“Sesuatu yang membuatmu pergi, pada saatnya akan menjadi sesuatu yang membawamu pulang kembali.”
(Bernard Batubara, Kata Hati)
Dalam roda perputaran hidup manusia
pasti ada masa-masa ‘pergi’ yang harus kita lalui. Entah pergi kemanapun itu,
tapi yang namanya ‘pergi’ pasti menyisakan beragam cerita dibaliknya. Dari
senang, sedih, sampai perasaaan paling kurang ajar yang pernah ada, yaitu,
‘kehilangan’.
Pertama, kita bahas dulu dari ‘pergi’
yang bikin kita senang. Apa yaa kira-kira?? Hmmm...
Pergi yang bikin senang adalah pergi
yang menghantarkan kita menuju kebahagiaan tak terkira. Contoh sederhananya
adalah ngetrip atau sekedar ketemuan sama teman lama. Ngetrip nggak harus
jauh-jauh ke Bali, Raja Ampat, atau Singapura. Ngetrip yang sesungguhnya adalah
ngetrip ke tempat antahberantah yang belum pernah kesentuh manusia wkwkwk...
Kebayang dong kalo ngetrip kayak gitu serunya gimana, berasa penjelajah banget
kan... FYI, ngetrip itu sangat mudah dilakukan kok, cuma butuh niat dan
kesungguhan. Oiya, sama butuh teman dan juga GPS yaa, kan gak lucu kalo kamu
nyasar, sendirian pula hihihi...
Ngomong-ngomong soal ngetrip, kapan
nih kita ngetrip bareng?
Nah, sekarang kita bahas tentang
‘ketemuan sama teman lama’ bukan ‘balikan sama mantan lama’ yaaa... hehehe...
Kegiatan yang satu ini pasti jadi kegiatan favorit buat anak muda jaman
sekarang. Nggak cuma anak muda, semua orang juga pasti suka banget ketemuan
sama temen lama. Kenapa? Karena alasan utamanya adalah, kita bisa flashback
kenangan jaman dulu waktu lagi sama-sama bareng mereka.
Duh, tapi apa kalian gak bosen
flashback terus?
Kalo aku sih engga. Justru ketemu
teman lama bikin kita ingat hal-hal bodoh yang dulu pernah kita lewati
bersama-sama. Mulai dari bolos sekolah, nyontek pas ujian, sampai malingin
jambu di pohon tetangga. It’s gonna be something crazy. Dijamin deh, kalian kalo ketemu teman lama
pasti akan buka-bukaan aib, atau sekedar ngerumpiin teman kalian yang lain.
Masa-masa kayak gitu tuh yang dirindukan banget. Apalagi semakin kesini, kita
semakin sibuk sama urusan masing-masing. Itulah yang bikin susah (banget)
ketemu teman lama –yang dulu tiap hari ketemu sampai bosen.
Makanya, kalau kalian punya waktu
luang, lebih baik manfaatkan untuk ketemuan sama teman lama. Nggak ada salahnya
dong mengenang masa lalu yang indah bersama mereka? Kalian juga bisa share
pengalaman yang seru-seru, yang kalian lewatin selama perpisahan dengan mereka.
Nggak ada salahnya kan upload foto
bareng sahabat sambil di grid, jaman dulu vs jaman sekarang. Dijamin seru
banget looohhh... Ayo yuk, buruan chat di grup kalian, ajakin mereka ketemuan!
Ketemuan kan nggak usah nunggu sukses dulu, justru ketemuan bikin kita
termotivasi untuk sukses bareng-bareng.
Jadi, kapan nih kita meet up lagi,
gengs?
I miss you so much!!!
Itu tadi tentang ‘pergi’ yang bikin
senang. Ada beberapa hal lagi sih yang bikin pergi itu menjadi sesuatu yang
menyenangkan. Contohnya, pergi untuk bertemu kamu, bikin aku senang, senang
sekali. Apalagi kalo perginya sama kamuuu, tapi nggak tau deh kamu senang apa
engga hihihi...
Next, ‘pergi’ yang bikin sedih. Kalo
yang ini sih gue banget. Lo banget juga pasti wkwk... Karena, pergi yang bikin
sedih adalah ketika kita harus pergi jauh dan meninggalkan zona nyaman kita,
meninggalkan segala sesuatu yang kita miliki –untuk mencari hal-hal lain yang
akan kita miliki di masa depan.
It’s absolutely
merantau untuk mengejar ilmu. Yaelah, ilmu aja dikejar, apalagi kamuuu??
:P
Nggak sedikit teman-teman kuliah gue
yang anak rantau. Ini berarti masih banyak banget anak-anak yang senasib sama
gue. Senasib karena harus jauh dari rumah, jauh dari orangtua, jauh dari
keluarga, jauh dari pacar.... eh engga deng, gapunya pacar wkwkwkwk.
Merantau memang bukan sesuatu yang
buruk. Ini justru bikin kita jadi lebih dewasa karena kita harus melakukan
segala sesuatu ‘sendirian’. Merantau justru bikin kita jadi irit, karena harus
menghemat pengeluaran, soalnya kebutuhan kuliah itu astagfirullah banget
hahaha (curhat banget sih ini).
Merantau juga membuat kita semakin
sayang sama keluarga kita, karena kita akan selalu merasa merindukan rumah. Dan
hal terpenting dari merantau adalah karena kita akan semakin menghargai
waktu. Waktu kita cuma sedikit,
manfaatkan sebisa mungkin supaya apapun yang kita kerjakan ketika kita jauh
dari rumah cepat selesai. Ayodong, cepet selesaikan apa yang udah kamu pilih.
Dirumah banyak orang yang nunggu kamu pulang. Dirumah banyak orang yang mau
senyum karena bangga melihat kamu berhasil.
I’m going home, soon....
Dan yang terakhir, adalah bagian
paling menjengkelkan dari ‘pergi’. Kalau disini sih lebih tepatnya ‘kepergian
seseorang’, bukan kita yang pergi. Kepergian seseorang, terutama mereka yang
punya hubungan baik dan dekat dengan kita pasti meninggalkan beragam kesan.
Ditinggal seseorang itu bukan hal yang mudah. Meskipun bukan ditinggal untuk
selama-lamanya karena orang itu meninggal, tapi ditinggal pergi sebentar saja
juga sudah membuat kita merasa terpuruk sedih ala ala sinetron gitu kan..??
Beberapa minggu lalu Bapak sama Mama
gue ke Jogja. Mereka dan orang-orang lingkungan di Gereja ada acara ziarah ke
Semarang, terus mampir ke Jogja semalem. Seneng sih akhirnya bisa menjumpai
mereka, walaupun harus jauh-jauh nyamperin ke hotelnya. Seneng sih bisa berada
ditengah-tengah saudara seiman, walaupun cuma sebentar. Seneng juga bisa
bantuin mereka cari oleh-oleh bakpia buat dibawa ke Bekasi, soalnya gue emang
sengaja jadi re-seller khusus pas
mereka berkunjung kesini. Tapi, moment menjengkelkannya adalah ketika pagi itu
mereka sudah mau melanjutkan perjalanan ke Solo, lalu semuanya udah siap di
bis, tinggal nunggu pemanasan, terus langsung jalan. Sementara gue, sendirian,
naik ke atas bis, menyapa mereka dari depan, dan diledekin mati-matian.
“Mba Luna, ayoo ikut ajaa...”
“Sini, Lun, duduk. Kursinya masih muat
kok...”
“Ayo, Lun, ikut aja, motormu tinggal
hotel. Nanti baliknya ngebis ke Jogja.”
Dan berbagai seruan maha mencekam yang
bener-bener bikin gue mau ikut. Tapi, gue menyadari kalau ditinggalin itu memang
nggak enak. Rasanya sangat terharu harus melepas bis itu pergi meninggalkan
Jogja. Rasanya kurang puas melihat wajah mereka semua, ngobrol sama Bapak Mama,
dibercandain orang-orang lingkungan. Rasanya gue butuh waktu yang lebih lama.
Sulit sekali melepaskan mereka saat
itu, tapi akhirnya gue turun dari bis itu, gue ke parkiran, ambil motor. Tapi
pas gue keluar, bisnya udah nggak ada. Sempet sedih sih. Hampir nangis sih.
Terlebih karena mungkin seharusnya gue ikutan trip mereka selama 3 hari itu.
Seandainya gue nggak kuliah di Jogja, mungkin gue memang akan jadi bagian dari
perjalanan panjang mereka.
Tapi, gue punya suatu pengalaman yang
lebih menyedihkan dari yang di atas. Sebenernya nggak se-menyedihkan itu, tapi,
kok gue merasa kehilangan yaa?
Menurut
gue, kehilangan teman ngobrol itu lebih menyedihkan dibanding kehilangan harta.
Kehilangan teman bercanda, teman sharing, teman yang bisa dimintain
pendapat soal baju, dan kehilangan partner itu memang menyiksa. Berasa ada yang
kurang di hidup kita.
Kehilangan
ini entah berawal dari apa. Kalo kata teori komunikasi, ini dinamakan
depenetrasi sosial. Yang mana, ketika kamu sudah mengenal seseorang secara
mendalam, suatu waktu akan ada hal yang membuat kalian menjaga jarak, dan
membuat hubungan kalian putus begitu saja.
Lagipula,
kayaknya mendingan putus cinta dan patah hati deh dibanding kehilangan teman.
Iya
nggak?
Lo
berasa aneh nggak sih, biasanya kemana-mana bareng sama dia, apa-apa cerita
sama dia, dikit-dikit dia, ini-itu dia, tapi sekarang kayak orang nggak kenal.
Papasan aja boro-boro nyapa. Duduk aja kayak orang musuhan. Berasa kayak ada
tembok tinggi banget yang menghalangi kalian.
Tapi,
mungkin kehilangan-nya itu adalah suatu cara terbaik yang pernah terjadi.
Karena dibalik ‘kehilangan’ dan ‘kepergian’ yang pernah terjadi, pasti akan ada
suatu pelajaran dari pengalaman itu sendiri. Buat gue sih, pelajaran paling
berharga yang pernah gue dapet adalah,
"Sesuatu
yang pernah pergi, mungkin bisa kembali lagi. Tapi dia tidak akan mengulangi
keindahan yang dulu pernah terjadi, karena masa-masa indah itu bukan miliknya
lagi. Karena semuanya tidak akan terasa sama lagi!"
Soal
‘pergi’ yang satu ini, jujur gue bingung mau cerita apa lagi. Hal-hal yang ada
terlalu absurd untuk diungkapkan, halaahh wkwkwk... Kalau kata mbak
Selena Gomez sama mas Charlie Puth,
"We don't talk anymore, like we used to do...."
Jadi,
intinya, soal ‘pergi-pergi’ yang pernah ada, nggak usah disesali yaa.. Mungkin
semua kepergian itu punya keajaibannya sendiri. Ketika kamu menghadapi
kepergian dengan cara yang dewasa dan bijaksana, pasti kamu akan mendapat
sesuatu yang berarti setelahnya.
Kalau
kamu harus pergi, yaa pergi aja.
Siapapun
yang mau ngajak pergi, kalo kamu sempet yaa ikut aja.
Dan
siapapun yang hilang, biarkanlah mereka menghilang untuk menemukan hal-hal baik
yang tidak mereka temukan saat bersamamu.
Sekarang kita jalan sendiri-sendiri aja yaa, siapa tau kapan-kapan
bisa reunian lagi....
Pada akhirnya,
kecanggihan
komunikasi itu bisa mendekatkan yang jauh, tapi bukan berarti malah menjauhkan
yang dekat.
Lagian aku nggak menjauh kok, kamunya aja yang
menghindar......
Salam
sayang, dari seseorang yang pergi untuk kembali pada pilihan awalnya.