Senin, 22 Januari 2018

H O R R O R




Dari beberapa film horror yang kutonton belakangan ini, aku menemukan sebuah garis besar dari semua ceritanya. Ternyata selama ini mereka menyelipkan sebuah pesan.
Aku belajar bahwa keluarga itu seharusnya bersama. Ketika keluarga bersatu, saling menyayangi, maka kekuatan cinta tersebut mampu mengalahkan segala keburukan dan menjauhkan dari segala yang jahat.

Walau dalam sebuah diam, menantimu pulang malam yang tanpa kabar tetap kulakukan. Kutahan lelah dan kantukku yang berlebihan. Yaa, setidaknya untuk sekedar membuka pintu itu. Meski tak pernah menyapamu lagi, meski tak pernah bertegur sapa selain berpamitan, meski aku kehilangan tawa, canda dan motivasimu, aku tetap ada disini.
Aku menghawatirkanmu dari kejauhan.

Aku tahu, sesungguhnya kamu juga melakukan ini.

Aku tahu, bahkan tanpa harus kau beri tahu.
Aku tahu betapa khawatirnya kamu akan kepergianku yang begitu lama, tak pernah lagi kita punya waktu untuk bercengkrama.
Entah apa yang terjadi hingga waktu merubah ini semua.
Dimana senyum itu?
Dimana tawa itu?
Aku rindu segala canda itu.
Aku rindu bercerita tentang duniaku.
Aku rindu berbagi tentang lelaki ini dan itu.
Aku rindu berpergian lagi, denganmu.


Tidak perlu lah kamu menghitung seberapa banyak aku memberi, tidak perlu mengingat seberapa sering aku berendah hati. Mungkin kamu masih boleh mengenang mengapa aku begitu menjengkelkan, sesering apa aku mengecewakan, seberapa besar kekesalanmu padaku, seperti apa jahatnya aku di matamu.

Namun rasanya aku tidak pernah mau menulis kata-katamu yang mengecewakan, tak ingin aku teringat ketika kamu menjatuhkan berani dan semangatku. Tak perlu kuhitung berapa tetes air mataku yang tak sengaja tumpah karna rasa takut bertemu denganmu. Aku hanya ingin mengenang betapa baiknya kamu padaku. Aku masih ingat senyum manismu yang merekah, candamu yang mengusir gundahku, genggaman erat tanganmu, hingga hal-hal sederhana yang kau beri padaku dulu.


Bolehkah jika kita sama-sama menimbang waktu?
Jangan hanya lihat aku dari sisi ini.
 
Lihat aku yang pergi untuk membunuh waktuku sendiri.
Lihat aku yang harus membelah diri.
Lihat aku yang rindu menatap mentari pagi.
Lihat aku yang juga melakukan sesuatu.

Kamu terlalu suka melihatku dari sini saja.
Tidak dari sisi lainnya.

Bolehkah jika kita sama-sama memutar waktu?



Zaman sekarang pun manusia mampu dengan mudahnya memberi kabar lewat bisunya sebuah status.
Lalu bagaimana jika kini paket internetku terkuras habis?

Pernahkah kamu berpikir bagaimana resahnya aku tanpa melihat keberadaanmu, meski hanya dari media sosial?

Aku hanya ingin mengetahui apakah kamu masih hidup, sudah bangun, sedang pergi kemana, atau dengan siapa.
Setidaknya supaya aku tahu jika kamu baik-baik saja.
Sudahlah, melihat keberadaanmu lewat status sudah cukup menenangkanku.

Aku tahu, bahkan tanpa harus kau beri tahu.


Aku tahu.

Hatiku yang tahu.

Apapun yang kamu alami, setidaknya aku selalu berharap kamu baik-baik saja disana. Dimanapun itu, bersama siapapun nantinya. Aku percaya, kamu pasti bisa. Jangan kalah dengan godaan dunia, atau bahkan wanita. Jangan kalah dengan bujuk rayu dan tipu muslihat. Dunia ini kejam. Lebih kejam dari cinta. Kamu harus menjadi pendekar yang sesungguhnya. Jangan dulu berkorban untuk orang lain, perjuangkan saja dirimu sendiri. Biar orang lain percaya bahwa sejatinya kamulah pendekar yang paling pantas disanjung dan dicintai.

