Dari beberapa film horror yang kutonton belakangan ini, aku menemukan sebuah garis besar dari semua ceritanya. Ternyata selama ini mereka menyelipkan sebuah pesan.
Aku belajar bahwa keluarga itu seharusnya bersama. Ketika keluarga bersatu, saling menyayangi, maka kekuatan cinta tersebut mampu mengalahkan segala keburukan dan menjauhkan dari segala yang jahat.
Walau dalam sebuah diam, menantimu pulang malam yang tanpa kabar tetap kulakukan. Kutahan lelah dan kantukku yang berlebihan. Yaa, setidaknya untuk sekedar membuka pintu itu. Meski tak pernah menyapamu lagi, meski tak pernah bertegur sapa selain berpamitan, meski aku kehilangan tawa, canda dan motivasimu, aku tetap ada disini.
Aku menghawatirkanmu dari kejauhan.
Aku tahu, sesungguhnya kamu juga melakukan ini.
Aku tahu, sesungguhnya kamu juga melakukan ini.
Aku tahu, bahkan tanpa harus kau beri tahu.
Aku tahu betapa khawatirnya kamu akan kepergianku yang begitu lama, tak pernah lagi kita punya waktu untuk bercengkrama.
Entah apa yang terjadi hingga waktu merubah ini semua.
Dimana senyum itu?
Dimana tawa itu?
Aku rindu segala canda itu.
Aku rindu bercerita tentang duniaku.
Aku rindu berbagi tentang lelaki ini dan itu.
Aku rindu berpergian lagi, denganmu.
Tidak perlu lah kamu menghitung seberapa banyak aku memberi, tidak perlu mengingat seberapa sering aku berendah hati. Mungkin kamu masih boleh mengenang mengapa aku begitu menjengkelkan, sesering apa aku mengecewakan, seberapa besar kekesalanmu padaku, seperti apa jahatnya aku di matamu.
Namun rasanya aku tidak pernah mau menulis kata-katamu yang mengecewakan, tak ingin aku teringat ketika kamu menjatuhkan berani dan semangatku. Tak perlu kuhitung berapa tetes air mataku yang tak sengaja tumpah karna rasa takut bertemu denganmu. Aku hanya ingin mengenang betapa baiknya kamu padaku. Aku masih ingat senyum manismu yang merekah, candamu yang mengusir gundahku, genggaman erat tanganmu, hingga hal-hal sederhana yang kau beri padaku dulu.
Bolehkah jika kita sama-sama menimbang waktu?
Jangan hanya lihat aku dari sisi ini.
Lihat aku yang pergi untuk membunuh waktuku sendiri.Lihat aku yang harus membelah diri.
Lihat aku yang rindu menatap mentari pagi.
Lihat aku yang juga melakukan sesuatu.
Kamu terlalu suka melihatku dari sini saja.
Tidak dari sisi lainnya.
Bolehkah jika kita sama-sama memutar waktu?
Zaman sekarang pun manusia mampu dengan mudahnya memberi kabar lewat bisunya sebuah status.
Lalu bagaimana jika kini paket internetku terkuras habis?
Pernahkah kamu berpikir bagaimana resahnya aku tanpa melihat keberadaanmu, meski hanya dari media sosial?
Aku hanya ingin mengetahui apakah kamu masih hidup, sudah bangun, sedang pergi kemana, atau dengan siapa.
Setidaknya supaya aku tahu jika kamu baik-baik saja.
Sudahlah, melihat keberadaanmu lewat status sudah cukup menenangkanku.
Aku tahu, bahkan tanpa harus kau beri tahu.
Tidak dari sisi lainnya.
Bolehkah jika kita sama-sama memutar waktu?
Zaman sekarang pun manusia mampu dengan mudahnya memberi kabar lewat bisunya sebuah status.
Lalu bagaimana jika kini paket internetku terkuras habis?
Pernahkah kamu berpikir bagaimana resahnya aku tanpa melihat keberadaanmu, meski hanya dari media sosial?
Aku hanya ingin mengetahui apakah kamu masih hidup, sudah bangun, sedang pergi kemana, atau dengan siapa.
Setidaknya supaya aku tahu jika kamu baik-baik saja.
Sudahlah, melihat keberadaanmu lewat status sudah cukup menenangkanku.
Aku tahu, bahkan tanpa harus kau beri tahu.
Aku tahu.
Hatiku yang tahu.
Apapun yang kamu alami, setidaknya aku selalu berharap kamu baik-baik saja disana. Dimanapun itu, bersama siapapun nantinya. Aku percaya, kamu pasti bisa. Jangan kalah dengan godaan dunia, atau bahkan wanita. Jangan kalah dengan bujuk rayu dan tipu muslihat. Dunia ini kejam. Lebih kejam dari cinta. Kamu harus menjadi pendekar yang sesungguhnya. Jangan dulu berkorban untuk orang lain, perjuangkan saja dirimu sendiri. Biar orang lain percaya bahwa sejatinya kamulah pendekar yang paling pantas disanjung dan dicintai.
Setiap melewati jalanan ini, aku ingat sebuah kalimat yang pernah kau ucapkan padaku.
"Aku tak bisa membayangkan ketika kamu melewati jalanan gelap ini, di malam hari, sendiri....,"
Kamu tak perlu khawatir padaku. Aku berani. Aku percaya didepan sana ada sesuatu yang baik. Meski aku melewati jalanan ini tanpamu, aku percaya kamu mengirimkan sebuah keberanian padaku. Terimakasih ya, lewat kalimatmu tadi, aku merasa lebih berani.
Hanya saja, kerap aku berpikir sebaliknya.
"Aku tak bisa membayangkan ketika kamu melewati setiap jalanan yang ada, di setiap saat, bersama dia....,"
Oiya. Aku tak perlu khawatir padamu.
Aku tahu didepan sana
ada sesuatu yang baik.
Meski kamu melewati sepanjang jalan itu dengannya, aku
percaya kamu punya bahagia yang lebih indah.
Terimakasih ya,
lewat
kebersamaanmu itu,
setidaknya aku tahu kamu baik-baik saja....
Manusia tak pernah bisa kamu atur jalan pikirannya. Kerap mereka tak pernah memikirkan hal yang kita kehendaki. Tidak mungkin mereka bisa begitu saja setuju dengan segala ide dan gagasan yang kita miliki. Tak jarang pun mereka malah menentang. Jangan menghakimi mereka begitu saja. Bukan berarti mereka tidak peduli atau tidak mengerti. Mereka hanya punya jalannya masing-masing. Percaya saja bila berbeda itu indah. Lebur itu dengan kelembutan dan kasih sayang.
Manusia tak pernah bisa kamu atur jalan pikirannya. Kerap mereka tak pernah memikirkan hal yang kita kehendaki. Tidak mungkin mereka bisa begitu saja setuju dengan segala ide dan gagasan yang kita miliki. Tak jarang pun mereka malah menentang. Jangan menghakimi mereka begitu saja. Bukan berarti mereka tidak peduli atau tidak mengerti. Mereka hanya punya jalannya masing-masing. Percaya saja bila berbeda itu indah. Lebur itu dengan kelembutan dan kasih sayang.
Dan dipenghujung hujan ini, aku cuma ingin kamu tahu,
aku menyayangimu, bahkan tanpa perlu kukatakan dalam bisikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar