikit basah karna kehujanan di perjalanan tadi.

Tepat dihadapanku ada seorang pemuda bersama seorang perempuan. Sepertinya mereka punya hubungan istimewa, aku melihat mereka sangat dekat. Suatu waktu, si pemuda itu meraih tangan perempuan disampingnya, dia memainkan tangan itu, membunyikan sendi-sendinya, lalu sesekali mengepalkan tangan mereka menjadi satu.

Kini aku mengingat satu hal, bahkan berjuta hal lainnya. Aku rindu. Hanya itu.

Segala kerinduan itu kuadukan pada sosok maha istimewa bagiku. Ialah Tuhan semesta alam, pencipta langit biru dan segala isi bumi beserta seluruh kekayaan duniawi yang pernah ada. Mungkin tanpa kuberitahu, Ia sudah bisa menebak bahwa aku rindu. Amat rindu.

"Tuhan, selamat sore." Aku menyapanya dengan manis. "Terimakasih karena hari ini aku masih bisa merasakan surga duniamu.....," aku banyak berbincang denganNya. Tak bosan rasanya duduk di bangku keramik bulat yang bisa diputar 360° itu. Sesudah ibadah sore itu, aku memang selalu kabur kesini, tempat yang meskipun selalu berisik karna anak-anak kecil selalu berlarian disekitar sini, namun aku merasa teduh berada disini.

"Tuhan, adik rindu. Tuhan pasti tahu. Adik rindu, ingin bertemu dengan dia...." seruku pelan, menahan rasa rindu.

Sudah gelap. Bunda pasti khawatir karna aku tak kunjung pulang. Lalu aku pergi dengan payung pelangi yang tahun lalu kakak beli untuk kado ulang tahunku. Ah, aku lupa. Seminggu lagi aku ulang tahun. Tapi, apa kakak ingat??

-----------------------

Kemariiin, kulihat awan membentuk wajahmu, desau angin meniupkan namamuuu, tubuhku terpaku semalaaam.....
Baru pukul delapan malam, aku masih asik menggarap PR-ku sambil mendengar sebuah stasiun radio yang memutarkan lagu berjudul FIRASAT. Firasat ini, rasa rindukah, ataukah tanda bahayaaa?? Aku tak peduliii, ku terus berlariii......

"Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi..." ucapku sambil melihat foto wisuda Kakak yang kugantung di dinding kamar. Aku sengaja.

Dulu, 5 tahun lalu, saat aku masih TK, Kakak diwisuda. Saat itu aku masih polos, belum tahu apapun. Aku hanya digendong dia yang bertoga, lalu difoto oleh Bunda. Dan saat setahun lalu, saat Kakak mulai jarang pulang kerumah, aku tak sengaja menemukan foto itu di album lama milik Bunda. Aku minta foto itu diperbesar lalu kupajang di kamar. Aku sengaja, karena aku tidak pernah berfoto dengan Kakak selain saat itu.

Dan ketika aku sedang rindu, aku hanya bisa memandangi foto itu. Seperti saat ini. Aku sedang rindu. Amat rindu.

"Adik, buka dong." Aku dengar suara itu. Suara yang sama seperti yang selalu terngiang dikepalaku. "Adik, buka cepetaaannn..." suara itu.. kupikir hanya hayal belaka. Tapi,
"Kakak?" Aku segera membuka pintu.
"Kakak kok lama banget sih perginya? Adik tadi pergi sendiri tau." Aku memukul dia kesal.

Lalu dia berlutut di hadapanku.
"Sorry ya, kakak banyak urusan,"
Dia memerikan aku sebatang lolipop karamel kesukaanku. Lalu dia masuk ke kamarku. "Adik liat map Kakak? Yang warna merah. Kemarin Kakak taruh dilaci."

Aku bingung, aku hanya melihatnya mencari-cari map itu. "Nah, ini dia...."
"Kakak mau kemana lagi?" Aku menghentikan langkah kakinya keluar rumah.
"Mau ke kantor, antar berkas ini. Daah," Kakak pergi lagi. Ke kantor lagi. Hujan-hujan seperti ini, untung saja dia punya mobil yang dipinjamkan dari kantor.

Setahun belakangan ini, aku memang jarang sekali bermain dengan kakak. Aku sudah jarang main kartu cangkulan, monopoli, atau menonton Doraemon pagi-pagi dengan dia. Dia sangat sibuk semenjak diangkat menjadi Manajer di kantornya.

Sesungguhnya aku sangat ingin bermain lagi seperti dulu. Tapi, apa Kakak mau??

Jumat, 20 Februari 2015

Balance!!!

Akuntansi, adalah sebuah jurusan dimana akan mengajarkan bagaimana cara menghitung dengan baik. Sayangnya bukan ngitung uang beneran, tapi cuma ngitung angka-angka dalam lembaran kertas-kertas...

Ada banyak banget hal yang bisa dipelajari dari program studi ini, contohnya adalah sebuah kesabaran.

Terkadang kalo udah ngitung panjang lebar terus hasilnya gak sama di debit dan kredit, percayalah, sakitnya tuh....disitu.
Disaat-saat itulah kita harus benar-benar sabar. Menenangkan hati, jangan panik. Kalo bisa samain sama punya temen yang udah balance. Dihitung ulang pelan-pelan, siapa tau kamu salah pencet kalkulator. Kalau masih tetep gak sama hasilnya, coba deh cek lagi transaksi demi transaksi, penjumlahan dan juga pengurangan di setiap akun-akun yang ada, siapa tahu kamu salah jumlahinnya.

Dan perlu diketahui, disaat hasil yang tadinya gak balance, terus kamu rombak dan akhirnya balance, tiba-tiba ada perasaan yang beda. Seperti aliran darah yang memuncak, meluber, menumpahkan berkas-berkas ketegangan, dan tiba-tiba terasa normal lagi. Plong, lega banget. Akhirnya balance juga.

Maka dari itu, sesungguhnya kebahagiaan anak Akuntansi itu hanya sesederhana menemukan kata "BALANCE" dalam setiap pekerjaannya. Kalo gak ketemu, yaa pasrah aja deh hehehe...

Berbagi pengalaman ujikom gue kemarin, bener-bener bikin panik deh, neraca aja gak balance. Beda 8.5jt. Gimana gak stress tuh? Udah gitu kata pengawasnya, siapa yang paling cepet ngumpulin bisa dapet point plus. Nahlo?! -_-

Tapi gue mencoba tenang, ngitung lagi, menyelidiki lagi, ternyata bener aja, gue salah jumlahin akun Cash In Bank. Tapi pas gue itung lagi tetep gak balance. Masih beda 500rb. Waduuuuhhh..... Udah puyeng banget rasanya. Tapi gue memotivasikan diri gue sendiri, "Tenang Git, pelan-pelan, pasti balance."

Gue akhirnya ngerjain AJP dulu, nulis keterangan di laporan laba rugi sama perubahan modal, terus gue gak sengaja liat temen gue, si Anik, dia masih berkutak-kutik di buku besar. Hahaha pasti dia gak balance juga... huh, senasib kita Nik!!

Akhirnya gue ngecek ulang lagi dari transaksi. Bodo amat deh yang lain udah sampe mana juga, yang penting gue bener. Terus pas gue cek, di jurnal khusus terakhir (Jurnal Umum) ternyata ada transaksi retur yang ada akun COGS nya, itu belum gue posting ke buku besar. Siaallll.... pas gue posting, bener ajaa, akhirnya hasilnya balance. Akhirnyaaa... :)

Manual akhirnya selesai sekitar jam 12 gitu. Gue selesai yang kedua, terus karna gue pengen ke kamar mandi, gue langsung kabur dulu ke kamar mandi. Lalu pas ngerjain myob gue nyantai banget deh, sambil makan nasi goreng sama krupuk, enaaak banget.... padalah yang lain pada gak makan, pada fokus banget ngerjainnya hihihi....

Sampai tiba dikala trial balance myob gue beda sama yang seharusnya. Haduuuhhh.... gue akhirnya buka hp, liat foto trial balance di galery, pas gue liat ternyata beda di suatu akun gitu gue lupa namanya, padahal cuma beda seribu. Seribu men, apa banget yak seribu-_-
Pas gue cek lagi di transaksinya, ternyata soal nya itu salah, harusnya 231rb di soal malahan 230rb. Siaaalllll.... gue langsung panik, terus buru-buru ngerombak manual lagi. Untung cuma beda disitu doang. Pantes gue rada ragu sama laba bersihnya, kayak ada yang aneh...

Dan semua kejadian nggak enak itu akhirnya lewat juga, meskipun printer di barisan gue sempet ngadat, untung didepan PC nya Anik bisa konek. Aahhh, pokoknya hari rabu kemarin itu sejarah banget lahhh... Gue langsung lega banget pas semua laporan myob udah di print. Sempet gak enak sih sama anak-anak lain yang belum selesai/gak balance. Yaa gimana, gue mau bantu juga bingung. Udah terlanjur eneg sama semuanya. Puyeng kalo harus nyelesain masalah orang lain juga.. gue cuma bisa bantu doa yaaa, terutama buat temen-temen kloter 2 yang sekarang ini lagi berjuang. Ayoooo semangaaattt pasti balanceee!!!

Merangkum dari cerita pengalaman gue yang diatas, yang panjang banget itu, rasanya udah lega bisa melewati satu tahap ujian kelulusan dari SMK3 tercinta yang Kepala Sekolah nya baru diganti sama guru PKN gue waktu SMP dulu.... Mungkin setelah lulus dari sini, gue bakalan kangen sama akuntansi.  Eh, engga deng. Gataudeh. Gue males. Gue gak minat ngambil akuntansi lagi buat kuliah nanti. Kalau toh gue ambil manajemen seenggaknya akun nya gak serumit jurusan akuntansi kok wkwk...

Walaupun sampai sekarang gue masih bingung mau pilih jurusan apa, tapi bagi gue, belajar 3 tahun di jurusan akuntansi ini cukup bikin puyeng liat angka mulu. Tapi 3 tahun ini gue punya banyak kenangan yang sangat melekat dihati ku, eaaa....

Sebenernya di jurusan apapun itu, yang penting lo punya temen. Temen yang baik. Temen yang kalo pas lo lagi kesusahan bisa bantuin. Temen yang bisa ngarahin lo ke jalan yang baik bukan yang buruk. Temen yang mau nungguin, selama apapun lo ngapa-ngapain. Dan temen yang mau berbagi segala hal sama lo.

Dan satu lagi pelajaran yang bisa gue ambil dari ujian kemarin, lo akan tahu siapa temen terbaik lo, saat mereka mau ngebantuin lo, mengangkat lo supaya bisa. Bukan menjatuhkan lo ke jurang. Sekarang ketauan kan yang mana yang temen beneran??

Karna sesungguhnya, anak Akuntansi yang keren dan hebat, bukanlah mereka yang ngerjain pekerjaannya dengan balance, tapi mereka yang menemukan kesalahan dalam pengerjaannya, lalu memperbaikinya sampai balance.

Jadi, selamat berjuang semuanyaaa, kalian pasti balance kokk!!!!

Minggu, 08 Februari 2015

Jatuh Hati

Tanpa terasa, sudah lama aku tahu tentang dirinya. Sekedar tahu saja, sampai suatu ketika takdir mempertemukan kita di beberapa persimpangan jalan. Aku mulai bertanya, mengapa aku melihatnya??

Dan kini, detik yang mulai bertepi menuju petang, tak sengaja kembali membuatku melihat dirinya. Dia baru saja melewatiku. Melewati jalan dimana aku sedang berhenti.

Itu kisahku setengah tahun yang lalu. Kini semua tahu bahwa aku telah jatuh, jatuh pada pandangannya yang berbiaskan kebeningan. Jatuh pada canda tawanya yang kurasa dari jarak satu meter. Jatuh pada senyumannya yang entah mengapa begitu mempesona. Jatuh pada cerita hidupnya yang membuatku tersenyum bangga. Ah, jarang sekali ada lelaki seperti dia.

"Uhuk, Marioo......" Dia meledek aku. Lagi, dan lagi. Aku hanya bisa tersenyum malu, tersipu, bukan karna Mario, tapi karna Aji. Karna Aji-lah yang pada akhirnya menyapaku terlebih dahulu, mengajak aku bicara, sekedar minta tolong mengambilkan tas miliknya. Aku masih ingat sekali kejadian siang itu. Dia baru saja mencuci mukanya, rambutnya masih basah, berdiri terkena air. Rupanya terlihat lebih segar setelah ujian Bahasa Inggris tadi.
"Eh, ada tas gak yaa?" Semestinya saat itu aku bertele-tele memanjangkan percakapan, tapi tidak. Bukan waktunya.

"Apaan sih, Ji..." Aku memukul dia pelan. Beruntung sekali bisa menyentuh kulit sawo matang yang tak begitu berdaging itu. "Halah, ngeles deh kayak bajaj, kalo suka sih bilang aja, Ta." Dia menggodaku sambil melirik kearah Mario yang bersandar didepan pintu kelasnya.

"Suka? Yakaliii...." Balasku masih tersipu. Kalau lama-lama diledek seperti ini aku bisa benar-benar suka pada Mario. Tapi nyatanya, aku malah menjadikan dia sebagai kambing hitam. "Udahlah, gak usah pura-pura, perlu gue yang bilangin, Ta?"
Tidak perlu, justru kamu yang perlu tahu, Ji. Kamu perlu tahu yang sesungguhnya terjadi.

"Udah ah males ngomongin Mario mulu Mario muluuuuu....." Aku pergi, masuk ke kelas. Sementara dia masih tertawa didepan kelasku. Lalu dia pergi. Bayangannya masih tergambar jelas dalam liuk kaca jendela kelasku. Rambutnya masih kaku terkena minyak rambut yang tiap pagi ia oleskan. Aku bahkan tahu apa merk parfum Aji. Rasanya sudah lama aku mengintai kehidupannya sampai sedalam ini.

Detik demi detik, waktu yang selalu berjalan maju, seperti Aji dan Mario yang selalu berjalan berdampingan. Hal ini memang selalu mengecohku. Aku memang memandang kearah mereka, tapi yang orang lain tahu, aku memandangi Mario. Padahal, ada Aji yang lebih jelas kulihat.

Lama kelamaan aku mulai merasa bersalah. Sebeginikah kesalahpahaman itu terjadi? Awalnya aku hanya terkejut karna kami tak sengaja bertemu. Selanjutnya aku malah terpikat segalanya. Tapi kini, malah Mario yang kena imbasnya. Bagaimana bila dia dan semuanya tahu, bahwa sebenarnya bukan Mario, bukan dia, tapi Aji.

Aku bersalah telah berpura-pura seperti ini.
Aku bersalah karna mereka telah salah sangka.
Tapi memang nyatanya aku tidak jatuh cinta. Aku hanya terpikat padanya, tersihir tatapannya, terkagum pada ucapannya.

Dulu aku berharap agar dia tahu bahwa aku mengaguminya, dulu aku ingin sekali menjadi temannya, merasakan bagian kebahagiaannya. Tapi kini, setelah aku sudah berada didekatnya, bisa berbicara padanya, menjadi temannya, meski semua ini karna alasan aku menyukai Mario, tapi aku tetap bersalah. Aku sudah menipu mereka. Menipu hati dan perasaan seseorang.

Tapi kini semuanya telah terjadi. Mau dikatakan apa lagi, mungkin seiring waktu aku memang bisa benar-benar menyukai Mario, seperti yang mereka semua duga. Dan kini memang rasanya aku hanya memanfaatkan kehadiran Mario demi mendekati Aji, yang sudah menjadi milik orang lain.
Munafik memang, tapi aku sadar, aku bukannya jatuh cinta, tapi jatuh hati padanya. Mungkin memang Aku tak harus memilikimu, tapi bolehkah aku selalu didekatmu dan menjadi temanmu?


(Terinspirasi dari lagunya Raisa - Jatuh Hati)

Jumat, 06 Februari 2015

Sahabat WC

Jaman dahulu kala ada sebuah lagu berjudul "Sahabat Pena". Mama sering menyetel kaset-kaset lagu lawasnya untuk sekedar karaokean bersama Bapak. Julukan Sahabat Pena ini sepengetahuanku berarti tentang seorang teman yang berada jauh disana, dimana kita selalu berkomunikasi lewat surat-menyurat. Makanya dinamakan Sahabat Pena.

Tapi kali ini aku bukan bercerita tentang Sahabat Pena, melainkan Sahabat WC. Sahabat WC adalah mereka yang selalu bersedia menemani aku pergi ke WC Sekolah, maklum aku ini beser sekali. Apalagi dimusim penghujan ini, dan aku suka sekali minum air putih, karena aku suka haus (haus akan kasih sayang wkwkwk)

Sahabat WC-ku yang paling sering menemaniku belakangan ini adalah mbak Rara. Dia itu anaknya suka beser juga, biasanya kalau aku pengen ke WC, dia juga pengen pipis. Ada juga mbak Ocha yang suka beser tiba-tiba. Kalau soal mbak Ocha, dia punya cerita serem tentang Wc Sekolahan kita.

Jadi waktu kelas 1 dulu, mbak Ocha lagi ke WC, dia dorong pintunya, lalu tiba-tiba, ternyata, gatau kenapa, entah apa yang terjadi, didalam sana ada seorang laki-laki anak TKJ lagi nongkrong. WAWWW.... Lalu mereka Sama-sama teriak, kencang sekali, lalu mbak Ocha melarikan diri dan terpingkal-pingkal tertawa dikelas.
Hmm, naas sekali nasibnya. Ckckck. Semenjak itu mbak Ocha trauma pergi ke WC sekolah. Namun apa daya, beser membuatnya pergi kesana.

Aku juga sering pergi ke WC bersama mbak Iis. Lebih sering lagi bersama Kadew. Tetapi kalau perginya sama mereka biasanya sekalian modus sama seseorang hihihi, abisnya orang itu juga suka ke WC. Waktu itu aja kita pernah papasan di WC. untung nggak pernah nggak sengaja buka pintu WCnya hihihi.

Mereka ini sangat beragam yaa, ada yang kalau pipis dilap pakai dasi, pakai rok, ada yang sampai roknya basah karna mainan air sambil semprot-semprot terus kejar-kejaran. Gakpapa lah, selama bisa mencari kegiatan untuk menghibur dan tertawa, tertawalah saja sebelum tertawa itu dilarang!!!

Tapi aku punya tips nih, kata kakak aku, kalau pipis harus dilap pakai tissue supaya gak lembab. Okeee??!!

Banyak sekali teman-teman kesayangan aku yang sering menjadi Sahabat WC-ku. Mereka itu orangnya baik sekali, selalu mau menemani aku. Ah, aku jadi terharu....

Terkadang saat kami ke WC, sering ada kejadian fenomenal yang jarang sekali terjadi kalau kita tidak ke WC.

Contohnya, papasan sama kakak kakak, itu duluuu waktu masih punya kakak kelas.

Misalnya lagi, mencium aroma asap rokok yang mengebul diudara WC. alay banget nih emang cowok-cowok TKJ yang sukanya ngerokok-_-

Dan lebih polosnya lagi, pagi tadi ada yang ngerangkul aku waktu mau ke WC, tapi malah terjadi suatu kejadian lain. Ah sudahlah, aku seperti tergelitik bila teringat akan hal itu. Lupakanlah..

Oiya, aku sudah lelah membahas tentang WC, mungkin besok lagi kapan-kapan kita bahas yang lain yaa, bahas tempat-tempat lain yang juga punya kenangan manis di sekolah ini. Kebetulan aku pengen ke WC, sekalian modus sama yang didepan laboratorium MYOB ini. Ada gak yaa orangnya?? Tadi sih orangnya ada disini, semoga dia belum pulang yaaa... hihihi...

Sekali lagi, terimakasih yaa sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca cerita aku. Dan terimakasih sudah menemani aku ke WC. Ay Lop Yu Sahabat WC-ku tersayang. Muahhhhh...