Sabtu, 20 September 2014

The Train

Pernah naik kereta?
Gue masih bingung kenapa lagu "naik kereta api" bunyinya 'tut-tut-tut'???
Perasaan nggak begitu suaranya. Emang keretanya kentut apa bunyinya tut-tut-tut?

Pagi ini, saat mentari terasa lebih segar dari hari-hari lalu, saat gue yang biasanya ngatuk, tapi hari ini semangat banget. Bukan karna mau ketemu doi, harusnya gue malah sedih karna hari ini gagal jalan bareng dia, tapi pagi ini me and my team goes to Kota.

Mereka lebih tepatnya adalah editor cerpen-cerpen gue...yagitu, saking banyak rencana ini itu ujung-ujungnya hanya menjadi WACANA alias cuma cerpen semata. Tapi hari ini, mereka yang ngedit cerpen gue, mereka yang bikin cerpen ini bukan hanya sekedar cerpen, tapi kenyataan.

Nyata loh. Akhirnya kesampean juga jalan bareng mereka. Lengkap. Hanya kita. Nggak ada fans-fans yang ngerubunin.

Hmmm, udara pagi di KRL ini mengapa terasa bagai parfum mesin terbang saat awal Januari lalu?? Merasa dekat dengan pramugara dikibulin itu wkwkwk #abaikaniniplis

Pagi ini,
Semua orang sibuk.
Sibuk buru-buru naik kereta,
sibuk nyari bangku,
Dan pada akhirnya sibuk sama gadget nya masing-masing.

Kalo kita bedaa, kita tentunya lebih sibuk sama selfie, tapi di tempat umum kayak gini kayaknya bukan saat tepat untuk cari perhatian hihihi.....

Kereta yang kalo dari dalem terasa berjalan sangat lambat, sesungguhnya dari luar melesat sangat cepat.
Sama kayak hidup ini, kita ngerasa menjalankan sesuatu yang membosankan dengan sangat lama.. sementara waktu seperti berputar lebih cepat saat kita lagi happy.

Kereta ini berhenti di setiap stasiun demi mencari dan atau menurunkan penumpang.
Sama kayak hidup ini, kita berkelana kemana-mana, kadang bertemu dengan orang baru, tapi lebih sering melepaskan orang yang sudah lama ada.

Bicara soal orang baru yang sudah lumayan lama ada......
Kenapa dia nggak dateng saat dibutuhin?
Kenapa dia nggak ada saat diharapkan?
Kenapa dia nggak mikirin nanti gue bakalan gimana, bakal pergi sama siapa?
Kenapa kok kayaknya dia nggak pernah bisa gue ajak pergi, tapi kalo yang lain ngajak jalan dia ikutan?

Kayaknya harus gue yang pura-pura nggak bisa, biar dia nggak ngerasa "nggak enak" kalo perginya sama orang lain.

Entahlah, mungkin gue harus pergi naik kereta ini, menuju tempat antahberantah untuk mencari penumpang baru yang mungkin lebih baik dari yang sebelumnya.

Atau mungkin sekembalinya ke stasiun awal nanti, gue akan bertemu dengan dia di tempat umum yang jarang mempertemukan orang.

Mungkin ini hanya sebuah kebetulan. Atau takdir yang mempertemukan kita.

Dan dari sekian kilometer jauhnya dari kota kita, diatas kereta api yang berjalan pada rel panjang,
Inilah aku, yang sebenarnya ingin hari ini menjadi sebuah sejarah bagi hati kami.

Kami, yang entah mengapa gue paksain jadi "kita" padahal menjadi "aku dan kamu" saja belum bisa terjadi...

Selamat pagi, selamat sekolah.
Hati-hati ya disana..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar