Ini bukan
tentang lagunya One Direction, atau bukan tentang ibu peri yang merubah upik
abu menjadi Cinderella nan cantik di malam hari. Tapi, tentang bagaimana segala
sesuatu sekarang ini sudah berbeda.
Malam ini, ketika aku merangkai kata-kata
yang mungkin nggak ada artinya ini, tanggalan masih menunjukkan angka 10 pada
bulan Desember tahun 2015. Senang rasanya masih bisa merasakan bulan ini,
setelah puluhan hari mengambang di bulan November yang mulai penuh dengan
hujan. Senang rasanya, nggak pernah kerasa kalau 2015 sebentar lagi akan habis
masa jaya nya. Banyak sekali cerita-cerita luar biasa tahun ini, tapi ada satu
hal yang sangat terasa belakangan ini, bahwa segalanya telah berubah.
Entah mengapa satu bulanan ini
kerasa beda banget. Rasanya semua ujian dalam hidup ini makin berat. Tugas
makin kesini makin numpuk, apalagi cucian kotor, numpuk banget. Dan ada juga
beberapa hal yang amat menyesakkan, sampai-sampai hatiku jatuh pada sebuah kalimat,
yaitu,
“Mau cepet pulang!”
Pulang dalam
arti yang sebenarnya.
Pulang ke rumahku
sendiri.
Lemah banget
ya, padahal baru juga pergi berapa bulan...
Kalo dipikir-pikir, padahal waktu
kecil rasanya hidup nggak ada beban. Mau main ya main, mau tidur ya tidur, mau
teriak ya terserah aja. Kayaknya masa kecil itu terlalu ngangenin sampai
sekarang aku mulai flashback sama beberapa gambar istimewanya. Dan malam ini aku
nggak bisa benar-benar membenci suatu keadaan.
Malam ini memang begitu gelap tanpa
adanya sinar rembulan.
Sangat amat gelap hingga aku tidak
bisa menemukanmu.
Malam ini tidak ada bulan di
tengah-tengah awan.
Malam ini aku bagaikan terambang ditengah
samudera, menatapi kekosongan ombak di lautan lepas.
Malam ini benar-benar sepi.
Sepi karena kamu tidak ada disini.
Jangankan ada disini, bahkan aku tak
pernah tau bagaimana kabarmu. Begitupun kamu yang nggak pernah kasih
kabar buatku. Padahal dalam ratusan kilometer jauhnya dari rumah, aku sangat
merindukanmu, lebih dari banyaknya bintang yang dulu menerangi gelapku.
Kamu sibuk ya?
Sampai tidak bisa meluangkan semenit
saja untuk meneleponku, sekedar bertanya,
“Kamu lagi apa disana?”
Padahal dulu kamu sering telepon
kerumah, mengisi hari sembari terjebak macetnya jalan raya.
Kamu sibuk ya?
Sampai tidak bisa menyemangati
hari-hariku yang penuh tantangan.
Padahal dulu kamu yang bilang kalau
aku harus rajin belajar supaya bisa jadi sukses sepertimu.
Kamu sibuk ya?
Sampai tidak peduli bagaimana
perasaanku disini.
Padahal, aku butuh kamu, disini....
Kamu tau nggak, malam ini aku berdoa
pada Tuhan kita. Aku berdoa seperti yang kamu ajarkan dulu, saat aku masih
begitu tidak mengerti ‘untuk apa berbicara didepan lilin yang menyala dan
patung salib berdaun palma’. Aku bilang sama Tuhan, kalau aku rindu kalian,
terutama kamu. Aku rindu berdoa bersama kamu lagi.
Dulu waktu aku masih sangat kecil,
kamu harus berlari mengejarku kesana-kemari, lalu sembunyi sesuka hati hingga
aku menangis tanpa henti.
Tapi kinipun
aku butuh dipeluk lagi.
Aku butuh kamu untuk menenangkan
tangisku, aku butuh kamu untuk menghapus air mataku, aku butuh kamu untuk
beliin bapao kesukaanku...
Aku butuh kamu,
sekarang ini,
disini....
Aku sungguh teramat membutuhkanmu,
tapi bukan untuk memarahiku karena aku tak patuh dengan ini-itu. Aku punya
banyak sekali kegiatan dan tugas yang menumpuk. Aku punya banyak acara dan
pertemuan dengan manusia-manusia baru yang berkesan bagiku.
Kamu nggak tau kan?
Ini hidupku, dunia baruku, aku mau
begini, mau begitu, tapi tidak mau didiamkan seperti ini terus.
Aku sungguh membutuhkan kehadiranmu,
untuk mengajakku berbicara tentang hari ini, tentang dia, mereka, tentang
segalanya. Bukan untuk kamu jawab sekedar iya, atau tidak.
Udah, segitu aja?
Semuanya membuat malam ini semakin
gelap.
Disana gelap juga nggak?
Kayaknya disana biasa aja yaa,
karena kalian pikir aku baik-baik saja, padahal tidak selalu demikian.
Aku baik, sangat baik saat ada
disini, terlebih bila bersama kalian.
Apa kalian tau, aku punya banyak
cerita luar biasa yang dulu sering kuceritakan begitu aku pulang.
Sekarang,
aku mau cerita sama siapa?
Aku cuma punya Tuhan, yang selalu
setia mendengar keluh kesahku.
Aku mulai lelah untuk selalu berada
dalam keadaan seperti ini.
Bisakah kita memutar waktu, agar
tiada perkataan atau perbuatanku yang menyakiti hatimu?
Agar selalu ada sapaan hangat setiap
hari darimu?
Agar selalu ada gelak tawa yang
menghibur hatiku?
Bisakah aku
bercerita, sedikit saja tentang hari ini?
Aku menghargai segala yang kalian
berikan bagiku, tapi kenapa malah datang hanya untuk bertanya soal materi?
Rinduku tidak
bisa dibeli dengan harta apapun.
Apa kalian tau, aku mulai merasa
rindu, dan amat rindu. Rindu untuk kembali pulang, bertemu kalian.
Apa kalian tau, sekarang aku hanya
bisa menghitung mundur waktuku, menuju hari dimana kita akan bertemu.
Tapi,
Nanti dulu.
Kita jadi ketemu kan??
Jadi kan?
Terlepas dari segala sesuatu yang
terjadi, mungkin malam ini memang begitu gelap, begitu dingin karena baru saja
turun hujan. Akan tetapi, aku tau, jika kebersamaan kita akan membuat segalanya
menjadi lebih hangat.




