Minggu, 06 Maret 2016

HARD TO SAY I’M SORRY




Pagi ini gue sengaja bangun pagi, walaupun ini hari minggu. Tumben sih bisa ‘bangun pagi’ di hari minggu. Sebenernya belum ada rencana mau pergi, tapi kenapa pergi harus butuh suatu rencana?


Oke, pagi ini gue ke gereja. Kenapa? Karena memang harus begitu hahaha.... Bukan bukan, maksudnya, gue ke gereja pagi karna nanti sore mau pergi. Buat gue ke gereja itu bukan sekedar rutinitas pas weekend, tapi sebuah ke-harus-an. Kenapa? Yaa karena memang ke gereja itu bukan suatu keterpaksaan, tetapi suatu kebutuhan –butuh ketemu sama orang-orang beriman lainnya, butuh ketemu sama Tuhan­–


Tema di gereja pagi ini cukup menarik dan mengusik hati kecil gue. Yap, temanya adalah: 


 Tema ini tentunya senada dengan masa pra-paskah yang sekarang sedang berlangsung. Di gereja katolik, masa pra-paskah itu diisi dengan berpantang, puasa, dan tentunya pertobatan. Tobat disini maksudnya kita mengakui dosa-dosa kita, dan mengenang sengsara Tuhan yang dulu rela wafat di kayu salib demi menebus dosa umatNya. Tuhan aja mati-matian buat kita, masa kita males-malesan ke gereja sih?

Bacaan kitab suci hari ini panjang banget, tapi untung aja romonya friendly, asik sih dengerin dia khotbah, at least gak masuk kuping kanan–keluar kuping kiri laahhh.... Bacaan hari ini menceritakan tentang seorang anak Bungsu yang meminta harta bagian dari Ayahnya. Emang rada kurang ajar sih anak ini, bapaknya masih sehat bugar, eh dia udah ngotot minta warisan. Jangan di tiru ya teman-teman!



Tapi poin pentingnya bukan disitu. Melainkan, ada beberapa yang tiba-tiba menampar gue tepat di hati yang paling dalam (cieeee....). Hal pertama adalah, cerita ini mengingatkan gue akan pentas drama OMK 2 tahun lalu. Mengingatkan gue akan sebuah keluarga baru yang alhamdullilah gue temukan di saat yang sangat tepat waktu itu. Bahagia dan bangga sekali bisa kenal mereka, teman-teman seiman yang kalo diajak main sampe jam 11 malem hahaha, but i really miss you guys!!! Gue rindu banget tugas di gereja bareng kalian, foto-foto nggak penting, ngetawain yang  nggak lucu, nyemil kripik singkong yang beli di jembatan 2 Narogong, banyaakdehhh...... 



Dan cerita ini pula menyadarkan gue akan sebuah hal penting. Menurut gue, karakter anak Bungsu ini selalu ada dalam siklus hidup manapun di dunia. Yang mana si anak pasti suka membantah lah, ndablek, keras kepala, dan egois. Terkadang seburuk apapun dan senakal apapun anak, orang tua pasti selalu nge-cover anak itu dan selalu memberikan yang terbaik. Iya nggak?



Ayah nya begitu baik sampai-sampai mau ngasih apapun yang diminta anaknya. Tapi anaknya nggak sadar sama apa yang dia punya selama ini. Padahal selama ini, kita pasti lebih beruntung dari orang lain. Tapi masiiiihhhh aja minta yang lebih, masih aja nggak bersyukur sama keadaan. Tapi untungnya di cerita ini, si Bungsu dapet musibah dan dia jadi ‘nggak punya apa-apa’, sampai akhirnya dia nyadar dan balik kerumah Ayahnya. Ada sebuah kalimat penyesalan disana, yaitu, “Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa...”


Bungsu kembali, dan Ayahnya dengan senang hati menerima anaknya yang rada kampr*t itu. Malahan ayahnya nyiapin pesta khusus buat menyambut anaknya yang pulang itu. Dari cerita ini gue belajar banyak hal, seperti yang dosen hukum gue bilang kemarin Jumat, “Sepandai apapun seorang anak menyembunyikan masalah, Orangtua punya ikatan batin yang bikin mereka tau apa masalah si anak itu.” How cool it is.... Gue juga pernah baca suatu quotes, bunyinya: “Jangan takut! Keluargamu selalu ada ketika kamu memiliki masalah.”



Keluarga itu segalanya, loh. Mikir nggak sih kalo kalian hidup seorang diri, nggak tau siapa keluarga kalian? Luntang-lantung nggak jelas di jalanan? Yaa, meskipun kadang Ayah kita sibuk bekerja, Ibu kita cerewet marah-marah mulu, Kakak kita iseng, Adik kita bandel, tapi tanpa mereka, mau jadi apa kita?  Seperti yang dituliskan di injil tadi pagi, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

Seburuk apapun keluarga kita, rumah adalah tempat terindah untuk kembali. Trust me, rumahmu nggak akan pernah tertutup untuk menerima kamu kembali!

Sama juga seperti Tuhan kita yang begitu murah hati, Dia selalu menerima kita kembali, meski ‘sekotor’ apapun itu. Tuhan selalu mengampuni kita –kalau kita memohon pengampunan kepadaNya– dan kita juga harus belajar mengampuni orang lain, seperti yang ada di petikan doa Bapa Kami.



Mungkin mengampuni orang lain itu sulit. Jangankan mengampuni, cuma bilang ‘maaf’ aja pake gengsi hahaha.. Padahal selama ini kita begitu mudah nge-judge orang, liat dia lewat aja pasti di komentarin. “Ih, bajunya nggak matching..” Padahal selama ini kita sering nyindir-nyindir orang lewat status kita di media sosial. Tapi, kenapa susah banget mengakui kesalahan kita?


Kalo saran gue sih, walaupun kita nggak berani atau mungkin gengsi bilang ‘maaf’ duluan, mendingan kita minta maaf lewat Tuhan wkwkwk.... Yaaa, yang penting niatnya sih, dan yang penting kita jangan mengulangnya lagi. So, boleh sih nggak berani minta maaf ke orang lain.

Tapi, berani nggak minta maaf ke Tuhan?


 






Tenang aja, pasti dimaafin kok.

Ayo yuk, kita ngaku dosa dulu, sebelum terlambat atau tidak sama sekali!

Ayo yuk, aku tunggu yaa di gereja. Siapa tau nanti kita jodoh hmmmm....... :)











Salam kangen, dari gereja yang begitu lama kamu tinggalin...
Just remember this quotes,






Tidak ada komentar:

Posting Komentar