Aku percaya bahwa di dalam
hidup ini tidak ada sesuatu yang bercanda. Semua hal itu serius adanya. Kadang kita
membawa rasa dan jiwa ini kepada sebuah zona kenyamanan yang menciptakan
dinamika berirama santai, bahagia, tertawa. Namun kerap kali kita membutuhkan
waktu untuk setegas dan setegang itu agar tercipta tujuan-tujuan yang nyata. Dan
bersamamu, iya, kamu. Bersama kamu yang sekarang membaca tulisanku ini,
kuciptakan ragam kisah dalam hidupku.
Aku tau dalam hening doaku
selalu terucap namamu. Aku tau dalam keseriusan percakapanku pada Tuhan, Ia pun
paham betapa aku amat berharap padaNya. Akan tetapi, sekeras apapun aku mencoba
terdiam, kerap kali kamu mengusik ketenanganku. Tidak bisakah sekali saja aku larut
dalam hening ini tanpa tersirat tawamu?
Kamu selalu begitu, Sayang.
Selalu saja menghadirkan
tawa dan canda dalam hidupku.
Bolehkah esok hari kita
berdiam bersama?
Berkata-kata dalam hati saja,
saling mendoakan agar bahagia senantiasa terasa
di hati,
bukan hanya terlintas di tawa manismu setiap hari.
Aku tau itu kekuatanmu.
Aku tau kamu sekuat bara api
yang menyala-nyala.
Sumber ketenangan dan ambisi
yang tak mampu digambarkan oleh kata-kata.
Kamu begitu kokoh, sulit untuk
dipatahkan.
Kamu membara bak seorang raja, penguasa alam raya.
Kamu kuat, Sayang.
Namun kamu tak sehebat hembus angin sore ini.
Hembusan itu mematahkan
setiap dahan di keteduhanku.
Hembusan itu sendu, syahdu,
namun mematikan.
Bahkan apimu pun padam
karena tiup anginnya.
Lantas, hendak menjadi kuat
seperti apa lagi kamu?
Dengan massa tak nampak saja kamu
kalah,
lalu, kuasa mana lagi yang mampu membantumu menari ria diatas sana?
Sudah, Sayang.Beristirahatlah.Aku tau kamu lelah.
Mendaki dari titik terendah
hingga puncak itu butuh waktu.
Tenagamu habis untuk melaju.
Kamu tau itu berat, namun
kamu kuat.
Kamu tau itu sulit, namun
kamu tetap bangkit.
Lelahkah kamu?
Kesal?
Aku juga.
Aku lelah.
Aku kesal.
Mengapa selalu seperti ini
sepanjang waktu.
Selalu saja aku dan kamu.
Selalu saja ini dan itu.
Namun lelahku sirna kala
senyumanmu merekah.
Lelah kita bersama lebur
seketika.
Aku tak pernah menyangka
kamu berubah menjadi sekuat ini.
Aku tak tau dari mana
asalnya keberanianmu tatkala malam ditengah hutan, menyusuri jalan bebatuan,
merasakan hawa aneh di kiri kanan, namun lenganmu selalu ada.
“Kamu jangan takut, pegangan.”
Katamu tengah malam dalam
kedinginan.
Aku juga tak tau darimana
asalmu datang.
Hebat sekali jika sang waktu
bisa mendatangkan sosokmu dihadapanku.
Aku tak tau alasanmu datang,
Yang aku tau hanya ingin
ikut bersenang-senang,
Bukan menemaniku menangisi
kebodohan.
Bukan merangkulku kala malam
menerjang,
dingin mencekam, dan Dia tak menyadari jua sebab laraku kala itu.
Aku tak tau alasanmu hadir
disana.
Berkata,
“Sudah, tiada yang perlu kau tangisi.”
Mengelus pelan lenganku,
merangkulku untuk kembali ke kamar.
“Beristirahatlah.
Kamu begitu penting bagi dunia ini.
Besok kamu harus bangun pagi,”
Iya, Sayang.
Esok aku akan menyapamu
kala
mentari ini mengganti hangatnya genggam tanganmu.
Iya,
Aku mengerti sekarang.
Aku tak seharusnya menangisi
sebuah kehilangan.
Belum saatnya aku menangis.
Belum waktunya aku memelukmu
lebih dalam.
Aku masih saja mencari-cari
sosokmu di setiap pagi,
Di setiap hari kala hujan
menghampiri,
Di setiap doa ku berakhir
petang itu,
Di setiap langkah kaki
menghampiri pintu besi,
Di setiap pemberhentian
siang nanti,
Aku masih saja mencarimu.
Mencari kamu yang bahkan
tidak melihatku barang sebelah mata.
Salahkah aku terjatuh pada
kesementaraan ini?
Aku tau.
Iya.
Aku tau sebentar lagi kita
melebur beda.
Tiada lagi kita dalam dunia
nyata.
Aku tak bisa lagi melihat
mereka yang berusaha sekeras tenaga menghibur laraku tanpamu. Aku tak bisa lagi
menyadari setiap bunga yang diberikannya dibawah terik mentari, tak merasa lagi
hembus angin buatan yang berusaha diberikannya padaku, tiada lagi kesegaran air
pegunungan yang membasuh wajahku.
Disana hanya ada kamu,
Yang terlalu semu kuharap
sepanjang waktu,
Yang bahkan detik ini saja
masih membuat aku merasakan pilu.
Sayang, membacakah kamu
suratku yang lalu?
Maka kelak kamu akan menyadari betapa sayangku bagimu mengalahkan 31 hari di bulan ini.Iya.Sepertinya aku masih menyayangimu hingga bulan ini berakhir.Hingga entah kapan,Namun aku tetap sayang.
Bisakah kita tetap menjadi
teman?
