Jumat, 19 Mei 2017

100 DETIK

 

Detik yang berjalan begitu cepat, tanpa pernah kusangka kini perlahan mulai melemah dan menghilang begitu saja.


Dalam gelap malam yang dibalut tetes demi tetes rintik hujan rabu itu, aku jatuh dalam sebuah perenungan...


Malam itu tiba-tiba saja kamu berkata,
“Seratus detik ini terlalu lama. Kita bisa melakukan hal lain yang lebih berguna dalam seratus detik.”

Aku hanya tersenyum. Kupandangi detik demi detik yang berlalu dalam penunjuk waktu digital diatas lampu merah jalan kota. 

 
“Tidak, Sayang,” Aku mulai memecah keheningan malam itu.
 “Dalam seratus detik ini kita bisa saling mengenang. Seratus detik ini sangat bermanfaat untuk sekedar merasakan rindu.”

Kamu lalu tertawa dan meledek aku. Kamu bilang rindu tidak perlu ratusan detik untuk sampai di tempat tujuannya.
Lalu, apa kamu merasakan rinduku?





Aku rindu malam itu.
Aku rindu duduk disampingmu, memperhatikan kamu yang asik bermain ponsel dikala semua orang sedang berdoa.
Aku rindu melihatmu membuka pintu, menyalakan mesin, memarahi pengemudi lain yang tidak berjalan dengan baik.
Aku rindu menatapmu dari gelap, diam-diam memperhatikan lakumu yang dingin namun tetap manis.


Aku rindu momentum itu.
Malam-malam hujan, didepanmu, hanya duduk diam dan menemanimu menyantap sesuap nasi, meneguk segelas jeruk hangat. Kamu selalu bilang kalau makanan ini adalah makanan terlezat sedunia. Kamu selalu mencoba membuat aku percaya bila hal itu benar adanya.
 
Iya, aku percaya.

Aku percaya bila kamu suka.

Aku percaya, bahkan sejak lama.

Aku percaya bila kamu cinta.

Aku percaya, bahkan tanpa kamu mengatakannya.




Detik yang berjalan begitu cepat, tanpa pernah kusangka kini perlahan mulai melemah dan menghilang begitu saja. Detikku itu kini mulai pudar.
Ia mengeras pada jantung lain yang punya senyum lebih indah, yang punya kenangan lebih mesra, yang punya perjuangan sama beratnya seperti kamu.

Aku mungkin hanya seujung kuku jemarinya yang lentik, yang tak mampu menggenggam erat tanganmu, dan menguatkan kamu ketika seribu alasan datang dan membuat kamu tiba-tiba jatuh atau rapuh.
Aku hanya seberkas laporan tugasnya yang menumpuk, yang sama sekali tak mengerti betapa sibuk harimu, betapa padat hidupmu.
Aku hanya selintas jalan raya yang pernah kamu lalui, bersama dia, petang lalu.
Aku hanya  setetes rintik hujan, yang ingin jatuh beramai-ramai, namun kau halangi ketika menyeberang dengan payung bersamanya.

Aku hanyalah sedetik masa yang tak pernah kamu perhatikan geraknya. Ratusan, bahkan ribuan kalipun aku berdetak, mungkin bagimu sama saja.
Detik itu sangat berharga. Ia hanya sekedar menantimu berbalik arah, berharap kamu mengenal aku lebih dahulu, mengenal betapa aku mengagumimu dari kejauhan, dari kali pertama kita tertawa menggila.


“Lihatlah, Sayang, tidak seharusnya mereka saling rangkul ditepi jalan raya begini...,” protesku melihat mereka meneduh dalam satu payung, sambil saling menghangatkan satu sama lain.

“Ah, kamu memang tidak mengerti. Peluk adalah rasa terindah. Ia dapat membuatmu hangat dan menjadi manusia yang lebih kuat.”

Jawabanmu membuat aku kembali dalam hening ini, hingga aku tersadar bila ratusan detik itu telah berlalu. Ia telah habis dimakan waktu. Segala kenangannya dihempas begitu saja diterjang roda kendaraan malam.


Aku benar-benar sudah sadar.

Ini sudah waktunya aku pergi.

“Apa ini saatnya kita berpisah?”
Raguku membakar pikiran dan hati yang paling dalam.

“Iya. Ini saatnya. Aku harus pergi.”
 Katamu sambil memandangi pintu itu, seakan-akan ingin aku segera keluar dan berlalu.


Amat berat bagiku meninggalkan semua ini, tapi,
“Baiklah. Terimakasih ya.”

Aku turun.
 Aku berusaha tegar melepas hari ini. 
Mengapa ini harus sedini ini berakhir?

Tapi, tiba-tiba kamu berkata,
“Aku yang harusnya berterimakasih karena kamu mau menemaniku malam ini.” 

 Kamu hanya tersenyum. 
Senyum yang dingin tapi manis sekali. 
Senyum yang entah hingga kapan takkan bisa kulupakan.



Tadinya senyum itu ingin kuabadikan...,
Tadinya semua tingkah lakumu ingin kurekam supaya aku tak mudah lupa, supaya sesekali bisa kuputar ulang bila kita berjauhan. Tapi, rasa-rasanya momentum itu keburu menghilang. Ia hilang bersama ratusan detik itu.

Bersama dengan hilangnya dia, aku hanya ingin kamu percaya bila aku tidak akan pernah menghilang begitu saja dari hadapanmu, kecuali kamu benar-benar mengusirku dengan paksa. Meski tidak bisa jadi seseorang yang selalu menemani makan malam favoritmu, aku tidak mau begitu saja berhianat dan pergi darimu. Aku akan tetap ada, mengamatimu dari kejauhan.


Aku akan tetap ada,
memastikan senyummu indah bersamanya.

Setidak berarti apapun ratusan detik yang pernah ada itu, ia akan tetap jadi kisah berarti untukku. Meski suatu saat nanti kita sudah tidak pernah bertemu lagi, meski kita sudah bukan siapa-siapa lagi, meski nanti kamu sudah benar-benar melupakan detik demi detik itu, kamu masih boleh mencari aku sesukamu.


Mungkin suatu saat nanti kamu butuh aku....





Baiklah, ini saatnya aku benar-benar pergi.
Terimakasih untuk ratusan detik dan kehangatan malam itu.
  



Selasa, 09 Mei 2017

Ekspektasi


Apa yang kamu harapkan belum tentu sesuai kenyataan!



Jika kamu kira aku bisa menjadi seseorang yang kamu harapkan, itu salah besar, Sayang.
Aku sangat teramat tidak bisa berubah seperti yang kamu inginkan.

Jika kamu sedari dulu selalu mencekoki aku dengan hal-hal yang mesti kuturuti, nampaknya perlahan kamu harus mulai menyadari bila aku semakin tumbuh dewasa dan ingin punya rasa bebasku sendiri. 

Aku tahu dan paham betul caramu baik bagiku.
Tapi, tidakkah kamu bisa mempercayai sebuah kebebasan yang perlu kumiliki?

Aku kira kamu percaya padaku.
Aku kira kamu yakin bahwa diluar sana aku baik-baik saja.
Khawatirmu berlebihan, Sayang.

Aku tahu kuasamu lebih besar dariku, tapi apakah aku tidak boleh mendapatkan kebebasan yang sama sepertimu?
Kamu harusnya bisa menyadari bila semakin lama aku semakin disibukkan dengan ini itu yang menjadi prioritas dan rutinitasku. Kamu harusnya bisa percaya jika diluar sana yang kulakukan sungguh nyata dan tidak mengada-ada.

Sayang, kamu tidak bisa memintaku untuk selalu mengikuti inginmu.
Aku juga butuh hal lain diluar itu.

Sayang, kamu tidak bisa semata-mata menganggap segala sesuatu yang telah kulakukan maksimal menjadi salah dan selalu kurang. Aku juga punya waktu untuk hal lain yang menungguku disana, tidak hanya terus bersama kamu.


Jika kamu kira aku bisa menjadi seseorang yang kamu harapkan, itu salah besar, Sayang.

 
Aku bukanlah sosok seperti itu.
Aku mencintaimu dengan apa adanya.
Aku mencintai setiap tutur dan lakumu, meski kerap tak nyaman bagiku.
Aku mencintai tawa dan candamu, meski seringkali aku yang kau ledek mati-matian.
Aku mencintai aroma parfummu, perhatian, kasih, dan ketulusanmu.
Aku mencintai dan mencoba untuk selalu menerimamu apa adanya.



Bisakah kamu terima aku yang seperti kali ini?
Bisakah aku tak perlu berubah supaya kamu percaya dan jatuh cinta?