Menunggu adalah kegiatan paling menyebalkan di dunia ini. Menunggu
kiriman uang bulanan datang, menunggu dosen selesai berbicara lalu menutup sesi
pertemuannya, termasuk menunggu kamu membaca pesan WhatsApp ku, lalu
membalasnya. Bagi kebanyakan orang, menunggu adalah ancaman tersendiri. Daripada
aku gelisah menunggu kamu datang, tanpa kabar sudah sampai dimana, rasanya aku
ingin berlari saja, mencari kamu disepanjang jalan, siapa tahu ketemu.
Ada beberapa orang yang justru menganggap “kegiatan menunggu”
itu mengasyikan. Menunggu anaknya pulang sekolah sembari ngerumpi bareng
ibu-ibu muda memang asyik. Apalagi ketika menunggu giliran makan saat kerja
paruh waktu. Tapi, bagiku, menunggu memang menyebalkan, namun sejujurnya memang
asyik juga saat aku harus gelisah menunggu dijemput kamu.
Waktu memang kurang ajar.
Aku sering membahas soal ini.
Aku kerap kali menyalahkan satuan waktu.
Yaa, dia memang begitu baik sih, selalu memberi celah tersendiri
bagi moment-moment berharga di bumi. Tapi, pada akhirnya, aku harus kembali
menarik kesimpulan pada dua hal yang berseberangan;
Terkadang waktumu berjalan lambat.
Menyebalkan.
Aku tahu betapa kamu sangat ingin pergi dari tempat ini dan
menjelajahi bagian bumi lainnya. Tapi, waktu sangat lambat menghantarmu kesana.
Berapa lama lagi kamu harus menanti?
Berapa banyak lagi hati yang harus tersakiti?
Berapa persen lagi hingga kamu mencapai ambang batas penuh, lalu
meledak?
Tidakkah kamu lelah menanti waktu ini berjalan?
Ia mengurung kamu disini.
Dalam sangkar besi yang tak mampu kamu lebur meski dengan lahar
panas sekalipun.
Ia mengikat kakimu kencang.
Percuma saja memakai sepatu Nike yang kamu beli asli di mal itu,
toh kamu tidak bisa berlari dari kenyataanmu.
Ia menenggelamkan kamu di dasar lautan.
Dimana dia?
Masih sibuk bercengkrama dengan mata air lain?
Waktumu itu berjalan sangat lambat, nak.
Tanpa terasa usiamu hanya kamu habiskan untuk berdiam, tanpa kata.
Kamu hanya mampu berpikir keras,
“Untuk apa aku ada disini?”
Kamu hanya bisa mengeluh,
“Mengapa hari-hari ini teramat berat?”
Kamu hanya bisa mencari-cari,
“Dimanakah sosok itu berada?”
Apa kamu masih setia menunggu yang terbaik datang?Apa kamu masih percaya Ia akan menepati janji itu?
Namun, disisi lain, waktumu berjalan amat cepat!
Pernahkah kamu menghitung berapa kali kamu menarik hembusan
nafasmu?
Pernahkah kamu mencatat berapa banyak manusia yang kamu lihat
setiap harinya?
Waktu kadang seenaknya saja merubah haluan.
Ia merubah kecepatannya menuju batas maksimal.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini;
Yang pertama, karena kamu terlalu nyaman berada pada posisimu saat ini.
Yang kedua, karena kamu terlalu aman pada zona yang sama.
Yang ketiga, karena kamu terlalu senang dengan keadaan seperti demikian.
Yang terakhir, karena kamu masih sangat ingin bersama dia, namun waktu berbisik halus sambil berkata,
“Hayoo, ingat, ini sudah jam berapa....”
Ah, dasar tidak tahu diri!
Mengapa disaat aku sedang bahagia pergi bersama orang ini, waktu
berjalan begitu cepat, menuju malam, menuju kalimat, “Yuk pulang, udah
jam 10 ini,”
Duhai waktu yang kerap berjalan cepat saat aku sedang menikmati
hidup, tak apalah kamu sok seperti pembalap yang mengencangkan pedal gasmu,
tapi, apa boleh besok-besok aku mengulang bahagia ini kembali?
Janganlah kamu berjalan terlalu cepat.
Tenanglah sebentar.
Ikuti saja irama jantungku.
Saksikan saja senyumanku.
Nikmati saja kebersamaanku ini.
Jangan semata-mata kamu cemburu lalu mempercepat waktumu..
Jangan curang.
Aku juga butuh senang-senang!
Diantara beragam hal yang diperbuat oleh satuan waktu, nampaknya
aku harus kembali merenung dan memperdalam ilmuku tentang waktu.
Nampaknya aku harus lebih bisa bersahabat dengan waktu.
Aku sudah seharusnya memanfaatkan sedikit saja waktu yang mampu
menyatukanku dengan dia.
Aku sudah sepantasnya mendapat moment berharga.
Aku sudah selayaknya memenangkan waktu.
Jika tidak, bunuh saja waktu itu.
Bunuh, hingga kamu mengerti apa rasanya merindukan sesuatu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar