Sabtu, 22 April 2017

Bumi dan Matahari

 
Bumi yang kita pijak hari ini adalah Bumi yang teramat kuat sepanjang masa. Aku mengenalnya hanya sejak kali pertama aku bernafas. Aku merasakan hembusan angin yang kuat disana. Aku merasakah nyaman yang sangat indah disana.

Bumi yang kita tempati hingga saat ini punya banyak sekali cerita. Mulai dari Adam dan Hawa, Mesias si anak utusan Tuhan, Mahabarata, Sri Sultan Hamengku Buwono I, Soekarno, Simbah Putri, Bapak, Mama, Aku, hingga anak-cucuku nanti ceritanya akan ada di Bumi. Oh, ataukah nanti tidak ‘bumi’ lagi namanya? Entahlah. Aku lebih suka menyebutnya Bumi.


Bumi memanglah indah. 
Ia punya sejuta cara yang membuatku jatuh cinta hingga kini terlanjur menyayanginya sepenuh hatiku. Bumi punya sejuta keajaiban. Bumi punya lima samudra yang begitu luas mengitarinya. Bumi punya banyak sekali pulau dengan triliunan manusia yang hidup didalamnya. Bumi punya pegunungan yang hijau membentang, dingin mencekam, hingga panas membara bila perutnya memuntahkan lava. Bumi punya siang, malam, sunset romantis, hingga Matahari terbit yang amat hangat. Tapi, bicara tentang Matahari, Bumi punya kisahnya sendiri dengan Matahari.

Bumi selalu mengitari matahari tanpa pernah bisa menggapainya. Baru mendekat sedikit saja, Ia sudah merasakan begitu panasnya lidah api matahari. Satu jengkal Bumi melangkah menuju Matahari dapat membakarnya selama jutaan tahun masehi. Akan tetapi, Bumi selalu berusaha ada di dekat Matahari.

Bagaimanapun sifat Matahari, sejahat apapun matahari, sepanas apapun api yang membara itu, rasa milik Bumi jauh lebih luar biasa dari kekuatan super milik pusat tata surya itu. Hal tersebut kadang kala membuat Bumi tidak begitu peduli. Kadang kala Bumi kerap kesal pada Matahari.  
“Mengapa kamu selalu mempermainkan aku seperti ini? Tidakkah kamu tahu bila meraihmu sama saja membunuhku?”.


Tapi, semarah apapun Bumi pada Matahari, Bumi akan tetap tersenyum merasakan sinar Matahari. Matahari pun selalu berhasil merubah gundah Bumi menjadi sukacita. Ia dapat dengan mudahnya menghangatkan Bumi ditengah kedinginan. Ia tetap saja membangkitkan semangat Bumi untuk tetap ada dan tetap hidup. Matahari tetap dan akan selalu menjadi sumber bahagianya Bumi.


Perlahan-lahan, Bumi yang kita nikmati ini semakin tumbuh dewasa. Kerap kali Ia berpikir, “Mengapa aku harus selalu mengejar sesuatu yang tidak bisa kuraih? Apakah aku harus selalu berharap pada kepalsuan?”. Matahari tiba-tiba saja mulai berubah, mungkin karena begitu banyak yang mengaguminya. Ia mulai bosan hidup sendiri ditengah tata surya. Ia juga merindukan Pluto yang berada amat jauh disana. Ia juga ingin menerangi lubang hitam yang mengerikan, agar ada cahaya kehidupan tumbuh disana.


Matahari juga ingin jatuh cinta. 
Tapi Ia tidak ingin menarik Bumi begitu dekat.
Ia tahu itu membahayakan Bumi.



Bumi yang kita kenal hingga kini mungkin pernah mengalami sakit yang teramat dalam karna global warming. Panasnya bagaikan cemburu buta ketika Ia melihat Matahari lebih memilih lubang hitam dibanding dirinya yang begitu sempurna. Lapisan ozon yang melindungi Bumi perlahan mulai menipis. Kekuatan Bumi perlahan mulai mengikis. Tawa dan ceria Bumi perlahan mulai pudar seraya berubahnya arah Matahari. Bumi kini tidak bisa merasa hangat lagi. Hangat itu kini berubah menjadi panas terik di siang hari, bahkan hujan badai sepanjang hari. 

Bumi kini mulai runtuh. 

Bumi kini mulai jatuh. 

Bumi kini mulai patah hati.
 
Bumi telah bertahun-tahun merangkum semuanya. Kini Ia hanya berharap untuk dimengerti. Walau sekali saja, Ia tidak ingin ada yang tersembunyi. Bumi tiadk lagi punya alasan, inilah kejujuran. Mungkin pedih adanya, namun ini jawabnya. Bumi menyadari bila Ia akan sendiri di dini hari yang sepi. Karena apalah arti bersama Matahari, bila itu hanyalah semu semata. Bumi tidak mau terlalu memaksakan kehendaknya. Ia hanya butuh setitik pengertian, dan sedikit pelukan.



Bumi, aku juga tahu rasanya jatuh hati....


Ia kerap membuatku gila, menghilangkan fokus pikiranku, membuatku selalu merasa dia benar meski dia sangat salah.

Tapi aku juga tahu bagaimana getirnya melihat dia menyinari manusia lain.
Aku kerap sulit memilih harus bahagia atau pergi saja tiba-tiba dari hadapannya.
Tapi dibalik kecewaku, aku masih ingin ada didekat dia. Aku senang dan bahagia mengenal dia. Dia bagaikan Matahari yang tetap menerangimu meski kamu dingin dalam badaimu.


Bumi, jangan khawatir.
Kami juga tahu apa yang kamu rasakan.
Kami bisa kamu jadikan tempat bersandar ketika kamu butuhkan.
Kami bisa jadi pelabuhan terakhir dalam lintasan orbitmu.



Bumi, jika dia masih memijak tanahmu, bisakah kamu kirimkan gelombang elektromagnetik, tektonik, atau vulkanik sekaligus bila ia ada di pegununganmu? Beritahu ia seperti apa getar yang kurasa setiap aku melihatnya, menatapnya, tertawa karna dia. Biarkan dia tahu getar itu indah rasanya.

Bumi, bila hingga hari ini dia masih sangat menjagamu, biarkan dia juga belajar menjaga cinta dan percaya yang ia punya. Biar dia setia tanpa perlu berdosa dan membohongi gelitik ngilu di dunia nyata.

Bila hingga saat ini dia masih sangat mencintaimu, biarkan juga dia mencintainya dengan sepenuh hati, sepenuh raga, sepenuh rasa. Biarkan cinta itu meleburkan ribuan beda yang ada.

Dan bilakah hingga detik ini dia masih bertahan memijakmu, biarkan dia menjadi sosok yang hebat, jauh lebih tegar dari sebelumnya. biarkan seonggok tubuhnya melindungi mereka yang lemah, yang butuh kasih sayang, yang perlu dan teramat mengharapkan kehadirannya.


Bumi, bila hingga kapanpun nanti kamu tetap mengitari Matahari, tetaplah setia pada porosmu yang indah.
Tetaplah disana.
Tetaplah berada di jalan yang benar, jalan yang seharusnya.
Janganlah kamu sekali-kalinya bergeser dari poros itu.
Jangan hianati poros yang sejak lahir tumbuh bersamamu.
Jangan hianati rasa percayaku padamu.

Tetaplah disana.
Tetaplah menjadi Bumi yang indah bagiku, bagi kami, terutama bagi dia.
Tetaplah menjadi Bumi yang kurindukan.
Tetaplah menjadi Bumi yang nyaman untuk dihuni, hingga suatu saat nanti kutinggal pergi ke alam mimpi yang lebih tinggi.




Tetaplah menjadi Bumi yang tidak pernah membenci Matahari 
meski sesakit apapun kamu dikecewakan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar