Rangkaian
kata ini buat kamu, Januariku...
Jan,
nggak kerasa sudah tanggal tua saja. Sebentar lagi transferan masuk nih.
Asyiikk.... Tapi, itu juga pertanda dari perpisahan kita. Yah, kamu kok cepet
banget sih perginya? Seingatku baru saja kemarin kulewati malam tahun baru, eh,
sekarang kamu sudah mau berganti saja, Jan...
Jan, aku
dengan kesungguhan dan niat sepenuh hati menulis beberapa pesan ini di atas
besi berjalan ke arah kota kenangan kita. Mungkin kamu juga kini sedang dalam
perjalanan, entah pergi atau kembali, tapi aku tau pasti bila kamu sejenis
manusia yang tidak betah diam dirumah saat liburan seperti ini.
Bulan
pertama dalam setiap tahun masehi selalu jadi milikmu, yaa.... Kadang iri juga
selalu jadi yang ditunggu sama semua orang. Iri juga karena banyak orang yang
menanam harapan indah padamu, Jan. Tapi seperti yang kubilang tadi, kamu
terlalu cepat berlalu. 31 hari terasa kurang untukku. Aku masih belum sempat
melakukan beberapa hal penting, tapi kamu sudah ditepi gerbang perpisahan.
Liburku yang cuma 3 minggu bahkan tidak kunikmati sepenuhnya untuk liburan. Terlalu
banyak bla bla bla yang menantiku disana, sehingga aku harus benar-benar
terburu untuk kembali kesana.
By the
way, Jan, terimakasih yaa sudah menjadi
pertanda berakhirnya semester lalu, dan sudah sedemikian rupa jadi jembatan
untuk masa depanku. Tadinya aku sempat ragu untuk memilih A atau B, padahal C
dan D lebih menjanjikan buatku. Tapi, meskipun teman-teman kesayanganku, bahkan
beberapa orang menawariku pilihan menarik, aku tetap pada satu pilihan, Jan.
Meski tidak bisa bersama kamu, aku tetap percaya pada pilihan awal dari masa
depanku. Aku percaya Si Pelukis Pelangi punya jalan indah menuju pelangi
didepan sana :)
Tidak
lupa juga kuucapkan terimakasih untuk 13 malam romantis yang redup dibawah
bintang-bintang. Meski banyak dosa yang kembali kuulang dirumah, aku cukup puas
lah hibernasi beberapa saat. Jan, kamu juga mengantarku menuju kisah-kisah asik
yang sulit kulupakan di bulan pertamamu itu. Nggak cuma itu, kamu bahkan
memanduku untuk mengungkap beberapa hal yang sampai saat ini masih jadi misteri
dalam duniaku. Jan, bisakah kamu cerahkan pikiranku, supaya aku cepat menemukan
titik terang dari semua ini?
Januariku,
terimakasih sangat sangat dan teramat kuucapkan bagimu, karena kamu
menyadarkanku bahwa cinta tidak pernah bersifat abadi. Kamu mengajari aku bila
sebuah intensitas pertemuan yang berubah jadi cinta, suatu ketika bisa hancur
hanya dalam perjumpaan kecil yang tidak disengaja. Ah, peduli apa soal sengaja
dan tidaknya. Aku kira ini memang rencanamu untuk membuat ingatanku pudar lebih
cepat. Aku rasa ini bagian dari misi rahasiamu, agar aku tidak terlalu dalam
berenang di lautan. Kamu tau aja kalau aku nggak bisa berenang, tau aja aku
nggak bisa ambil nafas. Tidak salah bila kamu menggiring aku ke pantai hanya
untuk menikmati pasir dan karangnya, sehingga menyelamatkanku dari debur ombak
di dalamnya laut itu.
Terakhir nih, aku cuma mau bilang ke kamu, Jan...
Kamu
telah memberiku minggu-minggu yang sangat tidak terduga. Perlahan, namun pasti.
Aku percaya keajaibanmu yang mempertemukanku dengan seseorang itu. Setelah
entah berapa lamanya aku disana, akhirnya kamu mendesak takdir untuk
mempertemukan kita yaaa, hehehe.... Besok-besok boleh lah ketemuin kita lagi,
aku punya beberapa pertanyaan untuk dia.
Kamu
telah memberiku berjuta-juta pengalaman berharga hanya dalam hitungan hari. Aku
percaya keajaiban bulanmu tidak kalah indahnya dari dua belas kesayanganku. Dan
dalam perjalanan panjangku diatas rel kereta ini, kiranya kamu bisa membaca
sedikit harapanku ini, Jan....
Semoga
apapun yang akan datang bisa punya cerita cinta indah yaa.. Semoga apa yang
sudah kuputuskan tidak membuatku menyesal di kemudian hari. Karena aku percaya,
Jan, bersamamu aku pasti bisa!
Sampai
bertemu lagi, Januariku yang manis.
Jangan
lupa oleh-olehnya yaa..
Aku
sayang kamu.
Nb: Boleh lah liburan yang akan datang didesain lebih panjang lagi :))

Tidak ada komentar:
Posting Komentar