Selasa, 28 April 2020

DAN TERJADI LAGI





Untuk kesekian kalinya,
apakah pertahananku selama beberapa waktu ini harus hancur begitu saja?

Hanya karena kamu yang begitu manisnya mewarnai gelap malamku,
mengalahkan cahaya gemintang dibalik atap rumahku.
Sehari, dua hari, sepanjang hari, bahkan merasuk ke dalam mimpi.

Haruskah ini terjadi lagi?



Dulu kamu pernah bilang,
“Apapun yang terjadi, kita jalani saja setiap prosesnya…”

Untaian kalimat rayu itu seolah makin meyakinkan aku bahwa
‘oke, tak apa jika kita melangkah saja kedepan, 
toh berjalan ke belakang hanya akan membuatmu tersandung.’


Katamu semuanya oke,
asalkan tidak putar balik.

Lantas, pabila didepan ada jurang,
kamu juga akan menjeratku ke dalamnya?



Aku dengan banyak usahaku 
mencoba sesulit mungkin untuk menjadi biasa saja.
Tak mau menjadikanmu yang teristimewa,
karena kau juga tak menempatkanku pada letak yang sama.


Aku tahu.
Iya, kamu mungkin tidak sadar
bahwa aku sudah sepandai ini sekarang.


Aku dengan banyak tipu dayaku sendiri 
mencoba menjadi pembohong, 
bahkan hingga muslihatku lelah 
untuk bekerjasama memudarkan segalanya.


Bagaimana bisa aku menjadi biasa-biasa saja?
coba jelaskan dengan seksama!


Bahkan jika nantinya harus terulang kembali,
toh kamu juga yang akan menyalahkanku.


Aku.
Pasti aku yang kamu bodoh-bodohi
karena tak mampu bertahan menjadi sedikit lebih egois.


Mungkin nanti aku tak bisa menyalahkanmu.
Sungguh, tidak juga menyalahkan diriku sendiri.
Apalagi menyalahkan waktu.


Mungkin setiap kebohongan ini paling pantas disalahkan.
Setiap kesengajaan yang kita buat untuk terjadi,
Setiap jalan yang aku kira punya rahasianya tersendiri,
namun makin kesini makin membuat bimbang nurani.


Aku dengan benteng pertahanku yang mulai retak ini,
yang mulai semakin membutuhkanmu.



Sehebat itu ya...


Aku takjub.



Sepertinya skenario ini belum selesai.



Ini bukan hanya tentang rasaku yang dengan egois kuhapus untukmu,
tapi tetap tersisa barang satu atau dua kata.

Ini tentang setiap waktu yang sekarang semakin memburu,
menusuk bak pemburu binatang di luasan hutan.

Apakah bidikannya nanti akan tepat sasaran,
atau malah melukai pepohonan yang tak tahu menau tentang cemburu?



Entahlah, hanya saja,
pukul sepuluh pagi ini, aku mulai resah.



Dan apabila ini menjadi pertanda dari sebuah pergi,
aku harap kamu baik-baik saja,
dimanapun dan dengan siapapun yang membuatmu begitu bahagianya.


Begitupula aku,
semoga baik-baik saja
dengan banyak usaha saling membahagiakan ini.




“Tenang saja, nggak akan ada apa-apa,”


Iya. Semoga tidak akan ada apa-apa.

Cukup seperti ini saja.


Semoga saja.

Semoga tidak terulang kembali.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar