Jumat, 04 Maret 2016

Membacamu




Aku pernah melihat sebingkai foto yang tak begitu penting bagiku, tetapi malah menarik perhatianku.
Iya, ada kamu disitu.
Bukan kamu, tapi bagian dari dirimu.
Bagian yang tak begitu penting, tapi aku tau, ada sesuatu yang penting tergambar disana.

Kemarin aku kembali melihatmu.
Akhirnya....

Kamu yang makin hari makin bertumbuh dewasa bagai pohon yang semakin hari semakin merimbunkan dedaunan. Tapi satu yang aku tau, ketika aku melihatmu beradu pandang dalam besi berjalan bersamanya,
aku sadar, 
ada sesuatu yang penting berada disana.

Entah seberapa pentingnya, tapi bagiku bukan suatu masalah. Hanya saja, aku merasa kehilangan sosok yang beberapa bulan lalu membuatku tersipu bodoh karnanya.

Hanya saja, kini kamu bukanlah kamu.



Dalam suatu perkembangan waktu yang selalu mengitari hari, aku percaya bila sesuatu atau bahkan seseorang bisa berubah seiring adanya peradaban. Tidak ada sesuatu yang abadi, tidak ada sesuatu yang selalu tetap berada disitu. Tidak ada kesempatan yang datang sepanjang waktu.

Hanya saja, kini kamu bukanlah kamu.



Membacamu tak butuh waktu berlarut-larut untuk sekedar tahu bagaimana barisan kata ini terbentuk.

Membacamu butuh rasa tulus, membacamu butuh suatu keteduhan.

Membacamu membuatku semakin mudah mencari arti dari setiap kalimat pembuka dalam paragraf yang ada.

Tapi, membacamu terlalu sulit untuk menjadikanku paham benar maksud puisimu.

Karena, membacamu butuh kiasan tepat untuk menjadikanmu metamorfosa terbaik dalam karyaku.



Membacamu semakin membawa waktuku pergi berlayar ke tepi pantai.
Meski telah sekian lama kita tak saling sapa, apakah cukup bagi waktu untuk mengubur detik demi detik yang ada?

Waktuku tak pernah kuhabiskan percuma hanya untukmu.
Memangnya siapa kamu?
Sampai sebegitu bodohnya aku merasa ragu, apakah benar itu kamu?


Pada akhirnya, membacamu memang harus menguras tenaga dan rasaku.
Tapi sungguh indah bagiku bersinggungan dengan diksi warna warni yang dulu kau lukis bagai pelangi.

Kini jemariku kembali menari membuka lembar demi lembar kehidupan yang dini. Karena, di setiap lembar itu, pernah kutulis namamu, yang kini telah berganti menjadi nama yang lain.


Dan bila kamu punya sedetik saja waktu yang tak begitu berarti,
bolehkah kamu kembali berlari mengejar waktu supaya tak begitu lama menanti?

Jangan sepertiku yang sudah salah langkah pada awalnya.


Sehingga waktumu tak akan terbuang percuma hanya untuk menangisi kepergian seseorang menuju lembaran buku lainnya.

Sebab sesuatu yang telah pergi untuk merubah arah mata angin, bagiku akan sulit kembali menuju dermaga lagi.


Karena satu yang perlu kamu tahu,
 
membacamu pernah sesekali membuat senyumanku terukir kembali.




Walaupun kini kamu memang bukanlah kamu, tapi aku beruntung pernah kau beri rasa yang begitu mulia.
 
Biar surga yang membalas upahmu nanti.







Sampai jumpa di lembaran buku lainnya.
Senang bisa mengenalmu.







Salam rindu tertawa bersama, dari status-status jejaring sosial.




2 komentar:

  1. gitaaaaaaa..... aku suka tulisan tulisan blog mu. buat buku dong Git! hehe

    BalasHapus
  2. Tengkyu tikaaaaa.......
    nanti yaaa, doain ajaa, ditunggu undangan peluncuran bukunya wkwkwkwk.....
    i miss you btw {}

    BalasHapus