Rabu, 01 Februari 2017

A LETTER TO...


Rangkaian kata ini buat kamu, Januariku...

Jan, nggak kerasa sudah tanggal tua saja. Sebentar lagi transferan masuk nih. Asyiikk.... Tapi, itu juga pertanda dari perpisahan kita. Yah, kamu kok cepet banget sih perginya? Seingatku baru saja kemarin kulewati malam tahun baru, eh, sekarang kamu sudah mau berganti saja, Jan...

Jan, aku dengan kesungguhan dan niat sepenuh hati menulis beberapa pesan ini di atas besi berjalan ke arah kota kenangan kita. Mungkin kamu juga kini sedang dalam perjalanan, entah pergi atau kembali, tapi aku tau pasti bila kamu sejenis manusia yang tidak betah diam dirumah saat liburan seperti ini.


Bulan pertama dalam setiap tahun masehi selalu jadi milikmu, yaa.... Kadang iri juga selalu jadi yang ditunggu sama semua orang. Iri juga karena banyak orang yang menanam harapan indah padamu, Jan. Tapi seperti yang kubilang tadi, kamu terlalu cepat berlalu. 31 hari terasa kurang untukku. Aku masih belum sempat melakukan beberapa hal penting, tapi kamu sudah ditepi gerbang perpisahan. Liburku yang cuma 3 minggu bahkan tidak kunikmati sepenuhnya untuk liburan. Terlalu banyak bla bla bla yang menantiku disana, sehingga aku harus benar-benar terburu untuk kembali kesana.

By the way, Jan, terimakasih yaa sudah menjadi pertanda berakhirnya semester lalu, dan sudah sedemikian rupa jadi jembatan untuk masa depanku. Tadinya aku sempat ragu untuk memilih A atau B, padahal C dan D lebih menjanjikan buatku. Tapi, meskipun teman-teman kesayanganku, bahkan beberapa orang menawariku pilihan menarik, aku tetap pada satu pilihan, Jan. Meski tidak bisa bersama kamu, aku tetap percaya pada pilihan awal dari masa depanku. Aku percaya Si Pelukis Pelangi punya jalan indah menuju pelangi didepan sana :)

Tidak lupa juga kuucapkan terimakasih untuk 13 malam romantis yang redup dibawah bintang-bintang. Meski banyak dosa yang kembali kuulang dirumah, aku cukup puas lah hibernasi beberapa saat. Jan, kamu juga mengantarku menuju kisah-kisah asik yang sulit kulupakan di bulan pertamamu itu. Nggak cuma itu, kamu bahkan memanduku untuk mengungkap beberapa hal yang sampai saat ini masih jadi misteri dalam duniaku. Jan, bisakah kamu cerahkan pikiranku, supaya aku cepat menemukan titik terang dari semua ini?


Januariku, terimakasih sangat sangat dan teramat kuucapkan bagimu, karena kamu menyadarkanku bahwa cinta tidak pernah bersifat abadi. Kamu mengajari aku bila sebuah intensitas pertemuan yang berubah jadi cinta, suatu ketika bisa hancur hanya dalam perjumpaan kecil yang tidak disengaja. Ah, peduli apa soal sengaja dan tidaknya. Aku kira ini memang rencanamu untuk membuat ingatanku pudar lebih cepat. Aku rasa ini bagian dari misi rahasiamu, agar aku tidak terlalu dalam berenang di lautan. Kamu tau aja kalau aku nggak bisa berenang, tau aja aku nggak bisa ambil nafas. Tidak salah bila kamu menggiring aku ke pantai hanya untuk menikmati pasir dan karangnya, sehingga menyelamatkanku dari debur ombak di dalamnya laut itu.

Terakhir nih, aku cuma mau bilang ke kamu, Jan...
Kamu telah memberiku minggu-minggu yang sangat tidak terduga. Perlahan, namun pasti. Aku percaya keajaibanmu yang mempertemukanku dengan seseorang itu. Setelah entah berapa lamanya aku disana, akhirnya kamu mendesak takdir untuk mempertemukan kita yaaa, hehehe.... Besok-besok boleh lah ketemuin kita lagi, aku punya beberapa pertanyaan untuk dia.

Kamu telah memberiku berjuta-juta pengalaman berharga hanya dalam hitungan hari. Aku percaya keajaiban bulanmu tidak kalah indahnya dari dua belas kesayanganku. Dan dalam perjalanan panjangku diatas rel kereta ini, kiranya kamu bisa membaca sedikit harapanku ini, Jan....

Semoga apapun yang akan datang bisa punya cerita cinta indah yaa.. Semoga apa yang sudah kuputuskan tidak membuatku menyesal di kemudian hari. Karena aku percaya, Jan, bersamamu aku pasti bisa!

Sampai bertemu lagi, Januariku yang manis.
Jangan lupa oleh-olehnya yaa..
Aku sayang kamu.



Nb: Boleh lah liburan yang akan datang didesain lebih panjang lagi :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar