Aku pernah melihat sebingkai foto yang tak begitu penting bagiku, tetapi malah
menarik perhatianku.
Iya, ada kamu disitu.
Bukan kamu, tapi bagian dari dirimu.
Bagian yang tak begitu penting, tapi aku tau, ada sesuatu yang penting
tergambar disana.
Kemarin aku kembali
melihatmu.
Akhirnya....
Kamu yang makin hari makin bertumbuh dewasa bagai pohon yang semakin
hari semakin merimbunkan dedaunan. Tapi satu yang aku tau, ketika aku melihatmu
beradu pandang dalam besi berjalan bersamanya,
aku sadar,
ada sesuatu yang
penting berada disana.
Entah seberapa pentingnya,
tapi bagiku bukan suatu masalah. Hanya saja, aku merasa kehilangan sosok
yang beberapa bulan lalu membuatku tersipu bodoh karnanya.
Hanya saja, kini
kamu bukanlah kamu.
Dalam suatu perkembangan
waktu yang selalu mengitari hari, aku percaya bila sesuatu atau bahkan
seseorang bisa berubah seiring adanya peradaban. Tidak ada sesuatu yang abadi,
tidak ada sesuatu yang selalu tetap berada disitu. Tidak ada kesempatan yang
datang sepanjang waktu.
Hanya saja, kini kamu bukanlah kamu.
Membacamu butuh rasa
tulus, membacamu butuh suatu keteduhan.
Membacamu membuatku
semakin mudah mencari arti dari setiap kalimat pembuka dalam paragraf yang ada.
Tapi, membacamu terlalu
sulit untuk menjadikanku paham benar maksud puisimu.
Karena, membacamu butuh
kiasan tepat untuk menjadikanmu metamorfosa terbaik dalam karyaku.
Membacamu semakin
membawa waktuku pergi berlayar ke tepi pantai.
Meski telah sekian lama
kita tak saling sapa, apakah cukup bagi waktu untuk mengubur detik demi detik yang ada?
Waktuku tak pernah
kuhabiskan percuma hanya untukmu.
Memangnya siapa kamu?
Sampai sebegitu bodohnya aku merasa ragu, apakah
benar itu kamu?
Pada akhirnya, membacamu
memang harus menguras tenaga dan rasaku.
Tapi sungguh indah
bagiku bersinggungan dengan diksi warna warni yang dulu kau lukis bagai
pelangi.
Kini jemariku kembali
menari membuka lembar demi lembar kehidupan yang dini. Karena, di setiap lembar
itu, pernah kutulis namamu, yang kini telah berganti menjadi nama yang lain.
Dan bila kamu punya
sedetik saja waktu yang tak begitu berarti,
bolehkah kamu kembali berlari mengejar waktu supaya tak begitu lama menanti?
bolehkah kamu kembali berlari mengejar waktu supaya tak begitu lama menanti?
Jangan sepertiku yang sudah salah langkah pada awalnya.
Sehingga waktumu tak
akan terbuang percuma hanya untuk menangisi kepergian seseorang menuju lembaran buku
lainnya.
Sebab sesuatu yang telah
pergi untuk merubah arah mata angin, bagiku akan sulit kembali menuju dermaga
lagi.
Karena satu yang perlu
kamu tahu,
membacamu pernah sesekali membuat senyumanku terukir kembali.
Walaupun kini
kamu memang bukanlah kamu, tapi aku beruntung pernah kau beri rasa yang begitu mulia.
Biar surga yang membalas upahmu nanti.
Sampai jumpa
di lembaran buku lainnya.
Senang bisa mengenalmu.
Senang bisa mengenalmu.
Salam rindu tertawa bersama, dari status-status jejaring sosial.

gitaaaaaaa..... aku suka tulisan tulisan blog mu. buat buku dong Git! hehe
BalasHapusTengkyu tikaaaaa.......
BalasHapusnanti yaaa, doain ajaa, ditunggu undangan peluncuran bukunya wkwkwkwk.....
i miss you btw {}