Selasa, 23 Maret 2021

ALASAN

 

Menyusuri banyak jalan panjang yang ada hingga kini membuatku sejenak berpikir. Perjalanan ini cukup melelahkan ya. Banyak jatuh bangun yang ada dalam setiap kisahnya. Pun juga aku dan kamu yang selalu menemukan alasan-alasan baru yang lebih kreatif. Alasan untuk tertawa, alasan untuk tetap terlihat baik-baik saja, alasan untuk saling menjaga, hingga alasan untuk tetap tinggal disini.


Banyak alasan, begitu katamu.

Di dunia ini hanya ada 3 hal yang berlimpah banyaknya hingga tidak mampu dihitung satuannya. Bintang di langit, pasir di pantai, dan satu lainnya adalah alasan. Diantara begitu banyak alasan, kuharap aku masih bisa menemukan satu saja alasan agar aku tetap merasa nyaman dan melupakan keresahan-keresahan ini.

Ribuan kata percuma saja jika apapun yang kulakukan mungkin hanya sekadar hadir lalu pergi dari kenangan. Aku sungguh tidak butuh kata-kata ilusi yang bahkan hanya mengumpat dibalik teguran atau mungkin candaan. Aku hanya butuh sebuah apresiasi.

Banyak hal yang mungkin begitu munafik jika harus dijabarkan, setidaknya dunia harus tahu betapa aku merasakan sesuatu dengan ketulusan yang sempurna. Entah, tahu atau tidak, aku tidak bisa memastikannya. Namun satu yang pasti, ego setiap manusia tentu lebih besar dari kesabarannya masing-masing.

 


Ratusan kenangan manis kini jadi kehilangan arti.

Aku hampir menyerah mempertahankan arti diantara banyak catatan penting itu.

Semoga saja setelah ini hadir banyak alasan dan kekuatan untuk mempertahankannya.

 


Ketika keresahan datang, nyatanya aku harus berjuang penuh untuk mencari alasan itu. Bertahan dari segalanya ini tidak mudah, Sayang. Disaat yang bersamaan pun pasti kamu menghakimi hidupmu sendiri dengan banyak tantangan yang harus lebih diperjuangkan. Seolah resahku tak ada nilainya sama sekali. Harapku ini cemas, bahkan mungkin kamu tidak pernah menyadarinya.

 

Jika boleh saja kupinta padamu, berikan aku satu alasan terbaik. Setidaknya agar aku merasa lebih baik, lebih tenang, lebih nyaman dan lebih berani untuk berjalan kedepan. Meskipun didepan entah ada rintangan, namun aku percaya, sandaranmu akan selalu menguatkan. Untuk itu, tetaplah ada disini bersamaku. Tetaplah menjadi sebuah arti dibalik banyak alasan yang ada.

 

Bukan berarti aku yang egois memintamu untuk mengerti,

Alasanku hanya satu, ingin kamu ada.







Selasa, 01 September 2020

T E D U H



Masih ingat bagaimana pertama kali 

Semesta sengaja membuat mata kita saling bertemu siang itu?



Aku masih.


Dulu dan kini jauh berbeda ya.

Sungguh tak pernah terbayang bahwa aku akan mampu berjalan hingga bulan ke sembilan di tahun penuh kejutan ini. Entah apa yang telah dirancang oleh semesta, sehingga setiap perjalanan ini tercipta dengan penuh pelajaran di dalamnya. Setidaknya hingga kini aku masih sangat amat bersyukur bahwa dari banyak pelajaran yang ada, aku menemukan satu jawaban dari doa-doaku belasan tahun ini.




Kamu.


Tatapan mata yang selalu kuhindari sejak dulu.

Aku takut terjatuh semakin dalam pada kenyamanan yang kamu ciptakan.

Setakut itu aku pada kehilanganmu yang kesekian kalinya.

Aku pernah merasakan itu, dan tidak ingin lagi.

Sungguh tidak ingin.


Aku yang kalau dengar lagu Fiersa Besari jadi selalu ingat

kalau gundah itu cuma racun yang membuat kita makin pelik dengan keadaan.

Namun tatapmu senantiasa meneduhkan,

dan pelukmu tak pernah gagal meringankan setiap beban yang ada.



Ajaib ya, semesta memang luar biasa.

Aku takjub dibuatnya.

Semudah itu segala sesuatu bisa diputar balik dan dirancang seturut takdir.

Mungkin memang ini jalannya. Aku dan kamu yang kembali bertemu.

Aku yang jatuh dalam kenyamanan, kamu yang takut menjadi nyaman,

kita yang akhirnya saling menyamankan satu sama lain.

Beragam cara semesta membuat kita jatuh,

namun selalu ada alasan untuk bangkit dan kembali melangkah.


Hari ini, pembuka yang baik untuk bulan yang penuh ceria.

Betapa indah setiap pagiku masih bisa mendengar suaramu meski dari kejauhan.

Mendekapmu dalam setiap perjalanan kita membelah jalanan kota.

Langkah kaki kita masih teramat jauh dari bahagia,

namun aku percaya kelak akan tiba kembali masanya kita menemukan bahagia yang kita harap.



Semoga saja setiap harap ini lekas terjawab.



Tetaplah membuatku selalu belajar menjadi yang lebih baik

dan lebih berani bermain rasa dalam setiap masak-masak

atau percobaan membuat sesuatu setiap akhir pekan.


Tetaplah menjadi alasanku mendengar lagu-lagu cinta Glenn Fredly,

Reza Artamevia, Ed Sheeran dan Lionel Richie.

Pamungkas juga. Lagunya romantis, beda sama kamu.


Tapi sayangnya mereka hanya bisa membuatku suka dengan lagunya,

bukan jatuh cinta seperti aku padamu.





Tetaplah disini, tetaplah meneduhkan.

Tetaplah ada dalam setiap perjalanan dan kesempatan.




Entah baik, buruk, maupun menegangkan.

Kelak akan kita temukan jawaban atas harap-harap cemas yang meragukan.



Amin.





Selasa, 28 April 2020

DAN TERJADI LAGI





Untuk kesekian kalinya,
apakah pertahananku selama beberapa waktu ini harus hancur begitu saja?

Hanya karena kamu yang begitu manisnya mewarnai gelap malamku,
mengalahkan cahaya gemintang dibalik atap rumahku.
Sehari, dua hari, sepanjang hari, bahkan merasuk ke dalam mimpi.

Haruskah ini terjadi lagi?



Dulu kamu pernah bilang,
“Apapun yang terjadi, kita jalani saja setiap prosesnya…”

Untaian kalimat rayu itu seolah makin meyakinkan aku bahwa
‘oke, tak apa jika kita melangkah saja kedepan, 
toh berjalan ke belakang hanya akan membuatmu tersandung.’


Katamu semuanya oke,
asalkan tidak putar balik.

Lantas, pabila didepan ada jurang,
kamu juga akan menjeratku ke dalamnya?



Aku dengan banyak usahaku 
mencoba sesulit mungkin untuk menjadi biasa saja.
Tak mau menjadikanmu yang teristimewa,
karena kau juga tak menempatkanku pada letak yang sama.


Aku tahu.
Iya, kamu mungkin tidak sadar
bahwa aku sudah sepandai ini sekarang.


Aku dengan banyak tipu dayaku sendiri 
mencoba menjadi pembohong, 
bahkan hingga muslihatku lelah 
untuk bekerjasama memudarkan segalanya.


Bagaimana bisa aku menjadi biasa-biasa saja?
coba jelaskan dengan seksama!


Bahkan jika nantinya harus terulang kembali,
toh kamu juga yang akan menyalahkanku.


Aku.
Pasti aku yang kamu bodoh-bodohi
karena tak mampu bertahan menjadi sedikit lebih egois.


Mungkin nanti aku tak bisa menyalahkanmu.
Sungguh, tidak juga menyalahkan diriku sendiri.
Apalagi menyalahkan waktu.


Mungkin setiap kebohongan ini paling pantas disalahkan.
Setiap kesengajaan yang kita buat untuk terjadi,
Setiap jalan yang aku kira punya rahasianya tersendiri,
namun makin kesini makin membuat bimbang nurani.


Aku dengan benteng pertahanku yang mulai retak ini,
yang mulai semakin membutuhkanmu.



Sehebat itu ya...


Aku takjub.



Sepertinya skenario ini belum selesai.



Ini bukan hanya tentang rasaku yang dengan egois kuhapus untukmu,
tapi tetap tersisa barang satu atau dua kata.

Ini tentang setiap waktu yang sekarang semakin memburu,
menusuk bak pemburu binatang di luasan hutan.

Apakah bidikannya nanti akan tepat sasaran,
atau malah melukai pepohonan yang tak tahu menau tentang cemburu?



Entahlah, hanya saja,
pukul sepuluh pagi ini, aku mulai resah.



Dan apabila ini menjadi pertanda dari sebuah pergi,
aku harap kamu baik-baik saja,
dimanapun dan dengan siapapun yang membuatmu begitu bahagianya.


Begitupula aku,
semoga baik-baik saja
dengan banyak usaha saling membahagiakan ini.




“Tenang saja, nggak akan ada apa-apa,”


Iya. Semoga tidak akan ada apa-apa.

Cukup seperti ini saja.


Semoga saja.

Semoga tidak terulang kembali.








Senin, 06 April 2020

Untuk Aprilku Sayang




Hai, April!

Lamaaa sekali kita tidak saling bercerita.
Banyak yang ingin kusampaikan padamu...


Sesungguhnya, aku terlampau bosan membahas banyak dongeng 
yang Januari, Februari dan Maret sempat sampaikan padaku. 


Bercerita kembali tak ubahnya membuka sebuah kotak manis penuh misteri yang kusimpan. Rasanya ingin sekali membukanya berulang, sekadar menertawakan kelucuan atau mengobati kerinduan. Namun aku ingat bahwa membukanya hanya menimbulkan penasaran, kekecewaan, dan penyesalan atas apa yang pernah ada.


Oh, tapi tidak juga sih. 
Aku dan banyak penasaranku sudah sepakat untuk merelakan segalanya. 
Apa yang seharusnya menjadi kecewa, 
apa yang mungkin sudah selayaknya terjadi namun tak direstui oleh semesta. 


Kukira semesta masih mau bercanda, 
namun sepertinya dia juga lelah mempermainkan perasaan kami, 
para tokoh-tokoh yang ada didalam dongengnya. 


Ah, yasudahlah. 
Hanya ‘yasudahlah’ yang hingga kini bisa kusampaikan 
sembari tersenyum getir 
(namun kucoba agar terlihat sedikit lebih manis, 
atau paling tidak sama manisnya seperti Sang Pelipur Lara).



April, terimakasih untuk banyak ujian menuju kehebatan ini.
 Aku bersyukur masih bisa menyambutmu dalam segala aspek kekurangan yang ada. 

Bersyukur karena ditengah wabah, ditengah kejauhan, 
dan ditengah kelelahan yang menyelimuti tubuh penuh beban ini, 
kamu masih mengirimkan beberapa bahagia yang tak terduga. 

Terimakasih karena entah bagaimana 
selalu ada saja yang membuatku tersenyum setiap harinya.
Selalu ada satu dua cerita yang terulang dan pantas untuk ditertawakan. 

Terimakasih untuk banyak kekuatan itu. 
Sejauh ini sangat amat berharga untuk aku jadikan alasan bertahan.



Sore ini, 
dikala hujan yang cukup deras, 
terimakasih juga 
karena kamu masih memperbolehkan aku mengucapkan berbagai rasa syukurku. 


Terimakasih karena hujan ini membuat aku semakin merindu. 
Sampaikan rindu ini pada yang tepat saja ya, 
jangan pada yang merapat hanya untuk beradu rasa dalam debat.



Semoga setiap rintik hujan ini mampu menghapus setiap luka 
agar lekas kau balut dengan bahagia. 
Semoga deras airnya mampu meredupkan banyak jahat 
dan sakit yang tersebar dimana-mana. 
Semoga setelahnya kamu juga mengirimkan pelangi yang manis, 
sebagai penanda bahwa semesta sudah mengakhiri banyak bercanda. 




Ayolah, April!

Aku rindu sekali dengan segala sesuatu yang seperti biasanya. 
Aku rindu berjumpa dengan banyak manusia, 
meski kadang bukan aku yang mereka harapkan ada.



Aprilku sayang, 
jadilah membaik diantara segala yang pernah memperbaiki 
namun belum cukup sempurna. 



Semoga masih dan selalu ada indah 
dalam bahagia kita yang akan datang. 
Terimakasih sekali lagi.


Semangat terus ya, 
aku tunggu kabar baiknya :)



Kamis, 08 Agustus 2019

Sambat

Sekitar 3 tahun lalu di sebuah sekretariat unit kegiatan mahasiswa, ada segerombolan mahasiswa yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang menyelesaikan laporan praktikum, ada yang baru garap tugas, ada yang latihan presentasi, ada yang tidur, ada yang cuma ngadem nungguin kelas selanjutnya. Aku salah satu diantaranya. Aku lagi apa ya pas dulu itu? Lupa.

