Kamis, 09 Februari 2017

People Around Us


Rabu, 1 Februari 2017.
Pagi itu merupakan permulaan di bulan penuh cinta yang amat kunanti tahun ini. Benar saja. Hari pertama ini sangat penuh dengan cinta. Beragam acara sudah kurangkai hari itu, tapi tertiba-tiba saja, pagi itu mba ku membangunkanku. Bangun yang paling tidak kuharapkan seumur hidupku. Bangun yang paling menyakitkan ketimbang menggigil kedinginan di ujung Kaliurang.

“Na, bapak masuk rumah sakit, tangan sama kakinya nggak bisa gerak...”
Ah, cuma mimpi, pikirku.

Tapi dengan kesadaran yang perlahan mulai tumbuh di subuh itu, aku mulai mencerna ucapannya. Perlahan aku bangkit, turun dari kasur tingkat itu, lalu berusaha mencari informasi akurat yang sampai menit ke sepuluh masih kuharap sebagai jebakan konyol (padahal ulang tahunku masih lama).

Tapi, akhirnya, dengan tingkat kesadaran yang sudah tercukupi, aku benar-benar percaya bila Bapak memang terserang stroke dan harus masuk rumah sakit.

Untunglah tiket kereta Progo hari itu masih sisa banyak. Biasanya kalau balik ke Bekasi pasti bawa macem-macem, dari bakpia, gudeg, sampai pakaian kotor yang belum dicuci. Siang ini, kepulanganku ke Bekasi adalah masa-masa pulang paling tidak menyenangkan. Biasanya aku menanti saat-saat pulang seperti ini. Tapi, pulang yang ini sangat tidak kuharapkan.


Tengah malam itu juga, aku hanya bisa menatap kordinat GPS di ponselku. Mengikuti arah bergeraknya kereta ini. Lambat sekali dibanding kelas eksekutif, tidak salah jika selalu terlambat 1 jam dari jadwal tiba nya. Tengah malam itu juga, aku hanya berjalan keluar dari pintu gerbong 8, menghampiri mobil masku. Tengah malam seperti itu biasanya aku mulai mengetik pesan singkat, “Udah sampai stasiun nih, otw...” hanya untuk membalas sms bapak yang isinya, “Dah sampai mana?”.

Dini hari itu, seperti biasa gerbang gang rumahku sudah dikunci dan aku harus berjalan dari ujung. Aku hanya berjalan dalam diam, membuka sendiri gembok pagar rumahku, dan berusaha membuat bunyi-bunyian agar mama bangun dan membukakan pintu. Padahal, biasanya bapak selalu menantiku pulang, bahkan tidak tidur sebelum mendengar terlebih dahulu cerita perjalananku sembari aku membongkar koper.

Dini hari itu, lelah sisa lari-lari di KRL dan perjalanan PSE-LPN yang belum hilang, laparku, sendu dan tangisku, berbaur menjadi sebuah kesatuan dibawah atap kesayangan di kamarku. Baru 2 hari lalu kutinggalkan kasur ini. Kini, nampaknya kasur ini sudah merindukanku, dan tidak sabar menanti Juni tiba.



Kamis, 2 Februari 2017.
Pagi itu aku bangun sebelum alarmku berbunyi. Aku hanya tidur 3 jam dari kedatanganku tadi. Tapi pagi itu aku bergegas menuju ke sana, ke....rumah sakit.

Intermediate (ruang intensif dibawah ICU) membuatku hanya bisa duduk di ruang tunggu berjam-jam lamanya. Tapi laparku terbayar risol dan ketan serundeng yang dibawa masku. Laparku juga terlupakan saat beberapa tetanggaku datang menjenguk Bapak. Siang itu juga Shineaz kesayanganku datang, walaupun tidak lengkap (karna memang amat sulit melengkapkan kami) tapi mereka sudah meluangkan waktu untuk datang.

Beruntungnya, menurut pengamatanku, aku membaca kondisi Bapak di grup chat keluargaku terlihat parah. Tapi, aku melihatnya sudah cukup membaik. Bahkan seharian itu dia mau makan kentang rebus yang rasanya aneh, pisang, dan terlihat cukup baik dibanding gambaran mas mba ku via telepon. Sore itu pun Bapak bisa pindah ke ruang rawat biasa. Setidaknya malam itu aku tidak harus bermalam di ruang tunggu.


5 malam nginep di rumah sakit menjadikan liburan kloter tigaku ini penuh dengan aroma-aroma rumah sakit. Aku sampai hafal dengan cleaning service dan satpam perempuan yang malam pertama jaga di lantai tiga. Sebenarnya Bapak masih terlihat sehat. Hanya saja malam sebelum Ia sakit, Ia sempat meminum kopi setelah minum obat darah tingginya. Dan tengah malam tiba-tiba tangannya sudah tidak bergerak. Berdasarkan hasil pemeriksaan A-Z, kata dokternya sih ada pendarahan di otak kanan Bapak, dan efeknya membuat alat gerak bagian kiri (tangan dan kaki) jadi tidak bisa bergerak a.k.a. stroke. Tapi, kalau kata saudara iparku, ada sesosok lelaki yang nempelin Bapak di sebelah kiri dan berniat untuk merusak syaraf gituu... 

Tapi, kalau menurutku, ini adalah bagian dari sebuah misi rahasianya Mas Gondrong. Dia pastinya bisa melakukan apapun, kapanpun, dan kepada siapapun. Aku tau kalau dia teramat menyayangi Bapak, sampai-sampai mungkin ini adalah sedikit kode dari Dia untuk kami semua. Mungkin Masnya pengen aku lebih lama liburan di Bekasi. Mungkin Masnya pengen mas dan mba ku kumpul rame-rame dan menyediakan waktu luang untuk Bapak dan Mama, bukan cuma pas arisan yang belum tentu tiap bulan rutin diadakan. Nyatanya kejadian inipun mempertemukan keluarga yang sudah lama nggak ketemu jadi ketemu lagi.

Eh, tapi nggak masalah sih. Justru dengan misi rahasia seperti ini, kita bisa sama-sama lihat siapa orang-orang yang sesungguhnya ada disekitar kita. Disaat seperti ini, kita bisa lihat siapa teman yang sesungguhnya pantas kita anggap jadi keluarga. Bukan hanya mereka yang ada di wall facebook kita, bukan mereka yang tiap kita ngepos foto di instagram selalu ngelove. Bukan mereka yang ikutan copy-paste ucapan ‘selamat ulang tahun’ di grup, padahal kita nggak ulang tahun. Bukan mereka yang datang waktu kita syukuran di rumah dan bikin acara makan-makan. Bukan hanya mereka yang menyapa kita saat papasan di tengah jalan, tapi juga mereka yang bisa tiba-tiba datang dan memberi semangat waktu kita sakit. Mereka adalah mereka yang tidak lupa bilang, 
“Cepat sembuh yaa, kamu harus semangat...”


Seminggu ini aku belajar banyak tentang hal diatas. Aku bisa melihat bahwa ada begitu banyak manusia yang juga menyayangi Bapak, bahkan mungkin lebih dibanding kami. Ada banyak manusia yang rela meluangkan waktu ngantornya cuma untuk melihat kondisi Bapak. Ada banyak yang datang dari jauh dan bawain bronis, kue, wafer, buah-buahan sampai susu full cream. Ada banyak yang mengembalikan senyum Bapak. Ada banyak dan teramat banyak yang berdoa supaya Bapak cepat pulih dan bisa beraktifitas lagi.


Anyway, terimakasih untuk semua rangkaian Februari yang cukup menarik ini. Tidak perlu disesalkan, tapi sangat perlu untuk disyukuri. Percaya saja selalu ada satu dua hal baik dibalik jutaan cobaan. Maaf yaa aku akhirnya benar-benar bolos seminggu di semester ini. Maaf aku belum sempat servis si Mio. Maaf, Revo, kamu kutinggal terus, jangan ngambek lagi yaa... Maaf karena aku belum sempat nyobain kuadran siaran periode baru. Maaf belum bisa jadi produser yang baik. Maaf nggak pernah ikutan rapat on-air, nanti ajarin ini itunya dong, Luna nggak tau apa apa :(  

Maaf pamit rapat diksar terus. Maaf aku gagal ikut Dumas, jangan marah ya kak, aku tau kamu kecewa. Maaf aku belum garap buletin PIK-M. Maaf aku belum sempet ngurus berkas buat ke Klaten itu.. Maaf nggak bisa nemenin ke SCJ. Maaf belum bisa ikut bahas proker, tapi aku tau kita nggak sebercanda itu kok, ayo kelarin urusan prokernya, aku nggak sabar bikin acara keren lagi bareng kalian. Maaf juga, aku udah tuker uang refund tiketku duluan, tapi kalo kamu mau nuker, janji deh aku temenin.


Dan, teramat maaf karena aku harus benar-benar kembali ke Jogja lagi. 
Banyak yang harus aku selesaikan disana. 
I’ll be back soon to home....


Yang terakhir, jangan pernah merasa sendiri yaa, ada banyak yang sayang Bapak.
Cepat sembuh yaa, Pak. Juni nanti kita ke pasar lagi yuk jajan snack kiloan...







Tidak ada komentar:

Posting Komentar