Senin, 24 Juli 2017

Kembang Sore


Semenjak rumah Jogja direnovasi dan ditumbuhi beberapa tanaman di teras, dan semenjak Mba Nia suka beli-beli anggrek gantung, aku juga suka nyiram-nyiram tanaman itu. Apalagi karna dia beli ember penyiram bunga yang lucu itu, yang kayak hujan... kalian pasti tau maksudku kayak apa.... Nyiram-nyiram tanaman di sore dan kala waktuku selo merupakan rutinitas yang cukup menyenangkan. Walaupun ember penyiram itu kapasitasnya cuma 3 liter, dan aku harus bolak-balik ambil air di keran, tapi rasanya nyiram tanaman itu senang sekali. Seketika kamu bisa ngerasain bagaimana bahagianya tanaman itu disiram, diberi kesegaran, hampir mirip seperti manusia yang mandi di sore hari.

Terkadang aku juga bisa mencium aroma-aroma tanah panas yang terkena sentuhan air. Baunya nikmat, melebihi vape banana yang dihirup temanku. Aroma tanah yang bahagia karena tak tandus lagi itu menambah rasa bahagiaku. Tanaman-tanaman itu seperti tersenyum menyapaku setiap sore. Aku bisa merasakan dahannya yang mengerut menjadi lebih kuat dan tampak segar tiap sore. Aku bisa meraba bagaimana bunganya menjadi lebih halus dan makin cantik warnanya. Aku bisa mendengar bagaimana tanah-tanah itu bersorak riang gembira ketika kusiram air dingin.

Sore itu mungkin beberapa aliran darahku agak mampet. Input jadwal kuliah yang agak ngaret membuat otakku stress. Ternyata begini ya kehidupan yang sesungguhnya. Dari lahir aja kita udah rebutan supaya bisa bertahan hidup. Masuk kuliah dengan seleksi yang sulit saja sudah sangat bikin pusing kepala. Ditambah lagi dengan keharusan input mata kuliah, ups, rebutan mata kuliah maksudku. Dari semester 3 dulu aku suka sekali bikin jadwal kuliah yang padet-padet. Kalau bisa sehari 4 langsung, bodo amat deh dari pagi sampe magrib, biar nggak sayang bensin motornya. Tapi, dari sekian banyak jadwal cantik yang kususun, selalu saja aku telat input. Dan pagi ini alasannya sesimpel karena aku ngeluarin motor dan nyapu teras rumah.


Kadang banyak alasan-alasan sederhana yang bikin kita pusing tujuh keliling. Banyak insiden kecil yang memengaruhi hari esok kita, juga masa depan kita. Tapi, hari ini ketika sore-sore nyiram tanaman, ingatanku berlari menuju ke sepuluh tahunan silam. Dulu kalau sore aku suka nyiram bunga di lantai 2 rumahku bareng sama Bapak. Sebenernya bukan bantuin, lebih ke ngerecokin dia, sampai basah semua bajuku, dan berujung malah mandi bebek di balkon lantai 2 rumahku. Sering juga kami mengepel teras rumah dengan air bekas cucian yang masih licin-licin. Aku selalu mencoba gaya berseluncur paling rusuh sepanjang masa.


Ingatanku berlari-lari dalam hari-hari dan kenangan-kenangan bersama air, bunga, dan rutinitas sore hari yang kurindukan itu. 
Dulu pikiranku hanya bermain dengan air-air itu. Mereka menghiburku dengan sederhana. 
Kini, pikiran rumitku bisa saja dicairkan dengan air-air yang menghentak jiwaku dengan perlahan. 
Mereka mengingatkanku dengan sederhana, bahwa tidak hanya aku yang hidup di dunia ini. ada kamu, ada dia, ada mereka, ada tanaman dan bunga-bunga cantik juga.

Kerap kali kita memang perlu menanti waktu itu berganti untuk bertemu dengan pejuang-pejuang lain. 
Kerap kali kita juga harus megorbankan waktu dan hidup kita untuk orang lain, untuk senyum dan bahagia makhluk lain.  


Sesederhana menyiram bunga, bisakah kamu juga merasakan senyum manisnya menghiasi hari-harimu?