Jumat, 11 Desember 2015
NIGHT CHANGES
Selasa, 08 Desember 2015
APPRECIATE'S(hit)
Menghargai memang sulit.
Hargailah orang yang berjualan dipnggir jalan diterpa sinar matahari yang begitu panasnya, karena kita tidak pernah tau dia harus menafkahi berapa banyak orang.
Karena siapa yang tau kalau nantinya kita bisa mengukir kisah bersama. . .
Jumat, 20 November 2015
Keputusan - Kembali ke Gereja
Bagiku kepercayaan merupakan suatu hal yang penting. Tentu begitu juga bagimu. Tapi percayalah, aku bahagia dengan kepercayaanku ini.
Hari itu adalah kelas mata kuliah agama katolik untuk pertama kalinya. Dan kami sudah membawa oleh-oleh tugas dari sang dosen. Mungkin bagi kebanyakan orang, tugas akan menjadi sebuah beban. Namun tidak bagiku. Tidak untuk tugas agama.
Jujur, dari semua mata kuliah di tahun pertamaku masuk universitas, mata kuliah agama-lah yang paling membuatku tertarik. Mengapa tidak? Menurutku, agama tidak membutuhkan teori yang rumit untuk dimengerti. Karena agama hanya perlu diimani dan dipercayai. Begitu pula pada sore yang cukup berkesan itu. Aku bangga mendapati kesempatan untuk "akhirnya" belajar agamaku sendiri dalam sekolahku, karena selama 12 tahun kebelakang, aku tidak pernah menemui satu kelas dengan satu iman yang sama seperti kali ini.
Hal ini juga membuatku bersukacita, karena dalam kelas regulerku, aku memiliki 5 teman yang juga beragama katolik. Ah, terimakasih Tuhan, aku senang sekali bisa "setidaknya" punya teman yang bisa kuajak pergi kegereja bersama.
Kembali ke kelas agama, tugas pertama kami sangatlah mudah dan sederhana, namun bagiku sulit untuk diungkapkan. Pertanyaannya, "mengapa kamu menjadi seorang katolik?"
Teman-temanku hanya sekedar menjawab, 'karena mengikuti orang tua', atau 'karena sejak kecil dibaptis secara katolik". Bagiku, tidak semudah itu menggambarkan alasan mengapa kita menjadi seorang katolik.
Meneladani ajaran seorang Yesus, sang juruselamat umat manusia memanglah sulit. Tidak sesederhana pergi ke gereja setiap minggu, tidak semudah berdoa bapa kami, tidak se-sepele membuat tanda salib.
Menjadi seorang katolik membuatku tersadar, bahwa begitu besar kasih Allah akan umatnya, sehingga Ia mengutus putraNya yang tunggal untuk hadir dan menebus dosa dunia. Dosa yang tak terkira, hingga sang Anak domba Allah harus mati di kayu salib.
Untukku, meneladaniNya tidak perlu memakai kalung salib, atau bahkan memikul salib. Meneladaninya adalah merasakan kehadirannya dalam hatimu. Dia hadir bahkan selalu berada lebih dekat dari urat nadimu sendiri.
Kini aku berada di tempat yang sangat sepi, aku sendiri, aku sungguh tidak tau apa yang aku lakukan disini. Tapi aku merasa nyaman, hatiku tenang, damai karena aku merasakan kehadiranNya, meski tak dapat kulihat rupaNya.
Ya Tuhan, apakah Kau melihat air mataku?
Aku tidak mau menangis dihadapanMu. Aku malu. Malu untuk berkata kalau aku lelah dengan segalanya. Aku malu untuk berkata bahwa aku takut. Aku takut kehilanganMu.
Tuhan, taukah Engkau, kalau hatiku merasa tenteram berada disini, didekatMu. Peluklah aku, aku membutuhkanMu. Pegang tanganku, supaya aku tidak terjatuh. Terimalah aku selalu untuk singgah di rumahMu. Rumah maha indah yang selalu menjadi tempat berteduh paling nyaman disini.
Karena pergi ke gereja lebih menyenangkan dari pada menghamburkan uang di pusat pertokoan.
Karena pergi ke gereja lebih bermanfaat, dari pada tidur dan berdiam diri dirumah.
Jadi, sudahkah kamu pergi ke gereja?
Masihkah kamu ingat jalan ke gereja?
Atau mau pergi ke gereja bersamaku?
Aku mau kok.
Bahkan aku rindu untuk pergi kesini sama kamu, lalu berdoa disana bersamamu.
Kapan-kapan ya, aku dan gereja menunggumu.
Ps: Salam rindu, dariku di gereja yang jauh dari rumah...






