Hari makin berganti seraya hujan yang kini mulai turun membasahi bumi.
2 hari yang lalu air dirumah kami mati. Entah karna pompa yang sudah termakan usia, atau memang tanah yang basah ini sudah tak mampu memberi air lagi? Entah.
Malam tadi aku sempat berbincang ditelepon dengan seorang kakak. Ia menyarankanku untuk memberi tahu masalah ini pada kakakku yang lain agar barangkali mereka dapat membantu, atau bahkan memberi.
Namun hingga hari mulai berganti, tiada jawaban akan harapan yang mungkin dapat terjadi malam ini. Ah, mungkin saja mereka sudah terlalu lelah akan aktivitas harian yang pasti pergi pagi pulang malam dan sangat menguras keringat.
Tapi aku yakin dan tau benar bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah bentuk cinta yang tulus dan ikhlas.
Setiap hari mereka harus terbangun lebih dahalu, bahkan saat kita masih bermimpi.
Mereka harus memulai hari dengan banyak ujian, seperti terkena kemacetan kota, atau berbagai pekerjaan yang sebegitu rumitnya.
Namun disela-sela kesibukan mereka, tak pernah sedetikpun mereka lupa akan kita. Akan kami. Akan ketulusan bekerja keras demi menafkahi kami, yang menjadi tanggungannya.
Terkadang tak jarang mereka menyempatkan untuk mencuri waktu sibuknya, sekedar menghubungi kerumah. Lalu bertanya, "lagi ngapain?"
Atau mungkin, "kamu sudah makan? Ada makanan apa dirumah?"
Bisa juga, "Gimana ulangannya? Bisa?"
Dan juga, "Ada kabar apa dirumah?"
Dan dering telepon itu cenderung ditunggu-tunggu untuk direbutkan saat mengangkatnya.
Saat malam hari, saat kita mungkin sedang menikmati berselonjor kaki didepan TV, namun mereka masih harus segera menyelesaikan pekerjaan rumit itu hanya untuk segera pulang dan kembali ke istana tercinta. Namun harapan itu cederung sirna, karna tak jarang mereka baru tiba pukul satu pagi, dan melewatkan makan malam bersama kami.
Dihari-hari terkemudian, mungkin tiba saatnya hari libur atau memang disengajakan cuti karna ingin punya waktu dengan keluarga. Saat-saat seperti ini mereka gunakan untuk melepas tawa dalam kebersamaan, meski sering kali berjuta-juta rupiah yang selama ini mereka cari dengan rumitnya, bisa saja terhambur begitu saja dalam hitungan detik.
Namun itu karna ketulusan.
Mereka rela memberi, tak pernah minta dikembalikan.
Mereka yang rela berjuang, dan berharap kami bisa mendapatkan yang terbaik dari yang baik.
Kini akhirnya aku mulai berhenti memikirkan segalanya.
Pada akhirnya mereka memanglah mereka yang paling hebat bagi kami semua.
Mereka memang segalanya bagi kami semua.
Karna merekalah yang selalu ada dikala kami tersisih.
Mereka adalah orang pertama yang selalu berkata bahwa KAMI BISA.
Mereka jugalah yang selalu menggandeng dan memeluk kita saat bahaya mengancam.
Merekalah yang selalu bisa membuat kami tersenyum dalam tangis, tertawa dalam bimbang, dan terharu dalam doa.
Mereka adalah orang-orang yang selalu menomorsatukan kami dalam setiap doanya. Dan tentu menjadikan kami prioritas utama dalam hidupnya.
Dan dalam kehidupan ini, hanyalah mereka laki-laki terbaik yang pernah ada. Yang pernah aku kenal, bahkan yang paling hebat dari segala sesuatu yang bagi orang lain lebih hebat.
Karna itu, teruntuk mereka yang selama ini telah lelah berjuang bagi kami, terima kasih atas segala sesuatu yang pernah mereka beri bagi kami. Atas sejuta cinta yang pernah terasa, atas segala jerih payah yang pernah tertuang.
Tiada lagi kata yang bisa menunjukkan betapa cinta itu terasa, hingga aku bahkan ingin mencari dimana adanya, satuuu saja. Lelaki yang segalanya sama seperti mereka.
Tapi, kebodohannya adalah, kami kadang tak menyadari keberadaan mereka. Bahkan kami melakukan hal buruk dibelakang mereka, lalu memasang tampang malaikat saat dihadapannya.
Kebodohannya adalah saat kami membuat mereka kecewa akan hal sepele, namun menyakitkan.
Dan kebodohan yang paling bodoh adalah, ketika kami tak mampu megungkapkan rasa ini. Rasa bahwa sesungguhnya mereka adalah manusia yang paling kami cintai. Bahwa kami sesungguhnya tak bisa bicara sejujurnya pada mereka. Bahwa sebenarnya selama ini ada hal yang benar-benar penting dan harus kami bagi karna kami tak tau apa solusinya. Kami sadar, mereka pasti punya jawaban terbaik untuk keputusan ini, tapi kami tak tau bagaimana cara mengungkapkannya.
Miris memang,
padahal kami hanya ingin membuat mereka bangga. Yaa, sekedar membalas jerih payah mereka dengan senyuman atau bahkan gelak tawa yang tercipta karna kami.
Padahal kami hanya ingin memeluk, tapi tak bisa.,karna tak biasa.
Padahal kami ingin mencium, tapi tak bisa., karna akan terasa aneh.
Padahal, kami hanya ingin berkata pada mereka, yang kami sebut kepala rumah tangga, bahwa:
"Ayah, kami sayang, cinta, dan beruntung sekali memilikimu...,"
Mungkin bukan sekarang,
mungkin bukan dalam kesempatan ini,
tapi kami tau pasti,
suatu saat,
sebelum saatnya tiba nanti,
kami pasti bisa mengatakan hal itu pada mereka.
Dan satu hal yang kami selalu ingat adalah, kami juga tak pernah lupa menyebut namamu dalam setiap doa kami.
Semoga Tuhan kami selalu mendengar setiap bisikan kata yang tak mampu terucap pada mereka, tapi selalu terbatin pada Yang Maha Kuasa.
Yang terakhir,
mungkin kami lupa,
mungkin belum bisa terucap,
tapi mungkin bukan pada saat ini saja,
bahkan sepanjang hari kami mungkin bisa menyampaikannya......,
"Selamat hari Ayah, terimakasih, dan tetaplah menjadi Ayah yang hebat bagi kami...."
....amin.....