Pernah satu kali kulihat rupamu, begitu asing, hingga aku
terjatuh pada satu hal yang unik darimu, membuatku selalu ingat siapa kamu.
Tapi takdir berkata, bahwa itu benar-benar kamu.
Aku nggak tau mengapa kita bisa bersama.
Mungkin itu adalah sebuah ketidaksengajaan semata.
Tapi jika malam malam berikutnya, kamu yang selalu
singgah dalam bunga tidurku, apa itu juga kebetulan?
Sebenarnya cukup sederhana,
Kita bertemu ketika aku butuh kamu.
Ketika aku butuh dibuat tersipu olehmu.
Ketika gelak tawa yang lalu bisa menghibur lukaku.
Sebenarnya sepolos, ‘aku suka caramu...’
Caramu mungkin juga sama pada manusia lainnya, tapi satu
yang ku tau, kamu sudah mencuri perhatianku –hanya dalam satu kali kedipan mata.
Sebenarnya hanya selucu ‘aku selalu melewati jalan lain
supaya bisa ketemu kamu.’
Tapi benar kata temanku, ‘jodoh tidak bisa
direncanakan.’
Sebenarnya hanya sebahagia ‘kamu membalas tulisan tak
penting yang waktu itu kutempel di dinding.’
Kamu pasti sudah lupa, tapi percayalah, aku hafal benar
setiap huruf yang kamu tulis pagi itu.
Sebenarnya hanya se-luar-biasa sentuhan telapak, jemari,
sorot matamu, hangat senyuman, kasih, kenyamanan,...
Tapi aku sadar, peluangku bersamamu hanya sebatas
intensitas pertemuan kita.
Kecil memang.
Kecil sekali dibanding ketika kamu bersama mereka.
Tapi, bolehkah satu, dua atau tiga kesempatan nanti kita
kembali bekerja sama membangun bahagia?
Setidaknya sekedar bernyanyi dan tertawa bersama lagi...
Bolehkah?
Apa boleh jika aku berbagi beberapa cerita padamu?
Pasti kamu punya solusi bagus dalam perkaraku ini....
Pasti kamu punya solusi bagus dalam perkaraku ini....
Apa boleh juga, bila suatu saat nanti kita pergi
bersama-sama?
Nggak perlu berdua kok, karna kita kan bersaudara dalam Namanya yang agung dan mulia.
Nggak perlu berdua kok, karna kita kan bersaudara dalam Namanya yang agung dan mulia.
Sebenarnya, segalanya hanya seberuntung malam itu –dimana
aku menatapmu dari lantai dua wisma itu, lalu pergi ke tepian jendela, hanya
untuk melihat langkah kakimu nan lugu, lelah menepi setelah seharian itu
mendampingiku.
Enggak, aku nggak butuh balasan apa-apa!
Aku cuma butuh moment kebersamaan, –sepi banget rasanya
hidup di kota lain, jauh dari keimanan sejati. Aku cuma mau ngerasain, ‘bagaimana
serunya jadi temanmu.’
Mungkin tempat kita yang berbeda membuat kita jarang
bersinggungan lagi. Tapi setidaknya, aku pernah merasa begitu beruntung
mengenalmu. :)
Pada akhirnya, dibawah langit malam yang cukup manis
dengan bulan sabitnya (yang sama manisnya seperti malam itu), aku hanya ingin mengirimkan
sebuah isyarat sehalus tulisan-tulisan terjemahan dan bingkaian foto penuh rindu
akan bertemu denganmu kamu lagi.
Terimakasih yaa sudah membuatku tersenyum saat masalah menjengkelkan menghantuiku. Sayangnya, Kami masih punya hutang nyanyi sama kamu.
Kalau jodoh, nanti kita ketemu di belakang yaa!
Maaf bila aku terlalu terburu-buru.
Maaf bila aku terlalu terburu-buru.
Jangan anggap serius, aku cuma bercanda kok.
Oiya, Dapat salaam dari tebingnya :)
Oiya, Dapat salaam dari tebingnya :)