Oh ingat. Lagi sambat.
"Ih ngeselin banget sih"
Lalu yang lagi tiduran sedari tadi tiba-tiba nyautin. "Kenapa sih?"
Aku yang masih kesel sendiri akhirnya cerita panjang lebar. Kurang lebih ada 3 SKS sendiri dengan judul 'Teman Sekelompok Tugasku Nggak Mau Kerja'.

Lalu si orang yang dari tadi tiduran tapi tetap terlihat tampan ini tersenyum. Entah karena gaya berceritaku, entah karena dia geli sendiri, entah karena mau nanggepin aja daripada nyuekin. Dia berkata dalam suara nya yang enteng, nggak seberat beban pikirannya saat itu. "Yaudah lah, selo ajaaa, nggak usah dijadiin beban. Kalau kamu dipercaya melakukan sesuatu, berarti kamu keren."

Haha. Aku tertawa. Iya, keren. Tapi lelah juga ya kalau apa-apa harus kulakukan sendiri. Lantas aku pergi dari ruangan kecil penuh misteri akan keajaiban cinta itu. Aku bergegas menuju kelasku di kampus satunya. Waktu yang sangat mepet membuatku benar-benar terburu-buru berkemas.

"Aku kelas dulu yaaa.." pamitku kepada mereka yang masih berada disana. Saat hendak keluar pintu dan memakai sepatuku, si tampan tadi mendongak ke arahku. "Lun, jangan sambat terus dong. Kamu tau nggak, setiap satu kali kamu sambat, akan ada satu pohon di hutan sana yang ditebang."

Aku terdiam. Nggak jadi pakai sepatu.
"Mana ada?" Heran aku dibuatnya. Dia memang sering punya pendapat dari pemikiran-pemikiran anehnya. Tapi tak jarang pemikirannya nampak keren. Ya emang keren, hehe.

"Iya. Beneran. Makanya jangan sambat ya. Sambatanmu itu mengalihkan duniaku."
Aduh. Tuh dia itu sukanya bikin melayang. Daripada keterusan, akhirnya aku pergi.

Hari ini, sore yang cukup cerah ini, aku tiba-tiba ingat kalimatnya. Kalimat petuah tentang sambat itu mengusik pikiranku lagi.

Entah mengapa, semenjak kemarin pikiranku kalut. Gelisah tidak jelas selalu melingkupi isi hatiku. Ada apa gerangan dengan ini semua? Adakah penanda bagi rasa yang sangat tidak nyaman ini?

Tadinya aku kira aku hanya sekedar rindu. Rindu pada sosok-sosok pembuat candu dalam kelabuku. Rindu pada dia yang bukan punyaku tapi selalu mengusik hati dan pikiranku. Tapi menatapnya dalam kegelapan nyatanya tak serta merta menghilangkan gundahku.

Jangankan gelap, menggenggam tangannya dalam terang benerang pun masih membuatku kalut. Heran. Ada apa denganku? Akankah ini bagian dari rasa-rasa hampa yang perlahan mengikutiku?

Atau kurasa ini hanya rangkuman dari sisa-sisa kelelahan dan flu berat sejak seminggu lalu itu. Sepertinya benar. Aku harus mencari obat untuk sakit dan gelisah ini.


Lantas aku pergi. Toh dia juga pergi terlebih dahulu. Kebiasaan. Selama ini memang nggak merasa ditunggu. Pas datang, tiba-tiba pergi meninggalkan. Selama ini memang nggak merasa dikhawatirkan. Seandainya dia tau alasanku pergi jauh hanya untuk melihatnya. Yaaa, setidaknya aku tau dia baik-baik saja.

Dia memang baik.
Tapi aku tidak.
Aku tidak sedang baik-baik saja.
Aku yang entah kenapa malah pergi jauh sekali. Berlari dari beberapa hal yang harusnya kusampaikan sedari dulu, namun tak mampu.

Ternyata filosofi hidup itu kadang-kadang benar juga ya. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, hanya kepada Tuhan-lah seharusnya kita berserah. Seperti apapun yang ada di dunia, kelak akan mati juga dan berpulang kepada Tuhannya masing-masing. Lalu aku pergi saja kerumah Tuhan. Mau mencari yang katanya ketenangan.

Tuhan pasti lagi ketawa ini. 


Menertawai aku yang begitu bodohnya. Kalau pas lagi senang ya senang-senang terus, kalau pas punya banyak rezeki malah boros untuk yang tidak-tidak,  kalau pas lagi begitu manusia nya jarang bersyukur. Giliran rindu, minta tolong kirim pesannya lewat doa. Halah.

Seperti aku, yang pas gelisah malah larinya kesini. Takut tiba-tiba di chat sama Tuhan. "Kemana aja lu? Pas butuh baru nyariin. Basi."


Untung dirumah Tuhan nggak ada wifi. Eh tapi pasti Doi punya paketan, nggak kaya aku yang paketannya only chat (padahal nggak ada yang ngechat juga).

Aneh ya. Lucu.
Sambat sama orang cuma bisa diketawain, disukur-sukurin, dinasehatin semampunya. Tapi kalau sambat sama Tuhan, didiemin aja. Diem dulu. Nanti juga dibales kalau udah tepat waktunya.

Untung Tuhan nggak teralihkan dunia-nya ya karena aku sambat terus. Padahal belakangan ini lagi sok-sokan nggak punya doa yang mau disampaikan. Lalu mungkin si Tuhan gabut karena aku jarang berdoa, sampai-sampai Dia membuat aku resah, hingga harus kesini juga akhirnya.

Bagus deh. Tuhan emang paling keren. Tau banget manusia butuhnya pas dimana hehehe. Kalau Tuhan baca, jangan lupa like and share ya.

Aku mau diem dulu. Biar dibales chatnya sama Tuhan. Soalnya kalau sama dia cuma dianggurin. Boro-boro di bales, di read aja enggak. Susah emang kalau ngechat yang banyak fansnya. Untung dia bukan Tuhan yang banyak umatnya. Tuhan aja sempat balas pesanku, dia mah sibuk terus.


Sibuk sambat sama Tuhan yang lain.




Senin, 20 Mei 2019

Aku Lelakimu



Kasih yang paling tulus memang tak selalu hadir dari setiap manusia disekitar kita. Ratusan bahkan ribuan teman pun tak mampu menyempurnakan kasih yang ikhlas itu. Entah karena semu semata, atau memang takdir selalu menerapkan prinsip serupa, dimana kita akan selalu bertemu dengan manusia yang baru, sementara yang lama akan perlahan-lahan lenyap seiring kenangan indahnya.
 
Kini aku harusnya lebih banyak bersyukur, tersenyum, dan memulai banyak kegiatan baru yang lebih berguna. Namun aku masih saja ada disini, dalam sebuah kotak-kotak perasaan yang kuciptakan sendiri. Kotak yang hadir berkat banyak bahan bangunan dan rekat dalam adonan semen yang kau bantu menyusunnya kala itu. Kau yang kini entah ada dimanapun aku tak tau, bahkan kamu tak pernah merasa aku begitu penting untuk mengetahuinya. Padahal kerap aku gelisah, bertanya-tanya apakah kamu masih baik-baik saja dengan sepi yang ada disana. Tapi nampaknya kamu baik. Setidaknya kamu cukup pandai menjadi baik.

Seperti pula aku yang cukup pandai bermain rahasia. Aku punya rahasia yang kamu tak pernah tau. Satu dunia yang begitu indah ini tau, tapi tidak denganmu. Kamu memang paling pandai berpura-pura tidak mengetahuinya. Hebat, aku salut atas pendirianmu itu. Tapi, lewat barisan-barisan yang kubuat tengah malam ini, jika kamu kelak membacanya, aku ingin kamu tau, ini untukmu.


Malam itu diatas rel panjang kepulanganku kerumah, aku tiba-tiba teringat akan kamu. Tak perlu jauh-jauh terlintas dalam kecepatan kereta jarak jauh, bahkan setiap langkahku menuju, aku teringat akan kamu. Entah kamu hantu, atau selebriti macam apa yang entah bagaimana bisa selalu menghiasi pikiranku. Oh, menghantui maksudku. Bahkan Tuhan saja tak setiap saat ada di otakku.


Sama seperti malam itu.
Hujan diluar sana.
Dingin didalam sini.
Apa kabar kamu yang baru kutinggal sebentar saja?
Masihkah baik-baik saja dengan banyak ragumu setiap waktu?
Semoga baik. Kamu kan pandai menjadi baik, begitu pula kala bersamaku.


Malam-malam panjang, aku memutar lagu ini. 
Lagu yang kuharap suatu saat kamu senandungkan untukku. 
Atau setidaknya kamu share link youtube nya supaya aku tonton sendiri saat sudah terkoneksi dengan jaringan wifi.
Tapi bahkan kamu tak tau lagu ini.



Virzha bilang, aku boleh datang ketika aku menangis. 
 Aku boleh bercerita apapun yang aku mau. 
Tapi kamu tak ada saat tadi aku menangis dan ingin bercerita sedikit saja padamu. 

 

 
Virzha bilang aku harus percaya padamu,
tapi banyak percayaku seringkali kamu patahkan dengan kepalsuan.





  
Aku tau aku bukan ratu rintik dalam hujan yang harus kamu tadahi dengan nampan dan harapan. Namun senja kukira akan turut menangis, sama sepertiku menangis semalam. Senja yang pernah kita lewati bersama. Senja yang ditemani hujan deras, lalu kamu datang dalam gundah dan kecemasan.


“Ada apa?”
tanyaku seolah aku tak tau masalahmu.
Aku memang tak tau.
Kamu pun lebih tidak tau dariku.



“Beri aku satu alasan untuk bertahan,”
katamu lirih.





Kamu salah, Sayang. Ini bukan waktu yang tepat untuk aku memberikan alasan itu. Akupun saat itu butuh alasan untuk kembali berjuang. Lantas kamu hanya tersenyum, menarik kembali perkataanmu. Aku tak pernah suka kamu yang seperti ini, seakan kalah oleh dunia ini, seolah paling kuat dan bijaksana padahal amat lemah dalam rengek tangis kegelisahan. Tetapi nampaknya aku lebih mengalah dari kegelisahan rasa ini.


Aku bingung. 
Harusnya ini bukan saat yang tepat untuk menulis kisahmu. 
Tapi aku muak.





Aku lelah selalu saja mencoba mengalah, lelah untuk bertahan pada pendirianku yang sok hebat ingin menciptakan bahagiaku sendiri. Padahal seminggu saja bertahan, aku sudah jatuh lagi padamu. Aku jatuh dan jatuh lagi. Bagai jurang yang begitu dalamnya, tali apapun yang kupegang erat akan tetap menjatuhkanku padamu.




Aku ingin lupa, tapi jadi terluka.
Saat tak kulupakan, 
malah semakin mengecewakan.






Teryata Virzha bohong!
Aku mulai tak bisa percaya pada siapapun diluar sana yang berkata-kata manis padaku. 
Aku mulai menanam dalam perasaan ini, namun tanahnya kerap kau buat longsor dalam sekali sentuhan.


Sial.


Virzha mungkin sebenarnya tak bohong.
Dia memang lelakiku.
Dia yang begitu tulusnya mencintaiku melebihi diriNya sendiri,
tapi aku sering tak menyadari.

Kamu toh juga sering tak sadar diri sepertiku ini.
Biarpun pada pukul 11.34 jumat itu Dia tak mengatakan sayang padaku, 
tapi aku tau, Dia lelakiku. 



Bukan kamu.












Kamis, 01 November 2018

Namun Sepertinya



Aku percaya bahwa di dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang bercanda. Semua hal itu serius adanya. Kadang kita membawa rasa dan jiwa ini kepada sebuah zona kenyamanan yang menciptakan dinamika berirama santai, bahagia, tertawa. Namun kerap kali kita membutuhkan waktu untuk setegas dan setegang itu agar tercipta tujuan-tujuan yang nyata. Dan bersamamu, iya, kamu. Bersama kamu yang sekarang membaca tulisanku ini, kuciptakan ragam kisah dalam hidupku.

Aku tau dalam hening doaku selalu terucap namamu. Aku tau dalam keseriusan percakapanku pada Tuhan, Ia pun paham betapa aku amat berharap padaNya. Akan tetapi, sekeras apapun aku mencoba terdiam, kerap kali kamu mengusik ketenanganku. Tidak bisakah sekali saja aku larut dalam hening ini tanpa tersirat tawamu?

Kamu selalu begitu, Sayang.


Selalu saja menghadirkan tawa dan canda dalam hidupku.
Bolehkah esok hari kita berdiam bersama? 
Berkata-kata dalam hati saja, 
saling mendoakan agar bahagia senantiasa terasa di hati, 
bukan hanya terlintas di tawa manismu setiap hari.



