Ratusan
kali sudah kusapu tempat ini.
Memang tak seluas lapangan bola, tapi cukup lelah
juga jika kuulang beberapa kali.
Berulang kali, sepanjang hari, selalu saja
sapuku menari diatas tempat ini.
Hanya sekedar menyapu debu yang terus datang
menghampiri
Ratusan kali sudah kupingku pengang dibuatnya.
Suara tiupan angin
penghantar debu, suara desir udara yang perlahan merubah waktu.
Sayangnya ia
hanya bisa merubah waktu, bukan hatimu.
Setelah
kupikir-pikir, makin kesini kamu makin mirip dengan debu-debu itu.
Berapa
kalipun kucoba untuk menyapunya agar bersih dari noda, toh kamu tetap datang
dan meninggalkan jejak kenangan.
Sungguh, itu sulit untuk dilupakan.
Tatkala aku
sudah berinisiatif untuk menyapu debu itu, ia malah datang semakin banyak. Membuatku
semakin sulit membersihkan ruang ini dari kamu.
Aku tahu mungkin niatmu
tidaklah sama dengan debu itu.
Mungkin waktu masih ingin mempertemukan kita,
tapi, hati memang tak pernah berniat menemukanku dengan kamu.
Pagi tadi
untuk kesekian kalinya aku menyapu lagi.
Ah, sudahlah, tak apa, pikirku
tadi.
Toh bersih ini membuatku nyaman meski hanya beberapa saat.
Tapi sore
malah membawamu datang kembali.
Debu sore ini malah menghadiahkan kenyamanan yang
lebih daripada bersih.
Itu dia. Sialnya, kamu selalu memberi rasa nyaman itu.