Pernah nggak ngerasa bingung setengah mati nyariin kunci motor, padahal kuncinya ada di saku celana?
Pasti pernah.
Rasanya bingung banget.
Sama kayak sekarang ini.
Nggak ngerti kenapa semenjak denger kabar-kabar sliweran yang bikin kepikiran, sekarang memang bener-bener jadi kepikiran.
Nggak ngerti kenapa setiap kali melihat dia atau mereka membuat obrolan didalam suatu perbincangan, obrolan personal yang sesungguhnya membuat orang lain benar-benar penasaran, obrolan 'rahasia' yang pada akhirnya membuat jengkel.
Ayolah, manusia peka kan nggak sepolos itu. I can feel the difference of you!
Waktu itu masih fajar.
Mata ini masih tertutup rapat.
Angan ini masih kelabu, masih nggak jelas ngebayangin apa.
Sepersekian detik kemudian mata ini tersadar.
Perlahan membuka selaputnya. Perlahan mencoba memandang kearah jam yang menggantung 'nggak tinggi-tinggi amat' di tembok kuning itu.
Ah, pagi.
Sudah pagi.
Lalu cenderung membenarkan posisi tubuh, terpaksa melepaskan rasa rindu pada bantal yang seharusnya masih bisa dipeluk lebih lama.
Lebih selalu ingat untuk berdoa walau selalu terlambat. Tak apa, Tuhan tetap selalu ada seterlambat apapun umatnya menyadari Ia ada.
Pagi menjelang siang ini membuat semakin kepikiran. Kepikiran suatu hal yang nggak sepenting itu untuk dipikirkan. Toh manusia yang seharusnya lebih memikirkan itu memang tidak pernah terpikir untuk berbagi pikirannya.
Jadi buat apa dipikirkan?
Tapi entah mengapa selalu terpikir hal itu. Bodoh memang.
Memang mungkin bodoh kalau sampai terpikir seperti itu.
Ya memang begitu.
Entahlah.
Tapi pada akhir dari semua pikiran itu, gue selalu berpikir ulang, bahwa memang pada akhirnya,
"nggak semua hal nggak penting harus lo jadikan penting".
Untuk masalah ini, gue rasa cukup penting bagi dia atau mereka. Cukup penting juga karna,
mengapa bukan gue yang dianggap penting untuk memikirkan hal sepenting ini?
Alah, sudahlah.
Nggak penting.
Mungkin pada akhirnya nanti ada hal yang lebih penting yang bisa gue pikirkan.
Tapi untuk masalah lainnya, sesungguhnya benar-benar membuat gue berpikir keras. Karna hal ini cukup penting, sampai bisa dengan mudahnya membuat jalan dan arah gue entah nyasar kemana.
Semua ini karna gue terlalu mikir.
Entah mikirin dia,
saudaranya,
atau temannya.
Kadang rasanya ingin amnesia.
Hilang ingatan.
Kadang rasanya ingin pura-pura, atau bahkan benar-benar tidak tahu.
Toh yang seharusnya mudah untuk diketahui malah terasa sukar ditebak.....
atau pura-pura tidak tertebak?
Kadang rasanya ingin menutup mata.
Menghayal.
Membayangkan semua ini hanya bagian dari sandiwara yang memang benar-benar pura-pura, hanya untuk sekedar kejutan ulang tahunan.
Kadang,
Semua yang dibayangkan itu,
Pada akhirnya memang hanya bisa terbayang.
Seperti hari ini.
Rasanya aku sudah lelah melemparkan berbagai macam hal agar sosok apapun itu menyadari sesuatu apapun yang pernah ada.
Namun tiada sosok, bahkan wujud nyata yang diharapkan pun tidak mengerti, dan menyadari.
Atau sebenarnya ia tau?
Apa sesungguhnya dia sadar?
Mungkinkah selama ini kamu mengerti?
Terkadang boleh saja melepaskan apa yang kumiliki agar tidak bersinggungan dengan yang kamu punya.
Tapi, cobalah untuk tidak acuh saat kita bertemu dipersimpangan jalan yang sudah jelas benar-benar jalan yang kubuat khusus berkarpet merah untuk dilangkahi, bukan sekedar diinjak.
Dan,
Terkadang,
Semua usaha yang sudah cukup melelahkan ini kembali mengingatkan pada banyak hal.
Salah satunya,
adalah,
Mengapa harus terus dipercaya bila dia sendiri tidak tahu apa yang harus dipercayai?
Karna, aku percaya bahwa ada yang beda.
Tapi, aku belum sepenuhnya percaya kalau kamu mempercayai hal itu.
Jadi,
Percayakah kamu,
Bahwa ada aku disini?
Bahwa aku yang kusebut, sering kurasa sebagai sebuah makna yang terasa?
Iya,
Mungkin kamu tau,
Tapi pura-pura tidak tau.
Atau tau, tapi mencoba untuk tidak tau.
Atau tau, tapi tidak mau tau?
Oh iya, atau mungkin kamu tau, tapi tidak mau pengetahuan ini merusak sejarah yang pernah ada?
Dan atau mungkin ternyata bisa jadi kamu malah benar-benar tidak sadar???
just,
-Heaven Knows-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar