Rabu, 06 Juni 2018

A Sleep



To you, who always said to me:
“lets go sleep.”



Berkali-kali purnama kulalui tanpa Bapak atau Mama.
Sendu sekali malamku....

Diluar bintang begitu terangnya menandingi sang rembulan.
Diluar hembus kencang angin tak sepadan hangat sinar mereka.


Tapi, disini, di dalam sini, di dalam hatiku....
Pernahkah kamu tahu setiap kali sebuah kata kuukir hanya untuk menyapamu di sebuah sore, di penghujung malam, di tengah gulita, ada sebuah getar yang tak sampai kugambarkan.
Kata demi kata yang berusaha kulabuhkan sehingga membentuk dermaga indah diujung sana.
Supaya kamu pun bisa bersinggah, sekedar dalam lelah, sekedar mengusir gundah atau bahkan berbaring resah.

Tak apa sayang, sungguh tak apa aku kau jadikan tempat bersinggah.
Singgah yang mungkin hanya sementara.
Sekali-sekalipun bagiku tak apa.

Tak apa jika ujungnya kau hanya bisa memberi aku harapan,
Sebagai selingan,
Sebagai sebuah peran,
Yang tak begitu menawan,
Tapi menghangatkan.


Ratusan malam kulalui hanya untuk menyendiri.
Membunuh setiap detik yang berjalan melambat,
Menyiksa aku yang rindunya teramat berat akan rumah dan, kamu.


Ratusan malam yang lalu aku berusaha terjaga.
Kusadari ada banyak tugas dan tuntutan pekerjaan di kepalaku,
Tapi tak lupa kusampaikan padamu,
Sekedar kalimat penuh kekhawatiran,
“Kamu dimana?”








Aku hanya sekedar ingin tahu, 
apakah malam ini kita akan terlelap bersama 
hingga berjumpa dalam bunga tidur kita berdua.

Ataukah, 
 kamu berencana terjaga bersama dawai asmara dan segelas kopi panas?
Aku hanya ingin tahu kamu dimana,
Agar tak semakin besar khawatirku padamu.



Ah.


Sial.

Kenapa aku ingat kamu lagi?


Kenapa harus kamu lagiiii.
Ini bukan untukmu.
Harusnya bukan.

Ini untuk dia,
Untuk temanmu yang menemaniku saat kamu tak ada.
Untuk temanmu yang rela-relanya membuat aku bahagia ketika kamu membuat aku luka.




Temanmu itu,

Yang kerap tersenyum tanpa alasan,

Kerap membuat aku tersenyum juga meski dalam tangis.


Temanmu itu, sayang.


Temanmu.

Bukan kamu.




Puluhan malam setelah kamu mematahkan hatiku,
Bahkan banyak malam sebelumnya,
Temanmu selalu berkata,
Dia mengingatkanku perihal malam.


“Sudah malam, sana tidur.”
Sesederhana itu, sesederhana kalimat yang tak pernah kamu ucapkan padaku.


Sesederhana rindu yang kusimpan untukmu,
Sesederhana bulan yang menerangi malamku.
Dia pun meneranginya dengan sebuah pesan yang demikian.

Selalu setiap dia ada, aku mencoba melupakan luka.
Melupakan kamu,

Dan luka itu.

Luka yang teramat luka karna kecewa.




Selalu setiap dia ada,
Karna dia selalu berusaha ada,

Tidak seperti kamu yang pergi begitu saja.
Meninggalkan luka, dan kecewa.