Setiap melewati jalanan ini, aku ingat sebuah kalimat yang pernah kau ucapkan padaku.
"Aku tak bisa membayangkan ketika kamu melewati jalanan gelap ini, di malam hari, sendiri....,"

Kamu tak perlu khawatir padaku. Aku berani. Aku percaya didepan sana ada sesuatu yang baik. Meski aku melewati jalanan ini tanpamu, aku percaya kamu mengirimkan sebuah keberanian padaku. Terimakasih ya, lewat kalimatmu tadi, aku merasa lebih berani.

Hanya saja, kerap aku berpikir sebaliknya.
"Aku tak bisa membayangkan ketika kamu melewati setiap jalanan yang ada, di setiap saat, bersama dia....,"
 
 Oiya. Aku tak perlu khawatir padamu. 

Kamu bisa dipercaya. 
Aku tahu didepan sana ada sesuatu yang baik. 
Meski kamu melewati sepanjang jalan itu dengannya, aku percaya kamu punya bahagia yang lebih indah. 

Terimakasih ya, 
lewat kebersamaanmu itu, 
setidaknya aku tahu kamu baik-baik saja....



Manusia tak pernah bisa kamu atur jalan pikirannya. Kerap mereka tak pernah memikirkan hal yang kita kehendaki. Tidak mungkin mereka bisa begitu saja setuju dengan segala ide dan gagasan yang kita miliki. Tak jarang pun mereka malah menentang. Jangan menghakimi mereka begitu saja. Bukan berarti mereka tidak peduli atau tidak mengerti. Mereka hanya punya jalannya masing-masing. Percaya saja bila berbeda itu indah. Lebur itu dengan kelembutan dan kasih sayang.






Dan dipenghujung hujan ini, aku cuma ingin kamu tahu,
aku menyayangimu, bahkan tanpa perlu kukatakan dalam bisikan.







Sabtu, 13 Januari 2018

KEBETULAN





Ada terlalu banyak hal yang begitu menggelisahkan, namun sulit untuk diungkapkan. Satu persatu hal tersebut tiba-tiba saja menjadi sebuah kebetulan. Banyak kebetulan yang terjadi. Tak hanya pada awal tahun ini, namun juga sepanjang 2017 yang penuh dengan beragam cerita. Lalu, apakah cerita-cerita itu memang sudah tertulis demikian, atau hanya sebuah kebetulan semata?

Dimulai dari begitu banyak liburan yang kulewatkan untuk sekedar mengejar sebuah minimal. Ah, klise. Seharusnya tak perlu sedemikian rupa kukejar, toh waktu akan membantuku menggapai arti sebuah minimal itu. Tapi, apa daya, beragam kebijakan yang menyebalkan tak pernah mampu menjatuhkan niatku untuk berhenti, lalu berlibur. Duhai tanggal merah, kapan kita dapat berjumpa lagi? Aku merindukan desir ombak di pantaimu. Aku ingin merasakan hembus kencang anginmu dari atas mercusuar putih itu. Tapi jika dia atau mereka masih sibuk mengejar hal-hal lainnya, jadikan saja kesibukan itu sebagai sebuah kebetulan.




Mengapa harus disebut kebetulan?

Padahal terlalu banyak kesalahan dalam kisah ini.


Seperti ketika kamu jatuh pada sebuah hati. Jika tidak terjadi apa-apa, kamu tidak akan merasakan cinta itu. Kamu tidak akan merasa sebegitu rindunya, sangat ingin bertemu meski sekedar menatapnya dari kejauhan. Kamu tidak perlu merasa sebegitu relanya saat dia pergi bersama manusia lain, tertawa bahagia meski bukan karna kamu. Jika semuanya betul karna kebetulan itu sendiri, berarti semua itu palsu. Bukan betul namanya. Semua ini sudah salah. Jatuh cinta itu bukan kebetulan, tapi kesalahan.

