Untuk kesekian kalinya,
apakah pertahananku selama beberapa
waktu ini harus hancur begitu saja?
Hanya karena kamu yang begitu manisnya mewarnai gelap
malamku,
mengalahkan cahaya gemintang dibalik atap rumahku.
Sehari, dua hari,
sepanjang hari, bahkan merasuk ke dalam mimpi.
Haruskah ini terjadi lagi?
Dulu kamu pernah bilang,
“Apapun
yang terjadi, kita jalani saja setiap prosesnya…”
Untaian kalimat rayu itu seolah makin meyakinkan aku bahwa
‘oke, tak apa jika kita melangkah saja
kedepan,
toh berjalan ke belakang hanya akan membuatmu tersandung.’
Katamu semuanya oke,
asalkan tidak putar balik.
Lantas, pabila didepan ada jurang,
kamu juga akan menjeratku
ke dalamnya?
Aku dengan banyak usahaku
mencoba sesulit mungkin untuk
menjadi biasa saja.
Tak mau menjadikanmu yang teristimewa,
karena kau juga tak
menempatkanku pada letak yang sama.
Aku tahu.
Iya, kamu mungkin tidak sadar
bahwa aku sudah sepandai ini
sekarang.
Aku dengan banyak tipu dayaku sendiri
mencoba menjadi
pembohong,
bahkan hingga muslihatku lelah
untuk bekerjasama memudarkan
segalanya.
Bagaimana bisa aku menjadi biasa-biasa saja?
coba jelaskan
dengan seksama!
Bahkan jika nantinya harus terulang kembali,
toh kamu juga
yang akan menyalahkanku.
Aku.
Pasti aku yang kamu bodoh-bodohi
karena tak mampu
bertahan menjadi sedikit lebih egois.
Mungkin nanti aku tak bisa menyalahkanmu.
Sungguh, tidak juga menyalahkan diriku sendiri.
Apalagi menyalahkan waktu.
Mungkin setiap kebohongan ini paling pantas disalahkan.
Setiap kesengajaan yang kita buat untuk terjadi,
Setiap jalan yang aku kira punya rahasianya tersendiri,
namun makin kesini makin membuat bimbang nurani.
Aku dengan benteng pertahanku yang mulai retak ini,
yang
mulai semakin membutuhkanmu.
Sehebat itu ya...
Aku takjub.
Sepertinya skenario ini belum selesai.
Ini bukan hanya tentang rasaku yang dengan egois kuhapus
untukmu,
tapi tetap tersisa barang satu atau dua kata.
Ini tentang setiap waktu yang sekarang semakin memburu,
menusuk bak pemburu binatang di luasan hutan.
Apakah bidikannya nanti akan tepat sasaran,
atau malah
melukai pepohonan yang tak tahu menau tentang cemburu?
Entahlah, hanya saja,
pukul sepuluh pagi ini, aku mulai
resah.
Dan apabila ini menjadi pertanda dari sebuah pergi,
aku
harap kamu baik-baik saja,
dimanapun dan dengan siapapun yang membuatmu begitu
bahagianya.
Begitupula aku,
semoga baik-baik saja
dengan banyak usaha
saling membahagiakan ini.
“Tenang saja, nggak akan ada apa-apa,”
Iya. Semoga tidak akan ada apa-apa.
Cukup seperti ini saja.
Semoga saja.
Semoga tidak terulang kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar