Ada terlalu banyak hal yang begitu menggelisahkan, namun sulit
untuk diungkapkan. Satu persatu hal tersebut tiba-tiba saja menjadi sebuah
kebetulan. Banyak kebetulan yang terjadi. Tak hanya pada awal tahun ini, namun
juga sepanjang 2017 yang penuh dengan beragam cerita. Lalu, apakah
cerita-cerita itu memang sudah tertulis demikian, atau hanya sebuah
kebetulan semata?
Dimulai dari begitu banyak liburan yang kulewatkan untuk sekedar
mengejar sebuah minimal. Ah, klise. Seharusnya tak perlu sedemikian rupa
kukejar, toh waktu akan membantuku menggapai arti sebuah minimal itu. Tapi, apa
daya, beragam kebijakan yang menyebalkan tak pernah mampu menjatuhkan niatku
untuk berhenti, lalu berlibur. Duhai tanggal merah, kapan kita dapat
berjumpa lagi? Aku merindukan desir ombak di pantaimu. Aku ingin merasakan
hembus kencang anginmu dari atas mercusuar putih itu. Tapi jika dia atau mereka
masih sibuk mengejar hal-hal lainnya, jadikan saja kesibukan itu sebagai sebuah
kebetulan.
Mengapa harus disebut kebetulan?
Padahal terlalu banyak kesalahan dalam kisah ini.
Seperti ketika kamu jatuh pada sebuah hati. Jika tidak terjadi
apa-apa, kamu tidak akan merasakan cinta itu. Kamu tidak akan merasa sebegitu
rindunya, sangat ingin bertemu meski sekedar menatapnya dari kejauhan. Kamu tidak
perlu merasa sebegitu relanya saat dia pergi bersama manusia lain, tertawa
bahagia meski bukan karna kamu. Jika semuanya betul karna kebetulan itu sendiri,
berarti semua itu palsu. Bukan betul namanya. Semua ini sudah salah. Jatuh
cinta itu bukan kebetulan, tapi kesalahan.
Kebetulan itu terjadi ketika aku tiba-tiba merasa bahagia karena
ada kamu. Aku merasa sepuluh kali lebih bersemangat saat merasakan atmosfer
kehadiranmu. Meski jarak tetap memisahkan langkah kaki kita, bahagia itu terasa
mengalir di sekujur tubuhku tatkala ada kamu. Iya, sesederhana karena kebetulan
ada kamu disana.
Namun kerap kali aku termakan pada kata ini.
Kebetulan itu memang kurangajar...
Berkali-kali aku membencinya. Aku tidak pernah suka menyebut kata
ini didepan banyak orang. Seperti ketika mereka menginginkan A, namun aku hanya
punya B. Malas sekali rasanya untuk sekedar berkata,
“Maaf ya, A nya kebetulan baru habis. Bagaimana kalau yang lain saja. Aku punya B, kamu mau?”
Jika mereka tipikal manusia yang mudah menerima, mungkin mereka
akan tertarik dengan si B yang jauh lebih indah dan murah hati. Namun, tak
sedikit yang mengelak kalimatku dengan,
“Yah, kalau habis itu bukan kebetulan, tapi kesalahan!”
Iya.
Aku tau.
Aku tau ini tidak betul.
Aku tau ini sebuah kesalahan.
Aku tau bila kamu mau A, bukan B.
Aku tau, bahkan jauh sebelum kamu harus berkata begitu tegasnya
padaku.
Namun ada beberapa hal lagi yang kuketahui.
Bahwasanya, aku tau bila kebetulan ini memang menghantarkan aku
menjadi manusia yang egois. Manusia yang kerap mengutamakan manusia satu dibanding
manusia lainnya. Toh, padahal manusia satu itu tidak begitu penting dibanding
yang lainnya. Egois sekali rasanya.
Aku juga mengetahui bahwa kebetulan aku bertemu dengan banyak hal
aneh. Banyak permasalahan bodoh yang teramat kompleks, padahal sederhana, namun
terlalu dibesar-besarkan. Tapi, karena hal-hal itu, aku belajar untuk berani
bertindak. Berani berbicara. Meskipun lidahku begitu kaku, tak mampu
berkata-kata. Namun, bicara lewat tulisan ini sudah cukup kan? Aku yakin kamu
juga sudah diajari caranya membaca rangkaian huruf, bahkan membaca hati dan
perasaan seseorang.
Aku hanya kebetulan belajar untuk berani mengutarakan apa yang
harus kukatakan. Meskipun terlalu banyak sandiwara dalam aksara, terlalu banyak
kiasan dalam baris tulisan, tapi setidaknya aku sudah sebegitu jujur menuliisnya
dibawah rintik hujan, dalam usaha keras menahan air mataku jatuh ke tanah.
Biar hujan saja yang membasahi tanah tempat kita berpijak ini. Jangan air mata.
Dia terlalu berharga untuk ini.
Lihatlah terlebih dahulu sebelum kamu membacanya.
Karena apa yang kamu baca,
akan membuatmu jatuh pada rasa nyaman dengan diksi penuh kejutan
dan kiasan indah dari tiap uraiannya.
akan membuatmu jatuh pada rasa nyaman dengan diksi penuh kejutan
dan kiasan indah dari tiap uraiannya.
Akan tetapi,
ketika kamu merasa terlalu jatuh pada setiap temanya,
aku rasa kamu punya satu alasan untuk berhenti membaca.
ketika kamu merasa terlalu jatuh pada setiap temanya,
aku rasa kamu punya satu alasan untuk berhenti membaca.
Karena membaca bukan hanya sekedar mengeja,
tapi mengerti dan memahami tiap laras yang ada.
tapi mengerti dan memahami tiap laras yang ada.
Biar waktu yang nantinya menjawab,
apakah takdir akan mempertemukan
kita,
lagi,
atau cukup pada pertemuan kali ini saja.
Jika iya,
berarti kita harus sama-sama menanti saat yang tepat.
Aku
harus kembali berdamai.
Kamu harus berusaha menerima aku lagi,
meski tak semudah
membalikkan telapak tanganmu.
Jika tidak,
berarti kamu benar-benar pelajaran berharga
dalam
hidupku menuju dewasa yang sesungguhnya.
Itu saja...
Biarkan kebetulan ini menjadi betul adanya,
jangan ada kesalahan
lagi.
Sudah cukup.
Cukup aku saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar