Kamis, 01 November 2018

Namun Sepertinya



Aku percaya bahwa di dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang bercanda. Semua hal itu serius adanya. Kadang kita membawa rasa dan jiwa ini kepada sebuah zona kenyamanan yang menciptakan dinamika berirama santai, bahagia, tertawa. Namun kerap kali kita membutuhkan waktu untuk setegas dan setegang itu agar tercipta tujuan-tujuan yang nyata. Dan bersamamu, iya, kamu. Bersama kamu yang sekarang membaca tulisanku ini, kuciptakan ragam kisah dalam hidupku.

Aku tau dalam hening doaku selalu terucap namamu. Aku tau dalam keseriusan percakapanku pada Tuhan, Ia pun paham betapa aku amat berharap padaNya. Akan tetapi, sekeras apapun aku mencoba terdiam, kerap kali kamu mengusik ketenanganku. Tidak bisakah sekali saja aku larut dalam hening ini tanpa tersirat tawamu?

Kamu selalu begitu, Sayang.


Selalu saja menghadirkan tawa dan canda dalam hidupku.
Bolehkah esok hari kita berdiam bersama? 
Berkata-kata dalam hati saja, 
saling mendoakan agar bahagia senantiasa terasa di hati, 
bukan hanya terlintas di tawa manismu setiap hari.



Aku tau itu kekuatanmu.

Aku tau kamu sekuat bara api yang menyala-nyala.
Sumber ketenangan dan ambisi yang tak mampu digambarkan oleh kata-kata. 
Kamu begitu kokoh, sulit untuk dipatahkan. 
Kamu membara bak seorang raja, penguasa alam raya. 
Kamu kuat, Sayang. 

Namun kamu tak sehebat hembus angin sore ini.
Hembusan itu mematahkan setiap dahan di keteduhanku.
Hembusan itu sendu, syahdu, namun mematikan.
Bahkan apimu pun padam karena tiup anginnya.

Lantas, hendak menjadi kuat seperti apa lagi kamu?
Dengan massa tak nampak saja kamu kalah, 
lalu, kuasa mana lagi yang mampu membantumu menari ria diatas sana?



Sudah, Sayang.
Beristirahatlah.
Aku tau kamu lelah.



Mendaki dari titik terendah hingga puncak itu butuh waktu.
Tenagamu habis untuk melaju.
Kamu tau itu berat, namun kamu kuat.
Kamu tau itu sulit, namun kamu tetap bangkit.
Lelahkah kamu?
Kesal?

Aku juga.
Aku lelah.
Aku kesal.
Mengapa selalu seperti ini sepanjang waktu.
Selalu saja aku dan kamu.
Selalu saja ini dan itu.
 
Namun lelahku sirna kala senyumanmu merekah.
Lelah kita bersama lebur seketika.


Aku tak pernah menyangka kamu berubah menjadi sekuat ini.
Aku tak tau dari mana asalnya keberanianmu tatkala malam ditengah hutan, menyusuri jalan bebatuan, merasakan hawa aneh di kiri kanan, namun lenganmu selalu ada.
“Kamu jangan takut, pegangan.”
Katamu tengah malam dalam kedinginan.

Aku juga tak tau darimana asalmu datang.
Hebat sekali jika sang waktu bisa mendatangkan sosokmu dihadapanku.

Aku tak tau alasanmu datang,
Yang aku tau hanya ingin ikut bersenang-senang,
Bukan menemaniku menangisi kebodohan.
Bukan merangkulku kala malam menerjang,
 dingin mencekam, dan Dia tak menyadari jua sebab laraku kala itu.




Aku tak tau alasanmu hadir disana.
Berkata, 
“Sudah, tiada yang perlu kau tangisi.”

Mengelus pelan lenganku, merangkulku untuk kembali ke kamar.
“Beristirahatlah.
Kamu begitu penting bagi dunia ini.
Besok kamu harus bangun pagi,”


Iya, Sayang.
Esok aku akan menyapamu 
kala mentari ini mengganti hangatnya genggam tanganmu.

Iya,

Aku mengerti sekarang.
Aku tak seharusnya menangisi sebuah kehilangan.
Belum saatnya aku menangis.
Belum waktunya aku memelukmu lebih dalam.



Aku masih saja mencari-cari sosokmu di setiap pagi,

Di setiap hari kala hujan menghampiri,
Di setiap doa ku berakhir petang itu,
Di setiap langkah kaki menghampiri pintu besi,
Di setiap pemberhentian siang nanti,

Aku masih saja mencarimu.

Mencari kamu yang bahkan 
tidak melihatku barang sebelah mata.



Salahkah aku terjatuh pada kesementaraan ini?
Aku tau.

Iya.
Aku tau sebentar lagi kita melebur beda.
Tiada lagi kita dalam dunia nyata.


Aku tak bisa lagi melihat mereka yang berusaha sekeras tenaga menghibur laraku tanpamu. Aku tak bisa lagi menyadari setiap bunga yang diberikannya dibawah terik mentari, tak merasa lagi hembus angin buatan yang berusaha diberikannya padaku, tiada lagi kesegaran air pegunungan yang membasuh wajahku.


Disana hanya ada kamu,
Yang terlalu semu kuharap sepanjang waktu,

Yang bahkan detik ini saja masih membuat aku merasakan pilu.




Sayang, membacakah kamu suratku yang lalu?



Maka kelak kamu akan menyadari betapa sayangku bagimu mengalahkan 31 hari di bulan ini.
Iya.
Sepertinya aku masih menyayangimu hingga bulan ini berakhir.
Hingga entah kapan,
Namun aku tetap sayang.





Bisakah kita tetap menjadi teman?





Senin, 01 Oktober 2018

Yura dan Rasa Tanpa Nama



Dua minggu lalu, Yura Yunita merilis lagu terbarunya berjudul "Buka Hati". Seperti Yura yang biasanya mewarnai dunia musik Indonesia dengan lantunan merdunya, kini Ia kembali membius siapapun yang mendengarkan lagu terbaru nan sendu ini. Alunan nada yang sederhana namun menyimpan banyak makna ini membuat aku tiba-tiba teringat akan seseorang.


Ada yang tiba-tiba saja menghampiri kesenduanku tiap kali lagu ini terputar.
Ada bayang, sosok yang ku tahu dia siapa, namun tak pernah ku tahu mengapa dia.



Mengapa satu dua kebetulan terjadi 
kala aku harus bersama-sama sekian lamanya denganmu?

Aku berusaha keras untuk bersikap biasa saja,
 Melewati setiap hari-hari kita dengan biasa,
Dengan kata-kata yang kujaga setiap kau ajak bicara.

Aku berusaha menahan segala rasa agar tak meluap melebihi kapasitasnya.


Namun, aku tak pandai menahan.
Bahkan ketika kemarin malam kau memintaku menahan cambuk amarah di dadaku,
aku tak bisa, Sayang.

Tidak bisa tanpa kamu....




Kata Yura;
Duhai diri
Ubahlah arusmu
Jadi arah yang dia sukai
Rendahkanlah hatimu


Tidak.

Aku sungguh tidak ingin merubah arus kita.
Aku tidak ingin berubah menjadi bidadari 
agar kau sang pangeran datang menghampiri.
Aku tidak ingin memaksa kamu untuk jatuh hati pada sebuah kebetulan.


Aku hanya ingin menjadi aku.

Menjadi diriku yang bisa menggodamu sepanjang waktu,
namun tetap tak rela kala kamu bersama manusia lainnya.




Ada apa sebenarnya?
Aku tak mengerti, Sayang.

Buka Hati merupakan salah satu lagu dari album Yura bertajuk “Merakit”.
Lantas apakah setelah ini kita masih bisa merakit jalan-jalan setapak menuju masa depan?
Setelah satu alasan indah yang mempertemukan kita, 
apakah masih ada wajar bila aku tak mampu kehilangan tatapamu?

Lantas, apa boleh aku merakit rindu yang kususun setiap tiada kamu disini?

Jika dan hanya bila bukan kamu orangnya, mungkin aku takkan segila ini adanya.
Jika bukan lantunan nada yang bertahun lalu membuai perhatianku,
jika bukan karena kamu, aku takkan segila ini adanya.


Jika Yura bersenandung tentang hatinya yang terbuka dan ada jalan baginya, 
kurasa aku tak seegois itu untuk memohon pada Tuhan kita.



Aku tahu kita berbeda.

Kamu toh takkan memperhitungkan adanya diriku disini.
Kamu toh mencari dia yang sama denganmu, sejalan, sepemikiran.
Bukan aku yang mudah menghilang bersama lelaki lainnya.



