Kasih yang paling tulus
memang tak selalu hadir dari setiap manusia disekitar kita. Ratusan bahkan
ribuan teman pun tak mampu menyempurnakan kasih yang ikhlas itu. Entah karena
semu semata, atau memang takdir selalu menerapkan prinsip serupa, dimana kita
akan selalu bertemu dengan manusia yang baru, sementara yang lama akan
perlahan-lahan lenyap seiring kenangan indahnya.
Kini aku harusnya lebih
banyak bersyukur, tersenyum, dan memulai banyak kegiatan baru yang lebih
berguna. Namun aku masih saja ada disini, dalam sebuah kotak-kotak perasaan
yang kuciptakan sendiri. Kotak yang hadir berkat banyak bahan bangunan dan
rekat dalam adonan semen yang kau bantu menyusunnya kala itu. Kau yang kini
entah ada dimanapun aku tak tau, bahkan kamu tak pernah merasa aku begitu
penting untuk mengetahuinya. Padahal kerap aku gelisah, bertanya-tanya apakah
kamu masih baik-baik saja dengan sepi yang ada disana. Tapi nampaknya kamu
baik. Setidaknya kamu cukup pandai menjadi baik.
Seperti pula aku yang cukup pandai
bermain rahasia. Aku punya rahasia yang kamu tak pernah tau. Satu dunia yang
begitu indah ini tau, tapi tidak denganmu. Kamu memang paling pandai berpura-pura
tidak mengetahuinya. Hebat, aku salut atas pendirianmu itu. Tapi, lewat
barisan-barisan yang kubuat tengah malam ini, jika kamu kelak membacanya, aku
ingin kamu tau, ini untukmu.
Malam itu diatas rel panjang
kepulanganku kerumah, aku tiba-tiba teringat akan kamu. Tak perlu jauh-jauh
terlintas dalam kecepatan kereta jarak jauh, bahkan setiap langkahku menuju,
aku teringat akan kamu. Entah kamu hantu, atau selebriti macam apa yang entah
bagaimana bisa selalu menghiasi pikiranku. Oh, menghantui maksudku. Bahkan
Tuhan saja tak setiap saat ada di otakku.
Sama seperti malam itu.
Hujan diluar sana.
Dingin didalam sini.
Apa kabar kamu yang baru kutinggal
sebentar saja?
Masihkah baik-baik saja dengan banyak ragumu setiap waktu?
Semoga baik. Kamu kan pandai menjadi baik, begitu pula kala bersamaku.
Malam-malam panjang, aku
memutar lagu ini.
Lagu yang kuharap suatu saat kamu senandungkan untukku.
Atau
setidaknya kamu share link youtube nya supaya aku tonton sendiri saat sudah
terkoneksi dengan jaringan wifi.
Tapi bahkan kamu tak tau lagu ini.
Virzha bilang, aku boleh
datang ketika aku menangis.
Aku boleh bercerita apapun yang aku mau.
Tapi kamu
tak ada saat tadi aku menangis dan ingin bercerita sedikit saja padamu.
Virzha
bilang aku harus percaya padamu,
tapi banyak percayaku seringkali kamu patahkan
dengan kepalsuan.
Aku tau aku bukan ratu
rintik dalam hujan yang harus kamu tadahi dengan nampan dan harapan. Namun
senja kukira akan turut menangis, sama sepertiku menangis semalam. Senja yang
pernah kita lewati bersama. Senja yang ditemani hujan deras, lalu kamu datang
dalam gundah dan kecemasan.
“Ada apa?”
tanyaku seolah
aku tak tau masalahmu.
Aku memang tak tau.
Kamu pun lebih tidak tau
dariku.
“Beri aku satu alasan untuk
bertahan,”
katamu lirih.
Kamu salah, Sayang. Ini
bukan waktu yang tepat untuk aku memberikan alasan itu. Akupun saat itu butuh
alasan untuk kembali berjuang. Lantas kamu hanya tersenyum, menarik kembali
perkataanmu. Aku tak pernah suka kamu yang seperti ini, seakan kalah oleh dunia
ini, seolah paling kuat dan bijaksana padahal amat lemah dalam rengek tangis
kegelisahan. Tetapi nampaknya aku lebih mengalah dari kegelisahan rasa ini.
Aku bingung.
Harusnya ini bukan saat yang
tepat untuk menulis kisahmu.
Tapi aku muak.
Aku lelah selalu saja
mencoba mengalah, lelah untuk bertahan pada pendirianku yang sok hebat ingin
menciptakan bahagiaku sendiri. Padahal seminggu saja bertahan, aku sudah jatuh
lagi padamu. Aku jatuh dan jatuh lagi. Bagai jurang yang begitu dalamnya, tali
apapun yang kupegang erat akan tetap menjatuhkanku padamu.
Aku ingin lupa, tapi jadi
terluka.
Saat tak kulupakan,
malah
semakin mengecewakan.
Teryata Virzha bohong!
Aku mulai tak bisa percaya
pada siapapun diluar sana yang berkata-kata manis padaku.
Aku mulai menanam
dalam perasaan ini, namun tanahnya kerap kau buat longsor dalam sekali
sentuhan.
Sial.
Virzha mungkin sebenarnya tak
bohong.
Dia memang lelakiku.
Dia yang begitu tulusnya mencintaiku melebihi
diriNya sendiri,
tapi aku sering tak menyadari.
Kamu toh juga sering tak
sadar diri sepertiku ini.
Biarpun pada pukul 11.34
jumat itu Dia tak mengatakan sayang padaku,
tapi aku tau, Dia lelakiku.
Bukan
kamu.
