Jumat, 11 Desember 2015

NIGHT CHANGES



Ini bukan tentang lagunya One Direction, atau bukan tentang ibu peri yang merubah upik abu menjadi Cinderella nan cantik di malam hari. Tapi, tentang bagaimana segala sesuatu sekarang ini sudah berbeda.


Malam ini, ketika aku merangkai kata-kata yang mungkin nggak ada artinya ini, tanggalan masih menunjukkan angka 10 pada bulan Desember tahun 2015. Senang rasanya masih bisa merasakan bulan ini, setelah puluhan hari mengambang di bulan November yang mulai penuh dengan hujan. Senang rasanya, nggak pernah kerasa kalau 2015 sebentar lagi akan habis masa jaya nya. Banyak sekali cerita-cerita luar biasa tahun ini, tapi ada satu hal yang sangat terasa belakangan ini, bahwa segalanya telah berubah.


Entah mengapa satu bulanan ini kerasa beda banget. Rasanya semua ujian dalam hidup ini makin berat. Tugas makin kesini makin numpuk, apalagi cucian kotor, numpuk banget. Dan ada juga beberapa hal yang amat menyesakkan, sampai-sampai hatiku jatuh pada sebuah kalimat, yaitu,


“Mau cepet pulang!”


 Pulang dalam arti yang sebenarnya.

Pulang ke rumahku sendiri.

Lemah banget ya, padahal baru juga pergi berapa bulan...




Kalo dipikir-pikir, padahal waktu kecil rasanya hidup nggak ada beban. Mau main ya main, mau tidur ya tidur, mau teriak ya terserah aja. Kayaknya masa kecil itu terlalu ngangenin sampai sekarang aku mulai flashback sama beberapa gambar istimewanya. Dan malam ini aku nggak bisa benar-benar membenci suatu keadaan.


Malam ini memang begitu gelap tanpa adanya sinar rembulan.

Sangat amat gelap hingga aku tidak bisa menemukanmu.

Malam ini tidak ada bulan di tengah-tengah awan.

Malam ini aku bagaikan terambang ditengah samudera, menatapi kekosongan ombak di lautan lepas.


Malam ini benar-benar sepi.

Sepi karena kamu tidak ada disini.



Jangankan ada disini, bahkan aku tak pernah tau bagaimana kabarmu. Begitupun kamu yang nggak pernah kasih kabar buatku. Padahal dalam ratusan kilometer jauhnya dari rumah, aku sangat merindukanmu, lebih dari banyaknya bintang yang dulu menerangi gelapku.


Kamu sibuk ya?

Sampai tidak bisa meluangkan semenit saja untuk meneleponku, sekedar bertanya,
“Kamu lagi apa disana?”

Padahal dulu kamu sering telepon kerumah, mengisi hari sembari terjebak macetnya jalan raya.

Kamu sibuk ya?

Sampai tidak bisa menyemangati hari-hariku yang penuh tantangan.

Padahal dulu kamu yang bilang kalau aku harus rajin belajar supaya bisa jadi sukses sepertimu.

Kamu sibuk ya?

Sampai tidak peduli bagaimana perasaanku disini.

Padahal, aku butuh kamu, disini....



Kamu tau nggak, malam ini aku berdoa pada Tuhan kita. Aku berdoa seperti yang kamu ajarkan dulu, saat aku masih begitu tidak mengerti ‘untuk apa berbicara didepan lilin yang menyala dan patung salib berdaun palma’. Aku bilang sama Tuhan, kalau aku rindu kalian, terutama kamu. Aku rindu berdoa bersama kamu lagi.




Aku rindu dipeluk lagi.

Dulu waktu aku masih sangat kecil, kamu harus berlari mengejarku kesana-kemari, lalu sembunyi sesuka hati hingga aku menangis tanpa henti.


Tapi kinipun aku butuh dipeluk lagi.

Aku butuh kamu untuk menenangkan tangisku, aku butuh kamu untuk menghapus air mataku, aku butuh kamu untuk beliin bapao kesukaanku...

Aku butuh kamu,


sekarang ini,


disini....




Aku sungguh teramat membutuhkanmu, tapi bukan untuk memarahiku karena aku tak patuh dengan ini-itu. Aku punya banyak sekali kegiatan dan tugas yang menumpuk. Aku punya banyak acara dan pertemuan dengan manusia-manusia baru yang berkesan bagiku.

Kamu nggak tau kan?

Ini hidupku, dunia baruku, aku mau begini, mau begitu, tapi tidak mau didiamkan seperti ini terus.

Aku sungguh membutuhkan kehadiranmu, untuk mengajakku berbicara tentang hari ini, tentang dia, mereka, tentang segalanya. Bukan untuk kamu jawab sekedar iya, atau tidak.

Udah, segitu aja?




Semuanya membuat malam ini semakin gelap.

Disana gelap juga nggak?

Kayaknya disana biasa aja yaa, karena kalian pikir aku baik-baik saja, padahal tidak selalu demikian.
Aku baik, sangat baik saat ada disini, terlebih bila bersama kalian.


Apa kalian tau, aku punya banyak cerita luar biasa yang dulu sering kuceritakan begitu aku pulang.
Sekarang, 

aku mau cerita sama siapa?

Aku cuma punya Tuhan, yang selalu setia mendengar keluh kesahku.



Aku mulai lelah untuk selalu berada dalam keadaan seperti ini.

Bisakah kita memutar waktu, agar tiada perkataan atau perbuatanku yang menyakiti hatimu?

Agar selalu ada sapaan hangat setiap hari darimu?

Agar selalu ada gelak tawa yang menghibur hatiku?




Bisakah aku bercerita, sedikit saja tentang hari ini?



Aku menghargai segala yang kalian berikan bagiku, tapi kenapa malah datang hanya untuk bertanya soal materi?
Rinduku tidak bisa dibeli dengan harta apapun.



Apa kalian tau, aku mulai merasa rindu, dan amat rindu. Rindu untuk kembali pulang, bertemu kalian.
Apa kalian tau, sekarang aku hanya bisa menghitung mundur waktuku, menuju hari dimana kita akan bertemu.


Tapi,






Nanti dulu.







Kita jadi ketemu kan??






Jadi kan?








Terlepas dari segala sesuatu yang terjadi, mungkin malam ini memang begitu gelap, begitu dingin karena baru saja turun hujan. Akan tetapi, aku tau, jika kebersamaan kita akan membuat segalanya menjadi lebih hangat. 

Kalau kalian punya waktu, hubungi aku ya, aku rindu dengar suara kalian. . .

 :)




Selasa, 08 Desember 2015

APPRECIATE'S(hit)




Harga adalah suatu bentuk penilaian paling tepat bagi apapun yang bisa ditukar dengan sejumlah uang. Ia adalah perwujudan sebuah atau suatu barang tertentu yang berawal dari kebutuhan manusia.



Tapi kalau menghargai, bisakah kamu membayarnya dengan sebuah satuan uang?


Menghargai bukanlah sebuah kebutuhan manusia, namun adalah keharusan dari setiap manusia yang ada. Mungkin mudah untuk melakukannya, namun menjalankannya tanpa paksaan justru lebih sulit daripada sekedar mengucapkan kata ‘menghargai’.

Ketika kita mencoba menghargai apapun yang ada disekitar kita, segalanya akan terasa lebih indah bagi kita maupun orang lainnya. Akan tetapi, sudah terlalu banyak orang yang mengabaikan hal ini. Mereka justru tidak mempedulikan bagaimana perasaan orang lain, karena mereka tidak mencoba untuk menghargai apa yang telah dilakukan orang lain terhadapnya.


Menghargai memang sulit.
Bisa dikatakan, untuk apa kita menghargai orang lain? Toh kita tidak pernah digaji untuk sekedar menghargai mereka, kan? 
Tetapi jawaban paling tepat dari pertanyaan tersebut adalah,
menghargai dapat membuat orang lain merasa lebih berarti.



Suatu ketika seseorang sedang pergi ke pusat perbelanjaan ternama di kotanya. Ketika ia berpamitan dengan sahabatnya, ia sempat bertanya, apakah sang sahabatnya itu ingin menitipkan sesuatu untuk dibeli diluar, namun sang sahabat hanya menanggapi singkat tanpa keseriusan. Seseorang itu akhirnya pergi, dan ketika ia hendak kembali, ia membeli sepotong kue panggang kesukaan sahabatnya itu. Tentu ia berharap sahabatnya akan dengan sukacita menikmati oleh-oleh yang ia bawa itu. Namun ternyata, takdir berkata lain. Setibanya dirumah sahabatnya itu, ia ditolak mentah-mentah hanya karena sang sahabat sedang tidak ingin memakan kue tersebut. Bagaimana perasaan seseorang tersebut? Tentu saja ia merasa tidak berarti dimata sahabatnya, padahal ia sudah berusaha untuk melakukan hal terbaik yang dapat ia perbuat.


Dari sana kita dapat belajar bersama, bahwa sesungguhnya apapun yang telah dilakukan seseorang terhadap kita merupakan hal terbaik yang ia perbuat bagi kita. Mereka pasti telah mengorbankan segalanya demi membuat kita bahagia, atau mungkin sekedar demi melihat kita tersenyum. Oleh sebab itu, sudah layak dan sepantasnya kita menghargai apa yang orang lain lakukan terhadap kita.


Sekedar pelajaran tentang menghargai seseorang, tanpa harus membalasnya, namun setidaknya kita menerima apa yang ia persembahkan dengan sebaik-baiknya.

Maka dari itu, hargailah seseorang yang telah memberikan segala sesuatu bagimu, karena kamu tidak pernah tau kalau yang ia berikan berasal dari kekurangannya.

Hargailah meski sekeras apapun kasur tempat tidurmu, karena diluar sana masih banyak orang lain yang hanya bisa tidur beralaskan koran diemperan toko orang.

Hargailah meski semenyeabalkan apapun saudaramu, karena banyak anak yang dilahirkan tunggal dan ingin punya saudara.

Hargailah orang yang telah membereskan kekacauan yang kamu buat, karena tanpa dia hidupmu akan selalu berantakan.

Hargailah, setidakenak apapun makanan yang kamu makan, karena orang lain banyak yang kelaparan dan tidak punya makanan.

Hargailah suatu makanan yang sudah disajikan untukmu, walaupun sudah kenyang ya dimakan saja, karena banyak anak rantauan yang rindu dengan masakan ibu mereka...

Hargailah meski sedikit apapun uang jajanmu, karena ayah telah mencari seribu rupiah saja dengan susah payah.


Hargailah orang yang berjualan dipnggir jalan diterpa sinar matahari yang begitu panasnya, karena kita tidak pernah tau dia harus menafkahi berapa banyak orang.

Hargailah sesulit apapun tugasmu, karena banyak orang yang sudah putus sekolah tapi masih semangat ingin belajar.

Hargailah teman yang selalu ada disampingmu, karena banyak orang yang butuh teman tapi hanya dimanfaatkan oleh orang lain.

Hargailah seseorang yang menggenggam tanganmu saat menyeberang, karena banyak orang yang keserempet lantaran tidak bisa menyeberang.

Hargailah orang yang mendoakan kamu supaya berhati-hati dijalan, karena bisa jadi tanpa doanya, mungkin kamu akan celaka.

Hargailah orang yang yang menghawatirkan kamu, karena banyak orang yang tidak pernah dipedulikan.

Hargailah orang yang menyapa kamu, meski sekedar lewat pesan singkat, karna banyak orang lain yang menunggu disapa tapi tidak pernah dianggap.

Hargailah orang yang memberi perhatian lebih kepadamu, karena ia menyayangimu sepenuh hati.

Hargailah orang yang mau mendengarkan ceritamu, karena banyak orang gila berawal dari bercerita sendiri dengan tembok.

Hargailah sebuah ibadah yang kamu jalani, karena segala sesuatu yang kamu miliki berasal dari-Nya.

Hargailah segala sesuatu yang kamu punya, karena kamu tidak pernah tau kalau mungkin besok kamu akan kehilangan segalanya.

Hargailah orang-orang yang ada disekelilingmu, karena kita tidak pernah tau kapan mereka akan pergi terlebih dahulu meninggalkan kita.

Hargailah segala waktu yang kamu miliki, karena ada orang yang menyayangimu dan mengorbankan waktunya hanya untuk menanti kamu pulang membawa kesusksesan.


Dan pada akhirnya, dari sekian banyak hal yang perlu kita hargai sebagai sesuatu yang berarti,

sudahkah kamu menghargai dirimu sendiri sebagai suatu ciptaan paling istimewa dari Tuhan yang Maha Kuasa itu?



Kalau belum, segeralah bercermin.

Tataplah ciptaan indah itu sembari menyadari bahwa seburuk apapun diri kita, kita tetap memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki segalanya menjadi lebih indah dari sebelumnya.

ps: jadi kapan kita ngobrol bareng lagi?


Jika sudah, maukah kamu mendengar ceritaku??

Karena siapa yang tau kalau nantinya kita bisa mengukir kisah bersama. . .



 

Jumat, 20 November 2015

Keputusan - Kembali ke Gereja

Bagiku kepercayaan merupakan suatu hal yang penting. Tentu begitu juga bagimu. Tapi percayalah, aku bahagia dengan kepercayaanku ini.

Hari itu adalah kelas mata kuliah agama katolik untuk pertama kalinya. Dan kami sudah membawa oleh-oleh tugas dari sang dosen. Mungkin bagi kebanyakan orang, tugas akan menjadi sebuah beban. Namun tidak bagiku. Tidak untuk tugas agama.

Jujur, dari semua mata kuliah di tahun pertamaku masuk universitas, mata kuliah agama-lah yang paling membuatku tertarik. Mengapa tidak? Menurutku, agama tidak membutuhkan teori yang rumit untuk dimengerti. Karena agama hanya perlu diimani dan dipercayai. Begitu pula pada sore yang cukup berkesan itu. Aku bangga mendapati kesempatan untuk "akhirnya" belajar agamaku sendiri dalam sekolahku, karena selama 12 tahun kebelakang, aku tidak pernah menemui satu kelas dengan satu iman yang sama seperti kali ini.

Hal ini juga membuatku bersukacita, karena dalam kelas regulerku, aku memiliki 5 teman yang juga beragama katolik. Ah, terimakasih Tuhan, aku senang sekali bisa "setidaknya" punya teman yang bisa kuajak pergi kegereja bersama.

Kembali ke kelas agama, tugas pertama kami sangatlah mudah dan sederhana, namun bagiku sulit untuk diungkapkan. Pertanyaannya, "mengapa kamu menjadi seorang katolik?"
Teman-temanku hanya sekedar menjawab, 'karena mengikuti orang tua', atau 'karena sejak kecil dibaptis secara katolik". Bagiku, tidak semudah itu menggambarkan alasan mengapa kita menjadi seorang katolik.

Meneladani ajaran seorang Yesus, sang juruselamat umat manusia memanglah sulit. Tidak sesederhana pergi ke gereja setiap minggu, tidak semudah berdoa bapa kami, tidak se-sepele membuat tanda salib.

Menjadi seorang katolik membuatku tersadar, bahwa begitu besar kasih Allah akan umatnya, sehingga Ia mengutus putraNya yang tunggal untuk hadir dan menebus dosa dunia. Dosa yang tak terkira, hingga sang Anak domba Allah harus mati di kayu salib.

Untukku, meneladaniNya tidak perlu memakai kalung salib, atau bahkan memikul salib. Meneladaninya adalah merasakan kehadirannya dalam hatimu. Dia hadir bahkan selalu berada lebih dekat dari urat nadimu sendiri.

Kini aku berada di tempat yang sangat sepi, aku sendiri, aku sungguh tidak tau apa yang aku lakukan disini. Tapi aku merasa nyaman, hatiku tenang, damai karena aku merasakan kehadiranNya, meski tak dapat kulihat rupaNya.

Ya Tuhan, apakah Kau melihat air mataku?
Aku tidak mau menangis dihadapanMu. Aku malu. Malu untuk berkata kalau aku lelah dengan segalanya. Aku malu untuk berkata bahwa aku takut. Aku takut kehilanganMu.

Tuhan, taukah Engkau, kalau hatiku merasa tenteram berada disini, didekatMu. Peluklah aku, aku membutuhkanMu. Pegang tanganku, supaya aku tidak terjatuh. Terimalah aku selalu untuk singgah di rumahMu. Rumah maha indah yang selalu menjadi tempat berteduh paling nyaman disini.

Karena pergi ke gereja lebih menyenangkan dari pada menghamburkan uang di pusat pertokoan.

Karena pergi ke gereja lebih bermanfaat, dari pada tidur dan berdiam diri dirumah.

Jadi, sudahkah kamu pergi ke gereja?

Masihkah kamu ingat jalan ke gereja?

Atau mau pergi ke gereja bersamaku?

Aku mau kok.
Bahkan aku rindu untuk pergi kesini sama kamu, lalu berdoa disana bersamamu.

Kapan-kapan ya, aku dan gereja menunggumu.

Ps: Salam rindu, dariku di gereja yang jauh dari rumah...