Sabtu, 01 April 2017

Sementara




Selamat pagi, April.

Produktif sekali di tanggal pertama ini aku bisa bangun lebih pagi. Walaupun hanya berkutat dengan komputer dan lagu-lagu kenangan, bercampur dingin dan sorot matahari yang pas banget untuk diajak foto dengan teknik cahaya belakang.

Pagi ini aku kembali mendengar lagu itu.
Lagu yang seminggu lalu kamu nyanyiakan didepanku.
Tadinya aku nggak tau kamu nyanyi lagu apa.
Ditengah rusuhnya tembok-tembok yang diwarnai, dan paku-paku yang dipahat, perlahan aku mulai mengerti beberapa syair manismu itu.

Setelah hari itu, aku hanya bisa mendengar lagu itu sepanjang waktu. Ia menghipnotis aku dengan dendang sendunya, lirik getirnya, dan sentuhan rasa mendalamnya. Tapi, apa iya rasa itu sedalam rasaku juga?

Rasaku yang mungkin kamu nggak pernah tau, atau tau tapi malah membantuku untuk melupakannya. Rasaku yang mungkin makin kesini makin dalam, padahal semakin dalam berenang juga aku semakin sulit ambil nafas. Iya, benar saja. Berenang di lautan hidup ini yang tidak sengaja tertaut dengan hidupmu dan hidup mereka, membuatku sedikit tergesa untuk mencapai finish nya. Bukan karna aku ingin terburu pergi darimu, bukan karna aku sudah bosan dengan yang lain, tapi, berlama-lama didalam lautanmu malah mematikanku..

 
Tapi, bicara soal April yang kini sudah tiba, kalau dihitung lagi, kebersamaan kita tinggal sebentar lagi yaa... Kamu dulu selalu bilang kalau kita harus bersenang-senang dalam kebersamaan ini. Tapi, senang itu kini menipu diriku sendiri. Rasa ambigu antara senang dan,

dan..... bagaimana aku harus memposisikan diriku pada masa-masa seperti ini? Haruskah aku turut bahagia melihatmu lebih bahagia, atau haruskah aku merasa bersalah jika mengutuk kebahagiaan barumu, atau bahkan aku harus bergalau ria meratapi kebahagiaanmu?

Haruskah aku menertawai bahagiamu yang kelabu? Dalam segala perbedaan dengan sebaran manusia yang berjuta banyaknya, haruskah kamu menipu rasa percayamu sendiri? Mungkin aku tak seharusnya mengurusi itu, tapi rasa miris yang pernah kualami pada kehidupan lain sebelumku masih terasa hingga kini. Akankah kamu mengulanginya, mengulangi rasa sakit dan kecewa tetua lainnya, hanya karena sebuah cinta anak muda... yang bisa saja hanya sementara.


Akankah kamu dan dia juga sementara?
Akahkah jatuhku ini juga hanya sementara?
Akankah segalanya ini sesementara kebersamaan kita?


Sementara itu, semakin kesini, aku semakin merasa dibodohi oleh rasa jatuh itu. Kadang jatuh memang membuatku gegar otak hingga tak bisa membedakan mana nyata mana ilusi semata. Jatuh kali ini juga semakin membuatku menjadi manusia yang benar-benar bodoh, benar-benar menurut dan selalu meng-iya-kan apapun yang ada kamunya. Jatuh ini membuatku selalu merasa kamu paling benar meskipun kamu yang paling salah. Jatuh ini membuatku bodo. Amat bodoh.

Sementara jatuh yang semakin lama membuatku semakin tidak beraturan, aku malah semakin membutuhkan supleman berupa ‘bertemu kamu’. Sekalipun ketemu kamu juga meninggalkan rasa getir tersendiri.

Tanpa harus kamu pakai, aku tau kok kalau kamu sebegitu sayangnya sama dia.
Tanpa kamu kasih tau, aku udah paham kok.


Aku juga mulai paham jika jatuh cinta yang dadakan pasti endingnya selalu berantakan. Hanya saja, kadang kamu harus mencoba untuk memahami rasa jatuhku. Rasa jatuh yang membuat aku selalu percaya bila aku bisa mengarang cerita tentang mimpi yang jadi nyata.

Dan bolehkah bila kita jangan hentikan disini?
Untuk sementara saja, bolehkah aku merasakan bahagiamu yang lebih bahagia bila bersama-sama?....
Untuk sementara saja.
Sebelum segala ke-sementara-an ini berakhir percuma di akhir masa nanti.



Oiya, jangan lupa ya,
Sejauh apapun kamu pergi, jangan pernah lupa untuk kembali.
Sejauh apapun kamu melangkah meninggalkan tempat ini, jangan pernah lupa bila kita pernah ada disini.
Sejauh apapun kamu berpikir bila perbedaan itu indah, jangan pernah lupa bila indah juga ada di jalan yang searah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar