Senin, 22 Desember 2014

Sekilas Kata-Kata Berharga, dari ILK - part 1

Ada sosok mulia yang berjuang diantara hidup dan mati demi kehadiran si buah hati...,

Ibunda namanya.

Dan tidak berhenti sampai disitu;

Ketika kelak si anak lapar dan dahaga, tangan Ibu yang lembut menyuapi dan memberi minum.

Ketika sang buah jiwa riang gembira, tangan Ibu yang tengadah syukur, memeluk erat dengan air mata bahagia.

Ketika sang anak terisak mengeluarkan tangis, tangan Ibu yang hangat sesegera mungkin mengusap air matanya.

Saat anak mandi, tangan Ibu yang mengguyurkan air membersihkan tubuh sang anak.

Ketika anak diterpa masalah dan musibah, tangan Ibulah yang membelai dan mengusap punggungnya, seraya berkata, "Bersabar, anakku tersayang."

Namun, ketika Ibu sudah renta dan diterpa rasa lapar, kerap tiada tangan dari anaknya yang menyuapi.
Dengan tangan bergetar, Ibu suapkan sendiri makanan kemulutnya dengan linangan air mata.

Saat bunda didera sakit, dimana tangan anak yang bunda harapkan dapat merawat dan menutupi tubuhnya dengan selimut kehangatan?

Ketika Ibu berpulang, nyawa terbang kembali ke pemiliknya, dan jenazahnya hendak dimandikan, dimana tangan anak yang ibu harapkan memandikan jenazah ibunya terakhir kali?


Sentuhan tangan Ibu yang menghantarkan kita ke dunia, yang bisa membawa kita masuk ke surga, kerap kali kita lupa membalasnya meski ia tak pernah meminta.


Sebelum terlambat akibat sesuatu terjadi, karna itu pasti terjadi,

sudahkah kamu menyapa Ibumu malam ini?
Sosok yang melahirkanmu.

Atau mencium kening nya, dan mendoakannya?




Selamat malam, Ibu....

Selasa, 02 Desember 2014

Seandainya Bisa


"Meskipun terbatas, saling pandang, dan tak akan lebih lagi...... Andai waktu bisa kita putar kembali, jalinan cerita mungkin tak begini...."
  -Kahitna (Aku, Dirimu, Dirinya)

Tak ada yang harus kita sesali.
Sesungguhnya semua ini hanya berawal dari beberapa momentum kecil yang apabila diselaraskan menjadi sebuah kisah penuh tanda tanya.

Mengapa tidak sejak dulu saja aku menyadari keberadaannya? Padahal ada suatu saat dimana banyak orang membicarakan dia hanya karna memiliki keterkaitan dengan seseorang yang ada disini.

Tapi sebulan lalu, aku mulai menyadari keberadaannya. Sesering sebagaimana aku berada pada tempat yang selalu dijelajahinya.

Sejak saat itu aku mulai sadar, ternyata ada dia. Atau mungkin, ternyata dia ada?? Entahlah, tapi hari-hariku yang lalu mulai bersimpangan dengan kisahnya, yang ternyata memang selalu melalui kehidupanku.

Tiga minggu lalu, aku kembali kehilangan sosoknya... yaaa, meskipun hanya sebuah bayang kelabu. Tapi aku memang belum merasa ada keterkaitan dengannya, sebagaimana aku mulai jarang menjelajahi jalanan berbatu miliknya.

Lalu aku tak peduli, toh dia memang bukan siapa-siapa yang perlu dipedulikan. Namun seiring berjalannya waktu dan hentakkan kakiku, aku kembali bersimpangan dengan kehidupan itu. Entah mengapa dan bagaimana, tapi kami bertemu pada sebuah jalan yang tidak seharusnya kami singgahi. Aneh, tapi nyata. Malah membuat aku mulai berimajinasi tak jelas, berkaca pada kenyataan yang ternyata dia sudah tidak sendiri. Ah, betapa manis dan menakjubkan kisah hidupnya. Rasanya aku ingin memiliki hal yang sama seperti yang kini kupandang dalam timeline foto mereka di Instagram. Hanya ingin, dan tersenyum lucu.

Dua minggu yang lalu, aku kembali menjelajahi batuan tak bertuan itu. Dan keajaiban yang kudapat ternyata berkesinambungan dengan hidupnya. Betapa lucu dan membahagiakan hidupnya, betapa mereka ingin kembali mengulang waktu dahulu yang begitu keemasan. Betapa sang tuan sampai berkata, "Jika dia milikku, aku tak akan melepaskan nya semudah itu."

Iya.
Memang iya.
Aku juga berkata Iya pada diriku sendiri.
Dan sejak malam itu rasanya diriku sudah bernubuat bahwa aku harus berani menatap matanya.
Menatap kehidupannya membahas soal takdir yang memisahkannya dengan tuan tanah, dan bagaimanapun juga, aku harus mengukir segalanya dalam suatu takdir.


Tapi bagaimana?
Baru bertemu saja, aku tak bisa berkata.
Dia berhenti saja, aku menghindar.
Dia berjalan saja, aku menunduk.
Dia menghampiri saja, aku tak mampu.


10 hari yang lalu, hari hari yang ternyata hanya bisa kulewatkan dengan berharap. Bukan berharap memilikinya, tapi berharap mengenalinya. Berharap memiliki teman baru yang seperti dia. Dan tanpa kebohongan, berharap bisa mengukir sebuah takdir dengan nya.

Tapi untungnya, 5 hari yang lalu, aku dengan sebegitu usahanya, berhasil mendapatkan.....tapi bukan dia. Hanya figur yang menyerupainya. Ah, klise.


Bagaimana bisa?
Aku saja tak berani menyapa.
Aku saja tak tau apa dia mengenalku?
Aku saja tak bisa bersandiwara.


Tapi kemarin, hari yang sesungguhnya membuatku tak menentu. Bimbang, entah bagaimana caranya, tapi kurasa aku tak pernah bisa berhasil mengeluarkan apa yang ada dimulutku. Rasanya tak bisa merealisasikan segala rencana apik yang telah kususun, tapi tak pernah matang karna tak kumasak.

Lalu, hari ini. Hari yang menyimpan sebuah misteri. Tapi aku hanya bisa melihat urutan takdir itu dalam bingkai manis milik temanku. Bahkan sebenarnya hari ini aku berselanjar demi menutupi hartanya. Aku mengorbankan separuh waktuku untuk sengaja berada disana... kalau-kalau nanti aku berani menyapa.

Ah, tapi aku memang terlalu memikirkan caranya, bukannya langsung bertindak.
Bahkan disaat sudah sedekat ini, aku kembali pura-pura menghindar, padahal sebenarnya aku bisa menyapa sambil menghiasi sang takdir dengan senyuman.

Ah, seandainya bisa.. tapi hari ini memang aku hanya bisa menahan hartanya, bukan waktu dan senyumnya.

Ah, seandainya bisa, aku hanya ingin menyapa, bercerita, melihat senyum merekahnya, lalu mengukir takdir itu.

Mungkin belum saatnya, tapi sebelum semuanya berakhir, aku harus mengukir sang takdir.