Oh ingat. Lagi sambat.
"Ih ngeselin banget sih"
Lalu yang lagi tiduran sedari tadi tiba-tiba nyautin. "Kenapa sih?"
Aku yang masih kesel sendiri akhirnya cerita panjang lebar. Kurang lebih ada 3 SKS sendiri dengan judul 'Teman Sekelompok Tugasku Nggak Mau Kerja'.
Lalu si orang yang dari tadi tiduran tapi tetap terlihat tampan ini tersenyum. Entah karena gaya berceritaku, entah karena dia geli sendiri, entah karena mau nanggepin aja daripada nyuekin. Dia berkata dalam suara nya yang enteng, nggak seberat beban pikirannya saat itu. "Yaudah lah, selo ajaaa, nggak usah dijadiin beban. Kalau kamu dipercaya melakukan sesuatu, berarti kamu keren."
Haha. Aku tertawa. Iya, keren. Tapi lelah juga ya kalau apa-apa harus kulakukan sendiri. Lantas aku pergi dari ruangan kecil penuh misteri akan keajaiban cinta itu. Aku bergegas menuju kelasku di kampus satunya. Waktu yang sangat mepet membuatku benar-benar terburu-buru berkemas.
"Aku kelas dulu yaaa.." pamitku kepada mereka yang masih berada disana. Saat hendak keluar pintu dan memakai sepatuku, si tampan tadi mendongak ke arahku. "Lun, jangan sambat terus dong. Kamu tau nggak, setiap satu kali kamu sambat, akan ada satu pohon di hutan sana yang ditebang."
Aku terdiam. Nggak jadi pakai sepatu.
"Mana ada?" Heran aku dibuatnya. Dia memang sering punya pendapat dari pemikiran-pemikiran anehnya. Tapi tak jarang pemikirannya nampak keren. Ya emang keren, hehe.
"Iya. Beneran. Makanya jangan sambat ya. Sambatanmu itu mengalihkan duniaku."
Aduh. Tuh dia itu sukanya bikin melayang. Daripada keterusan, akhirnya aku pergi.
Hari ini, sore yang cukup cerah ini, aku tiba-tiba ingat kalimatnya. Kalimat petuah tentang sambat itu mengusik pikiranku lagi.
Entah mengapa, semenjak kemarin pikiranku kalut. Gelisah tidak jelas selalu melingkupi isi hatiku. Ada apa gerangan dengan ini semua? Adakah penanda bagi rasa yang sangat tidak nyaman ini?
Tadinya aku kira aku hanya sekedar rindu. Rindu pada sosok-sosok pembuat candu dalam kelabuku. Rindu pada dia yang bukan punyaku tapi selalu mengusik hati dan pikiranku. Tapi menatapnya dalam kegelapan nyatanya tak serta merta menghilangkan gundahku.
Jangankan gelap, menggenggam tangannya dalam terang benerang pun masih membuatku kalut. Heran. Ada apa denganku? Akankah ini bagian dari rasa-rasa hampa yang perlahan mengikutiku?
Atau kurasa ini hanya rangkuman dari sisa-sisa kelelahan dan flu berat sejak seminggu lalu itu. Sepertinya benar. Aku harus mencari obat untuk sakit dan gelisah ini.
Lantas aku pergi. Toh dia juga pergi terlebih dahulu. Kebiasaan. Selama ini memang nggak merasa ditunggu. Pas datang, tiba-tiba pergi meninggalkan. Selama ini memang nggak merasa dikhawatirkan. Seandainya dia tau alasanku pergi jauh hanya untuk melihatnya. Yaaa, setidaknya aku tau dia baik-baik saja.
Dia memang baik.
Tapi aku tidak.
Aku tidak sedang baik-baik saja.
Aku yang entah kenapa malah pergi jauh sekali. Berlari dari beberapa hal yang harusnya kusampaikan sedari dulu, namun tak mampu.
Ternyata filosofi hidup itu kadang-kadang benar juga ya. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, hanya kepada Tuhan-lah seharusnya kita berserah. Seperti apapun yang ada di dunia, kelak akan mati juga dan berpulang kepada Tuhannya masing-masing. Lalu aku pergi saja kerumah Tuhan. Mau mencari yang katanya ketenangan.
Tuhan pasti lagi ketawa ini.
Menertawai aku yang begitu bodohnya. Kalau pas lagi senang ya senang-senang terus, kalau pas punya banyak rezeki malah boros untuk yang tidak-tidak, kalau pas lagi begitu manusia nya jarang bersyukur. Giliran rindu, minta tolong kirim pesannya lewat doa. Halah.
Seperti aku, yang pas gelisah malah larinya kesini. Takut tiba-tiba di chat sama Tuhan. "Kemana aja lu? Pas butuh baru nyariin. Basi."
Untung dirumah Tuhan nggak ada wifi. Eh tapi pasti Doi punya paketan, nggak kaya aku yang paketannya only chat (padahal nggak ada yang ngechat juga).
Aneh ya. Lucu.
Sambat sama orang cuma bisa diketawain, disukur-sukurin, dinasehatin semampunya. Tapi kalau sambat sama Tuhan, didiemin aja. Diem dulu. Nanti juga dibales kalau udah tepat waktunya.
Untung Tuhan nggak teralihkan dunia-nya ya karena aku sambat terus. Padahal belakangan ini lagi sok-sokan nggak punya doa yang mau disampaikan. Lalu mungkin si Tuhan gabut karena aku jarang berdoa, sampai-sampai Dia membuat aku resah, hingga harus kesini juga akhirnya.
Bagus deh. Tuhan emang paling keren. Tau banget manusia butuhnya pas dimana hehehe. Kalau Tuhan baca, jangan lupa like and share ya.
Aku mau diem dulu. Biar dibales chatnya sama Tuhan. Soalnya kalau sama dia cuma dianggurin. Boro-boro di bales, di read aja enggak. Susah emang kalau ngechat yang banyak fansnya. Untung dia bukan Tuhan yang banyak umatnya. Tuhan aja sempat balas pesanku, dia mah sibuk terus.
Sibuk sambat sama Tuhan yang lain.