Senin, 01 Oktober 2018

Yura dan Rasa Tanpa Nama



Dua minggu lalu, Yura Yunita merilis lagu terbarunya berjudul "Buka Hati". Seperti Yura yang biasanya mewarnai dunia musik Indonesia dengan lantunan merdunya, kini Ia kembali membius siapapun yang mendengarkan lagu terbaru nan sendu ini. Alunan nada yang sederhana namun menyimpan banyak makna ini membuat aku tiba-tiba teringat akan seseorang.


Ada yang tiba-tiba saja menghampiri kesenduanku tiap kali lagu ini terputar.
Ada bayang, sosok yang ku tahu dia siapa, namun tak pernah ku tahu mengapa dia.



Mengapa satu dua kebetulan terjadi 
kala aku harus bersama-sama sekian lamanya denganmu?

Aku berusaha keras untuk bersikap biasa saja,
 Melewati setiap hari-hari kita dengan biasa,
Dengan kata-kata yang kujaga setiap kau ajak bicara.

Aku berusaha menahan segala rasa agar tak meluap melebihi kapasitasnya.


Namun, aku tak pandai menahan.
Bahkan ketika kemarin malam kau memintaku menahan cambuk amarah di dadaku,
aku tak bisa, Sayang.

Tidak bisa tanpa kamu....




Kata Yura;
Duhai diri
Ubahlah arusmu
Jadi arah yang dia sukai
Rendahkanlah hatimu


Tidak.

Aku sungguh tidak ingin merubah arus kita.
Aku tidak ingin berubah menjadi bidadari 
agar kau sang pangeran datang menghampiri.
Aku tidak ingin memaksa kamu untuk jatuh hati pada sebuah kebetulan.


Aku hanya ingin menjadi aku.

Menjadi diriku yang bisa menggodamu sepanjang waktu,
namun tetap tak rela kala kamu bersama manusia lainnya.




Ada apa sebenarnya?
Aku tak mengerti, Sayang.

Buka Hati merupakan salah satu lagu dari album Yura bertajuk “Merakit”.
Lantas apakah setelah ini kita masih bisa merakit jalan-jalan setapak menuju masa depan?
Setelah satu alasan indah yang mempertemukan kita, 
apakah masih ada wajar bila aku tak mampu kehilangan tatapamu?

Lantas, apa boleh aku merakit rindu yang kususun setiap tiada kamu disini?

Jika dan hanya bila bukan kamu orangnya, mungkin aku takkan segila ini adanya.
Jika bukan lantunan nada yang bertahun lalu membuai perhatianku,
jika bukan karena kamu, aku takkan segila ini adanya.


Jika Yura bersenandung tentang hatinya yang terbuka dan ada jalan baginya, 
kurasa aku tak seegois itu untuk memohon pada Tuhan kita.



Aku tahu kita berbeda.

Kamu toh takkan memperhitungkan adanya diriku disini.
Kamu toh mencari dia yang sama denganmu, sejalan, sepemikiran.
Bukan aku yang mudah menghilang bersama lelaki lainnya.



Duhai alam
Hujani dia dengan cinta
Dan hatinya yang terbuka


Aku akan mensyukuri setiap bahagiamu,

Akan kulapangkan jalanmu menuju ruang mimpi.

Namun, 

apa aku rela melepasmu pergi dengan manusia lainnya?




Setelah sekian purnama aku mengenalmu, 
kini, 
hari pertama bulan kesepuluh dalam tahun yang indah ini, 
dalam bulan yang tak terhitung lagi bagi kebersamaan kita, 
aku hanya ingin membuka mataku.


Agar lebih leluasa menatapmu bermain dihadapanku,
Agar lebih jeli memandangmu dalam kejauhan,
Agar lebih siap menghadapi setiap detik yang tersisa,



Dan agar aku bisa bersiap untuk melepaskan rasa yang entah bernama apa, namun singgah di hatiku, bersama kamu, bersama pilu, bersama cemburu, bersama ragu yang tak kunjung menyadarkanku bahwa
kita hanya sebatas kita.



Seperti Yura yang hanya mampu bersenandung,
Biar reda hatiku
Aku punya kasih yang lama kuramu untuk Kamu





Iya.
Benar.
 
Aku menyayanginya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar