Kamis, 08 Agustus 2019

Sambat

Sekitar 3 tahun lalu di sebuah sekretariat unit kegiatan mahasiswa, ada segerombolan mahasiswa yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang menyelesaikan laporan praktikum, ada yang baru garap tugas, ada yang latihan presentasi, ada yang tidur, ada yang cuma ngadem nungguin kelas selanjutnya. Aku salah satu diantaranya. Aku lagi apa ya pas dulu itu? Lupa.

Oh ingat. Lagi sambat.
"Ih ngeselin banget sih"
Lalu yang lagi tiduran sedari tadi tiba-tiba nyautin. "Kenapa sih?"
Aku yang masih kesel sendiri akhirnya cerita panjang lebar. Kurang lebih ada 3 SKS sendiri dengan judul 'Teman Sekelompok Tugasku Nggak Mau Kerja'.

Lalu si orang yang dari tadi tiduran tapi tetap terlihat tampan ini tersenyum. Entah karena gaya berceritaku, entah karena dia geli sendiri, entah karena mau nanggepin aja daripada nyuekin. Dia berkata dalam suara nya yang enteng, nggak seberat beban pikirannya saat itu. "Yaudah lah, selo ajaaa, nggak usah dijadiin beban. Kalau kamu dipercaya melakukan sesuatu, berarti kamu keren."

Haha. Aku tertawa. Iya, keren. Tapi lelah juga ya kalau apa-apa harus kulakukan sendiri. Lantas aku pergi dari ruangan kecil penuh misteri akan keajaiban cinta itu. Aku bergegas menuju kelasku di kampus satunya. Waktu yang sangat mepet membuatku benar-benar terburu-buru berkemas.

"Aku kelas dulu yaaa.." pamitku kepada mereka yang masih berada disana. Saat hendak keluar pintu dan memakai sepatuku, si tampan tadi mendongak ke arahku. "Lun, jangan sambat terus dong. Kamu tau nggak, setiap satu kali kamu sambat, akan ada satu pohon di hutan sana yang ditebang."

Aku terdiam. Nggak jadi pakai sepatu.
"Mana ada?" Heran aku dibuatnya. Dia memang sering punya pendapat dari pemikiran-pemikiran anehnya. Tapi tak jarang pemikirannya nampak keren. Ya emang keren, hehe.

"Iya. Beneran. Makanya jangan sambat ya. Sambatanmu itu mengalihkan duniaku."
Aduh. Tuh dia itu sukanya bikin melayang. Daripada keterusan, akhirnya aku pergi.

Hari ini, sore yang cukup cerah ini, aku tiba-tiba ingat kalimatnya. Kalimat petuah tentang sambat itu mengusik pikiranku lagi.

Entah mengapa, semenjak kemarin pikiranku kalut. Gelisah tidak jelas selalu melingkupi isi hatiku. Ada apa gerangan dengan ini semua? Adakah penanda bagi rasa yang sangat tidak nyaman ini?

Tadinya aku kira aku hanya sekedar rindu. Rindu pada sosok-sosok pembuat candu dalam kelabuku. Rindu pada dia yang bukan punyaku tapi selalu mengusik hati dan pikiranku. Tapi menatapnya dalam kegelapan nyatanya tak serta merta menghilangkan gundahku.

Jangankan gelap, menggenggam tangannya dalam terang benerang pun masih membuatku kalut. Heran. Ada apa denganku? Akankah ini bagian dari rasa-rasa hampa yang perlahan mengikutiku?

Atau kurasa ini hanya rangkuman dari sisa-sisa kelelahan dan flu berat sejak seminggu lalu itu. Sepertinya benar. Aku harus mencari obat untuk sakit dan gelisah ini.


Lantas aku pergi. Toh dia juga pergi terlebih dahulu. Kebiasaan. Selama ini memang nggak merasa ditunggu. Pas datang, tiba-tiba pergi meninggalkan. Selama ini memang nggak merasa dikhawatirkan. Seandainya dia tau alasanku pergi jauh hanya untuk melihatnya. Yaaa, setidaknya aku tau dia baik-baik saja.

Dia memang baik.
Tapi aku tidak.
Aku tidak sedang baik-baik saja.
Aku yang entah kenapa malah pergi jauh sekali. Berlari dari beberapa hal yang harusnya kusampaikan sedari dulu, namun tak mampu.

Ternyata filosofi hidup itu kadang-kadang benar juga ya. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, hanya kepada Tuhan-lah seharusnya kita berserah. Seperti apapun yang ada di dunia, kelak akan mati juga dan berpulang kepada Tuhannya masing-masing. Lalu aku pergi saja kerumah Tuhan. Mau mencari yang katanya ketenangan.

Tuhan pasti lagi ketawa ini. 


Menertawai aku yang begitu bodohnya. Kalau pas lagi senang ya senang-senang terus, kalau pas punya banyak rezeki malah boros untuk yang tidak-tidak,  kalau pas lagi begitu manusia nya jarang bersyukur. Giliran rindu, minta tolong kirim pesannya lewat doa. Halah.

Seperti aku, yang pas gelisah malah larinya kesini. Takut tiba-tiba di chat sama Tuhan. "Kemana aja lu? Pas butuh baru nyariin. Basi."


Untung dirumah Tuhan nggak ada wifi. Eh tapi pasti Doi punya paketan, nggak kaya aku yang paketannya only chat (padahal nggak ada yang ngechat juga).

Aneh ya. Lucu.
Sambat sama orang cuma bisa diketawain, disukur-sukurin, dinasehatin semampunya. Tapi kalau sambat sama Tuhan, didiemin aja. Diem dulu. Nanti juga dibales kalau udah tepat waktunya.

Untung Tuhan nggak teralihkan dunia-nya ya karena aku sambat terus. Padahal belakangan ini lagi sok-sokan nggak punya doa yang mau disampaikan. Lalu mungkin si Tuhan gabut karena aku jarang berdoa, sampai-sampai Dia membuat aku resah, hingga harus kesini juga akhirnya.

Bagus deh. Tuhan emang paling keren. Tau banget manusia butuhnya pas dimana hehehe. Kalau Tuhan baca, jangan lupa like and share ya.

Aku mau diem dulu. Biar dibales chatnya sama Tuhan. Soalnya kalau sama dia cuma dianggurin. Boro-boro di bales, di read aja enggak. Susah emang kalau ngechat yang banyak fansnya. Untung dia bukan Tuhan yang banyak umatnya. Tuhan aja sempat balas pesanku, dia mah sibuk terus.


Sibuk sambat sama Tuhan yang lain.




Senin, 20 Mei 2019

Aku Lelakimu



Kasih yang paling tulus memang tak selalu hadir dari setiap manusia disekitar kita. Ratusan bahkan ribuan teman pun tak mampu menyempurnakan kasih yang ikhlas itu. Entah karena semu semata, atau memang takdir selalu menerapkan prinsip serupa, dimana kita akan selalu bertemu dengan manusia yang baru, sementara yang lama akan perlahan-lahan lenyap seiring kenangan indahnya.
 
Kini aku harusnya lebih banyak bersyukur, tersenyum, dan memulai banyak kegiatan baru yang lebih berguna. Namun aku masih saja ada disini, dalam sebuah kotak-kotak perasaan yang kuciptakan sendiri. Kotak yang hadir berkat banyak bahan bangunan dan rekat dalam adonan semen yang kau bantu menyusunnya kala itu. Kau yang kini entah ada dimanapun aku tak tau, bahkan kamu tak pernah merasa aku begitu penting untuk mengetahuinya. Padahal kerap aku gelisah, bertanya-tanya apakah kamu masih baik-baik saja dengan sepi yang ada disana. Tapi nampaknya kamu baik. Setidaknya kamu cukup pandai menjadi baik.

Seperti pula aku yang cukup pandai bermain rahasia. Aku punya rahasia yang kamu tak pernah tau. Satu dunia yang begitu indah ini tau, tapi tidak denganmu. Kamu memang paling pandai berpura-pura tidak mengetahuinya. Hebat, aku salut atas pendirianmu itu. Tapi, lewat barisan-barisan yang kubuat tengah malam ini, jika kamu kelak membacanya, aku ingin kamu tau, ini untukmu.


Malam itu diatas rel panjang kepulanganku kerumah, aku tiba-tiba teringat akan kamu. Tak perlu jauh-jauh terlintas dalam kecepatan kereta jarak jauh, bahkan setiap langkahku menuju, aku teringat akan kamu. Entah kamu hantu, atau selebriti macam apa yang entah bagaimana bisa selalu menghiasi pikiranku. Oh, menghantui maksudku. Bahkan Tuhan saja tak setiap saat ada di otakku.


Sama seperti malam itu.
Hujan diluar sana.
Dingin didalam sini.
Apa kabar kamu yang baru kutinggal sebentar saja?
Masihkah baik-baik saja dengan banyak ragumu setiap waktu?
Semoga baik. Kamu kan pandai menjadi baik, begitu pula kala bersamaku.


Malam-malam panjang, aku memutar lagu ini. 
Lagu yang kuharap suatu saat kamu senandungkan untukku. 
Atau setidaknya kamu share link youtube nya supaya aku tonton sendiri saat sudah terkoneksi dengan jaringan wifi.
Tapi bahkan kamu tak tau lagu ini.



Virzha bilang, aku boleh datang ketika aku menangis. 
 Aku boleh bercerita apapun yang aku mau. 
Tapi kamu tak ada saat tadi aku menangis dan ingin bercerita sedikit saja padamu. 

 

 
Virzha bilang aku harus percaya padamu,
tapi banyak percayaku seringkali kamu patahkan dengan kepalsuan.





  
Aku tau aku bukan ratu rintik dalam hujan yang harus kamu tadahi dengan nampan dan harapan. Namun senja kukira akan turut menangis, sama sepertiku menangis semalam. Senja yang pernah kita lewati bersama. Senja yang ditemani hujan deras, lalu kamu datang dalam gundah dan kecemasan.


“Ada apa?”
tanyaku seolah aku tak tau masalahmu.
Aku memang tak tau.
Kamu pun lebih tidak tau dariku.



“Beri aku satu alasan untuk bertahan,”
katamu lirih.





Kamu salah, Sayang. Ini bukan waktu yang tepat untuk aku memberikan alasan itu. Akupun saat itu butuh alasan untuk kembali berjuang. Lantas kamu hanya tersenyum, menarik kembali perkataanmu. Aku tak pernah suka kamu yang seperti ini, seakan kalah oleh dunia ini, seolah paling kuat dan bijaksana padahal amat lemah dalam rengek tangis kegelisahan. Tetapi nampaknya aku lebih mengalah dari kegelisahan rasa ini.


Aku bingung. 
Harusnya ini bukan saat yang tepat untuk menulis kisahmu. 
Tapi aku muak.





Aku lelah selalu saja mencoba mengalah, lelah untuk bertahan pada pendirianku yang sok hebat ingin menciptakan bahagiaku sendiri. Padahal seminggu saja bertahan, aku sudah jatuh lagi padamu. Aku jatuh dan jatuh lagi. Bagai jurang yang begitu dalamnya, tali apapun yang kupegang erat akan tetap menjatuhkanku padamu.




Aku ingin lupa, tapi jadi terluka.
Saat tak kulupakan, 
malah semakin mengecewakan.






Teryata Virzha bohong!
Aku mulai tak bisa percaya pada siapapun diluar sana yang berkata-kata manis padaku. 
Aku mulai menanam dalam perasaan ini, namun tanahnya kerap kau buat longsor dalam sekali sentuhan.


Sial.


Virzha mungkin sebenarnya tak bohong.
Dia memang lelakiku.
Dia yang begitu tulusnya mencintaiku melebihi diriNya sendiri,
tapi aku sering tak menyadari.

Kamu toh juga sering tak sadar diri sepertiku ini.
Biarpun pada pukul 11.34 jumat itu Dia tak mengatakan sayang padaku, 
tapi aku tau, Dia lelakiku. 



Bukan kamu.