Senin, 20 Mei 2019

Aku Lelakimu



Kasih yang paling tulus memang tak selalu hadir dari setiap manusia disekitar kita. Ratusan bahkan ribuan teman pun tak mampu menyempurnakan kasih yang ikhlas itu. Entah karena semu semata, atau memang takdir selalu menerapkan prinsip serupa, dimana kita akan selalu bertemu dengan manusia yang baru, sementara yang lama akan perlahan-lahan lenyap seiring kenangan indahnya.
 
Kini aku harusnya lebih banyak bersyukur, tersenyum, dan memulai banyak kegiatan baru yang lebih berguna. Namun aku masih saja ada disini, dalam sebuah kotak-kotak perasaan yang kuciptakan sendiri. Kotak yang hadir berkat banyak bahan bangunan dan rekat dalam adonan semen yang kau bantu menyusunnya kala itu. Kau yang kini entah ada dimanapun aku tak tau, bahkan kamu tak pernah merasa aku begitu penting untuk mengetahuinya. Padahal kerap aku gelisah, bertanya-tanya apakah kamu masih baik-baik saja dengan sepi yang ada disana. Tapi nampaknya kamu baik. Setidaknya kamu cukup pandai menjadi baik.

Seperti pula aku yang cukup pandai bermain rahasia. Aku punya rahasia yang kamu tak pernah tau. Satu dunia yang begitu indah ini tau, tapi tidak denganmu. Kamu memang paling pandai berpura-pura tidak mengetahuinya. Hebat, aku salut atas pendirianmu itu. Tapi, lewat barisan-barisan yang kubuat tengah malam ini, jika kamu kelak membacanya, aku ingin kamu tau, ini untukmu.


Malam itu diatas rel panjang kepulanganku kerumah, aku tiba-tiba teringat akan kamu. Tak perlu jauh-jauh terlintas dalam kecepatan kereta jarak jauh, bahkan setiap langkahku menuju, aku teringat akan kamu. Entah kamu hantu, atau selebriti macam apa yang entah bagaimana bisa selalu menghiasi pikiranku. Oh, menghantui maksudku. Bahkan Tuhan saja tak setiap saat ada di otakku.


Sama seperti malam itu.
Hujan diluar sana.
Dingin didalam sini.
Apa kabar kamu yang baru kutinggal sebentar saja?
Masihkah baik-baik saja dengan banyak ragumu setiap waktu?
Semoga baik. Kamu kan pandai menjadi baik, begitu pula kala bersamaku.


Malam-malam panjang, aku memutar lagu ini. 
Lagu yang kuharap suatu saat kamu senandungkan untukku. 
Atau setidaknya kamu share link youtube nya supaya aku tonton sendiri saat sudah terkoneksi dengan jaringan wifi.
Tapi bahkan kamu tak tau lagu ini.



Virzha bilang, aku boleh datang ketika aku menangis. 
 Aku boleh bercerita apapun yang aku mau. 
Tapi kamu tak ada saat tadi aku menangis dan ingin bercerita sedikit saja padamu. 

 

 
Virzha bilang aku harus percaya padamu,
tapi banyak percayaku seringkali kamu patahkan dengan kepalsuan.





  
Aku tau aku bukan ratu rintik dalam hujan yang harus kamu tadahi dengan nampan dan harapan. Namun senja kukira akan turut menangis, sama sepertiku menangis semalam. Senja yang pernah kita lewati bersama. Senja yang ditemani hujan deras, lalu kamu datang dalam gundah dan kecemasan.


“Ada apa?”
tanyaku seolah aku tak tau masalahmu.
Aku memang tak tau.
Kamu pun lebih tidak tau dariku.



“Beri aku satu alasan untuk bertahan,”
katamu lirih.





Kamu salah, Sayang. Ini bukan waktu yang tepat untuk aku memberikan alasan itu. Akupun saat itu butuh alasan untuk kembali berjuang. Lantas kamu hanya tersenyum, menarik kembali perkataanmu. Aku tak pernah suka kamu yang seperti ini, seakan kalah oleh dunia ini, seolah paling kuat dan bijaksana padahal amat lemah dalam rengek tangis kegelisahan. Tetapi nampaknya aku lebih mengalah dari kegelisahan rasa ini.


Aku bingung. 
Harusnya ini bukan saat yang tepat untuk menulis kisahmu. 
Tapi aku muak.





Aku lelah selalu saja mencoba mengalah, lelah untuk bertahan pada pendirianku yang sok hebat ingin menciptakan bahagiaku sendiri. Padahal seminggu saja bertahan, aku sudah jatuh lagi padamu. Aku jatuh dan jatuh lagi. Bagai jurang yang begitu dalamnya, tali apapun yang kupegang erat akan tetap menjatuhkanku padamu.




Aku ingin lupa, tapi jadi terluka.
Saat tak kulupakan, 
malah semakin mengecewakan.






Teryata Virzha bohong!
Aku mulai tak bisa percaya pada siapapun diluar sana yang berkata-kata manis padaku. 
Aku mulai menanam dalam perasaan ini, namun tanahnya kerap kau buat longsor dalam sekali sentuhan.


Sial.


Virzha mungkin sebenarnya tak bohong.
Dia memang lelakiku.
Dia yang begitu tulusnya mencintaiku melebihi diriNya sendiri,
tapi aku sering tak menyadari.

Kamu toh juga sering tak sadar diri sepertiku ini.
Biarpun pada pukul 11.34 jumat itu Dia tak mengatakan sayang padaku, 
tapi aku tau, Dia lelakiku. 



Bukan kamu.