Pagi ini gue sengaja bangun pagi, walaupun ini hari
minggu. Tumben sih bisa ‘bangun pagi’ di hari minggu. Sebenernya belum ada
rencana mau pergi, tapi kenapa pergi harus butuh suatu rencana?
Oke, pagi ini gue ke gereja. Kenapa? Karena memang harus
begitu hahaha.... Bukan bukan, maksudnya, gue ke gereja pagi karna nanti sore
mau pergi. Buat gue ke gereja itu bukan sekedar rutinitas pas weekend, tapi
sebuah ke-harus-an. Kenapa? Yaa karena memang ke gereja itu bukan suatu
keterpaksaan, tetapi suatu kebutuhan –butuh ketemu sama orang-orang beriman
lainnya, butuh ketemu sama Tuhan–
Tema di gereja pagi ini cukup menarik dan mengusik hati
kecil gue. Yap, temanya adalah:
Tema ini tentunya senada dengan masa pra-paskah yang
sekarang sedang berlangsung. Di gereja katolik, masa pra-paskah itu diisi
dengan berpantang, puasa, dan tentunya pertobatan. Tobat disini maksudnya kita
mengakui dosa-dosa kita, dan mengenang sengsara Tuhan yang dulu rela wafat di
kayu salib demi menebus dosa umatNya. Tuhan aja mati-matian buat kita, masa
kita males-malesan ke gereja sih?
Bacaan kitab suci hari ini panjang banget, tapi untung
aja romonya friendly, asik sih dengerin dia khotbah, at least gak
masuk kuping kanan–keluar kuping kiri laahhh.... Bacaan hari ini menceritakan
tentang seorang anak Bungsu yang meminta harta bagian dari Ayahnya. Emang rada
kurang ajar sih anak ini, bapaknya masih sehat bugar, eh dia udah ngotot minta
warisan. Jangan di tiru ya teman-teman!
Tapi poin pentingnya bukan disitu. Melainkan, ada
beberapa yang tiba-tiba menampar gue tepat di hati yang paling dalam (cieeee....).
Hal pertama adalah, cerita ini mengingatkan gue akan pentas drama OMK 2
tahun lalu. Mengingatkan gue akan sebuah keluarga baru yang alhamdullilah
gue temukan di saat yang sangat tepat waktu itu. Bahagia dan bangga sekali bisa
kenal mereka, teman-teman seiman yang kalo diajak main sampe jam 11 malem
hahaha, but i really miss you guys!!! Gue rindu banget tugas di gereja
bareng kalian, foto-foto nggak penting, ngetawain yang nggak lucu, nyemil kripik singkong yang beli
di jembatan 2 Narogong, banyaakdehhh......
Dan cerita ini pula menyadarkan gue akan sebuah hal
penting. Menurut gue, karakter anak Bungsu ini selalu ada dalam siklus hidup
manapun di dunia. Yang mana si anak pasti suka membantah lah, ndablek,
keras kepala, dan egois. Terkadang seburuk apapun dan senakal apapun anak,
orang tua pasti selalu nge-cover anak itu dan selalu memberikan yang
terbaik. Iya nggak?
Ayah nya begitu baik sampai-sampai mau ngasih apapun yang
diminta anaknya. Tapi anaknya nggak sadar sama apa yang dia punya selama ini.
Padahal selama ini, kita pasti lebih beruntung dari orang lain. Tapi
masiiiihhhh aja minta yang lebih, masih aja nggak bersyukur sama keadaan. Tapi
untungnya di cerita ini, si Bungsu dapet musibah dan dia jadi ‘nggak punya
apa-apa’, sampai akhirnya dia nyadar dan balik kerumah Ayahnya. Ada sebuah
kalimat penyesalan disana, yaitu, “Aku telah berdosa terhadap surga dan
terhadap Bapa...”
Bungsu kembali, dan Ayahnya dengan senang hati menerima
anaknya yang rada kampr*t itu. Malahan ayahnya nyiapin pesta khusus buat
menyambut anaknya yang pulang itu. Dari cerita ini gue belajar banyak hal,
seperti yang dosen hukum gue bilang kemarin Jumat, “Sepandai apapun seorang
anak menyembunyikan masalah, Orangtua punya ikatan batin yang bikin mereka tau
apa masalah si anak itu.” How cool it is.... Gue juga pernah baca
suatu quotes, bunyinya: “Jangan takut! Keluargamu selalu ada ketika
kamu memiliki masalah.”
Keluarga itu segalanya, loh. Mikir nggak sih kalo kalian
hidup seorang diri, nggak tau siapa keluarga kalian? Luntang-lantung nggak
jelas di jalanan? Yaa, meskipun kadang Ayah kita sibuk bekerja, Ibu kita
cerewet marah-marah mulu, Kakak kita iseng, Adik kita bandel, tapi tanpa
mereka, mau jadi apa kita? Seperti
yang dituliskan di injil tadi pagi, “Anakku, engkau selalu bersama-sama
dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”
Seburuk apapun keluarga kita, rumah adalah tempat
terindah untuk kembali. Trust me, rumahmu nggak akan pernah tertutup
untuk menerima kamu kembali!
Sama juga seperti Tuhan kita yang begitu murah hati, Dia
selalu menerima kita kembali, meski ‘sekotor’ apapun itu. Tuhan selalu
mengampuni kita –kalau kita memohon pengampunan kepadaNya– dan kita juga
harus belajar mengampuni orang lain, seperti yang ada di petikan doa Bapa Kami.
Mungkin mengampuni orang lain itu sulit. Jangankan mengampuni,
cuma bilang ‘maaf’ aja pake gengsi hahaha.. Padahal selama ini kita
begitu mudah nge-judge orang, liat dia lewat aja pasti di komentarin. “Ih,
bajunya nggak matching..” Padahal selama ini kita sering nyindir-nyindir
orang lewat status kita di media sosial. Tapi, kenapa susah banget mengakui
kesalahan kita?
Kalo saran gue sih, walaupun kita nggak berani atau
mungkin gengsi bilang ‘maaf’ duluan, mendingan kita minta maaf lewat Tuhan
wkwkwk.... Yaaa, yang penting niatnya sih, dan yang penting kita jangan
mengulangnya lagi. So, boleh sih nggak berani minta maaf ke orang lain.
Tapi, berani nggak minta maaf ke Tuhan?
Ayo yuk, kita ngaku dosa dulu, sebelum terlambat atau
tidak sama sekali!
Ayo yuk, aku tunggu yaa di gereja. Siapa tau nanti kita
jodoh hmmmm....... :)
Salam kangen, dari gereja yang begitu lama
kamu tinggalin...
Just remember this quotes,







Tidak ada komentar:
Posting Komentar