Minggu, 22 Mei 2016

PERGI UNTUK KEMBALI




“Sesuatu yang membuatmu pergi, pada saatnya akan menjadi sesuatu yang membawamu pulang kembali.”

(Bernard Batubara, Kata Hati)




Dalam roda perputaran hidup manusia pasti ada masa-masa ‘pergi’ yang harus kita lalui. Entah pergi kemanapun itu, tapi yang namanya ‘pergi’ pasti menyisakan beragam cerita dibaliknya. Dari senang, sedih, sampai perasaaan paling kurang ajar yang pernah ada, yaitu, ‘kehilangan’.


Pertama, kita bahas dulu dari ‘pergi’ yang bikin kita senang. Apa yaa kira-kira?? Hmmm...
 
Pergi yang bikin senang adalah pergi yang menghantarkan kita menuju kebahagiaan tak terkira. Contoh sederhananya adalah ngetrip atau sekedar ketemuan sama teman lama. Ngetrip nggak harus jauh-jauh ke Bali, Raja Ampat, atau Singapura. Ngetrip yang sesungguhnya adalah ngetrip ke tempat antahberantah yang belum pernah kesentuh manusia wkwkwk... Kebayang dong kalo ngetrip kayak gitu serunya gimana, berasa penjelajah banget kan... FYI, ngetrip itu sangat mudah dilakukan kok, cuma butuh niat dan kesungguhan. Oiya, sama butuh teman dan juga GPS yaa, kan gak lucu kalo kamu nyasar, sendirian pula hihihi...


Ngomong-ngomong soal ngetrip, kapan nih kita ngetrip bareng?



Nah, sekarang kita bahas tentang ‘ketemuan sama teman lama’ bukan ‘balikan sama mantan lama’ yaaa... hehehe... Kegiatan yang satu ini pasti jadi kegiatan favorit buat anak muda jaman sekarang. Nggak cuma anak muda, semua orang juga pasti suka banget ketemuan sama temen lama. Kenapa? Karena alasan utamanya adalah, kita bisa flashback kenangan jaman dulu waktu lagi sama-sama bareng mereka.


Duh, tapi apa kalian gak bosen flashback terus?


Kalo aku sih engga. Justru ketemu teman lama bikin kita ingat hal-hal bodoh yang dulu pernah kita lewati bersama-sama. Mulai dari bolos sekolah, nyontek pas ujian, sampai malingin jambu di pohon tetangga. It’s gonna be something crazy.  Dijamin deh, kalian kalo ketemu teman lama pasti akan buka-bukaan aib, atau sekedar ngerumpiin teman kalian yang lain. Masa-masa kayak gitu tuh yang dirindukan banget. Apalagi semakin kesini, kita semakin sibuk sama urusan masing-masing. Itulah yang bikin susah (banget) ketemu teman lama –yang dulu tiap hari ketemu sampai bosen.

Makanya, kalau kalian punya waktu luang, lebih baik manfaatkan untuk ketemuan sama teman lama. Nggak ada salahnya dong mengenang masa lalu yang indah bersama mereka? Kalian juga bisa share pengalaman yang seru-seru, yang kalian lewatin selama perpisahan dengan mereka.

Nggak ada salahnya kan upload foto bareng sahabat sambil di grid, jaman dulu vs jaman sekarang. Dijamin seru banget looohhh... Ayo yuk, buruan chat di grup kalian, ajakin mereka ketemuan! Ketemuan kan nggak usah nunggu sukses dulu, justru ketemuan bikin kita termotivasi untuk sukses bareng-bareng.






Jadi, kapan nih kita meet up lagi, gengs?
I miss you so much!!!
Itu tadi tentang ‘pergi’ yang bikin senang. Ada beberapa hal lagi sih yang bikin pergi itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Contohnya, pergi untuk bertemu kamu, bikin aku senang, senang sekali. Apalagi kalo perginya sama kamuuu, tapi nggak tau deh kamu senang apa engga hihihi...

 
Next, ‘pergi’ yang bikin sedih. Kalo yang ini sih gue banget. Lo banget juga pasti wkwk... Karena, pergi yang bikin sedih adalah ketika kita harus pergi jauh dan meninggalkan zona nyaman kita, meninggalkan segala sesuatu yang kita miliki –untuk mencari hal-hal lain yang akan kita miliki di masa depan.

It’s absolutely  merantau untuk mengejar ilmu. Yaelah, ilmu aja dikejar, apalagi kamuuu?? :P
Nggak sedikit teman-teman kuliah gue yang anak rantau. Ini berarti masih banyak banget anak-anak yang senasib sama gue. Senasib karena harus jauh dari rumah, jauh dari orangtua, jauh dari keluarga, jauh dari pacar.... eh engga deng, gapunya pacar wkwkwkwk.


Merantau memang bukan sesuatu yang buruk. Ini justru bikin kita jadi lebih dewasa karena kita harus melakukan segala sesuatu ‘sendirian’. Merantau justru bikin kita jadi irit, karena harus menghemat pengeluaran, soalnya kebutuhan kuliah itu astagfirullah banget hahaha (curhat banget sih ini).

Merantau juga membuat kita semakin sayang sama keluarga kita, karena kita akan selalu merasa merindukan rumah. Dan hal terpenting dari merantau adalah karena kita akan semakin menghargai waktu.  Waktu kita cuma sedikit, manfaatkan sebisa mungkin supaya apapun yang kita kerjakan ketika kita jauh dari rumah cepat selesai. Ayodong, cepet selesaikan apa yang udah kamu pilih. Dirumah banyak orang yang nunggu kamu pulang. Dirumah banyak orang yang mau senyum karena bangga melihat kamu berhasil.

I’m going home, soon....


Dan yang terakhir, adalah bagian paling menjengkelkan dari ‘pergi’. Kalau disini sih lebih tepatnya ‘kepergian seseorang’, bukan kita yang pergi. Kepergian seseorang, terutama mereka yang punya hubungan baik dan dekat dengan kita pasti meninggalkan beragam kesan. Ditinggal seseorang itu bukan hal yang mudah. Meskipun bukan ditinggal untuk selama-lamanya karena orang itu meninggal, tapi ditinggal pergi sebentar saja juga sudah membuat kita merasa terpuruk sedih ala ala sinetron gitu kan..??

Beberapa minggu lalu Bapak sama Mama gue ke Jogja. Mereka dan orang-orang lingkungan di Gereja ada acara ziarah ke Semarang, terus mampir ke Jogja semalem. Seneng sih akhirnya bisa menjumpai mereka, walaupun harus jauh-jauh nyamperin ke hotelnya. Seneng sih bisa berada ditengah-tengah saudara seiman, walaupun cuma sebentar. Seneng juga bisa bantuin mereka cari oleh-oleh bakpia buat dibawa ke Bekasi, soalnya gue emang sengaja jadi re-seller  khusus pas mereka berkunjung kesini. Tapi, moment menjengkelkannya adalah ketika pagi itu mereka sudah mau melanjutkan perjalanan ke Solo, lalu semuanya udah siap di bis, tinggal nunggu pemanasan, terus langsung jalan. Sementara gue, sendirian, naik ke atas bis, menyapa mereka dari depan, dan diledekin mati-matian.


“Mba Luna, ayoo ikut ajaa...”
“Sini, Lun, duduk. Kursinya masih muat kok...”

“Ayo, Lun, ikut aja, motormu tinggal hotel. Nanti baliknya ngebis ke Jogja.”

Dan berbagai seruan maha mencekam yang bener-bener bikin gue mau ikut. Tapi, gue menyadari kalau ditinggalin itu memang nggak enak. Rasanya sangat terharu harus melepas bis itu pergi meninggalkan Jogja. Rasanya kurang puas melihat wajah mereka semua, ngobrol sama Bapak Mama, dibercandain orang-orang lingkungan. Rasanya gue butuh waktu yang lebih lama.

Sulit sekali melepaskan mereka saat itu, tapi akhirnya gue turun dari bis itu, gue ke parkiran, ambil motor. Tapi pas gue keluar, bisnya udah nggak ada. Sempet sedih sih. Hampir nangis sih. Terlebih karena mungkin seharusnya gue ikutan trip mereka selama 3 hari itu. Seandainya gue nggak kuliah di Jogja, mungkin gue memang akan jadi bagian dari perjalanan panjang mereka.

Tapi, gue punya suatu pengalaman yang lebih menyedihkan dari yang di atas. Sebenernya nggak se-menyedihkan itu, tapi, kok gue merasa kehilangan yaa?

Menurut gue, kehilangan teman ngobrol itu lebih menyedihkan dibanding kehilangan harta. Kehilangan teman bercanda, teman sharing, teman yang bisa dimintain pendapat soal baju, dan kehilangan partner itu memang menyiksa. Berasa ada yang kurang di hidup kita.


Kehilangan ini entah berawal dari apa. Kalo kata teori komunikasi, ini dinamakan depenetrasi sosial. Yang mana, ketika kamu sudah mengenal seseorang secara mendalam, suatu waktu akan ada hal yang membuat kalian menjaga jarak, dan membuat hubungan kalian putus begitu saja.

Lagipula, kayaknya mendingan putus cinta dan patah hati deh dibanding kehilangan teman.

Iya nggak?


Lo berasa aneh nggak sih, biasanya kemana-mana bareng sama dia, apa-apa cerita sama dia, dikit-dikit dia, ini-itu dia, tapi sekarang kayak orang nggak kenal. Papasan aja boro-boro nyapa. Duduk aja kayak orang musuhan. Berasa kayak ada tembok tinggi banget yang menghalangi kalian.


Tapi, mungkin kehilangan-nya itu adalah suatu cara terbaik yang pernah terjadi. Karena dibalik ‘kehilangan’ dan ‘kepergian’ yang pernah terjadi, pasti akan ada suatu pelajaran dari pengalaman itu sendiri. Buat gue sih, pelajaran paling berharga yang pernah gue dapet adalah,


"Sesuatu yang pernah pergi, mungkin bisa kembali lagi. Tapi dia tidak akan mengulangi keindahan yang dulu pernah terjadi, karena masa-masa indah itu bukan miliknya lagi. Karena semuanya tidak akan terasa sama lagi!"




Soal ‘pergi’ yang satu ini, jujur gue bingung mau cerita apa lagi. Hal-hal yang ada terlalu absurd untuk diungkapkan, halaahh wkwkwk... Kalau kata mbak Selena Gomez sama mas Charlie Puth, 

"We don't talk anymore, like we used to do...."

Jadi, intinya, soal ‘pergi-pergi’ yang pernah ada, nggak usah disesali yaa.. Mungkin semua kepergian itu punya keajaibannya sendiri. Ketika kamu menghadapi kepergian dengan cara yang dewasa dan bijaksana, pasti kamu akan mendapat sesuatu yang berarti setelahnya.

Kalau kamu harus pergi, yaa pergi aja.
Siapapun yang mau ngajak pergi, kalo kamu sempet yaa ikut aja.
Dan siapapun yang hilang, biarkanlah mereka menghilang untuk menemukan hal-hal baik yang tidak mereka temukan saat bersamamu.

Sekarang kita jalan sendiri-sendiri aja yaa, siapa tau kapan-kapan bisa reunian lagi....






Pada akhirnya,


kecanggihan komunikasi itu bisa mendekatkan yang jauh, tapi bukan berarti malah menjauhkan yang dekat.

Lagian aku nggak menjauh kok, kamunya aja yang menghindar......







Salam sayang, dari seseorang yang pergi untuk kembali pada pilihan awalnya.


Minggu, 08 Mei 2016

Dinding Pemintas 7 Cahaya


Malam ini aku melangkah pasti menuju rumah terindah milik kita.
Kita yang bisa bersama hanya pada detik detik tertentu, tapi hari ini tetap tak bisa bersama.

Mungkin bukan kita, tapi aku bersama orang yang paling kamu kasihi, -bukan sepertiku yang hanya jadi secuil hiasan debu di hatimu.-

Malam ini aku kembali mengingatmu ketika berada didekat dinding itu.
dinding yang tinggi, yang hanya bisa kugapai sebatas dua jemari.
Dinding yang tak bersuara -karena tak pernah kamu beri pita atau gendang didalamnya-
Dinding yang membentuk gambaran wajahmu -bisa juga wajahku, atau wajah siapapun diantara kita-

Dinding yang lambat laun kian mengikis, menghilang bagai batuan yang dihempas ombak lautan.

Tapi dari dinding itu bisa kulihat pelangi keagunganmu. Pelangi yang sama indahnya seperti senyumanmu. Pelangi yang hanya beda tipis dengan rasa bahagiaku kala itu.
-Kala aku bernyanyi tentang pelangi bersamamu-

Tapi, bisakah kamu rasakan bila ada pelangi di matamu?
Bisakah kamu melihat berkas sinar pancaran pelangi dari rautku?
Bisakah kamu membaca isyarat manis yang indah bagai pelangi malam ini?
Karena aku baru saja bisa, bisa begitu saja kembali berhenti pada langit pemancar pelangi setelah hujan malam ini.

Aku memang tidak bisa melihat pelangi itu karena langit begitu gelap menghadangku.
Tapi, aku bisa rasakan betapa ada 7 cahaya indah disana.........-di raut wajah bahagiamu yang tak pernah gagal membuatku terpaku-

Mungkin dinding itu semakin lama semakin tipis, pergi seperti 7 cahaya indah yang tadi ada. Namun, setipis apapun ia, aku tau ia akan selalu ada, ada untuk menjadi pemintas diantara kita. Kita yang sama-sama punya kisah bahagia.

Aku bahagia karena setidaknya masih bisa melihat pelangi.
Kamu?

Jumat, 06 Mei 2016

Mengasihi Kamu





"Kasih itu sabar, murah hati..."
 


Beberapa minggu yang lalu, bertepatan dengan hari minggu panggilan sedunia. Hari itu memperingati bagaimana gereja mengingatkan umatnya akan sebuah ‘panggilan’ dari Tuhan untuk menjadi Gembala yang baik. Minggu itu kebetulan yang ngisi koor (paduan suara di gereja) adalah anak-anak TK Marsudirini Jogja. Seneng bangetnya adalah ketika bisa menikmati mereka yang begitu luar biasa bernyanyi sepenuh hati untuk Tuhan.  

Mereka aja tulus, kalau kamu gimana?



Waktu itu gue dapet pengalaman penting dari khotbah yang disampaikan Pastur. Dia cerita gimana saat pertama kali mau mendaftarkan diri ke seminari. Dia bilang kalau akhirnya dia menentukan pilihan untuk meneruskan pendidikannya ke seminari, dan mengarahkan hidupnya sebagai Gembala Tuhan. Pastur ini juga berhasil banget bikin seluruh umat, terutama gue terharu. Dia menciptakan sebuah lagu yang bener-bener menggambarkan perjalannya menjadi seorang Pastur. Sedikit liriknya kurang lebih begini, “Inilah langkah kakiku menuju ke altar-Mu. Walaupun berselimut ragu, tapi aku tahu Kau selalu bersamaku. Kuserahkan bhaktiku dalam karyamu seumur hidupku.”

Jadi, kapan kamu terpanggil buat ngajak aku kegereja bareng? Hehehe...





Mba Kasih dan Mas Setia


Bicara soal judul postingan gue kali ini, yaitu “Mengasihi Kamu”, gue mau cerita beberapa pengalaman soal kasih dan setia. Katanya, ketika seseorang sudah menentukan suatu pilihan tertentu, ia harus setia pada pilihan itu. Seperti menentukan pilihan siapa yang mau dijadiin pacar kita, kitapun harus setia sama pasangan kita. Menentukan jenis pekerjaan apa yang ingin digeluti, bersetia pada karir yang sejak awal dibangun dengan susah payah. Dan bisa juga sesimpel setia pada pilihan jalan hidup kita, misalnya menentukan pendidikan apa yang akan kita tempuh.

Banyak dari antara orang-orang yang gue kenal yang tidak setia pada prinsip hidupnya. Contohnya, ada nih temen sekelas gue yang udah pernah nyoba kuliah di universitas lain dengan jurusan yang sangat jomplang sama jurusan yang sekarang. Ada juga beberapa temen gue yang sudah melewati satu semester dengan manis, tapi malah mengundurkan diri di semester kedua hanya karena mau coba tes di kampus lain.
Buat apa milih kalo nggak bisa setia?


Misalnya sekarang kamu udah setia sama apa yang kamu pilih, tapi apa yang mau dijadikan indikator kesetiaan itu sendiri? Toh jatuh cinta juga bisa datang tiba-tiba. Hari ini suka sama A, besok naksir B, minggu depan baper sama C, tapi malah jadian sama D.


Setia itu butuh suatu pengorbanan. Korban hati dan perasaan, karena kamu harus menahan hawa nafsu untuk tidak memilih pilihan lain. Kamu harus setia ketika memilih dan mengasihi sesuatu. Entah dibalas ataupun tidak, entah tepat atau meleset, yang penting kita harus mengasihi tanpa rasa pamrih. Jangan ngarep dikasih sesuatu ketika kamu berhasil bertahan pada posisi tertentu. Jangan ngarep dicintai mati-matian ketika kamu udah lama pacaran. Jangan ngarep di gaji besar ketika kamu mengerjakan hal yang kamu suka. Semuanya butuh ketulusan, butuh keikhlasan.

Kamu bisa gak mengasihi tanpa pamrih?




Kasihilah Sesamamu...


Sekarang daripada bikin pengandaian yang belum tentu bener, gue ceritain aja nih kejadian luar biasa yang bikin gue merasakan bagaimana sebuah kasih bekerja dalam kehidupan manusia.