Kebetulan itu terjadi ketika aku tiba-tiba merasa bahagia karena ada kamu. Aku merasa sepuluh kali lebih bersemangat saat merasakan atmosfer kehadiranmu. Meski jarak tetap memisahkan langkah kaki kita, bahagia itu terasa mengalir di sekujur tubuhku tatkala ada kamu. Iya, sesederhana karena kebetulan ada kamu disana.


Namun kerap kali aku termakan pada kata ini.


Kebetulan itu memang kurangajar...


Berkali-kali aku membencinya. Aku tidak pernah suka menyebut kata ini didepan banyak orang. Seperti ketika mereka menginginkan A, namun aku hanya punya B. Malas sekali rasanya untuk sekedar berkata,

“Maaf ya, A nya kebetulan baru habis. Bagaimana kalau yang lain saja. Aku punya B, kamu mau?”


Jika mereka tipikal manusia yang mudah menerima, mungkin mereka akan tertarik dengan si B yang jauh lebih indah dan murah hati. Namun, tak sedikit yang mengelak kalimatku dengan,

“Yah, kalau habis itu bukan kebetulan, tapi kesalahan!”



Iya.

Aku tau.

Aku tau ini tidak betul.

Aku tau ini sebuah kesalahan.

Aku tau bila kamu mau A, bukan B.



Aku tau, bahkan jauh sebelum kamu harus berkata begitu tegasnya padaku.



Namun ada beberapa hal lagi yang kuketahui.
Bahwasanya, aku tau bila kebetulan ini memang menghantarkan aku menjadi manusia yang egois. Manusia yang kerap mengutamakan manusia satu dibanding manusia lainnya. Toh, padahal manusia satu itu tidak begitu penting dibanding yang lainnya. Egois sekali rasanya.

Aku juga mengetahui bahwa kebetulan aku bertemu dengan banyak hal aneh. Banyak permasalahan bodoh yang teramat kompleks, padahal sederhana, namun terlalu dibesar-besarkan. Tapi, karena hal-hal itu, aku belajar untuk berani bertindak. Berani berbicara. Meskipun lidahku begitu kaku, tak mampu berkata-kata. Namun, bicara lewat tulisan ini sudah cukup kan? Aku yakin kamu juga sudah diajari caranya membaca rangkaian huruf, bahkan membaca hati dan perasaan seseorang.

Aku hanya kebetulan belajar untuk berani mengutarakan apa yang harus kukatakan. Meskipun terlalu banyak sandiwara dalam aksara, terlalu banyak kiasan dalam baris tulisan, tapi setidaknya aku sudah sebegitu jujur menuliisnya dibawah rintik hujan, dalam usaha keras menahan air mataku jatuh ke tanah.


Biar hujan saja yang membasahi tanah tempat kita berpijak ini. Jangan air mata.
Dia terlalu berharga untuk ini.




Lihatlah terlebih dahulu sebelum kamu membacanya.
Karena apa yang kamu baca,
akan membuatmu jatuh pada rasa nyaman dengan diksi penuh kejutan
dan kiasan indah dari tiap uraiannya.

Akan tetapi,
ketika kamu merasa terlalu jatuh pada setiap temanya,
aku rasa kamu punya satu alasan untuk berhenti membaca.

Karena membaca bukan hanya sekedar mengeja,
tapi mengerti dan memahami tiap laras yang ada.





Biar waktu yang nantinya menjawab, 
apakah takdir akan mempertemukan kita, 
lagi, 
atau cukup pada pertemuan kali ini saja.



Jika iya, 
berarti kita harus sama-sama menanti saat yang tepat. 
Aku harus kembali berdamai. 
Kamu harus berusaha menerima aku lagi, 
meski tak semudah membalikkan telapak tanganmu.



Jika tidak, 
berarti kamu benar-benar pelajaran berharga 
dalam hidupku menuju dewasa yang sesungguhnya.


Itu saja...


Biarkan kebetulan ini menjadi betul adanya, 
jangan ada kesalahan lagi.

Sudah cukup.


Cukup aku saja.