Hari terakhir
di tahun 2016 ini tadinya mau review pengalaman sepanjang tahun. Tapi
kok kayaknya terlalu mainstrem, mirip sama 2016 best nine yang ada di
instagram. Tadinya mau bahas yang seneng-seneng, yang bikin sedih terus jadi
seneng, yang bikin spaneng, dan beberapa yang bikin jengkel. Tapi,
kayaknya malem-malem gini nunggu pergantian tahun lebih enak duduk di
singgasana empuk sambil memantau kembang api lewat televisi.
Bicara soal
tahun baru, pengalaman paling langka seumur hidup terjadi tepat kali ini.
Jadwal ujian dan ujian di univeritas kejuangan itu memang sangat menyedihkan.
Terimakasih lho untuk hari-hari mepet yang masih sempat kupaksakan untuk
kembali ke Bekasi. Terimakasih karena tiket kereta yang cepet sold out dan
membuatku harus terjebak untuk ber-tahun-baru-an di kota ini. Di kota Jogja
ini. Di Jogjes aja deh biar kekinian.
Awalnya
kukira akan ada malaikat-malaikat tanpa sayap yang tiba-tiba dateng ngajak
pergi kemana gituu, atau sekedar ngajak main menjelang tanggal 31 Desember. Eh,
tapi, malah jadi aku yang mengejar mereka-mereka yang super sibuk dan full
of rencana tahun baruan bareng manusia lainnya. Oke, mungkin tahun ini aku
belum cukup berarti buat mereka. Atau, mungkin tahun ini aku belum mendapatkan
moment yang bagus buat merayakannya bareng mereka. Eh, tapi, mereka siapa sih?
Mereka, mereka, mereka...Ah, kadang nyebutnya ‘mereka’ tapi maunya sama ‘dia’.Kadang nyapanya ‘gengs’ padahal ditujukan buat ‘kamu’.
Ah, mungkin cuma
orang beriman yang peka soal beginian. Setidaknya, tadi aku berhasil membuat
suatu acara dadakan bernama “kegereja bareng yuk” yang akhirnya
menemaniku melewati malam ini.
Harusnya sih
setelah itu aku ikut pergi ke pusat kota bersama mas mba dan adik-adik superku;
tapi ternyata pilihan untuk diam dirumah, menyalakan laptop, memutar lagu
sendu, sembari menunggu kamu komen di grup–
adalah keputusan yang teramat bijak.
Untung saja
lagu malam ini tidak terlalu sendu semua. Yaelah, masa akhir tahun masih
galau aja mba? Nanti makin
keliatan jomblonya lho.... Iya, iya, yang satu ini nggak mendayu-dayu
seperti When You Love Someone-nya Endah and Rhesa atau Untuk Perempuan Yang
Dalam Pelukan milik Payung Teduh, kok. Kalau kamu kembali ke zaman ‘agak’
dahulu, mungkin kamu kenal sama Jikustik, atau Mas Pongki Barata?
Wah, mba, podo wae, galau kabeh lagune....
Iya sih,
galau sih, mana ada lagu Indonesia yang nggak bisa bikin galau? Lagu se-asik DO
RE MI aja bisa bikin galau karena menarikku ke suatu masa dimana...ah, ngelantur.
Jadi, lagu
Jikustik bertajuk persis judul postinganku kali ini, beberapa waktu kebelakang
lagi seneng-senengnya aku dengarkan. Entah mengapa, beberapa lirik lagu itu
kadang suka bener.
Dia tak pernah tahu, bagaimana aku menjagamu.
Sepanjang
tahun ini ada begitu banyak hal yang aku jaga. Terutama perasaan orang lain.
Dan terutama juga waktu-ku sendiri. Sepanjang tahun ini, sepanjang dua semester
yang berarti ini banyak kuhabiskan untuk pulang malam karena ketemu kamu, eh,
iya, ketemu kamu hehehe. Sepanjang tahun ini aku selalu kepikiran, ‘sekarang
jam berapa?’ dan selalu nyeletuk, ‘udah yuk, udah selesai kan ini?’ atau paling tidak, ‘anterin aku dong’,
tapi ujungnya kamu malah bilang rumahku jauh. Jauhan mana sih sama kita? Yah,
ngelantur lagi.
Tapi, bicara
soal ‘menjaga’ yang diatas tadi, rasanya Dia Harus Tahu kalau aku paham
bagaimana Dia menjaga aku sebaik mungkin. Aku paham bagaimana Dia
menghawatirkan pulang malamku, hilang dompetku, atau status jombloku. Aku paham
bagaimana Dia membela-belakan waktunya untuk melayani aku sebaik mungkin. Aku
juga paham, bila Dia selalu memberi yang terbaik buat aku. Hanya saja aku yang
tidak pernah sadar akan hal itu.
Dia tak pernah tahu, jatuh bangun aku mengejarmu.
Mungkin aku
sering nggak sadar kalau aku mulai benar-benar jatuh hati sama kamu. Mungkin
aku sering nggak sadar kalau mikirin kamu, ngestalk kamu, ngepoin hidup kamu
lama-lama malah bikin aku gila. Tapi, kadang, kamu juga nggak pernah tahu kalau
aku seriusan udah jatuh, jatuh hati, nanti mungkin bisa jatuh cinta. Ah, peduli
apa, yang penting bisa lihat kamu aja udah menghibur aku. Bisa deket sama kamu
aja udah bikin aku senang. Bisa direspon sama kamu mungkin bisa bikin aku
tambah senang. Mau buktiin? Coba aja.
Tapi dia harus tahu, ini tak akan mudah...
Bikin seneng
sih iya, tapi, kalau nanti kita pisah dan aku kehilangan kesempatan emasku sama
kamu, aku harus apa? Aku harus ngerasa gagal lagi gitu? Mungkin semuanya nggak
akan terasa mudah. Tapi, aku percaya kamu punya kekuatan supranatural
yang jauh lebih keren dari pelangi tahun lalu. Kamu, dan Dia juga harus tahu,
kalau rasa yang kupunya berbeda. Kamu, dan Dia juga harus tahu, kalau menjadi
aku tidak mudah sama sekali. Hmmm...
Tapi dia harus tahu, tak mungkin aku melepaskanmu.
Sumpah nih
kamu nggak akan ngelepasin dia?
Entahlah, lepas ya lepas aja. Penyu di laut juga kalau kita lepas bisa balik
lagi kok. Kucing kalau lepas juga akan balik kerumahnya kok. Walaupun nantinya
kita akan lepas, walaupun nantinya kebersamaan kita akan berakhir kayak dia dia
yang dulu, tapi kenangan indahnya akan selalu aku keep, nggak bakal
kulepasin gitu aja. Susah payah aku ukir, ngapain dilupain?
Wah, nggak
kerasa kan, udah tahun 2017. Katanya sih kalau kita berdoa pas pergantian tahun
baru itu akan dikabulkan sama Tuhan. Tapi tenang aja, aku nggak akan berdoa
biar kamu jatuh cinta sama aku. Aku nggak akan berdoa biar kamu kena peletku.
Aku cuma mau bersyukur karena setahun ini indah sekali. Walaupun banyak ujian,
cobaan, kejadian baperan, dan lain lainnya, but, overall, 2016 punya
cerita indah tentang aku, kamu, Dia, mereka, dan keluarga kita. Semoga
besok dan seterusnya kita masih bisa mengukir A, B, C, sampai Z yang indah lagi
yaaa.. Maafin aku yang terlalu berlebihan selama ini, aku cuma ingin supaya Dia
tahu kalau aku sayang sama kamu kamu kamu kamu semuanyaaaa....
Oke, udah
mentok nih, ngantuk, mau bikin resolusi tahun 2017 dulu deh. Sampai ketemu di
cerita-cerita lainnya.
Selamat tahun baruan :)