Kamis, 01 November 2018

Namun Sepertinya



Aku percaya bahwa di dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang bercanda. Semua hal itu serius adanya. Kadang kita membawa rasa dan jiwa ini kepada sebuah zona kenyamanan yang menciptakan dinamika berirama santai, bahagia, tertawa. Namun kerap kali kita membutuhkan waktu untuk setegas dan setegang itu agar tercipta tujuan-tujuan yang nyata. Dan bersamamu, iya, kamu. Bersama kamu yang sekarang membaca tulisanku ini, kuciptakan ragam kisah dalam hidupku.

Aku tau dalam hening doaku selalu terucap namamu. Aku tau dalam keseriusan percakapanku pada Tuhan, Ia pun paham betapa aku amat berharap padaNya. Akan tetapi, sekeras apapun aku mencoba terdiam, kerap kali kamu mengusik ketenanganku. Tidak bisakah sekali saja aku larut dalam hening ini tanpa tersirat tawamu?

Kamu selalu begitu, Sayang.


Selalu saja menghadirkan tawa dan canda dalam hidupku.
Bolehkah esok hari kita berdiam bersama? 
Berkata-kata dalam hati saja, 
saling mendoakan agar bahagia senantiasa terasa di hati, 
bukan hanya terlintas di tawa manismu setiap hari.



Aku tau itu kekuatanmu.

Aku tau kamu sekuat bara api yang menyala-nyala.
Sumber ketenangan dan ambisi yang tak mampu digambarkan oleh kata-kata. 
Kamu begitu kokoh, sulit untuk dipatahkan. 
Kamu membara bak seorang raja, penguasa alam raya. 
Kamu kuat, Sayang. 

Namun kamu tak sehebat hembus angin sore ini.
Hembusan itu mematahkan setiap dahan di keteduhanku.
Hembusan itu sendu, syahdu, namun mematikan.
Bahkan apimu pun padam karena tiup anginnya.

Lantas, hendak menjadi kuat seperti apa lagi kamu?
Dengan massa tak nampak saja kamu kalah, 
lalu, kuasa mana lagi yang mampu membantumu menari ria diatas sana?



Sudah, Sayang.
Beristirahatlah.
Aku tau kamu lelah.



Mendaki dari titik terendah hingga puncak itu butuh waktu.
Tenagamu habis untuk melaju.
Kamu tau itu berat, namun kamu kuat.
Kamu tau itu sulit, namun kamu tetap bangkit.
Lelahkah kamu?
Kesal?

Aku juga.
Aku lelah.
Aku kesal.
Mengapa selalu seperti ini sepanjang waktu.
Selalu saja aku dan kamu.
Selalu saja ini dan itu.
 
Namun lelahku sirna kala senyumanmu merekah.
Lelah kita bersama lebur seketika.


Aku tak pernah menyangka kamu berubah menjadi sekuat ini.
Aku tak tau dari mana asalnya keberanianmu tatkala malam ditengah hutan, menyusuri jalan bebatuan, merasakan hawa aneh di kiri kanan, namun lenganmu selalu ada.
“Kamu jangan takut, pegangan.”
Katamu tengah malam dalam kedinginan.

Aku juga tak tau darimana asalmu datang.
Hebat sekali jika sang waktu bisa mendatangkan sosokmu dihadapanku.

Aku tak tau alasanmu datang,
Yang aku tau hanya ingin ikut bersenang-senang,
Bukan menemaniku menangisi kebodohan.
Bukan merangkulku kala malam menerjang,
 dingin mencekam, dan Dia tak menyadari jua sebab laraku kala itu.




Aku tak tau alasanmu hadir disana.
Berkata, 
“Sudah, tiada yang perlu kau tangisi.”

Mengelus pelan lenganku, merangkulku untuk kembali ke kamar.
“Beristirahatlah.
Kamu begitu penting bagi dunia ini.
Besok kamu harus bangun pagi,”


Iya, Sayang.
Esok aku akan menyapamu 
kala mentari ini mengganti hangatnya genggam tanganmu.

Iya,

Aku mengerti sekarang.
Aku tak seharusnya menangisi sebuah kehilangan.
Belum saatnya aku menangis.
Belum waktunya aku memelukmu lebih dalam.



Aku masih saja mencari-cari sosokmu di setiap pagi,

Di setiap hari kala hujan menghampiri,
Di setiap doa ku berakhir petang itu,
Di setiap langkah kaki menghampiri pintu besi,
Di setiap pemberhentian siang nanti,

Aku masih saja mencarimu.

Mencari kamu yang bahkan 
tidak melihatku barang sebelah mata.



Salahkah aku terjatuh pada kesementaraan ini?
Aku tau.

Iya.
Aku tau sebentar lagi kita melebur beda.
Tiada lagi kita dalam dunia nyata.


Aku tak bisa lagi melihat mereka yang berusaha sekeras tenaga menghibur laraku tanpamu. Aku tak bisa lagi menyadari setiap bunga yang diberikannya dibawah terik mentari, tak merasa lagi hembus angin buatan yang berusaha diberikannya padaku, tiada lagi kesegaran air pegunungan yang membasuh wajahku.


Disana hanya ada kamu,
Yang terlalu semu kuharap sepanjang waktu,

Yang bahkan detik ini saja masih membuat aku merasakan pilu.




Sayang, membacakah kamu suratku yang lalu?



Maka kelak kamu akan menyadari betapa sayangku bagimu mengalahkan 31 hari di bulan ini.
Iya.
Sepertinya aku masih menyayangimu hingga bulan ini berakhir.
Hingga entah kapan,
Namun aku tetap sayang.





Bisakah kita tetap menjadi teman?