Selamat
pagi, April.
Produktif
sekali di tanggal pertama ini aku bisa bangun lebih pagi. Walaupun hanya
berkutat dengan komputer dan lagu-lagu kenangan, bercampur dingin dan sorot
matahari yang pas banget untuk diajak foto dengan teknik cahaya belakang.
Pagi ini
aku kembali mendengar lagu itu.
Lagu yang
seminggu lalu kamu nyanyiakan didepanku.
Tadinya
aku nggak tau kamu nyanyi lagu apa.
Ditengah
rusuhnya tembok-tembok yang diwarnai, dan paku-paku yang dipahat, perlahan aku
mulai mengerti beberapa syair manismu itu.
Setelah
hari itu, aku hanya bisa mendengar lagu itu sepanjang waktu. Ia menghipnotis
aku dengan dendang sendunya, lirik getirnya, dan sentuhan rasa mendalamnya.
Tapi, apa iya rasa itu sedalam rasaku juga?
Rasaku
yang mungkin kamu nggak pernah tau, atau tau tapi malah membantuku untuk
melupakannya. Rasaku yang mungkin makin kesini makin dalam, padahal semakin
dalam berenang juga aku semakin sulit ambil nafas. Iya, benar saja. Berenang di
lautan hidup ini yang tidak sengaja tertaut dengan hidupmu dan hidup mereka,
membuatku sedikit tergesa untuk mencapai finish nya. Bukan karna aku
ingin terburu pergi darimu, bukan karna aku sudah bosan dengan yang lain, tapi,
berlama-lama didalam lautanmu malah mematikanku..
Tapi,
bicara soal April yang kini sudah tiba, kalau dihitung lagi, kebersamaan kita
tinggal sebentar lagi yaa... Kamu dulu selalu bilang kalau kita harus
bersenang-senang dalam kebersamaan ini. Tapi, senang itu kini menipu diriku
sendiri. Rasa ambigu antara senang dan,
dan..... bagaimana
aku harus memposisikan diriku pada masa-masa seperti ini? Haruskah aku turut
bahagia melihatmu lebih bahagia, atau haruskah aku merasa bersalah jika
mengutuk kebahagiaan barumu, atau bahkan aku harus bergalau ria meratapi
kebahagiaanmu?
Haruskah
aku menertawai bahagiamu yang kelabu? Dalam segala perbedaan dengan sebaran
manusia yang berjuta banyaknya, haruskah kamu menipu rasa percayamu sendiri?
Mungkin aku tak seharusnya mengurusi itu, tapi rasa miris yang pernah kualami
pada kehidupan lain sebelumku masih terasa hingga kini. Akankah kamu mengulanginya,
mengulangi rasa sakit dan kecewa tetua lainnya, hanya karena sebuah cinta anak
muda... yang bisa saja hanya sementara.
Akankah
kamu dan dia juga sementara?
Akahkah
jatuhku ini juga hanya sementara?
Akankah
segalanya ini sesementara kebersamaan kita?
Sementara
itu, semakin kesini, aku semakin merasa dibodohi oleh rasa jatuh itu. Kadang
jatuh memang membuatku gegar otak hingga tak bisa membedakan mana nyata mana
ilusi semata. Jatuh kali ini juga semakin membuatku menjadi manusia yang
benar-benar bodoh, benar-benar menurut dan selalu meng-iya-kan apapun yang ada
kamunya. Jatuh ini membuatku selalu merasa kamu paling benar meskipun kamu yang
paling salah. Jatuh ini membuatku bodo. Amat bodoh.
Sementara
jatuh yang semakin lama membuatku semakin tidak beraturan, aku malah semakin
membutuhkan supleman berupa ‘bertemu kamu’. Sekalipun ketemu kamu juga
meninggalkan rasa getir tersendiri.
Tanpa
harus kamu pakai, aku tau kok kalau kamu sebegitu sayangnya sama dia.
Tanpa
kamu kasih tau, aku udah paham kok.
Aku juga
mulai paham jika jatuh cinta yang dadakan pasti endingnya selalu berantakan.
Hanya saja, kadang kamu harus mencoba untuk memahami rasa jatuhku. Rasa jatuh
yang membuat aku selalu percaya bila aku bisa mengarang cerita tentang mimpi
yang jadi nyata.
Dan
bolehkah bila kita jangan hentikan disini?
Untuk
sementara saja, bolehkah aku merasakan bahagiamu yang lebih bahagia bila bersama-sama?....
Untuk sementara saja.
Sebelum segala ke-sementara-an ini berakhir percuma di akhir masa
nanti.
Oiya, jangan lupa ya,
Sejauh apapun kamu pergi, jangan pernah lupa untuk kembali.
Sejauh apapun kamu melangkah meninggalkan tempat ini, jangan pernah
lupa bila kita pernah ada disini.
Sejauh apapun kamu berpikir bila perbedaan itu indah, jangan pernah
lupa bila indah juga ada di jalan yang searah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar