Sabtu, 09 September 2017

Menyapu Debu


Ratusan kali sudah kusapu tempat ini. 
Memang tak seluas lapangan bola, tapi cukup lelah juga jika kuulang beberapa kali. 
Berulang kali, sepanjang hari, selalu saja sapuku menari diatas tempat ini. 
Hanya sekedar menyapu debu yang terus datang menghampiri
Ratusan kali sudah kupingku pengang dibuatnya. 
Suara tiupan angin penghantar debu, suara desir udara yang perlahan merubah waktu. 


Sayangnya ia hanya bisa merubah waktu, bukan hatimu.
 

Setelah kupikir-pikir, makin kesini kamu makin mirip dengan debu-debu itu. 
Berapa kalipun kucoba untuk menyapunya agar bersih dari noda, toh kamu tetap datang dan meninggalkan jejak kenangan. 
Sungguh, itu sulit untuk dilupakan.


Tatkala aku sudah berinisiatif untuk menyapu debu itu, ia malah datang semakin banyak. Membuatku semakin sulit membersihkan ruang ini dari kamu. 
Aku tahu mungkin niatmu tidaklah sama dengan debu itu.
Mungkin waktu masih ingin mempertemukan kita, tapi, hati memang tak pernah berniat menemukanku dengan kamu.



Pagi tadi untuk kesekian kalinya aku menyapu lagi. 
Ah, sudahlah, tak apa, pikirku tadi. 
Toh bersih ini membuatku nyaman meski hanya beberapa saat. 
Tapi sore malah membawamu datang kembali. 
Debu sore ini malah menghadiahkan kenyamanan yang lebih daripada bersih. 
Itu dia. Sialnya, kamu selalu memberi rasa nyaman itu.




Lalu kini aku harus apa?


Menyapu lagi hingga aku lelah mencoba,


Atau membiarkan debumu tetap ada?