Kejadian ini udah lama sih, sekitar sebulan lalu, bahkan berawal dari bulan Februari kemarin. Jadiiii, suatu hari gue memberanikan diri buat gabung jadi panitia acara paskahan di UKM. Awalnya sih emang mau menyibukkan diri, dan mau mencari sesuatu yang bikin kepikiran....hmm.....

Oke, terus seiring berkembangnya waktu, kita sama-sama merangkai sebuah acara paskah yang bertebaran kasih dimana-mana. Acaranya ada 2 hari. Hari pertama kita nonton film bareng di kampus. Acara hari kedua adalah bakti sosial ke panti asuhan. Dari dulu, baru 2 kali gue ikut dan bikin acara baksos ke panti kayak gini. Tapi yang ini beda banget rasanya...



Dulu, pertama kali ke panti waktu gue masih SD mungkin. Lalu melihat begitu banyak anak-anak yang ada disana, seketika gue berpikir polos, 
“Tuhan kok jahat yaa, gue punya segala sesuatu, keluarga yang luar biasa peduli sama gue, tapi Tuhan malah memberikan mereka kehidupan sederhana seperti di panti gini....”  
 
Bahkan gue pernah nulis surat untuk Tuhan, isinya gue marah karena Tuhan nggak adil.
Kedua kalinya, waktu gue ikutan PMR pas SMP. Waktu itu gue udah cukup besar untuk tidak berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Waktu itu gue udah ngerti kalo mereka bahkan adalah anak-anak paling beruntung karena sangat amat dikasihi oleh Tuhan. Waktu itu gue udah bisa bikin anak-anak itu seneng karena ngadain games dan acara lainnya.


Dan sekarang, sebulan yang lalu itu merupakan pengalaman  paling nggak bisa dilupain sama Luna. Kenapa? Karena gue terlalu membawa perasaan gue dalam segala rangkaian acara yang ada. Terlibat dalam perencanaan dan rangkaian acara itu bikin gue belajar banyak hal. 


Gue jadi tau gimana susahnya ngumpulin orang,
gimana susahnya nyari sumbangan,
gimana susahnya nyari uang dari hasil jualan barang bekas,
gimana lelahnya ngamen sampe malem,
gimana sulitnya menghargai waktu yang ada.
Dan yang paling penting,
gue jadi tau banget gimana rasanya mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri sendiri.




Di panti itu banyaaakk banget anak-anak kecil, yang mengingatkan gue dengan geng rusuh gue dirumah (ponakan-ponakannya Luna). Disana ada beberapa yang keterbelakangan mentalnya, dan ada begitu banyak bocah lincah yang nemplok kesana-kemari. Gue sendiri main sama Ica, si baju kuning yang dikuncir air mancur. Saking main terus sama dia, udah berasa momong dia, sampe ada yang bilang, “Udah cocok kok, Dek...”


Cocok sih boleh, sekarang cariin aja dulu Om yang mau nemenin Tante Luna momong Ica hehehe.... Tapi entah mengapa, beberapa jam bareng Ica bikin Luna gamau pisah... 


Gamau pulang, 
Gamau cepet-cepet melewatkan kebersamaan ini. 
Luna masih mau lama-lama sama kamu.
Luna masih mau liat kamu dari deket, liat kamu ketawa bahagia.
Luna masih mau main sama kamu.


Mungkin gue terlalu berlebihan, tapi percayalah, gue benar-benar merasa beruntung bisa berada disana bersama mereka semua. Beruntung karena masih punya kesempatan untuk berbagi kasih, dan merasakan kasih luar biasa diantara mereka. Beruntung karena bisa kenal lebih banyak orang luar biasa yang tulus memberikan kasih mereka pada sesama. Satu pesan yang paling gue inget dari semua rangkaian acara ini adalah,

“Jangan lihat seberapa besar yang kamu berikan, tapi rasakan apa pelajaran yang kamu dapatkan!”




Nah itu dia, gue dapet banyak pelajaran.


Pelajaran paling utamanya adalah, ketika kita berada jauh dari orang-orang tersayang, masih ada banyak orang lain yang bisa kita sayangi.


Ketika kita mungkin tidak bisa merayakan sesuatu dengan orang yang kita kasihi, masih banyak moment yang bisa kita ciptakan ketika kita tulus mengasihi orang lain.




Dan pelajaran tambahan terakhir adalah,

"Terimakasih sudah membuat paskah-ku lebih berarti dengan berbagi.
Terus kapan nih kita nyebar kasih rame-rame lagi?"