Minggu, 26 November 2017

Membunuh Waktu


Menunggu adalah kegiatan paling menyebalkan di dunia ini. Menunggu kiriman uang bulanan datang, menunggu dosen selesai berbicara lalu menutup sesi pertemuannya, termasuk menunggu kamu membaca pesan WhatsApp ku, lalu membalasnya. Bagi kebanyakan orang, menunggu adalah ancaman tersendiri. Daripada aku gelisah menunggu kamu datang, tanpa kabar sudah sampai dimana, rasanya aku ingin berlari saja, mencari kamu disepanjang jalan, siapa tahu ketemu.

Ada beberapa orang yang justru menganggap “kegiatan menunggu” itu mengasyikan. Menunggu anaknya pulang sekolah sembari ngerumpi bareng ibu-ibu muda memang asyik. Apalagi ketika menunggu giliran makan saat kerja paruh waktu. Tapi, bagiku, menunggu memang menyebalkan, namun sejujurnya memang asyik juga saat aku harus gelisah menunggu dijemput kamu.


Waktu memang kurang ajar.
Aku sering membahas soal ini.
Aku kerap kali menyalahkan satuan waktu.

Yaa, dia memang begitu baik sih, selalu memberi celah tersendiri bagi moment-moment berharga di bumi. Tapi, pada akhirnya, aku harus kembali menarik kesimpulan pada dua hal yang berseberangan;


Terkadang waktumu berjalan lambat.
Menyebalkan.

Aku tahu betapa kamu sangat ingin pergi dari tempat ini dan menjelajahi bagian bumi lainnya. Tapi, waktu sangat lambat menghantarmu kesana.

Berapa lama lagi kamu harus menanti?
Berapa banyak lagi hati yang harus tersakiti?
Berapa persen lagi hingga kamu mencapai ambang batas penuh, lalu meledak?

Tidakkah kamu lelah menanti waktu ini berjalan?
Ia mengurung kamu disini.
Dalam sangkar besi yang tak mampu kamu lebur meski dengan lahar panas sekalipun.

Ia mengikat kakimu kencang.
Percuma saja memakai sepatu Nike yang kamu beli asli di mal itu, toh kamu tidak bisa berlari dari kenyataanmu.

Ia menenggelamkan kamu di dasar lautan.
Tak ada lagi artinya Samudra dimatamu.
Dimana dia?
Masih sibuk bercengkrama dengan mata air lain?

Waktumu itu berjalan sangat lambat, nak.
Tanpa terasa usiamu hanya kamu habiskan untuk berdiam, tanpa kata.

Kamu hanya mampu berpikir keras,
“Untuk apa aku ada disini?”

Kamu hanya bisa mengeluh,
“Mengapa hari-hari ini teramat berat?”

Kamu hanya bisa mencari-cari,
“Dimanakah sosok itu berada?”
 
Apa kamu masih setia menunggu yang terbaik datang?
Apa kamu masih percaya Ia akan menepati janji itu?

  
Namun, disisi lain, waktumu berjalan amat cepat!

Pernahkah kamu menghitung berapa kali kamu menarik hembusan nafasmu?
Pernahkah kamu mencatat berapa banyak manusia yang kamu lihat setiap harinya?

Waktu kadang seenaknya saja merubah haluan.
Ia merubah kecepatannya menuju batas maksimal.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini;
Yang pertama, karena kamu terlalu nyaman berada pada posisimu saat ini.
Yang kedua, karena kamu terlalu aman pada zona yang sama.
Yang ketiga, karena kamu terlalu senang dengan keadaan seperti demikian.
Yang terakhir, karena kamu masih sangat ingin bersama dia, namun waktu berbisik halus sambil berkata,
“Hayoo, ingat, ini sudah jam berapa....”


Ah, dasar tidak tahu diri!
Mengapa disaat aku sedang bahagia pergi bersama orang ini, waktu berjalan begitu cepat, menuju malam, menuju kalimat, “Yuk pulang, udah jam 10 ini,”

Duhai waktu yang kerap berjalan cepat saat aku sedang menikmati hidup, tak apalah kamu sok seperti pembalap yang mengencangkan pedal gasmu, tapi, apa boleh besok-besok aku mengulang bahagia ini kembali?

Janganlah kamu berjalan terlalu cepat.
Tenanglah sebentar.
Ikuti saja irama jantungku.
Saksikan saja senyumanku.
Nikmati saja kebersamaanku ini.
Jangan semata-mata kamu cemburu lalu mempercepat waktumu..

Jangan curang.

Aku juga butuh senang-senang!



Diantara beragam hal yang diperbuat oleh satuan waktu, nampaknya aku harus kembali merenung dan memperdalam ilmuku tentang waktu.

Nampaknya aku harus lebih bisa bersahabat dengan waktu.
Aku sudah seharusnya memanfaatkan sedikit saja waktu yang mampu menyatukanku dengan dia.
Aku sudah sepantasnya mendapat moment berharga.


Aku sudah selayaknya memenangkan waktu.
Jika tidak, bunuh saja waktu itu.
Bunuh, hingga kamu mengerti apa rasanya merindukan sesuatu.

Rabu, 08 November 2017

One Day With (.......)

 
Taukah kamu apa yang paling sempurna di dunia ini?
Jawabannya ada pada kata kedua dalam kalimat diatas.

IYA. KAMU!
Bener kan? Aku serius!


Banyak yang bilang kalau angka 10 itu angka yang sempurna. Angka yang paling pas. Paling top banget lah. Sama pas nya seperti urutan bulan ke-10, yaitu bulan Oktober. Oktoberku tahun ini nampaknya bisa kubilang cukup sempurna. Yap, betul. Karena ada kamu didalamnya :)

Oktober punya begitu banyak cerita luar biasa. Mulai dari ribetnya ngatur jadwal kerja paruh waktu dan ujian tengah semester, banyaknya deadline tugas yang dikumpul waktu ujian, banyak jajan ini itu sampai duitku tiba-tiba tiris, banyak rapat bareng kamu, banyak yang ulang tahun, sampai begitu banyaknya pertemuan dengan orang-orang baru yang tidak disengaja.

Dari sekian banyak hal-hal yang lucu itu, ada hal yang paling istimewa. Dari sederet panjang kesibukan di bulan Oktober, ada satu hari penuh yang bisa dimanfaatkan dengan amat baik untuk piknik sejenak. Sekitaran seminggu lalu, di hari Sabtu, 28 Oktober, pas banget sama hari sumpah pemuda, kita akhirnya piknik.

Biarpun harus mempersiapkannya dari jauh-jauh hari, ternyata hidup ini kalau dibawa hepi jadi makin cepet berlalu yaa. Sama halnya teori ini terjadi pada sabtu lalu. Nggak kerasa perjalanan Jogja-Ambarawa itu ternyata sebentar banget. Nggak nyangka kalau mentari pagi begitu cepat menuju siangnya. Lalu, kini bahkan berubah jadi malam. Seharian itu pun terasa sangat sebentar dibanding masa-masa yang pernah ada.

Sehari saja rasanya belum cukup.

Piknik ini bagiku bukanlah piknik biasa. Yaa, memang bukan piknik ke pantai seperti tetangga sebelah sih, apalagi mendaki gunung kayak mas-mba yang disebelah. Perjalanan ini memang tidak berjudul piknik sih, tapi perjalanan ini cukup merubah penatku jadi bahagia. Yap, betul. Ini juga karena ada kamu disana! :)


Kalau kalian bertanya,
Kenapa sih harus ada kamu-kamunya terus???
Itu karena banyak kamu yang istimewa disana.
Banyak sekali yang istimewa di hari itu.

Tapi,
Sayangnya,
Sehari itu rasanya sebentar.
Sehari itu begitu cepat berlalu.
Sehari itu membentuk sebuah perjalanan waktu yang makin kesini membuatku makin tersadar, bahwa waktu yang kita miliki memang akan segera berlalu.

Nggak kerasa, hampir tiga semester kulalui dengan kuliah-rapat-bikin acara-dan tertawa bersama kamu-kamu yang diatas itu. Nggak kerasa, setelah ini kita punya jalannya masing-masing. Kita memang berangkat dari Jogja bersama-sama, tiba di Ambarawa bersama, melewati seharian yang istimewa bersama. Tapi, sepulang dari sana, gelap malam memisahkan kebersamaan kita.

Kalau kalian mengira bahwa aku akan menyalahkan malam, tentu tidak sama sekali.
Ada berjuta malam yang pernah kulewati bersama mereka. Ada begitu sering tawa yang tak mampu berhenti, kecuali jam dinding yang tiba-tiba berbisik,
“Hey, ini sudah malam...”


Kalau kalian berpikir aku juga akan membenci jam dinding itu, rasanya tidak perlu. Dia kerap jadi saksi betapa kekosongan sebuah ruang di sudut kampus yang teramat luas ini menjadi lebih berarti karena ada kamu-kamu-nya. Dia adalah pendengar yang baik. Dari curhatan bodoh soal si dia yang punya gandengan extra ordinary tapi LDR-an, teriakan kesal karena keusilan satu dua manusia, gombalan alay yang mampu membuatmu terbang melayang, sampai petikan senar gitar yang bergetar seturut suasana hati pemainnya.


Makin kesini, aku semakin menyadari bahwa tanpa kamu-kamu itu, entah akan menjadi apa hari-hariku. Entah aku harus berbuat apa lagi. Entah akankah ada senyum dan tawa yang sama seperti hari-hari itu lagi, atau tidak.

Makin lama, aku berpikir, apakah seharian bersama itu bisa diperpanjang, diputar ulang, atau dikenang sepanjang masa; atau dibiarkan berlalu begitu saja.

Entah akan ada apa setelah ini, hanya Tuhan yang pantas mengukir hari-hari kita.


Tapi, satu yang ku tahu pasti,

Aku tahu apa yang paling sempurna di perantauan ini.
Kamu juga pasti tahu.
IYA. KAMU!