Nama punya sebuah tanda dari papa mama.Nama punya isyarat doa di setiap manusia.Nama punya sejuta cerita dibaliknya.
Sembilan belas tahun lalu aku terlahir dengan
sebuah nama yang cukup panjang. Brigita Luna Anggia Putri.
Menurut berbagai sumber yang kurangkum, empat suku kata itu punya artinya
masing-masing. Mulai dari Brigita. Ia adalah seorang Santa dari Swedia. Ia
rajin mengikuti misa dan merupakan pendengar yang baik. Meski terkenal sebagai
seorang janda delapan anak dari Pangeran Ulfo, Brigita merupakan pribadi yang
bijaksana dan pandai mengurus keluarga. Lalu, Luna, merupakan sebuah nama
cantik yang dipilih mba ku, berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti Bulan
(benda langit). Sementara itu, Anggia merupakan nama bagi seorang adik kecil
kesayangan kakak-kakaknya, dan Putri nampaknya sebuah tanda yang baik untuk
seorang anak perempuan.
Dari sekian banyak pengertian diatas, aku masih
punya berbagai nama lain yang kadang tidak masuk akal. Posisi bungsu yang
kunikmati membuat semua orang selalu menganggap aku sebagai seorang ‘adik’
dan kerap memanggilku ‘dik’. Tetapi, posisi bungsuku tidak semata-mata
menjadikanku sebagai anak kecil seumur hidup. Di usia keempat, aku sudah punya
mainan berupa keponakan yang entah mengapa begitu lucu. Ketika mereka baru saja
belajar bicara dan bisa memanggil namaku, sesederhana ‘tan’, ‘tante’,
atau ‘naaa...’, merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terhingga. Hingga
tiba saatnya mereka tumbuh besar, mulai beranjak dewasa, dan memanggilku sesuka
hati, layaknya teman sendiri. Tapi, aku suka. Tak masalah bagaimana mereka
memanggilku. Aku hanya selalu mengingat mereka sebagai sumber bahagiaku.
Sekolah pun memanggilku dengan nama yang cukup
berbeda. Brigita menjadi pilihan waktu itu. ‘Brig’, ‘Brigit’,
hingga tiba waktunya ‘Gita’ menjadi kata yang paling sering mereka
ucapkan untuk memanggilku. Terkadang beberapa teman SMP ku masih kerap
memanggil aku ‘Gitiew’.
Hingga suatu ketika, aku dianugerahi sebuah dunia baru.....
Aku harus benar-benar memutuskan, dengan apa
dunia ini bisa mengenalku. Aku memilih menjadi Luna sejak itu. Hingga
kinipun aku lebih mencintai peranku sebagai seorang Luna. Berbeda nama
menjadikanku pribadi yang agak berbeda. Namun, entah mengapa, Luna
menjadi lebih elegan dibanding Gita atau Tante Nana yang selama
ini ada. Luna menjadi jauh lebih baik. Lebih mandiri, lebih berani,
lebih mencintai banyak orang, lebih mudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi kadang, setegar apapun seorang Luna, ia akan tetap luluh bila ada
satu dua orang yang tertiba-tiba memanggilnya ‘Lunski’. Tapi, Lunski
adalah kekuatan seribu tahun cahaya yang jauh lebih indah dibanding aku yang
lain. Setidaknya kamu selalu berhasil membuatku tersipu oleh nama itu.
Dengan apapun kamu menyebut namaku, aku tetaplah aku yang menyukaimu dalam diam. Aku tetaplah aku yang menanti saat-saat bertemu denganmu, hanya sekedar untuk mendengar suaramu. Aku tetaplah aku yang punya rasa bergejolak tiap ada didekatmu. Aku tetaplah aku yang ingin selalu mengulang waktu bersamamu, meski kutau, bukan cuma aku yang ada dihidupmu.
Sembilan belas tahun yang romantis ini
menyadarkanku akan begitu banyak hal. Keindahan yang Ia ciptakan terlanjur
membuatku terpana sejak pertama membuka mata. Mulai dari Bapak, Mama, Mas, Mba,
adik-adik nakalku, sampai teman-teman kesayanganku, hingga deadline-deadline
menyebalkan itu, semua adalah anugerah terbaik yang pernah kupunya.
Entah dengan apapun dunia akan menyambutku, dengan apapun mereka akan menganggap aku suatu waktu nanti, aku tetap akan menjadi aku yang seperti ini.
Aku mungkin harus mengorbankan banyak waktu
hanya untuk sebuah kenyamanan hati. Aku mungkin harus selalu menghianati satu
dua manusia lainnya, hanya untuk mementingkan mana yang paling kusayang. Aku
mungkin harus pura-pura diam ketika kamu dan dia saling menggenggam. Tapi
terimakasih, itu membuatku menjadi makin dewasa dari tahun lalu.
Seperti apapun jalanku didepan nanti, aku akan
tetap menjadi aku yang seperti ini. Aku yang sering bicara cinta, sekedar
supaya kamu peka. Dan aku yang selalu ada, meski kamu tak anggap aku ada.
Pada akhirnya, aku hanya ingin berterimakasih
karena kamu dan kalian semua senantiasa membantuku menjadi wanita yang semakin
dewasa. Jika tahun lalu pergantian malam yang dingin harus kulewatkan di tempat
antah berantah bersama petikan gitar dari teman di radio, meski tidak ada
seorangpun yang tahu bila aku begitu merindukan jabatan tangan dari kesayangan,
tapi bintang malam menyejukkan rindu di hati terdalamku.
Jika tahun lalu aku dapat kiriman kado yang
telat seminggu lewat manusia dingin itu, tahun ini aku hanya ingin melihat manusia
paling tampan di Bekasi bisa berjalan dan tersenyum riang lagi. Bonus lainnya,
boleh lah ya kalau aku habiskan soreku denganmu dan manusia-manusia pencetak
tawa di hidupku belakangan ini... Sisanya, biar Mas Gondrong yang bekerja agar
dia bisa kembali seperti sedia kala.
Tapi, tahun depan, boleh kan kalau aku minta kadoku yang sebenarnya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar