Senin, 12 Maret 2018

CAHAYA



Kalau kamu fans nya Tulus, pasti tau lagunya yang berjudul Cahaya. Bagus kok. Dengerin aja. Nih buka link nya disini.... 



“Ratusan hari ku mengenalmu, ratusan alasan kamu berharga...”


Begitu kutipan liriknya.
Manis.
Sederhana.
Tapi, bermakna.


Seperti kamu. Enggak sih, gak cuma kamu. 
Ada begitu banyak hal istimewa yang aku punya, dan begitu banyak hal tidak biasa yang kutemui selama ini. 
Ada berjuta alasan mengapa aku bisa menjadi seorang aku yang seperti ini. 
Tapi, satu yang pasti, kamu yang sekarang membaca tulisanku ini adalah salah satu komponen di dalamnya.



Terimakasih ya.

Terimakasih sudah ada disini bersamaku.

Terimakasih untuk ribuan cahaya yang pernah kamu sinari dalam gelapku.
Terimakasih untuk entah berapa banyak tawa yang pernah kamu hantarkan padaku.
Terimakasih untuk setiap pelukan, setiap sentuhan, setiap kenyamanan yang pernah kurasakan.



Andai Tuhan 
memberikanku sebuah undian berhadiah, 
nampaknya aku meminta Dia supaya membuat hidupmu bahagia, 
melebihi bahagiaku.

Aku sudah cukup bahagia seperti ini.


Aku bangga menjadi diriku sendiri dengan segala sesuatu yang pernah kuperbuat. 
Entah itu baik, buruk, atau bodoh sekalipun. 
Bahagia bisa melihatmu tersenyum. 
Bahagia bisa mendengar suaramu meski dari kejauhan. 
Bahagia sekali mengetahui bahwa kamu baik-baik saja.



Jikalau sampai paragraf ini kamu masih setia membaca, 
ketahuilah bahwa kamu adalah salah satu anugrah terindah dalam hidupku. 
Kamu dikirim Tuhan untuk melukis sebuah kisah dalam hari-hariku. 
Biarpun tak selalu kisah menyenangkan, 
namun beribu pelajaran telah kudapat dari mengenalmu selama ini.


Jika kamu masih membaca, 
bantu aku menyampaikan paragraf dibawah ini untuk Tuhan ya. 
Nampaknya kamu lebih pandai menyampaikan pesan kepadaNya. 
Aku tau kalau Dia pasti dengar..




Tuhan, dimanapun kamu berada, 
aku tahu kamu mendengarku. 

Terimakasih ya untuk jutaan kebahagiaan, 
kesedihan, kegundahan, ke.....apa lagi? 
Semuanya lah. Apapun itu. 
Apapun yang pernah Kamu berikan bagiku.


Terimakasih untuk dua puluh tahun yang amat romantis ini.
Terimakasih karena Kamu telah menciptakan seorang aku 
dengan segala hiasan disekitarku. 

Terimakasih untuk bunga-bunga cantiknya. 
Kamu mengajari aku caranya menyayangi. 
Caranya mempertahankan bunga itu supaya tak mudah layu lalu mati.
 
Terimakasih untuk air yang terus mengalir. 
Kamu juga mengajari aku untuk merawatnya 
agar tak mudah mengalir membasahi pipiku. 
Biar dia mengalir dalam tenggorokanku saja, 
menghilangkan dahaga dan haus akan cinta. 
Biar dia menderas menghujani bumiMu yang indah saja, 
jangan biarkan dia meluap membanjiri tepian rumahku. 
Jangan lagi, sudah cukup yang dulu-dulu itu hehehe....

Terimakasih juga untuk bebatuan yang kokoh. 
Lewat bongkahan demi bongkahan itu, 
aku tau Kamu ingin aku mengerti 
bahwa kerasnya pemikiran manusia sulit untuk dipecahkan, 
namun bisa dengan mudah luluh lewat sebuah sentuhan penuh cinta. 
Aku belajar banyak tentang caranya bertahan sekokoh bebatuan, 
tak mudah rapuh meski disambar kereta jurusan Jogja-Jakarta.



Oh iya, boleh minta satu hal?

Lima deh. Jangan satu. Hehe.


Yang pertama, 
jangan biarkan waktu cepat berlalu. 
Aku masih nyaman dengan sahabat-sahabat baruku. 
Meskipun aku tahu begitu banyak ujian dan tantangan disini, 
tapi aku menyayangi mereka. 
Entah mengapa, 
toh Kamu yang membuat perasaan semacam ini ada. 

Biarkan hari-hari terakhir kami bersama terlukis romantis
dan pantang dilupakan. 
Lain kali pertemukan kami 
dalam sebuah keindahan yang lebih luar biasa ya. 
Boleh kan?



Yang kedua, 
aku tahu seseorang pasti membaca tulisan ini. 
Harusnya dia tahu kalau paragraf ini kutulis untuknya. 
Jadi begini, 
aku sudah lama tidak bercerita panjang lebar lagi dengannya. 
Aku lama sekali tak mengunjungi rumahnya. 
Aku terlampau rindu melihat senyumnya yang begitu malu karna kebodohanku. 
Aku juga rindu dengan senandung lugunya. 
Aku rindu. 

Tapi nampaknya dia sedikit kecewa padaku. 
Oh, sepertinya banyak, tidak sedikit. 
Aku tahu aku bersalah, 
aku tahu aku tak pandai membagi waktuku. 
Bahkan untukMu saja aku tak punya waktu.. 
Tapi jika boleh, 
tetap jadikan dia sahabatku ya?



Yang ketiga, 
ajarin aku jadi manusia yang lebih realistis dong..... 
Buat aku tersadar
kalau sesuatu yang tak semestinya kuharapkan
memang tak harus kupikirkan. 
Bosan aku bergalau dengan masa lalu, 
dengan kenangan indah yang kerap menjebak aku. 
Boleh ya aku hidup dengan normal 
tanpa harus mencemburui manusia lain?




Yang keempat, 
 tahun lalu aku minta kado apa? 
Tahun ini Kamu tau kan aku minta apa? 
Hehehe... 
Terimakasih ya untuk manusia-manusia romantis yang mewarnai hidupku. 
Kirimkan satu yang paling pas buat aku, boleh?



Yang terakhir, 
kalau Kamu tidak bisa memperlambat waktu, 
yaudah, 
dipercepat saja. 
Aku ingin segera menyelesaikan segalanya. 
Kuliahku, 
pekerjaanku, 
jabatanku, 
segalanya. 

Beri aku kesempatan untuk bisa menumbuhkan kebahagiaan 
bagi mereka yang selama ini selalu mendukungku. 
Aku ingin segera pulang, aku rindu rumahku. 
Aku rindu telur dadar gorengan mamaku. 
Aku ingin kolak pisang dan bubur sum-sum buatan bapak. 
Aku lupa rasa kuah bakso kepala sapi. 
Aku juga lupa rasaya martabak keju yang di jembatan satu. 
Aku rindu melihat langit-langit kamarku. 
Mengintip hujan dari balkon kamar mandiku. 
Membuka pagar rumahku. 
Aku rindu bersantai di sofa depan TV sambil minum segelas nutrisari rasa mangga. 
Aku lupa rasanya. 
Boleh percepat liburnya?



Sudah lima.


Sisanya, aku percaya Kamu tahu isi hatiku.

Jadikan segalanya sesuai kemauanmu saja.

Aku percaya Kamu tahu yang terbaik.

Aku percaya,
Kamu tidak semengecewakan manusia biasa.






Sudah ah, segitu saja.
Kasihan Kamu.

Nanti kepanjangan bacanya.
Nanti kepanjangan doanya.

Tidak usah berdoa panjang-panjang.


Aku sudah bahagia bisa mengenalmu.


Terimakasih ya sudah menjadi hadiah yang indah untukku.
Aku sayang kamu,
kamu yang lagi baca, 
kamu yang lagi kurindu, 
kamu yang mau pergi jauh, 
kamu yang pasti akan aku rindu, 
kamu yang kalau ketemu pengen kupeluk.  



Boleh kan?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar