Jumat, 01 Desember 2017

Singkat, Padat, Melekat

Belakangan ini aku sering bergunjing perihal waktu, waktu, dan waktu.

Dia memang amat kurangajar.

Di post sebelumnya aku bilang dia bisa berjalan lambat, namun berlari secepat kilat pun bisa banget.
Teruntuk waktu, aku punya satu lagi tulisan panjang untukmu....


Singkat.

Iya, waktu memang sangat singkat. 4 bulan yang rasanya lama, ternyata singkat.
4 bulan kebelakang ini aku disibukkan dengan kegiatan maha menyebalkan. Kegiatan yang amat menyita waktuku. Namun tidak disangka, lama-lama dari sebal berubah jadi sayang. 4 bulan ini aku mengenal puluhan manusia-manusia baru. Kami berjuang bersama membagi waktu, membelah diri, menahan emosi satu sama lain. Mulai dari si A yang kerap datang mepet, si B yang kalau makan lama sekali, si C yang bikin baper, si D yang galak, si E yang sering menggila. Banyak sifat-sifat baru yang kutemui disana. Perbandingan umur tidak lagi menjadi tatanan baku diantara kami. Dulunya kami berlagak sok prosedural. Ini itu harus sesuai, apa-apa harus nurut. Sekarang?

Rasanya suasana dapat dengan mudah mencair. Tatapan tajam berisyarat singa pun berubah jadi mata berbinar penuh bahagia. Ekspresimu yang dulu kerap datar kinipun nampak semakin manis seperti arum manis yang kubeli di sekaten minggu lalu.


Padat.

4 bulan ini terasa padat seperti kue donat buatan mama. Penuh sesak dengan kunjungan bis-bis yang ramai dan tiba-tiba. Penuh dengan mereka yang kerap tour de gerai saja, tanpa membeli sepotong cenderamata. Padat, namun banyak yang bermanfaat.

4 bulan ini aku belajar banyak hal. Dari cara reload kemasan, alur bersih-bersih gerai, melipat dengan cepat, sampai menempelkan isolasi di kemasan supaya terlihat cantik. Aku juga belajar untuk saling memahami satu sama lain. Saling peka terhadap kondisi di sekitarku. Saling paham, apa yang konsumen mau dan butuhkan. Saling menghibur, tatkala kamu banyak melamun dan memikirkan skripsi yang tak kunjung ada progressnya.


Melekat.
4 bulan ini layaknya permen karet. Awalnya hanya membeku. Kaku dibungkus plastik kecil, sempit, tidak nyaman sekali rasanya. Tapi lama kelamaan, semakin kamu mengunyahnya, semakin kamu menikmati manisnya, semakin kamu merasakan lenturnya, merasakan betapa melekatnya segala sesuatu ini.

Tadinya aku memang amat bodoh. Mencari stok di lemari saja lama sekali. Tadinya aku begitu sulit mengecek stok yang harus di tambah, tapi kamu mengajari aku cara mudahnya. Kamu mengajari aku cara nyaman berada disini. Kamu mengajari aku bagaimana menjadi seorang yang mampu menjual senyum, sapa, kecerdasan, dan keramahannya. Kamu mengajari aku begitu banyak hal.

Kamu juga mengajari aku bagaimana caranya jatuh cinta. Kamu mengajari aku langkah-langkah menyayangi pekerjaanku sendiri, rela mengorbankan hal lain demi sebuah dedikasi yang tinggi. Kamu memberikanku contoh dan bukti nyata, bahwa disinilah rasa kekeluargaan itu ada. Kamu mengajak aku untuk lebih peduli, lebih mampu membaca keadaan kawan sendiri.

Kamu mengajari aku beragam ilmu seputar tempat ini. Tempat yang tadinya asing bagiku, namun kini kerap kurindu dalam mimpiku. Kamu mengajari aku menahan emosiku sendiri, mengontrol rasa jengkelku karena mereka banyak mau.

Kamu pernah berkata, "Sabar yaa, turutin aja..."

Kamu mengajari aku untuk selalu tersenyum, selalu ceria, selalu tertawa meski aku dirundung duka. Kamu membuat aku tertawa lebih lega dari sebelumnya. Kamu membuat aku lebih jatuh cinta pada tempat ini. Kamu membuatku menjadi lebih sayang dan sulit melepaskan. Kamu jugalah yang membuat rasa lelahku lenyap seketika, diganti tawa dan canda yang tak bisa dirupiahkan. Kamu mengajariku, bahwa dua puluh dua ribu tidak sebanding dengan kerja keras ini, namun nilai-nilai yang kita dapat bahkan lebih berharga dari itu.


Kembali lagi pada satuan waktu yang kini mulai menipis.

Nampaknya waktu kali ini memang sungguh kurang ajar. Dia benar-benar tidak tahu diri. Dia selalu saja merusak sebuah kenyamanan yang baru ku anyam bersama kalian.

4 bulan ini memang terasa lama, namun sangat cepat berlalu. Pada akhirnya, di hari ke-122 ini, hari yang seharusnya menjadi perpisahan kita, hari yang seharusnya dapat kumanfaatkan untuk merangkul kamu kamu sekalian, namun menjadi hari yang kutangisi sendiri karena aku berada jauh di belahan bumi lainnya.

Pada akhirnya, terimakasih untuk 4 bulan yang luar biasa ini. Kalian benar-benar mampu membangunkan aku dari tidur panjang menuju sebuah perjuangan.



Terimakasih untuk segala ilmunya.
Terimakasih untuk segala koreksinya.
Terimakasih untuk segala hal baik-buruknya.
Terimakasih untuk backup-backup nya.
Terimakasih untuk makan bersama di setiap shiftnya.
Terimakasih untuk todays nya yang enaaakkk.
Terimakasih untuk moment cupir culas barengnya.
Terimakasih untuk greeting nya yang selalu tulus dan ikhlas.
Terimakasih untuk selalu mengingatkan sekarang hari apa.
Terimakasih buat kemasannya, buat askas, asaskasnya.
Terimakasih sudah membuatku tenang setiap aku merasa panik.
Terimakasih untuk kecerdasan, senyum, dan keramahannya.
Terimakasih untuk segala sesuatunya.


Terimakasih untuk 4 bulan ini, mas, mba....
Tidak pernah menyesal rasanya jatuh kedalam zona tidak nyaman. Tidak hanya menemukan teman-teman baru, namun aku juga menemukan banyak sekali mas-mba baru. Terimakasih untuk keluarga baru yang sangat indah ini. Bangga rasanya pernah mengenal manusia-manusia seperti kalian ini.

Terimakasih untuk pertemuan yang singkat, namun padat akan kenangan yang selalu melekat di ingatan.

Suatu kehormatan pernah menjadi garda depan bersama kalian. Aku akan selalu merindukan suasana tempat ini bersama kalian.



Sampai jumpa di ketidaksengajaan lainnya. 



Dengan penuh cinta, dari kejauhan yang entah dimana.

Tertanda,
Luna 60.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar