Jumat, 23 Januari 2015

Alasan Klasik


"Terkadang banyak kenyataan yang tidak kita ketahui..."

Seperti halnya pada suatu kisah, dimana si perempuan ini nggak tahu apa arti sebuah rasa.

Seperti sebuah daun yang pada akhirnya akan jatuh dari pohon, sebenernya sebuah perasaan itu wajar bila muncul begitu saja. Otomatis apabila otot pikiran kita merubah suatu memori pertemuan, gambaran wajah seseorang, menjadi terputar ulang berkali-kali.
Dalam kata lain, kita mulai memikirkan seseorang itu.

Alasannya kadang logis. Karna orang itu memang selalu cari perhatian ke kita, makanya kita kepikiran terus. Tapi lebih sering yang nggak logis, seperti contohnya karna kita sering nggak sengaja papasan sama dia padahal harusnya nggak mungkin. Entahlah, memang terkadang dunia ini terasa begitu sempit. Nggak nyangka aja kalau tiba-tiba orang yang kita kenal juga kenal sama temen kita yang lain. Ajaib.

Soal memikirkan seseorang, kadang berhubungan dengan orang lain yang ada didekat kita. Kalau mereka peka terhadap tingkah laku kita, mereka bisa sadar kita sedang memperhatikan siapa. Tapi kadang mereka belum terlalu peka untuk tau mana orang yang sebenarnya kita lihat. Kadang ada bayangan lain yang justru mereka anggap benar. Hmm, sesungguhnya mereka telah salah menilai. Dan pada akhirnya kita malah bisa menutupi rasa itu dengan alibi paling klasik, yaitu, pura-pura memperhatikan orang lain. Tapi sesungguhnya lambat laun hal ini akan terungkap.

Justru karna kesalahpahaman tersebut, mereka malah salah menilai orang yang sesungguhnya, atau lebih parah lagi, malah mengambil alih perhatian dari orang yang benar dan memberikan si salah untuk kita.

Justru karna ketidaktahuan itu, mereka malah bisa mengarahkan si benar menuju orang yang lain, bukan kepada kamu yang jelas-jelas selama ini berusaha mengenalnya.

Justru karna kepolosan ini, kamu malah hanya bisa mendengar mereka membanggakan keadaan si benar dengan yang lain. Ketimbang menceritakan perasaanmu pada si benar.

Karena itu, kamu butuh beberapa orang yang mengetahui kebenaran. Maka dari itu, perasaan yang kamu punya bukan hanya tertutup kebohongan, tapi bisa diabadikan.

Tapi, kalau sudah terlanjur salah, mau diapakan lagi? Kesalahan yang kamu buat dari awal akan menimbulkan banyak kesalahan lain. Bersabarlah saja untuk selamanya jatuh pada kesalahan ini, karena alasan klasikmu ini, membuat mereka tak tahu, dan biar saja kamu yang memiliki dan merasakannya.

Hingga suatu hari kisah perasaan tak beralasan ini tak menjadi klasik lagi..
Tapi menjadi Ajaib....

Senin, 19 Januari 2015

Hujan Membawamu Menari

Hari ini sepi, sama seperti sendiri.

Hari ini kelabu, sama seperti merah jambu.

Merah jambunya hati ini, saat kamu menari...

Menari diantara rintik hujan,

Basah,

Lembab,

Tapi keharumanmu tetap kurasa, meski jauh disebelah sana.


Siang ini hujan,

Deras,

Seperti air mata yang kemarin tumpah, saat aku mengingat ciptaan maha indah dibumi...,

Tapi kemarin aku juga menari.

Menari dalam lukisan waktu,
Penuh tujuan tak bertemu,
Namun akhirnya aku tahu,

Ah, mendengar suaramu saja aku menari.
Melihatmu berlari bahkan aku bernyanyi.

Baru saja kemarin,
Waktu kembali mempertemukan kita...

Meski tak bersimpangan,

Tapi kamu ada. Dan aku juga.

Tapi kamu nyata, dan kita fana.

Tapi kamu bahagia, dan aku ceria.

Dan kini mungkin kamu merasa, bahwa aku juga berasa ada....

Entah ada apa,
atau apa ada,
tapi apa adanya saja.

Mungkin nanti indah pada waktunya.
Waktu aku bisa dan berani menyapanya....


Mungkin nanti bisa bertemu dalam selimut kehujanan.

Basah,

Lembab,

Tapi senang melihatmu ada disana.


Meski dalam diam,

Dan hujan,

Asalkan tidak banjir saja,
Karna nanti kita tidak bisa pulang.

~Salamku dari kejauhan~

Selasa, 13 Januari 2015

SELASA INI

Pagi ini mentari tak terlihat wujudnya.
Kehangatan hanya kurasa dari kasih dan sayang umat manusia.
Dengan demikian juga aku mengerti, bahwa bumi mulai membelah waktunya kembali.

Waktu yang pagi-pagi ini membuatku tak sengaja berdoa, tak apalah bila hari ini hujan, asalkan cuaca disana cerah....."biar bisa dievakuasi secepatnya" kataku penuh harap.

Harapan itu mulai muncul kembali sejak beberapa hari yang lalu.
Mungkin kalau bukan mereka, aku tidak akan sepeduli ini. Tidak akan merasa seperti ini.

Meski tubuh mulai tidak mengambang,
mungkin karna tersapu ombak nanjahanam,
atau karna tangan Tuhan belum melepaskannya melayang dilautan.

Kata kunci dari segala kunci mulai ada. Saatnya menanti langkah selanjutnya yang nanti dapat mengungkap segalanya.

Semoga saja semua ini cepat tuntas terselesaikan....Karena mereka bukannya pergi, tapi hanya terbang lebih tinggi ketempat yang paling indah bersama Tuhannya.


Selesai dengan hal ini, aku mulai pergi keluar, membuka jalan menuju kepuasan. Baru saja aku bercermin, ah, sudah cukup rapi dari sebelumnya.

Dan nyatanya, waktu kembali sengaja mempertemukan kita, dalam perputaran detik tak bertepi yang menjumpai sinar indah dari kaca bening itu.

Aku mulai tak sanggup memandang, belum bisa saja menyapanya hanya dengan senyuman.

Lalu aku pergi, meninggalkan keindahan pagi ini..., yang meskipun mendung membasahi, tapi sinarnya tak tertandingi.

Sabtu, 10 Januari 2015

Waktu

Kini aku sedang duduk disini, sendiri, merasa kebersamaan ini mulai luntur seraya waktu bumi berputar semakin mendesak keperpisahan yang nantinya akan terucap.


Waktu adalah waktu.
Waktu dimana kamu bisa merasakan sesuatu.
Rasa dimana rasa yang bergerak mengikuti waktu.

Siang terik itu aku mulai kembali pulang. Berharap menanti sang jawaban datang, namun nyatanya aku malah bertemu sosok lain dipintu gerbang. Aku berusaha beralih. Berjalan pada jalan yang lebih kekanan. Ah, semoga saja dia tidak melihatku. Malah mereka yang meledek aku hangat, berkata apakah aku akan bersamanya kembali.

Tapi aku mulai bercanda,
Memang kalau saja bisa aku lebih baik bersamanya daripada merepotkan orang lain. Toh kami pernah bersama sebelumnya. Tapi yasudahlah, sudah terlanjur.

Sama halnya dengan malam ini, waktu tak memungkinkanku bersimpangan dengannya. Padahal aku sudah berkali-kali melewati jalanan itu pada jam dan detik yang sama.

Sama halnya seperti pagi itu, kebetulan maha indah yang kutemui di tangga sekolah saat tak sengaja bersimpangan dengan kehidupan lain itu. Melewati tahun baru tanpa pernah melihatnya, rasanya sudah cukup bila berjalan dibelakangnya saja.

Tapi sore ini, persimpangan itu kembali terjadi. Hanya berkisar dengan sepersekian detik waktu kami, lalu aku sengaja berlari, mengejar yang sudah pasti ada disamping kami. Sekelebat namun terasa, tak sanggup rasanya menahan tawa saat menyadari bahwa hal ini memalukan kami. Terserah, setidaknya menghibur kami.

Hingga saat aku kembali menuruni tangga itu, lalu akhirnya menangkap sorot binar matanya yang tertutup lapisan bening penuh rasa. Rasa yang kupikir masih bimbang, "Siapa aku sebenarnya?"

Bahkan aku sendiri juga bimbang, "Seperti apa kamu sesungguhnya?"