Kamis, 26 April 2018

Sayang


Sayang, apa kabar?

Masihkah kamu disana?
Disana yang entah dimana.
Kerap kamu begitu mudah berpindah-pindah.
Mulai dari tempat, rasa, hingga hati.

Sayang, lagu apa yang kamu mainkan malam ini?
Jangan bosan memetik senar demi senar itu.
Manis kudengar petikannya di telingaku.
Merdu, syahdu, sangat mampu mengusir gundah gulanaku.

Oh, sebentar.
Mampukah itu mengusir resah gelisah manusia lainnya?
Jika iya, tak apa.
Berarti Kamu baik hati adanya.


Oiya, sayang, jangan pergi terlalu lama..
Jangan pulang terlarut malam.
Jangan begitu saja hilang tanpa memberi kabar.
Sayang yang kutulis bukan sekedar deretan huruf, tapi sebuah rasa.

Terasa tidak?

Jika masih tidak, nampaknya esok hari akan kuberikan kamu sedetak jantungku, supaya bisa kau rasakan betapa ia berpacu melawan waktu, berpacu menantikanmu, berpacu, berharap ada kamu.

Namun tak ada...

Oh iya, kamu kan sedang bersama dia.
Hahaha, aku nyaris lupa.



Sayang, aku lelah..
Kita pernah mencoba berjalan searah.
Sebegitu seringnya.
Sebegitu sengajanya supaya bisa searah.
Tapi pada akhirnya kamu selalu bilang terserah.


Sayang, mengapa gerangan kamu pergi sebentar?

Kamu gerah?

Kamu marah?

Salah apa aku padamu, sayang?

Salah jika aku sayang??

Oke, tak masalah jika aku yang salah.

Tak masalah jika kamu mulai tak betah.

Tak masalah.

Toh aku selalu akan tabah.

Toh, sayangku akan selalu merekah.




Tapi, bagaimana jika pergimu seperti hari yang terus berganti.
Seperti waktu yang terus berlalu.
Makin lama, makin hilang, makin pudar digerus masa.
Sayang, tidakkan kamu tau jika aku akan rindu?
Haduh, bahkan sekarang saja aku mulai merindukanmu.


Pernahkah kamu berpikir kalau-kalau aku disini tak bisa berhenti memikirkanmu?
Membayangkan sedang apa gerangan kamu disana,
Menduga-duga kiranya kamu menyantap nasi dengan lauk apa,
Mengira, akankah aku yang juga ada dibenakmu?

Ataukah dia?

Atau siapa?

Siapa sayang?

Siapa?


Bisa aku tahu dia itu siapa?

Bisakah beri tahu aku mengapa harus dia?

Salah apa hingga kamu memilih dia, bukan aku?

Lalu yang selama ini ada untuk apa, sayang?

Untuk kamu ketik sekedar deretan huruf  s - a - y - a - n  dan  g?

Sekedar itu saja kah, sayang?



Sudahlah.
Aku bosan, sayang.

Bosan selalu merasa sebodoh ini.
Lagi dan lagi, aku terus yang bodoh.

Bisa beri aku vitamin supaya sedikit lebih pintar dan tak mudah begitu cepatnya jatuh hati?
Bisa tinggalkan sebalut atau dua balutan perban, kalau-kalau sebentar lagi aku patah hati karenamu?


Ah, sayangnya, bahagiaku hanya sebentar ya.

Mengapa kamu tak mau berlagak jadi penipu yang lebih lama sedikit, sayang?

Bisakah beri aku sedikit bahagia lagi?

Aku butuh itu.

Butuh kamu.

Kalau saja kamu tahu.
Ah tapi sepertinya kamu tak tahu.




Biar.
Biar saja.

Biar esok aku saja yang meracunimu dengan madu.
Supaya kamu sedikit lebih pintar.

 Agar mudah paham bagaimana perasaan begitu mudahnya jatuh dengan dalam.


Agar lebih mengerti, bila hati tidak semudah itu merelakanmu pergi....







Sabtu, 07 April 2018

Super Hero


Kamu tau apa yang paling hebat di dunia?


Super Hero itu hebat.
Tapi lebih hebat kekuatan cinta yang tercipta diantara manusia sih.....



Aku mau cerita tentang Super Hero yang hebat.

Aku menemukan sekelompok manusia yang entah bagaimana dengan begitu polosnya mau-mau saja susah payah berjuang keras demi terjatuh dalam lubang besar bernama zona tidak nyaman. Katanya sih demi mencari pengalaman atau sekedar mengisi waktu luang. Kalau untuk aku sendiri yang notabene salah satu diantara kawanan manusia itu, memanfaatkan kebetulan ini sebagai ajang melarikan diri dari rutinitas busuk dalam kehidupanku. 
Sekalian cari jodoh, siapatau ketemu kan...



Sekelompok manusia itu perlahan-lahan saling berbagi. 
Sesederhana berbagi informasi, berbagi minyak wangi, hingga akhirnya berbagi perhatian yang tulus dari hati.
 Aku mengenal mereka begitu lamanya, dan tidak pernah menyangka bisa sebegitu jatuh cintanya. Sekelompok manusia ini semakin hari semakin berkembang. 
Mereka bergotong-royong membangun rasa saling percaya, bahwa ketulusan akan berujung pada kebaikan.



Nyatanya benar.

Delapan bulan yang telah kami lewati bersama ini sungguh sangat berharga.
Kami tidak pernah mengeluh ketika harus bolos kuliah demi membantu teman yang harus ujian. 
Kami tidak pernah begitu melemah ketika ada teman yang jauh lebih sakit dan harus benar-benar dirawat.
 Kami tidak pernah begitu egois untuk tidak saling merindu, tatkala jarak menentang waktu untuk bertemu.


Jika boleh menyerah dan menarik waktu, 
mungkin aku akan terjatuh di langkah pertamaku menuju setiap gerai yang ada. 
Mungkin aku akan memilih untuk bunuh diri saja sejak awal.

 Lelah. 
Pusing. 
Bingung aku.  
Dikira nggak ada kerjaan lain? 
Aku juga sibuk. 
Aku nggak bisa terus-terusan buka chat di grup yang isinya harus sharing pengalaman bekerja. 
Halaahh, part time aja kok nyusahin sih. 
Kenapa harus seribet ini untuk mendapatkan rupiah yang tidak seberapa?



Hari demi hari, pertemuan demi pertemuan,
 aku tidak pernah menduga jika waktu mulai beritikad baik untuk menyatukan kepingan-kepingan hati kami.
 Entah bagaimana akhirnya aku mulai jatuh cinta. 
Aku mulai rindu jika sehari saja tidak berjumpa.

 Ini tuh apasih? 
Kalian bukan pacarku, 
tapi kok selalu bikin aku gelisah kalau tidak berkabar....



Kata seseorang yang suka bikin senyum-senyum sendiri, 

“Kita bisa saling melengkapi kalau aku dan kamu kebetulan sama-sama butuh.”

Bener juga sih. 
Kita punya kebutuhan yang sama. 
Kita punya hati dan cinta yang sama.


Dari sana aku diajarin kalau dalam segala perilaku, 
kita harus menggunakan 4 kata sakti. 
Namanya Tolong, Maaf, 
Terimakasih dan Permisi. 
Awalnya aku kira kebersamaan kita itu cuma sekedar 4 kata sakti. 


Tapi ternyata bukan.
 Bukan Cuma 4. 
Aku menemukan 2 kata lagi yang jauh lebih sakti.

Ia adalah Nyaman dan Sayang.
 Aku entah bagaimana bisa senyaman ini bersama mereka. 
Meskipun kami berasal dari kampus dan daerah yang beragam, 
tapi jika sudah bersama, tidak ada lagi jurang pemisah diantara kita. 
Entah bagaimana aku jadi sayang. 
Bahkan jika ada kata yang lebih berharga dari sayang, 
pasti akan kusebutkan.



Dari sana juga aku belajar kalau kerja keras itu perlu sebuah penghargaan. 
Tapi, kerja tulus itu tidak butuh kesombongan. 
Hanya perlu sebuah senyuman kelegaan.

Mungkin aku bukanlah seorang penakluk pagi, 
malah aku sering bangun kesiangan, 
berangkat mepet, 
menghawatirkan teman-temanku. 

Aku juga bukanlah manusia yang ceria. 
Aku tuh Cuma anak galau yang sukanya bikin puisi, 
sukanya nulis surat cinta di kertas todays, 
lalu tiba-tiba cerita nabi-nabi, 
dikit-dikit nyeritain kisah cintaku yang penuh drama. 

Aku nggak pernah bisa pakai eyeliner yang bener. 
Pasti jelek. 
Gapernah bagus. 

Apalagi menata stok, 
masuk gudang aja jarang. 
Yaaa, kecuali buat males-malesan 
dan berakhir duduk di lantai 
untuk berantakin stok yang udah rapi. 
Sekedar ingin duduk pintar, biar keliatan pintar.

Aku mungkin pernah jualan baju yang banyak, 
sering ngajak main anaknya konsumen, 
sering sok kenal sok deket sama konsumen, 
apalagi yang kece dan berasal dari Jakarta. 
Wah, habislah. 
Tapi, aku belum sekeren itu 
untuk jadi seseorang yang memberi excellent service ke konsumen. 

Aku pun bukan best of the best. 
Sangat jauh dari itu.

Aku mungkin bukan salah satu dari segala yang terbaik, 
tapi aku beruntung pernah menjadi bagian dari kisah yang baik ini.


Dulu aku selalu rela mengorbankan banyak hal demi pekerjaan paruh waktu yang membutuhkan waktumu sepenuh-penuhnya kamu bisa memberi. Dari kuliahku yang sering bolos, organisasiku yang keteteran, rapatku yang terbengkalai, hingga hatiku yang mudah jatuh dan patah. 
Semua itu kulakukan hanya demi mengejar sebuah minimal shift. 
Sesuatu kefanaan yang menyebalkan. 
Suatu lelah yang teramat lelah. 
Suatu rutinitas yang entah mengapa dengan anehnya tidak ingin kutinggalkan begitu saja.

Tapi, kini, 
setelah segala sesuatu ini berakhir, 
aku tetap harus menjadi manusia yang egois. 

Aku harus mengembalikan segala hal yang dulu kutinggal demi pekerjaan ini. 
Aku harus mengejar semua ketinggalanku yang lalu. 
Aku harus egois. 
Aku tidak boleh lengah hanya karna ingin bermain bersama mereka. 

Aku tidak boleh gabut. 
Aku harus sibuk belajar. 
Harus. 
Nggak boleh engga.



8 bulan ini udah ngasih banyak banget memori yang luar biasa. 
Aku bakal kangen sih dipanggil Mba Luns, 
Kak Luns,  
bakal kangen salaman sama kalian. 
Bakal kangen makan urap sama kalian. 
Bakal kangen coret-coret kertas todays, 
bakal kangen ngitun counterman, 
bakal kangen berdiri dan greeting. 

Bakal kangen bilang begini,
“Permisi, ada yang bisa dibantu?”

“Permisi, mohon maaf, untuk warna kuning nya kebetulan habis...”

“Permisi, saya pastikan lagi ya, desainnya seperti ini, warna coklat, ukurannya L, lengan pendek. Ada tambahan lain? Saya ambilkan tas belanjanya sebentar yaa. Silahkan...”

“Permisi, saya pastikan lagi belanjaannya ada 2 item ya.”

“Permisi, silahkan belanjaannya..”



Ada banyak...
Ada begitu banyak sampai nggak bisa disebutkan satu-satu.



Jason Ranti bilang dalam salah satu lagunya, 
kita tidak bisa mengungkapkan kata yang paling cinta. 
Biar dia terasa di hati saja, 
biar orang lain juga turut merasakannya. 
Yang penting aku sayang. 
Udah. 
Itu aja.






Ah, aku benci dengan kata perpisahan.



Berkali-kali aku menangis 
hanya karna tidak mudah melepaskan tatapan matamu yang pasti ku rindu.

Berkali-kali aku mengulas masa lalu. 
Masa yang mempertemukan kita dalam ketidak sengajaan yang luar biasa.


Tolong beri tahu aku,
Perpisahan itu semu kan?


K i t a   a b a d i.
Y a n g   f a n a   i t u   w a k t u.






Sampai jumpa sesegera mungkin,
 aku pasti akan rindu.


Terimakasih,
Selamat hari penuh rindu!











Yah, celaka.
Bahkan sekarang saja sudah rindu :(