Aku tau itu kekuatanmu.

Aku tau kamu sekuat bara api yang menyala-nyala.
Sumber ketenangan dan ambisi yang tak mampu digambarkan oleh kata-kata. 
Kamu begitu kokoh, sulit untuk dipatahkan. 
Kamu membara bak seorang raja, penguasa alam raya. 
Kamu kuat, Sayang. 

Namun kamu tak sehebat hembus angin sore ini.
Hembusan itu mematahkan setiap dahan di keteduhanku.
Hembusan itu sendu, syahdu, namun mematikan.
Bahkan apimu pun padam karena tiup anginnya.

Lantas, hendak menjadi kuat seperti apa lagi kamu?
Dengan massa tak nampak saja kamu kalah, 
lalu, kuasa mana lagi yang mampu membantumu menari ria diatas sana?



Sudah, Sayang.
Beristirahatlah.
Aku tau kamu lelah.



Mendaki dari titik terendah hingga puncak itu butuh waktu.
Tenagamu habis untuk melaju.
Kamu tau itu berat, namun kamu kuat.
Kamu tau itu sulit, namun kamu tetap bangkit.
Lelahkah kamu?
Kesal?

Aku juga.
Aku lelah.
Aku kesal.
Mengapa selalu seperti ini sepanjang waktu.
Selalu saja aku dan kamu.
Selalu saja ini dan itu.
 
Namun lelahku sirna kala senyumanmu merekah.
Lelah kita bersama lebur seketika.


Aku tak pernah menyangka kamu berubah menjadi sekuat ini.
Aku tak tau dari mana asalnya keberanianmu tatkala malam ditengah hutan, menyusuri jalan bebatuan, merasakan hawa aneh di kiri kanan, namun lenganmu selalu ada.
“Kamu jangan takut, pegangan.”
Katamu tengah malam dalam kedinginan.

Aku juga tak tau darimana asalmu datang.
Hebat sekali jika sang waktu bisa mendatangkan sosokmu dihadapanku.

Aku tak tau alasanmu datang,
Yang aku tau hanya ingin ikut bersenang-senang,
Bukan menemaniku menangisi kebodohan.
Bukan merangkulku kala malam menerjang,
 dingin mencekam, dan Dia tak menyadari jua sebab laraku kala itu.




Aku tak tau alasanmu hadir disana.
Berkata, 
“Sudah, tiada yang perlu kau tangisi.”

Mengelus pelan lenganku, merangkulku untuk kembali ke kamar.
“Beristirahatlah.
Kamu begitu penting bagi dunia ini.
Besok kamu harus bangun pagi,”


Iya, Sayang.
Esok aku akan menyapamu 
kala mentari ini mengganti hangatnya genggam tanganmu.

Iya,

Aku mengerti sekarang.
Aku tak seharusnya menangisi sebuah kehilangan.
Belum saatnya aku menangis.
Belum waktunya aku memelukmu lebih dalam.



Aku masih saja mencari-cari sosokmu di setiap pagi,

Di setiap hari kala hujan menghampiri,
Di setiap doa ku berakhir petang itu,
Di setiap langkah kaki menghampiri pintu besi,
Di setiap pemberhentian siang nanti,

Aku masih saja mencarimu.

Mencari kamu yang bahkan 
tidak melihatku barang sebelah mata.



Salahkah aku terjatuh pada kesementaraan ini?
Aku tau.

Iya.
Aku tau sebentar lagi kita melebur beda.
Tiada lagi kita dalam dunia nyata.


Aku tak bisa lagi melihat mereka yang berusaha sekeras tenaga menghibur laraku tanpamu. Aku tak bisa lagi menyadari setiap bunga yang diberikannya dibawah terik mentari, tak merasa lagi hembus angin buatan yang berusaha diberikannya padaku, tiada lagi kesegaran air pegunungan yang membasuh wajahku.


Disana hanya ada kamu,
Yang terlalu semu kuharap sepanjang waktu,

Yang bahkan detik ini saja masih membuat aku merasakan pilu.




Sayang, membacakah kamu suratku yang lalu?



Maka kelak kamu akan menyadari betapa sayangku bagimu mengalahkan 31 hari di bulan ini.
Iya.
Sepertinya aku masih menyayangimu hingga bulan ini berakhir.
Hingga entah kapan,
Namun aku tetap sayang.





Bisakah kita tetap menjadi teman?