Aku punya banyak
sekali orang yang ku sayangi. Termasuk kamu, yang sekarang membaca tulisanku
ini. Mulai dari Bapak, Mama, Mas Mba, adik-adik, sampai teman-teman kesayangan
yang sudah kuanggap jadi keluarga sendiri. Aku bahkan juga menyayangi
teman-teman Bapakku, sampai penjaga toko kelontong yang kerap kusambangi kalau
beli odol pepsodent.
Aku punya banyak
sekali orang yang ku sayangi, sampai aku tidak bisa mengungkapkan rasa sayang
itu satu per satu. Mungkin aku nggak pernah memeluk Bapak, Mama, atau mas mba
ku sendiri. Mungkin aku juga nggak pernah bilang ke mereka semua kalau ‘aku
sayang kalian’. Tapi, aku lebih suka menunjukkan perasaan itu lewat
hal-hal kecil yang tanpa mereka sadari bisa membuat mereka tersenyum.
Berangkat dari
sederet hal diatas, akupun tidak mahir mengungkapkan rasa sayangku kepada
dirinya. Dirinya yang bisa jadi tidak hanya satu orang. Bukan hanya mas A, atau
kak B, atau abang C, tapi kadang bisa tiga-tiganya. Dirinya yang cuma aku dan
beberapa orang tertentu yang mengetahuinya. Dirinya, yang mungkin tidak tahu
mengapa aku bisa sebegitu sayangnya seperti ini.
Dirinya itu bukanlah
sosok paling istimewa, hanya saja dia berbeda dari yang lain. Dirinya yang
tiba-tiba saja membuatku lupa dengan manusia masa lalu, dan membawaku menapaki
langkah yang semakin membaik menuju masa depan. Dirinya yang mungkin tidak sadar
kalau aku sayang padanya.
Aku sering bilang
kalau aku rindu dia, aku butuh dia, aku ingin melihat dia tertawa didekatku.
Aku sering bertanya, “kamu dimana?”, atau “ini harus gimana?”.
Aku sering
tersenyum nggak jelas kalau ingat kelakuan bodohnya.
Aku sering membela-belakan
waktu malamku agar bisa bertemu dia, walau cuma beberapa saat.
Sampai akhirnya sebuah malam mengingatkanku akan sebuah lagu yang persis dengan judul tulisan ini.....
Tapi, sayangnya, aku nggak pernah
berani.
Aku cuma berani bilang dibelakang kamu.
Sayang sekali memang
bila aku tercipta sebagai perempuan yang hanya bisa menunjukkan perasaannya
lewat sebuah tanda. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah mungkin bisa bilang ke
kamu kalau ‘aku suka kamu’ atau ‘aku seneng kalau ada kamu’ atau yang paling
mungkin, seperti ‘aku bahagia bisa kenal kamu’. Aku bukan tipe perempuan yang
sejujur itu. Kadang aku bisa terlalu jujur didepanmu, tapi nampaknya kamu tidak
terlalu paham maksud tujuanku.
Menurutku, kamu cukup layak untuk disayangi. Kamu adalah kamu dengan segala
sesuatu yang tetap bisa membuatku semakin suka gayamu, meski sebenci apapun aku
padamu. Kamu adalah kamu yang kuingat tiap lagu Endah dan Rhesa ini terputar
tanpa sengaja.
14 Februari ini aku
mencoba jujur pada perasaanku sendiri, bahwa ‘when you love someone, just be
brave to say...” tidak semudah itu meracuni pikiranku untuk bilang sayang
ke kamu. Aku hanya bisa bawain gorengan yang kamu bilang enak rasanya. Aku
hanya bisa menemani kamu makan meski hujan malam-malam. Aku hanya bisa menjadi
seseorang yang selalu ada kapanpun kamu ajak ketemu. Aku hanya bisa jadi rekan
bisnis terselubung yang paling bodoh di dunia. Aku hanya bisa jadi orang yang
nyari kamu ditengah kerumunan manusia lain, meski pada akhirnya yang kutemui
tidak sendiri.
Tapi, 14 Februari
ini semoga saja menyadarkanmu bahwa ‘when you love someone, just be brave to
say...” bisa jadi acuan paling baik dalam hidupmu. Kalau kamu punya rasa
itu, bilang aja. Jangan kayak aku yang cuma bisa merasakannya sendiri,
berbunga-bunga sendiri, dan berakhir patah hati sendirian.
Pada akhirnya, kamu
memang tidak sepenting itu untuk perlu tahu rasa sayangku. Kamu tetaplah
menjadi kamu yang luar biasa dan banyak disayangi orang-orang. Kamu harus tetap
menjadi kamu yang pantas untuk disayangi, bukan dibenci hanya karna menjaga diri.
Semoga kita bisa sama-sama semakin sayang dengan satu hal penting yang dulu tanpa sengaja mempertemukan
kita. Selamat hari kasih sayang.