Duhai alam
Hujani dia dengan cinta
Dan hatinya yang terbuka


Aku akan mensyukuri setiap bahagiamu,

Akan kulapangkan jalanmu menuju ruang mimpi.

Namun, 

apa aku rela melepasmu pergi dengan manusia lainnya?




Setelah sekian purnama aku mengenalmu, 
kini, 
hari pertama bulan kesepuluh dalam tahun yang indah ini, 
dalam bulan yang tak terhitung lagi bagi kebersamaan kita, 
aku hanya ingin membuka mataku.


Agar lebih leluasa menatapmu bermain dihadapanku,
Agar lebih jeli memandangmu dalam kejauhan,
Agar lebih siap menghadapi setiap detik yang tersisa,



Dan agar aku bisa bersiap untuk melepaskan rasa yang entah bernama apa, namun singgah di hatiku, bersama kamu, bersama pilu, bersama cemburu, bersama ragu yang tak kunjung menyadarkanku bahwa
kita hanya sebatas kita.



Seperti Yura yang hanya mampu bersenandung,
Biar reda hatiku
Aku punya kasih yang lama kuramu untuk Kamu





Iya.
Benar.
 
Aku menyayanginya.





Minggu, 29 Juli 2018

Julinisasi

Semesta, bolehkah kutuliskan satu surat untukmu di penghujung Juli yang manis ini?

Semesta, Juli ku begitu manis bersama sosok-sosok romantis yang tiba-tiba menjadi sebaris inspirasiku sehingga makin puitis. Apakah mereka kau kirimkan untuk melebur lara dalam hidupku?

Pagi hariku penuh dengan muka kusut mereka. Biasanya ada satu dua yang mulai berteriak membangunkan. Lalu tiga empat yang lain berlari merebut tempat di kamar mandi. Serangan fajar, katanya.

Pagiku sibuk untuk memasak air, membuat segelas teh manis hangat, yang manisnya semanis kisah kami, dan sehangat peluk mesra mereka. Pagiku sibuk untuk menanti nasi matang. Sering kali pun dihiasi kegiatan menyapu dan mengganti plastik di tempat sampah. Biarkan sampahnya saja yang dibuang, jangan kenangannya.

Selanjutnya aku pergi ke pasar, membeli sayuran untuk dimasak seharian. Lalu sibuk membagi piring isi nasi dan lauk panganan.

“Ambilin aku nasiiii....,” kata-katanya sangat menggemaskan.
"Aku sedikit aja," kata manusia lainnya yang masih mengumpulkan nyawa.



Semesta, adakah satu dua masa yang kau perpanjang lagi demi segala moment berharga itu?

Semesta, kini sudah tiba waktunya.

Tibalah waktu dimana yang dulunya diam menjadi benar-benar diam dan mulai menikmati matahari tenggelam. Aku akan rindu saat mereka mulai diam. Lalu tersenyum dalam diam.

Aku akan rindu dia yang kerap meledek aku dengan tatapan sok galaknya, lalu tertawa tiba-tiba. Dia kerap seperti itu. Tiba-tiba menendang kaki ku, pura-pura tak sengaja menyenggol tanganku.
"Apaan sihhh," katanya sambil tersenyum lalu memukul perlahan.


Aku akan rindu dia yang berkata-kata dalam manja, menatap matahari dengan sepasang kacamatanya. Aku akan rindu setiap ajakannya untuk bernyanyi ditengah siang. Memutar lagu dansa milih Michael Buble yang membuat kita ingin menari bersama. Aku akan rindu setiap kali ia salah memanggil namaku, untuk akhirnya kuhitung sampai kelipatan sepuluh, agar dia membelikanku es krim coklat. Aku rindu rebutan Nextar dengannya. Aku akan rindu suaranya. Aku rindu binar matanya yang mulai menyala tatkala Si Ayu datang menyapa.

Aku akan rindu caranya menasehatiku tentang cinta.
Dia pernah berkata, "Laki-laki itu punya caranya masing-masing dalam mencintai."

Entah dia mencintai dengan cara yang seperti apa, namun yang aku tau, dia tulus adanya. Aku tau. Aku melihatnya dalam sempurna yang ada.



Ada begitu banyak hal yang kutemukan setiap pagi, tatkala siang menari-nari diatas pikiran. Seperti sesosok manusia yang kerap menari mengikuti Ari Lesmana. Dia selalu berusaha membuat kami tertawa, meski kerap segaring krupuk dari nasi goreng semalam, tapi aku suka. Aku suka caranya berkata dalam terbata-bata. Aku suka ketika dia mulai bersenandung, menyambungkan segala sesuatu agar bisa menjadi lagu berdua.

Aku akan rindu ketika kita mencuci piring bersama. Aku rindu melihatnya memainkan beras dalam wadah lada. Aku akan rindu dengan tatapan matanya yang mulai bingung ketika terlepas dari kacamata bulatnya.
"Aku gabisa liat apa-apa," katanya sebangun tidur siang lalu.

Namun aku tau, dia bisa melihat begitu banyak hal disekitarnya dengan sederhana. Dia mewarnainya dengan begitu banyak keindahan.


Semesta, taukah kau bila aku menemukan sosok-sosok yang mendewasakanku sepanjang hari-hariku?

Aku menemukan dia yang menawan apa adanya. Tanpa sapuan kuas warna di kelopak matanya, ia mampu memandang segala sesuatu dengan jujur. Dia mengajariku bahwa tak semua hal perlu dipikirkan dengan serius, namun kita tetap tak boleh larut dalam cinta yang datang begitu tiba-tiba.

Aku akan merindukan dia yang selalu terlelap disampingku. Yang katanya tiap malam memarahiku dalam mimpi, meminta aku sedikit bergeser supaya ia tak jatuh ke lantai. 
Aku akan merindukan caranya memarahiku, memarahi kita semua. Menegur setiap tisu atau kapas sisa make up yang tersisa dikamar. Aku akan merindukan caranya memarahi siapa saja yang berusaha memeluk boneka monyetnya.

Aku mengenalnya jauh lebih lama dari yang lainnya, namun aku baru tersadar, bahwa ia begitu berarti dalam setiap hela nafasku. Aku tak ada apa-apanya dibanding dia. Memang hanya dialah saja yang bisa mandi paling pagi lalu mencuci baju. Memang hanya dialah saja yang paling bisa menasehati, dan pandai memata-matai temannya sendiri supaya aku tidak mati penasaran.



Aku juga menemukan sosok penyabar yang kerap kuperhatikan sekali dua kali. Aku kagum melihat rambutnya terurai panjang. Aku suka. Aku selalu suka setiap senyum dan sapanya. Namun aku tak pernah suka melihat dia terdiam, membisu, terbenam dalam kesendirian dan powerbank merahnya.

Tanpa benda merah itu, hidupnya seakan tak bernyawa. Padahal, kehadirannya adalah nyawa yang menguatkan hari-hari sepiku. Canda dan tawanya yang sederhana sungguh berhasil mewarnai dunia.

Aku belajar untuk mempedulikan hal-hal disekitarku. Ada begitu banyak yang bisa dimanfaatkan, bisa dipercantik, bisa dibuat lebih nyaman dari sebelumnya. Aku suka setiap kali ia membuat rambut panjangnya menjadi keriting, aku suka setiap ia membunyikan jemarinya, katanya itu disebut mengklik-kan jari. Termasuk dalam setiap langkah pastinya, dalam setiap lagu yang ia dendangkan. Dalam sebaris lirik lagu indie berbunyi, kita teralih.



Iya, kita telah teralih.



Teralih dalam satuan waktu maha menyebalkan.
Ia selalu saja seperti ini.
Berjalan begitu cepatnya, menghantam aku keras ke bebatuan tajam.

Iya, aku tau.
Aku tau tak pernah ada yang abadi.
Tak ada yang bisa selamanya.
Tak ada, selain cinta.


Lalu, apakah cinta yang kutemukan disini akan selamanya?


Bagaimana kabarnya dengan begitu banyak cinta diluar sana yang kerap melupakanku ketika mereka bahagia sendiri?



Semesta, bolehkah satu kali saja aku tidak jatuh dalam sebuah cinta?
Karna untuk kesekian kalinya, kurasa, cinta ini juga salah....

Semesta, salahkah jika aku jatuh dalam sebuah kenyamanan dibalik setiap canda yang kita buat bersama?
Apakah ini bagian dari sandiwaramu, wahai semesta?
Lantas mengapa aku benar-benar jatuh cinta?

Aku lelah, Semesta.

Aku lelah untuk selalu berharap pada sosok yang bahkan hanya melewatkanku sepanjang pagi. Aku lelah menantinya kembali setiap dia pergi. Aku lelah melihat dia kau sibukkan sendiri dengan begitu banyak pesan di genggamannya

Siapa gerangan yang ia tunggu kabarnya? Tidakkah mentarimu yang tiap sore terbenam jauh lebih indah untuk dipandang bersama, daripada menanti tanda notifikasi berkumandang?

Semesta, aku benci.

Aku benci setiap kali aku teringat akan tatapannya.
Aku takut.

Aku takut tak bisa lupa bagaimana caranya menyapaku di pagi hari.
Aku takut tak bisa lupa dengan lagu yang kerap ia putar di ponsel.
Aku takut terngiang suaranya kala berdendang sambil memetik gitar.
Aku takut untuk selalu teringat akan dia setiap aku membeli galon aqua.
Aku takut selalu ada dia di setiap jalan yang pernah kita lewati bersama

Semesta, aku benci.

Mengapa kau selalu menjatuhkan aku pada cinta yang bukan semestinya.
Semesta, apakah ini juga kau beri nama jatuh cinta?
Jika kelak aku akan merindukan dia, apakah ini juga kau beri nama jatuh cinta?

Semesta, adakah lain waktu aku bisa menemuinya lagi meski hanya sebatas tidak sengaja?
Apakah jika kelak kita berpapasan di koridor belakang rektorat, aku takkan lagi merasa rindu yang bertubi?
Atau malah aku merasa iri hati bilakah dia berjalan sambil menggandeng mesra sosok pujaan yang kerap ia hubungi tiap malam?

Semesta, bagaimana jika nanti aku benar-benar merindukannya?
Akankah rindu ini mampu membunuh waktu yang berlalu?
Kurasa begitu banyak tanda tanya yang kuhaturkan padamu sepanjang waktu.

Semesta, meski kecewa selalu jadi bagian terakhir setelah bahagia yang sementara, nampaknya aku tetap bersyukur pernah menyapanya di setiap pagi, merayu nya di sepanjang siang, membuatnya malu disetiap saat, menatap matahari tenggelammu diwaktu senja, dan merasakah kehangatannya dikala nonton film bersama.

Semesta, aku pasti akan rindu...


Aku pun akan merindukan cara adikku merajuk, merasa malu dengan kelakuanku sendiri sepanjang saat.
Dia selalu berkata,
"Terserah kamuu," ketika kita mulai beradu pendapat, lalu dia cenderung pergi, katanya sih mau mandi, tapi malah asik membalas pesan dari kesayangannya yang rindu dan pengen dipeyuk.

Semesta, bahagia juga ya rasanya punya adik. Impian dan cita-citaku sedikit terwujud beberapa waktu belakangan ini. Sepanjang waktu aku merasa sedikit lebih dewasa, meski umurnya jauh lebih tua.

Semesta, aku bangga memilikinya.
Aku bangga.
Aku tidak menyangka dia bisa seperti kini.
Dialah yang sangat amat berhasil mengorganisir kami dalam setiap pekerjaan.
Dia ternyata bisa.
Hebat.
Aku bangga.

Termasuk ketika dia tau aku sedang berada dalam ketidak nyamanan. 
"Tenang, jangan panik lho, ada adikmu."
Aku sungguh tidak akan melupakan kalimat itu. Begitu pula setiap kali kita berebut kamar mandi, dan akhirnya dia berbisik lirih,
"Yaudah kamu duluan, akumah ngalah sama kakaknya," 

Sungguh aku selalu ingin tertawa dalam setiap sandiwara ini.
Meski kerap aku begitu kesal karna dia sangat menyebalkan,
Namun aku tetap sayang.

Dia selalu mengingatkanku, bahwa dalam hal cinta, kita tidak boleh terburu-buru. Sebab dia pun tahu kalau aku begitu mudah jatuh hati. Jatuh pada temannya sendiri.


Semesta, salahkah jika aku bahagia memiliki mereka?


Semesta, aku sangat senang menggoda seseorang setiap kali pujaannya datang bersambang. Terus saja kulantunkan kata-kata menggemaskan agar si pujaan tertawa manis setiap saat. Aku senang menggodanya. Apalagi ketika aku dan pujaannya saling bertegur sapa dan menyatukan jemari kami demi membentuk sebuah hati.

Tapi, Semesta, aku tidak pernah suka melihatnya begitu memperhatikan pujaan hatinya itu. Aku tidak ingin dia terjatuh lagi didalam cinta yang terlampau dalam. Aku tak mampu mendengar dongeng cintanya yang penuh lara, cerita panjangnya berbumbu kecewa, jerit kesalnya yang penuh luka. Aku tak ingin lagi dia menderita hanya karna jatuh hati semata. Biarkan yang lalu saja yang mengecewakannya. Jangan lagi dengan yang ini.


Semesta, adakah satu manusia yang pantas ku abaikan hanya karna menyebalkan?
Rasanya ia tak sebegitunya untuk harus kutinggalkan sepanjang waktu. Semesta, dia seharusnya tahu bahwa tanpanya, kami tak mampu menyatu dan bersama.

Semesta, bolehkah aku titipkan sedikit rasa terimakasihku untuknya?

Untuk dia yang kerap mengingatkan aku agar tidak terlalu kencang menutup pintu. Dia yang kerap menghentikan lamunanku hanya karena cinta cintaan yang terlalu kubual sepanjang waktu. Aku akan merindukan senandungnya yang sering membangunkanku untuk sahur. Kata-katanya setiap saat aku mulai berpuisi. Aku akan rindu duduk dibelakangnya, erat diatas motor paling berat dengan suara berisik yang kukenal dari radius 2 kilometer jauhnya.

Semesta, akankah perjalanan jauh kita bisa terulang lagi?
Aku akan rindu caranya meminta aku turun dari motor karna bosan mendengar dongeng cintaku

Semesta, jangan biarkan dia bosan menjadi lelaki yang murah hati.
Aku tahu, ia punya ketulusan yang murni dan nyata dari hati.


Oiya Semesta, aku menemukan satu lagi keajaiban dalam sebulan ini.

Aku menemukan sosok yang kerap menggoda aku, membangunkanku, mengulang kata-kata yang sama tatkala aku mulai berusaha menangisi cinta dari manusia-manusia disekitar kita.
Semesta, taukah kamu aku teramat menyayanginya?
Dia pernah berkata padaku, "Aku nggak mau liat kamu sedih,"

Dialah yang tak pernah tega meninggalkan rumah selain karna harus mengambil uang lagi dari Papa Mama. Dialah alarm yang selalu beribadah tepat waktu. Dialah yang ingin kupeluk paling erat jika nanti kita tak mampu bersama lagi. Dialah sumber penyimpanan cinta paling muat banyak, seperti Unta yang bisa menyimpan banyak air di punuknya. Aku akan rindu memanggilnya seperti itu, memintanya untuk tetap terjaga dan tidak pergi tidur duluan. “Iya, aku denger. Kalo aku udah gak jawab, berarti aku udah tidur.”



Semesta, adakah benarnya bila satuan waktumu kini sudah berakhir pada cerita panjang kita?
Secepat itukah, Semesta?


Siapa lagi yang bisa kuajak bernyanyi lagu cinta Kahitna dikala sendu menerpa?
Siapa lagi yang akan menggodaku sepanjang waktu?
Siapa yang akan kuajak bercerita tentang kisah Burung Dara?
Siapa yang akan memanggil aku adik lagi?
Siapa lagi yang memarahiku jika aku berkendara terlalu kencang?
Siapa yang akan kuajak makan bubur kacang ijo dan jajan kesana kemari?
Siapa yang akan kuajak berbincang kala menanti malam didepan kamar mandi?
Siapa yang bisa kuajak menggombal dan berpuisi?
Siapa yang akan membuatku tersipu setiap waktu?


Siapa lagi yang akan menemaniku melepas setiap sisa Senja di muara sungai penuh cerita?
Semesta, adakah setelah hari ini kita masih bisa berjumpa?

Semesta, jika tiada waktu bagiku untuk mengatakan banyak hal pada satu dua diantara mereka, biarlah kutitip rindu dan sayang yang tanpa sengaja kuciptakan dalam sebulan ini pada mereka.



Semesta, aku sayang, 
dan entah mengapa tak ingin kehilangan.




Dari sebuah kejauhan yang semoga selalu bisa kudekatkan, kutitipkan muara sungai sukacita tempat kita pernah bersama, padamu, wahai Senja dalam Semesta.


Kurelakan Senja pergi begitu saja,
tapi jangan pernah hilangkan cinta yang ada.
Karena Hari dan Senja bisa hilang berganti,
namun tempat ini tak pernah hilang dari lubuk hati.