Sabtu, 13 Januari 2018

KEBETULAN





Ada terlalu banyak hal yang begitu menggelisahkan, namun sulit untuk diungkapkan. Satu persatu hal tersebut tiba-tiba saja menjadi sebuah kebetulan. Banyak kebetulan yang terjadi. Tak hanya pada awal tahun ini, namun juga sepanjang 2017 yang penuh dengan beragam cerita. Lalu, apakah cerita-cerita itu memang sudah tertulis demikian, atau hanya sebuah kebetulan semata?

Dimulai dari begitu banyak liburan yang kulewatkan untuk sekedar mengejar sebuah minimal. Ah, klise. Seharusnya tak perlu sedemikian rupa kukejar, toh waktu akan membantuku menggapai arti sebuah minimal itu. Tapi, apa daya, beragam kebijakan yang menyebalkan tak pernah mampu menjatuhkan niatku untuk berhenti, lalu berlibur. Duhai tanggal merah, kapan kita dapat berjumpa lagi? Aku merindukan desir ombak di pantaimu. Aku ingin merasakan hembus kencang anginmu dari atas mercusuar putih itu. Tapi jika dia atau mereka masih sibuk mengejar hal-hal lainnya, jadikan saja kesibukan itu sebagai sebuah kebetulan.




Mengapa harus disebut kebetulan?

Padahal terlalu banyak kesalahan dalam kisah ini.


Seperti ketika kamu jatuh pada sebuah hati. Jika tidak terjadi apa-apa, kamu tidak akan merasakan cinta itu. Kamu tidak akan merasa sebegitu rindunya, sangat ingin bertemu meski sekedar menatapnya dari kejauhan. Kamu tidak perlu merasa sebegitu relanya saat dia pergi bersama manusia lain, tertawa bahagia meski bukan karna kamu. Jika semuanya betul karna kebetulan itu sendiri, berarti semua itu palsu. Bukan betul namanya. Semua ini sudah salah. Jatuh cinta itu bukan kebetulan, tapi kesalahan.

Kebetulan itu terjadi ketika aku tiba-tiba merasa bahagia karena ada kamu. Aku merasa sepuluh kali lebih bersemangat saat merasakan atmosfer kehadiranmu. Meski jarak tetap memisahkan langkah kaki kita, bahagia itu terasa mengalir di sekujur tubuhku tatkala ada kamu. Iya, sesederhana karena kebetulan ada kamu disana.


Namun kerap kali aku termakan pada kata ini.


Kebetulan itu memang kurangajar...


Berkali-kali aku membencinya. Aku tidak pernah suka menyebut kata ini didepan banyak orang. Seperti ketika mereka menginginkan A, namun aku hanya punya B. Malas sekali rasanya untuk sekedar berkata,

“Maaf ya, A nya kebetulan baru habis. Bagaimana kalau yang lain saja. Aku punya B, kamu mau?”


Jika mereka tipikal manusia yang mudah menerima, mungkin mereka akan tertarik dengan si B yang jauh lebih indah dan murah hati. Namun, tak sedikit yang mengelak kalimatku dengan,

“Yah, kalau habis itu bukan kebetulan, tapi kesalahan!”



Iya.

Aku tau.

Aku tau ini tidak betul.

Aku tau ini sebuah kesalahan.

Aku tau bila kamu mau A, bukan B.



Aku tau, bahkan jauh sebelum kamu harus berkata begitu tegasnya padaku.



Namun ada beberapa hal lagi yang kuketahui.
Bahwasanya, aku tau bila kebetulan ini memang menghantarkan aku menjadi manusia yang egois. Manusia yang kerap mengutamakan manusia satu dibanding manusia lainnya. Toh, padahal manusia satu itu tidak begitu penting dibanding yang lainnya. Egois sekali rasanya.

Aku juga mengetahui bahwa kebetulan aku bertemu dengan banyak hal aneh. Banyak permasalahan bodoh yang teramat kompleks, padahal sederhana, namun terlalu dibesar-besarkan. Tapi, karena hal-hal itu, aku belajar untuk berani bertindak. Berani berbicara. Meskipun lidahku begitu kaku, tak mampu berkata-kata. Namun, bicara lewat tulisan ini sudah cukup kan? Aku yakin kamu juga sudah diajari caranya membaca rangkaian huruf, bahkan membaca hati dan perasaan seseorang.

Aku hanya kebetulan belajar untuk berani mengutarakan apa yang harus kukatakan. Meskipun terlalu banyak sandiwara dalam aksara, terlalu banyak kiasan dalam baris tulisan, tapi setidaknya aku sudah sebegitu jujur menuliisnya dibawah rintik hujan, dalam usaha keras menahan air mataku jatuh ke tanah.


Biar hujan saja yang membasahi tanah tempat kita berpijak ini. Jangan air mata.
Dia terlalu berharga untuk ini.




Lihatlah terlebih dahulu sebelum kamu membacanya.
Karena apa yang kamu baca,
akan membuatmu jatuh pada rasa nyaman dengan diksi penuh kejutan
dan kiasan indah dari tiap uraiannya.

Akan tetapi,
ketika kamu merasa terlalu jatuh pada setiap temanya,
aku rasa kamu punya satu alasan untuk berhenti membaca.

Karena membaca bukan hanya sekedar mengeja,
tapi mengerti dan memahami tiap laras yang ada.





Biar waktu yang nantinya menjawab, 
apakah takdir akan mempertemukan kita, 
lagi, 
atau cukup pada pertemuan kali ini saja.



Jika iya, 
berarti kita harus sama-sama menanti saat yang tepat. 
Aku harus kembali berdamai. 
Kamu harus berusaha menerima aku lagi, 
meski tak semudah membalikkan telapak tanganmu.



Jika tidak, 
berarti kamu benar-benar pelajaran berharga 
dalam hidupku menuju dewasa yang sesungguhnya.


Itu saja...


Biarkan kebetulan ini menjadi betul adanya, 
jangan ada kesalahan lagi.

Sudah cukup.


Cukup aku saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar