Ada yang pernah bilang kalau "jauh
di mata pasti dekat di hati".
Apa iya?
Aku masih bisa tuh melihatmu, meskipun dari jauh.
Aku masih bisa memperhatikanmu, meski hanya sembunyi-sembunyi.
Aku masih bisa mendengar suaramu, menghirup aroma parfum itu, merasakan keberadaanmu, padahal kamu jauh disana.
Apa benar itu yang kata orang bernama rindu?
Kok aku rindu ya sama kamu?
Kok aku tiba-tiba saja ingat manisnya senyumanmu.
Tiba-tiba aku merasakan hangatnya sentuhanmu.
Tiba-tiba kamu seperti ada disini, disampingku, meskipun tak nyata.
Itu rindu, atau hanya suatu hal semu?
Mengapa kamu seperti berlari-lari dipikiranku. Meresahkan setiap tarikan nafasku, menghantui relung jiwaku.
Itu rindu atau hanya halusinasiku?
Tidak cuma hari ini, bahkan setiap detik kamu ada disini. Hanya sekelebat melintas, namun melekat dalam ingatanku.
Kamu itu nyata atau tidak sih?
Lama-lama aku mulai merenung dalam gelap, mengenang segala yang pernah ada. Semua rangkaian hari demi hari yang pernah kulewati bersamamu dulu.
Jikalau jarak ini memang sengaja memisahkan kita, ataukah jarak memang senantiasa merubah haluan kita satu persatu supaya tak kunjung bertemu?
Jarak lagi.
Dia lagi.
Lelah aku dengan semua ini.
Tak ada habis-habisnya waktu kubuang percuma hanya untuk membicarakan ini.
Tak ada habis-habisnya waktu kubuang percuma hanya untuk membicarakan ini.
Jarak,
Kamu,
Rindu,
Semuanya melebur jadi satu.
Semuanya menjadi semakin serba salah.
Tau gak sih?
Aku tuh rindu kamu.
Tapi jarak ini begitu jauh.
Jarak ini yang memisahkan kita.
Jarak ini yang tak pernah bisa kukejar, tak pernah bisa kulewati begitu saja. Tak bisa kulaju meski dengan jet tempur sekalipun. Jarak ini selalu berteriak padaku, bahwa aku tak boleh melangkah lagi.
"Kamu tidak boleh terlalu jauh. Cukup disini saja."
Dia selalu seperti itu padaku. Selalu saja itu yang diucapkannya tiap aku mengenang kamu.
Tapi setelah kupikir-pikir, dia baik juga sih.
Dia selalu menyadarkanku, bahwa kamu memang bukan untuk aku.
Eh, iya kah?
Tapi jika takdir nya kamu untuk aku, bagaimana?
Apa aku harus mengingkari itu?
Jika takdirnya kamu memang harus bertemu dengan orang lain sebelum denganku, jika takdirnya aku harus jatuh cinta lebih dulu, jika takdirnya aku harus merindukan milik orang lain, apa salah?
Tapi jika takdir nya kamu untuk aku, bagaimana?
Apa aku harus mengingkari itu?
Jika takdirnya kamu memang harus bertemu dengan orang lain sebelum denganku, jika takdirnya aku harus jatuh cinta lebih dulu, jika takdirnya aku harus merindukan milik orang lain, apa salah?
Ah, sudahlah.
Salah atau tidak, toh cuma Si Dewa Cinta yang punya mandat untuk ini semua.
Aku toh hanya bisa jatuh cinta pada tatapanmu.
Aku entah bagaimana bisa jatuh cinta.
Salah atau tidak, toh cuma Si Dewa Cinta yang punya mandat untuk ini semua.
Aku toh hanya bisa jatuh cinta pada tatapanmu.
Aku entah bagaimana bisa jatuh cinta.
Karena, nyatanya sedari awal, kamu memang pemenang, dan aku hanya juara kedua.
Itu saja.
Tidak lebih.
Itu saja.
Tidak lebih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar