Rabu, 1 Februari 2017.
Pagi itu merupakan
permulaan di bulan penuh cinta yang amat kunanti tahun ini. Benar saja. Hari
pertama ini sangat penuh dengan cinta. Beragam acara sudah kurangkai hari itu,
tapi tertiba-tiba saja, pagi itu mba ku membangunkanku. Bangun yang paling
tidak kuharapkan seumur hidupku. Bangun yang paling menyakitkan ketimbang
menggigil kedinginan di ujung Kaliurang.
“Na, bapak masuk rumah sakit, tangan sama kakinya nggak bisa gerak...”
Ah, cuma mimpi,
pikirku.
Tapi dengan
kesadaran yang perlahan mulai tumbuh di subuh itu, aku mulai mencerna
ucapannya. Perlahan aku bangkit, turun dari kasur tingkat itu, lalu berusaha
mencari informasi akurat yang sampai menit ke sepuluh masih kuharap sebagai
jebakan konyol (padahal ulang tahunku masih lama).
Tapi, akhirnya,
dengan tingkat kesadaran yang sudah tercukupi, aku benar-benar percaya bila Bapak
memang terserang stroke dan harus masuk rumah sakit.
Untunglah tiket
kereta Progo hari itu masih sisa banyak. Biasanya kalau balik ke Bekasi pasti
bawa macem-macem, dari bakpia, gudeg, sampai pakaian kotor yang belum dicuci.
Siang ini, kepulanganku ke Bekasi adalah masa-masa pulang paling tidak
menyenangkan. Biasanya aku menanti saat-saat pulang seperti ini. Tapi, pulang
yang ini sangat tidak kuharapkan.
Tengah malam itu
juga, aku hanya bisa menatap kordinat GPS di ponselku. Mengikuti arah
bergeraknya kereta ini. Lambat sekali dibanding kelas eksekutif, tidak salah jika
selalu terlambat 1 jam dari jadwal tiba nya. Tengah malam itu juga, aku hanya
berjalan keluar dari pintu gerbong 8, menghampiri mobil masku. Tengah malam
seperti itu biasanya aku mulai mengetik pesan singkat, “Udah sampai stasiun
nih, otw...” hanya untuk membalas sms bapak yang isinya, “Dah
sampai mana?”.
Dini hari itu,
seperti biasa gerbang gang rumahku sudah dikunci dan aku harus berjalan dari
ujung. Aku hanya berjalan dalam diam, membuka sendiri gembok pagar rumahku, dan
berusaha membuat bunyi-bunyian agar mama bangun dan membukakan pintu. Padahal,
biasanya bapak selalu menantiku pulang, bahkan tidak tidur sebelum mendengar
terlebih dahulu cerita perjalananku sembari aku membongkar koper.
Dini hari itu, lelah
sisa lari-lari di KRL dan perjalanan PSE-LPN yang belum hilang, laparku, sendu
dan tangisku, berbaur menjadi sebuah kesatuan dibawah atap kesayangan di
kamarku. Baru 2 hari lalu kutinggalkan kasur ini. Kini, nampaknya kasur ini
sudah merindukanku, dan tidak sabar menanti Juni tiba.
Kamis, 2 Februari 2017.
Pagi itu aku bangun sebelum
alarmku berbunyi. Aku hanya tidur 3 jam dari kedatanganku tadi. Tapi pagi itu aku
bergegas menuju ke sana, ke....rumah sakit.
Intermediate (ruang
intensif dibawah ICU) membuatku hanya bisa duduk di ruang tunggu berjam-jam
lamanya. Tapi laparku terbayar risol dan ketan serundeng yang dibawa masku.
Laparku juga terlupakan saat beberapa tetanggaku datang menjenguk Bapak. Siang
itu juga Shineaz kesayanganku datang, walaupun tidak lengkap (karna memang amat
sulit melengkapkan kami) tapi mereka sudah meluangkan waktu untuk datang.
Beruntungnya, menurut
pengamatanku, aku membaca kondisi Bapak di grup chat keluargaku terlihat parah.
Tapi, aku melihatnya sudah cukup membaik. Bahkan seharian itu dia mau makan
kentang rebus yang rasanya aneh, pisang, dan terlihat cukup baik dibanding
gambaran mas mba ku via telepon. Sore itu pun Bapak bisa pindah ke ruang rawat
biasa. Setidaknya malam itu aku tidak harus bermalam di ruang tunggu.
5 malam nginep
di rumah sakit menjadikan liburan kloter tigaku ini penuh dengan aroma-aroma
rumah sakit. Aku sampai hafal dengan cleaning service dan satpam
perempuan yang malam pertama jaga di lantai tiga. Sebenarnya Bapak masih
terlihat sehat. Hanya saja malam sebelum Ia sakit, Ia sempat meminum kopi
setelah minum obat darah tingginya. Dan tengah malam tiba-tiba tangannya sudah
tidak bergerak. Berdasarkan hasil pemeriksaan A-Z, kata dokternya sih ada
pendarahan di otak kanan Bapak, dan efeknya membuat alat gerak bagian kiri
(tangan dan kaki) jadi tidak bisa bergerak a.k.a. stroke. Tapi, kalau
kata saudara iparku, ada sesosok lelaki yang nempelin Bapak di sebelah
kiri dan berniat untuk merusak syaraf gituu...
Tapi, kalau
menurutku, ini adalah bagian dari sebuah misi rahasianya Mas Gondrong. Dia
pastinya bisa melakukan apapun, kapanpun, dan kepada siapapun. Aku tau kalau
dia teramat menyayangi Bapak, sampai-sampai mungkin ini adalah sedikit kode
dari Dia untuk kami semua. Mungkin Masnya pengen aku lebih lama liburan di
Bekasi. Mungkin Masnya pengen mas dan mba ku kumpul rame-rame dan menyediakan
waktu luang untuk Bapak dan Mama, bukan cuma pas arisan yang belum tentu tiap
bulan rutin diadakan. Nyatanya kejadian inipun mempertemukan keluarga yang
sudah lama nggak ketemu jadi ketemu lagi.
Eh, tapi nggak
masalah sih. Justru dengan misi rahasia seperti ini, kita bisa sama-sama lihat
siapa orang-orang yang sesungguhnya ada disekitar kita. Disaat seperti ini,
kita bisa lihat siapa teman yang sesungguhnya pantas kita anggap jadi keluarga.
Bukan hanya mereka yang ada di wall facebook kita, bukan mereka yang
tiap kita ngepos foto di instagram selalu ngelove. Bukan mereka yang
ikutan copy-paste ucapan ‘selamat ulang tahun’ di grup, padahal
kita nggak ulang tahun. Bukan mereka yang datang waktu kita syukuran di rumah
dan bikin acara makan-makan. Bukan hanya mereka yang menyapa kita saat papasan
di tengah jalan, tapi juga mereka yang bisa tiba-tiba datang dan memberi
semangat waktu kita sakit. Mereka adalah mereka yang tidak lupa bilang,
“Cepat sembuh yaa, kamu harus semangat...”
Seminggu ini aku
belajar banyak tentang hal diatas. Aku bisa melihat bahwa ada begitu banyak
manusia yang juga menyayangi Bapak, bahkan mungkin lebih dibanding kami. Ada banyak
manusia yang rela meluangkan waktu ngantornya cuma untuk melihat kondisi
Bapak. Ada banyak yang datang dari jauh dan bawain bronis, kue, wafer, buah-buahan
sampai susu full cream. Ada banyak yang mengembalikan senyum Bapak. Ada
banyak dan teramat banyak yang berdoa supaya Bapak cepat pulih dan bisa
beraktifitas lagi.
Anyway, terimakasih untuk semua rangkaian
Februari yang cukup menarik ini. Tidak perlu disesalkan, tapi sangat perlu
untuk disyukuri. Percaya saja selalu ada satu dua hal baik dibalik jutaan cobaan.
Maaf yaa aku akhirnya benar-benar bolos seminggu di semester ini. Maaf aku
belum sempat servis si Mio. Maaf, Revo, kamu kutinggal terus, jangan ngambek
lagi yaa... Maaf karena aku belum sempat nyobain kuadran siaran periode baru.
Maaf belum bisa jadi produser yang baik. Maaf nggak pernah ikutan rapat on-air,
nanti ajarin ini itunya dong, Luna nggak tau apa apa :(
Maaf pamit rapat
diksar terus. Maaf aku gagal ikut Dumas, jangan marah ya kak, aku tau kamu
kecewa. Maaf aku belum garap buletin PIK-M. Maaf aku belum sempet ngurus berkas
buat ke Klaten itu.. Maaf nggak bisa nemenin ke SCJ. Maaf belum bisa ikut bahas
proker, tapi aku tau kita nggak sebercanda itu kok, ayo kelarin urusan prokernya,
aku nggak sabar bikin acara keren lagi bareng kalian. Maaf juga, aku udah tuker
uang refund tiketku duluan, tapi kalo kamu mau nuker, janji deh aku
temenin.
Dan, teramat maaf karena
aku harus benar-benar kembali ke Jogja lagi.
Banyak yang harus aku selesaikan
disana.
I’ll be back soon to home....
Yang terakhir, jangan
pernah merasa sendiri yaa, ada banyak yang sayang Bapak.
Cepat sembuh yaa, Pak.
Juni nanti kita ke pasar lagi yuk jajan snack kiloan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar